Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts

February 13, 2026

Membuat Visa Schengen Belanda lewat VFS Kuningan City

HALO, readers! Kyaaa senang sekali akhirnya aku bisa menyapa kalian, walaupun hanya lewat satu blogpost ringkas ini. Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku membuat visa Schengen lewat Belanda. Semoga blogpost ini jadi pembuka jalan untuk pos-pos selanjutnya yaa... alias LIN AYO JANGAN MALAS NULIS BLOG DI 2026! Hahaha *cubit diri sendiri* 

Tujuan utama membuat visa Schengen tahun ini adalah early spring trip ke Belanda. Lho??? Kan udah pernah ke Belanda? Iya memang sudah pernah, tapi tahun ini ada yang spesial... Kakak ikut menemani aku dan Mama! Selain Belanda, kami juga akan mengunjungi dua negara Eropa lainnya. Nanti aku cerita lebih detil ya di blogpost khusus trip review Euro Trip 2026 😉

Salah satu hal yang mencolok perbedaannya adalah biaya jasa pengurusan visa oleh VFS Global harus dibayar di muka, alias aku harus mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu baru bisa membuat jadwal pertemuan aplikasi visa. Hal-hal lainnya? Akan kubahas lebih lanjut di bawah yaa.

----

Persiapan aplikasi visa


Situs VFS Global Belanda untuk Indonesia


November 07, 2019

Visa Australia yang Supermudah dan Supercepat

Sebelum memulai cerita trip review tentang Sydney, aku ingin terlebih dahulu berbagi pengalaman tentang membuat visa Australia. Sejak tahun 2018, visa Australia tidak lagi diproses secara fisik di Kedubes/VFS Kuningan tapi cukup daring via internet. Yang satu ini yang bikin visa Australia jadi supermudah, karena bisa diisi sambil ongkang-ongkang kaki di rumah, pakai daster, sambil menyeruput secangkir teh dari gelas ayam jago.

Visa Australia berbentuk digital dan dikirim ke e-mail

Aku perlu memperingatkan readers bahwa cerita di bawah ini aku tulis setelah visa-ku approved, bahkan setelah aku pulang dari trip 😅 Jadi urut-urutannya tidak terlalu mendetil, apalagi tampilan situsnya agak berbeda antara saat aplikasi dan setelah aplikasi. Readers bisa juga merujuk ke blog-nya Shintaries atau situs Javamilk yang kemarin menjadi panduanku saat mengajukan visa.

Oke, mari beranjak ke ceritaku...

November 05, 2018

My Mother's Happiness is My Ultimate Purpose

Travelling itu bikin candu. Sejak pertama kali 'mengenal' tiket promo di tahun 2014, aku putuskan untuk harus rutin travelling setiap tahun, baik di dalam maupun luar negeri. Demi niat teguh ini, aku pun merelakan potongan budget hura-hura ke bioskop atau kafe cantik, bahkan menahan diri untuk nggak beli baju lucu di online shop; sebagai gantinya, tabunganku terus mengembung untuk jadi modal travelling. Nggak apa-apa lah dibilang "kuper" atau "anak rumahan", asalkan aku bisa terus melihat daerah dan negara baru, dengan keindahannya yang memukau.

Namun, beberapa kali travelling bersama teman-teman atau sendiri, aku jadi merenung, “Kapan ngajak orang tua untuk merasakan kekaguman yang sama ketika melihat dunia luar?” Akhirnya kuputuskan, setiap tahun aku harus mengajak si Mama, orang tua tunggalku, untuk travelling berdua. Pokoknya beliau jadi prioritasku. Travelling with purpose bagiku adalah melihat wajah bahagia Mama saat kuajak ke tempat-tempat eksotis yang selama ini hanya dilihatnya lewat layar kaca atau, seperti celotehan Mama, di gambar kalender! Pokoknya… her happiness is my ultimate purpose.

Awal musim semi tahun 2018 ini, aku mengajak Mama keliling Prancis, Belanda, dan Finlandia. Wah, persiapannya riuh sekali: mulai dari menyiapkan visa hingga memborong jaket dan mantel supertebal, maklum kami besar dan lahir di kota pinggir pantai, jadi paling nggak kuat sama udara dingin.

