May 25, 2019

Penjara, Kastil, dan Bar Dublin - England-Ireland Trip Pt. 5

Akhirnya, rangkaian cerita England-Ireland Trip ini sampai juga di Dublin, ibukota-nya negara Republik Irlandia. Untuk memasuki negara ini, kita sebagai pemegang paspor Indonesia wajib bikin visa Irlandia dulu. Beda halnya jika kita hanya ingin mengunjungi Belfast, ibukota dari negara Irlandia Utara, tidak perlu punya visa lagi selain visa UK. Itu karena negara Irlandia Utara adalah bagian dari United Kingdom, dipimpin oleh monarki Ratu Elizabeth II. Susah nggak, Lin, bikin visa Irlandia? Ribet! Baca cerita lengkapnya di sini dulu deh 😝

Blog post kali ini akan bercerita tentang sejumlah main attractions yang aku dan Bang Adi kunjungi selama satu hari penuh di Dublin. Apa saja? Ada penjara, kastil, kawasan bar, kampus, pameran, hingga perpustakaan. Komplit, semuanya ada di Dublin. Plus-nya lagi... semua bisa ditempuh dengan jalan kaki. Menarik banget kan?

Kilmainham Gaol

Psstt... Kalau merasa familiar dengan gambar di atas, berarti kalian sudah pernah melihat scene film The Italian Job, The Escapist, atau The Whistle Blower yang memang menjadikan Kilmainham sebagai salah satu lokasi syutingnya.

April 07, 2019

Day Trip ke Windsor Castle - England-Ireland Trip Pt. 4

Selasa, 29 Mei 2018, aku dan Bang Adi akan meninggalkan London (untuk sementara) dan melanjutkan petualangan ke negara tetangga. Sedih? Nggak juga, karena sejujurnya aku memang lebih excited menyambut jalan-jalan di Irlandia dibandingkan London. Plus, sejak hari pertama hatiku tidak langsung tertambat pada London. Sama halnya kayak Paris yang, selain Menara Eiffel-nya, tak mampu membuatku betah berlama-lama. Anyway, cerita tentang Irlandia-nya akan aku tulis di post selanjutnya. Sekarang, kita baca cerita tentang One Day Trip kami ke Windsor yaa!

Windsor Royal Shopping


TUESDAY, 29 MAY 2018

Bang Adi awalnya ragu memutuskan itinerary untuk hari terakhir sebelum terbang ke Irlandia ini. "Nggak bisa ke Edinburgh aja, Bang?" tanyaku. Sulit ternyata, karena yang harus dirombak bukan hanya itinerary hari ini tapi juga Minggu dan Senin kemarin. Ditambah lagi, repotnya mencari moda transportasi ke Skotlandia, jadi opsi tersebut dengan berat hati dicoret di England-Ireland Trip kali ini. Semoga bisa menyaksikan cantiknya Edinburgh-Skotlandia di kesempatan selanjutnya, AMIN!

Setelah melewati perenungan panjang (Bang Adi doang, aku mah terima-terima aja hahaha) diputuskanlah kami akan mengunjungi kota yang jadi saksi Royal Wedding-nya Britania Raya: Kota Windsor.


Paddington Station

Menuju ke Windsor, kami akan menggunakan kereta Great Western Railway (GRW) dari London Paddington Station. Kami baru tiba di stasiun jam 9.45 pagi padahal kereta kami akan berangkat jam 10.00! Langsung deh panik mencetak tiket kereta lalu berlari-lari mencari peron sesuai yang tertera di layar besar tengah stasiun. Ternyata kereta kami yang seharusnya belum tiba di peron karena mengalami gangguan (apa gangguannya, aku lupa) sehingga para penumpang disilahkan menggunakan kereta lain apa saja yang searah ke Windsor. Hah maksudnya? Iya, bebas naik kereta lain yang juga menuju Windsor. Terserah mau yang jam berapa. Hahaha, kocak emang.

Karena jadwal kereta tercepat masih 30 menit lagi, aku dan Bang Adi memutuskan untuk eksplorasi stasiun mencari letak boneka Paddington yang terkenal itu. 