Sukacita adalah ketika melihat Mama tersenyum bahagia 💖


September 20, 2018

Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya"

Tulisan ini bukan untuk berniat menggurui, tapi lebih ke informasi bagi diriku sendiri bahwa... Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya" itu punya 3 stanza! Selama ini yang kita nyanyikan di tiap Upacara Nasional, bahkan Peringatan Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus, itu lagunya masih belum lengkap. Ada 2 bait lagi yang tidak pernah kita, ehm... aku, ketahui sebelumnya.

Bendera Merah-Putih di lingkungan kantor

September 05, 2018

Keliling Dunia Lewat Postcrossing

Sudah empat bulan ini aku menggeluti dunia baru: Postcrossing. Ini nama suatu komunitas penggemar kartu pos yang melakukan kirim-terima kartu pos secara acak ke seluruh dunia. Pertama kali mengenalnya adalah berkat Yopita, teman Kelompok Kecil pemuridan semasa di kampus yang kebetulan sama-sama berkantor di Lapangan Banteng. Dia juga travel-blogger/vlogger, lho, monggo main ke blog-nya.

Kartu pos siap dikirim | @postaleid

Yopita ini sering banget ngomongin "kartu pos" tiap dia pelesir ke luar negeri. Beberapa kali dia menjanjikan akan mengirim kartu pos kepada followers Instagram yang berhasil menjawab satu-dua pertanyaan intermezzo di Instastory-nya. Dulu, aku sering membatin, "Ngapain sih mesti repot-repot nulis kartu pos, beli prangko, trus cari kantor/kotak pos... Capek ih!" Padahal aku sendiri doyan memborong kartu pos cantik khas kota/negara yang aku kunjungi, tapi ya untuk koleksi pribadi saja.

July 25, 2018

Visa Irlandia, Gratis Tapi Rumit

Tanggal 26 s.d. 31 Mei 2018 yang lalu aku pesiar ke utara Eropa demi mencari sesosok Sherlock Holmes dan Westlife. Negara apakah itu? Yak tepat sekali: Inggris dan Republik Irlandia! Meskipun keduanya bertetangga, Inggris dan Irlandia menggunakan visa yang berbeda, kecuali emang cuma mengunjungi Belfast di Irlandia Utara, cukup punya visa UK saja. Puji Tuhan, kedua visa dapat aku peroleh tepat waktu walau sempat ada 'aral melintang' untuk visa Irlandia. Gimana ceritanya??? Yuk, baca lebih lanjut blogpost satu ini!

Setelah sejumlah perjuangan, akhirnya visa aman di tangan


Bang Adi telah melakukan riset dan observasi yang sangat matang dalam mempersiapkan aplikasi visa Irlandia. Dari beliau lah aku tahu bahwa visa Irlandia ini: gratis, lama, dan paspornya tidak ditahan. Mengingat tiga faktor tadi, kami putuskan untuk apply visa Irlandia terlebih dahulu baru kemudian visa UK. 

Persyaratan yang kami siapkan adalah berkas-berkas yang seperti biasa, sebagaimana persyaratan visa Korea Selatan, Jepang, dan Schengen. Tapi ada tiga berkas baru: akta lahir yang diterjemahkan oleh sworn translator, Surat Referensi dari Irlandia, dan Surat Aplikasi. Sisanya... sama saja kok. 

January 19, 2018

Membuat Visa Schengen-Prancis via TLScontact

ALOHAAA, readers! Woo woo woooo kangen banget menyapa pembaca sekalian sebangsa dan setanah air :') Ada kali ya satu tahun nggak nge-blog... SELAMAT TAHUN BARU anyway!

Baiklah mari kita sudahi basa-basinya. Kali ini aku akan share pengalaman mengurus visa Schengen lewat Kedutaan Besar Prancis dengan perantaraan agen TLScontact. Readers udah tahu dong, visa Schengen adalah visa yang diperlukan untuk memasuki wilayah European Union (28 negara Eropa). Setelah sukses 'menggondol' visa Schengen dari Kedutaan Besar Jerman tahun lalu, aku membulatkan tekad untuk mencoba Kedubes lainnya di tahun ini. Pilihannya: Prancis atau Belanda.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah mencari tahu kebutuhan berkas/dokumen dan biaya jasa agen perantara dua Kedubes tersebut. Kedubes Prancis menggunakan jasa TLScontact sedangkan Kedubes Belanda menggunakan jasa Vfs Global

Tujuan utama membuat visa Schengen tahun ini adalah early spring trip ke Belanda bersama Si Emak di akhir bulan Maret 2018 mendatang. Makanya aku langsung gercep (gerak cepat.red) membuka situs Vfs Global untuk melihat segala persyaratan. Usut punya usut, biaya pembuatan visa di Vfs Global harus dibayar di muka, alias aku diminta mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu baru bisa membuat jadwal pertemuan aplikasi visa.