Halo, Mr. Paddington!



Jam 10.25 kami naik kereta pengganti menuju stasiun Slough (durasi 16 menit) lalu berganti kereta ke Windsor & Eton Central (8 menit). Ternyata cepet banget ya dari London ke Windsor? Yah begitulah... yang bikin lama cuma nunggu keretanya datang, hehehe. Kami akhirnya menjejakkan kaki di Windsor sekitar jam 11 siang. 


Deretan toko di luar stasiun

Pengen beli tapi nggak sanggup :')

Destinasi utama di kota Windsor tidak lain dan tidak bukan adalah Windsor Castle. Kastil ini hanya berjarak 1 kilometer dari stasiun, tak sampai 10 menit jalan kaki. Hal pertama yang aku notice bukan kastilnya, tapi justru: "Antriannya astaga..." Di seberang jalan sudah terbentuk antrian panjang mengular di luar kastil. Seketika aku langsung terbawa flashback ke antrian Istana Versailles, Prancis. Dan tentu saja aku akan mengambil keputusan yang sama: skip it for God's sake. Beautiful place is one thing, but a hell of queue is another thing

Puji Tuhan, Bang Adi sepakat untuk tidak perlu ikut antri demi tur kastil. Kalau sedang traveling berdua gini, emang penting banget rasanya punya teman jalan yang sevisi-misi. Kadangkala "pengertian" saja tidak cukup, tapi kalau "sepemikiran"... yakin deh pasti perjalanan akan terasa lebih menyenangkan. Akhirnya diputuskan bahwa kami hanya akan jelajah area sekitar kastil selama satu jam ke depan.

Jejak hujan masih segar di jalanan Windsor. Langit yang masih tertutup awan abu-abu memberi kesan bahwa kapan saja hujan masih akan turun lagi. Tak jauh beda dengan London yang kelabu ternyata... apakah mungkin setiap sudut di Inggris seperti ini ya?


Antrian di luar kastil

Kota Windsor berada di tenggara Inggris (sebelah selatan Kota London) yang terletak di tepi aliran Sungai Thames. Destinasi wisata yang paling terkenal tentunya Windsor Castle, kastil berpenghuni terbesar dan tertua di dunia yang sekarang ditempati oleh Ratu Elizabeth II. Windsor Castle didirikan oleh William The Conqueror pada abad ke-11 dan hingga kini telah menjadi rumah bagi 39 keluarga kerajaan.

Wujud kastil dan taman luasnya
Sumber: Telegraph

'Berkat' pernikahan megah Pangeran Harry dan Meghan Markle, kastil sedang ramai-ramainya dikunjungi wisatawan. Salah satu tujuannya tentu untuk melihat St. George's Chapel yang dibangun pada tahun 1485 dan kemarin menjadi tempat pemberkatan nikah Sang Pangeran.


Kapel tempat pemberkatan nikah Pangeran Harry-Meghan Markle
Sumber: Telegraph

Sebenarnya banyak tempat yang bisa dikunjungi selain Kastil Windsor. Ada Windsor Great Park, Eton College (kampusnya Pangeran William dan Harry), Legoland, dan Dorney Court. Atau bisa juga nyobain Heritage Walking Trail dengan rute Windsor Castle - Sungai Thames - Eton College. Well... berhubung aku dan Bang Adi hanya punya waktu sampai jam 1 siang, kami mencukupkan diri dengan jalan kaki dari satu gang ke gang lain. Tetap bahagia kok! 💃





Kami menelusuri jalan-jalan kecil berbatu yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda. Gang-gang ini dipenuhi sejumlah toko dan restoran dengan eksterior cantik nan menarik. Paling banyak sih kios suvenir yang menjajakan oleh-oleh khas Windsor dan... the recent Royal Couple!



Suvenir khas "Harry-Meghan" bertebaran di mana-mana



Aku tidak belanja apa-apa di sini mengingat keperluan oleh-oleh sudah cukup kudapat di Primark dan Poundland, London. Semuanya sudah tersimpan rapi di koper yang kami titipkan di concierge Hotel Langham. Kalau Readers ada yang nge-fans berat sama Royal Family wajib sih beli kenang-kenangan yang berbau Keluarga Kerajaan. Mungkin gelas bergambar William-Kate dan Harry-Meghan? Sekitar jam 11.30 kami putuskan untuk jalan balik ke arah stasiun dan bersiap-siap kembali ke London untuk mengejar pesawat ke bandara.

Antrian mulai berkurang jelang siang hari

Oh ya, ada satu hal kurang menyenangkan kualami di Windsor, tepatnya di suatu restoran di kawasan Windsor Royal Shopping. Aku dan Bang Adi ingin makan siang sebelum balik ke London, jadi kami menimbang-nimbang restoran yang ada dekat stasiun. Sekalian mau menghangatkan diri karena sudah beberapa jam terpapar udara dingin Windsor yang juga sempat hujan rintik-rintik selama beberapa saat. Pilihan pun jatuh ke Cafe Rouge yang dari luar terlihat cozy dan punya desain interior menarik. Ya, lumayanlah buat nambah-nambah koleksi foto.

Sayangnya, entah karena restoran memang sedang ramai atau gimana, (seseorang yang sepertinya) Manajer restoran itu tidak memperlakukan kami dengan ramah. Kami duduk di area sofa dekat pintu utama yang, ketika kami masuk, tertutup rapat. 15 menit kemudian, melihat jalanan di depan restoran semakin ramai oleh wisatawan yang baru tiba di stasiun, Si Manajer secara sepihak memutuskan untuk membuka pintu. BRRRR.... langsung udara dingin berhembus masuk.

Bukan hanya aku sebenarnya, karena beberapa tamu asing yang duduk tak jauh dari kami juga langsung bereaksi begitu pintu dibuka. Ada yang memakai kembali jaket yang tadi disampirkannya di punggung kursi, ada yang mengeluh ke temannya dengan gestur memeluk diri sambil menggosok-gosok kedua lengan pertanda kedinginan. Tapi tidak ada diantara mereka yang komplain ke Si Manajer.

Aku akhirnya komplain ke seorang waiter yang kebetulan mengantarkan pesanan kami. Rupanya dia tidak langsung menggambil tindakan, dia ngomong dulu ke Si Manajer tadi. Kuamat-amati keduanya. Si Manajer menatap ke arah meja kami, lalu menggeleng dan seperti memberi arahan, "No, it's not needed." Emosiku naik ke ubun-ubun. Begitu dia berjalan dekat ke arah kami, aku sampaikan lagi komplain yang sama, "Hey can the door please be closed? It's very chilly and cold for some of us here, and the main reason we stop at your restaurant is because we need warmth. Now the opposite is happening." Dan dengan ekspresi sombong memuakkan, Si Manajer membalas, "No it's not cold here. It cannot be closed."

Sebagai 'ucapan terima kasih', kuberikan reviu buruk untuk Cafe Rouge 'tercinta' ini di TripAdvisor. Kok jahat sih Lin? Yah, balik ke pribadi masing-masing sih. Aku adalah tipe traveler yang sangat memanfaatkan reviu konsumen sebelum memutuskan apakah akan menggunakan jasa suatu hotel/restoran/apapun. Bahkan tanpa aku menulis pengalaman burukku di Cafe Rouge, tempat itu ternyata sudah menerima banyak reviu jelek di TripAdvisor. Sayang sekali kemarin kami tak sempat ngecek TripAdvisor sebelum memutuskan makan di sana.

This bad restaurant doesn't worth your money. Not their rude manager, nor even their so-so food. Masih banyak restoran lain bertebaran di sekitar stasiun.

The 'almighty' Cafe Rouge
Source: TripAdvisor

Jam 1 siang kami naik kereta kembali ke London. Penerbangan ke Irlandia akan kami mulai dari London Southend Airport yang letaknya JUAUH BUANGET. Maklum ya, namanya juga naik maskapai low cost. Aku sudah lupa maskapai yang kami gunakan, tapi saking low cost-nya kami sampai mengalami delay yang cukup lama. Hahaha. Miris.




Pukul 23.42 malam, aku dan Bang Adi mendarat dengan selamat di Dublin Airport. Waaahhh! IRLANDIA! Badan kami sudah capek karena jalan-jalan di tengah dinginnya Windsor dan lama menunggu delay di Bandara London Southend. Puji Tuhan, bus dan tram masih beroperasi tengah malam begini. Kami akan menginap di Hotel Hilton Dublin Kilmanhaim selama 3 hari di Irlandia.


Bus dari Bandara Dublin ke pusat kota

Nggak sabar pengen tahu kelanjutan cerita di negara tanah air-nya Westlife? Sama! Aku juga nggak sabar pengen bercerita! Hahaha... kita lanjut di next blogpost ya. Terima kasih sudah mampir, Readers!

***

March 29, 2019

Stonehenge dan Shawn Mendes - England-Ireland Trip Pt. 3

Selamat pagi dari The Big Smoke* city! Highlight hari ini adalah landmark paling terkenal di Inggris: Stonehenge. Tak berhenti di situ, kami mendapatkan kejutan tambahan hari ini berupa kehadiran... Shawn Mendes (insert background suara teriakan bahagia penuh kecentilan)! 😍 Gimana ceritanya? Mari langsung kita simak ceritanya!

Highlight of the day

*Asal-usul julukan Kota "The Big Smoke" adalah karena pada abad 19 s.d. awal abad 20, warga London menghangatkan rumahnya dengan membakar batu bara yang menghasilkan banyak asap dari cerobong. Ditambah lagi, karakteristik Kota London yang berkabut dan berkesan sendu kelabu.

March 12, 2019

Dangke Banya', Maluku! - Kei Islands Trip Pt. Finale

"Hello, guys! Jadi sekarang kita mau ke Ohoi Letman! Di sana kita bakal lihat view laut dan rumah warga dari ketinggian, pokoknya bakal seru banget deh. Yeeeay! Dadaaah! Nanti dikabarin lagi yaa!" kira-kira akan seperti itulah jika blogpost ini dibuka ala-ala instastory-nya Nanda. Berasa ngomong sama pacar ya, ada "Nanti dikabarin ya!" segala, hmmm... 😏

Hari terakhir
Cerita kali ini akan memuat kisah 3 hari terakhir di Maluku Tenggara. Masih banyak stok foto dari cantiknya Kepulauan Kei lengkap dengan ke-mentel-an pose kami berlima. Cihuyyy!

February 27, 2019

Hujan-Hujanan di Ngurtafur - Kei Islands Trip Pt. 4

Aku teringat kata-kata bijak dari seorang guide lokal waktu nge-trip ke Raja Ampat: "Namanya bertualang di laut tidak akan bisa tertebak gimana cuacanya. Bisa saja di pagi hari langit terang-benderang. Tahu-tahu pas siang, eh malah hujan deras." Betul sekali. Dulu aku sok-sok 'berteori' bahwa perairan wilayah barat dan timur Indonesia saling bertolak belakang; saat yang Barat cerah dan tenang di bulan Juni-Agustus, di timur justru lagi bergejolak dengan curah hujan tinggi. Sekarang sih teorinya udah menguap. Tidak ada teori yang pas kalau berkaitan dengan laut lepas.

Memang tidak salah menginginkan cuaca cerah kalau lagi nge-trip ke pantai, yang salah adalah jika kita jadi bersungut-sungut saat keinginan tersebut tak tercapai.

Hari ini, hari kelima di Kepulauan Kei, kami seharian ditemani cuaca mendung. Kecewa kah? Pasti sih... tapi sama sekali tak mengurangi keceriaan kok. Toh jalan-jalannya sama empat makhluk yang memang tak pernah gagal bikin ketawa ngakak! 💗 


Tetap bahagiaaaaaa! (Model: Bang Adi mylov)

February 22, 2019

Piknik di Tepi Pantai Metro - Kei Islands Trip Pt. 3

Di bagian ketiga reviu Kei Islands Trip ini ada cerita dan (banyak) foto menarik dari Pantai Ufmar dan Pantai Madwaer. Emang nggak salah sih Kepulauan Kei disebut sebagai hidden paradise. Tidak ada pantai di sini yang tidak elok, ditambah lagi hampir semuanya masih sepi pengunjung; betul-betul terasa jadi pantai pribadi.

Serasa main-main di halaman rumah sendiri ya :')

February 14, 2019

Pulau Bair: Mini Raja Ampat - Kei Islands Trip Pt. 2

DAY 3 - Kamis, 14 Juni 2018

"Erliiiinn!!" samar-samar kudengar suara Nanda. "Kak Lin, bangun yok. Sarapan kita!" timpal Yosa. Suara mereka datang dari ruang makan/duduk yang terletak tepat di depan kamar. Aduh, sudah jam 7 pagi. Kok mata masih terasa berat ya? Mungkin otak ini masih berada di WIB alias masih menganggap ini jam 5 subuh. Dengan enggan aku bergerak ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Kemarin Rian berjanji akan menjemput jam 08.00 dengan mobil untuk langsung menuju pelabuhan, titik awal islands hopping tour. Mau ke mana sih di hari pertama bertualang di Pulau Kei Kecil ini?

Tanpa filter, tidak di-edit. Is this paradise?

February 08, 2019

Akhirnya ke Ambon Manise - Kei Islands Trip Pt. 1

ALOHAAA, READERS! Aku excited banget nih memulai blogpost yang satu ini. Soalnya... mencari waktu dan mood untuk mulai menulis butuh waktu hingga 6 bulan. Hahaha! Bahkan sebenarnya bisa lebih lama lagi lho, kalau saja aku tidak keburu bertemu travelmates yang sama saat El Nido Trip  minggu lalu 😋

Duh, Ambon, cantik banget sih kamu :')

Perjalanan ke Kepulauan Kei ini berlangsung selama 8 hari mulai dari tanggal 12 - 19 Juni 2018. "Kok lama banget, Lin? Perasaan kamu ke luar negeri aja jarang banget bisa sampai 8 hari." Betul, Saudara-Saudari, Kei Islands Trip ini emang lama banget rasanya. Sampai-sampai kami pun jadi muak bosan melihat wajah masing-masing setiap hari. Hahaha! Eh tapi ini bukan trip terlama bagiku deng. Saat Bali-Lombok Trip enam tahun yang lalu, aku malah menghabiskan 10 hari termasuk durasi perpindahan menggunakan kereta dan kapal.


Kenalkan: Bang Adi, Ananda, Yosa, dan Bang Tommy

Nah, mari kuperkenalkan Readers sekalian pada anggota Kei Islands Trip ini. Pertama, ada Bang Supriadi (Adi), sosok panutan dan andalan dalam setiap kisah traveling-ku. Kedua, Bang Tommy Otniel Tobing (Tommy), mantan travelmate saat pelesir ke Ciwidey, Toraja, dan Makassar -- akhirnya ya, Bang, kita nge-trip bareng lagi setelah 20 purnama berlalu 😗 Terus ada Ananda Goentoer Tobing (Nanda), rekan jalan semasa Turkey Trip dua tahun lalu. Last but not least... ada wajah baru! Namanya Yosafat Probo Kuncoro (Yosa), 'murid seperguruan' di paduan suara di ICC maupun STAN.

Trip ini dirancang oleh, tak lain dan tak bukan, Bang Adi yang memang sejak November 2017 sudah bermimpi untuk main ke Kepulauan Kei. Rupanya beliau teracuni blog-nya Marischka Prudence dan Amellie. Padahal aku sendiri tidak tahu banyak tentang wisata di Provinsi Maluku. Yah palingan sebatas Banda Neira dan Pantai Ora saja. Waktu awal-awal diskusi, Bang Adi malah ingin main ke Kei di bulan Mei karena katanya banyak pelikan bermigrasi dari Australia pada bulan tersebut.