Karena aku anaknya suka bereksperimen dan nggak suka terikat dengan satu tempat *tsah bisa aje lu* kuputuskan untuk membuat visa di Kedubes Prancis, mendahului jadwal aplikasi si Emak. Kutransfer Rp330.000,- ke Vfs global dan memesankan jadwal tatap muka sekitar pertengahan Februari nanti. Tenang saja, nanti aku akan menemani Mama kok saat appointment.

----

Persiapan aplikasi visa

Halaman utama situs TLScontact

May 29, 2017

Bye, Dua Juta Rupiah - Visa Rusia

In spite of desas-desus bahwa visa Rusia itu sulit didapat, Bang Adi, Vani, dan aku lancar saja memperolehnya. Puji Tuhan. Semuanya tentu tak lepas dari sentuhan tangan dingin Bang Adi yang tau-tau udah menemukan hotel dan tiket kereta PP Moskow-St. Petersburg (paid, bukan sekadar booked). Padahal situs pembelian tiket kereta tersebut tidak punya opsi bahasa selain Rusia, toh Bang Adi bisa sukses menggondol tiga tiket berkat bantuan Google Translate hahaha.

Ketentuan tiket dan hotel ini memang yang paling susah dipenuhi, karena berarti persiapan kita sudah harus matang. Kita harus tahu pengen ke mana saja dan tinggal di mana, jangan sampai ada satu malam yang terlewat tanpa keterangan reservasi hotel. Syarat ini bertolak belakang 180° dari visa Schengen yang hanya memerlukan reservation atau dummy booking tanpa harus fully paid.

Ilustrasi Visa Rusia
Source: Russiau

The only drama happened here adalah aku dan Bang Adi baru ingat kami punya rencana Phuket Trip seminggu lagi! Padahal paspor harus diinapkan 2 minggu untuk visa Rusia biasa. Jadilah kami merelakan ekstra duit, dari yang normalnya USD 70 menjadi USD 140 (Rp 1,960 juta), demi penyelesaian express 1-3 hari kerja. Yes, you read it correctlyhampir Rp2 juta hanya untuk visa. Jangan panik... kalau kalian tidak buru-buru, biaya visa standar "cukup" Rp980 ribu kok.

May 22, 2017

Serba-Serbi Visa Schengen via Kedubes Jerman

Visa Schengen ini adalah visa yang, pada dasarnya, diperoleh dengan berbohong. Hahaha. Setidaknya dalam kasusku pribadi: dummy booking tiket pesawat dan penginapan benar-benar "palsu", alias tidak akan mungkin kupakai. Begitupun dengan susunan itinerary perjalanan, semuanya fiktif belaka. 

Hal ini normal dan wajar sih, tapi bagi aku yang beberapa kali apply visa dengan berkas-berkas yang "jujur", pengurusan visa Schengen terasa berat. Mungkin rasa bersalah ini jugalah yang akhirnya memengaruhiku untuk memilih Kedutaan Besar Jerman sebagai tempat apply visa Schengen. Setidaknya, aku berkata jujur saat bilang: "Jerman adalah negara pertama dan terlama yang akan dikunjungi dalam Euro Trip".

Visa Schengen (source: Pegipegi)

Keputusan memilih Kedubes Jerman ini juga didorong oleh Kang Fauzi Agustian a.k.a Oji, salah satu senior di kantor. Bukan sekadar "senior" malah, doi ini ruang kerjanya tempat berada sebelah kubikelku, otomatis dialah yang jadi narasumber utama untuk setiap masalah pervisaan Schengen.

March 04, 2017

Visa Jepang dan Travel Agent 'Perdana'

Selamaaa... darahku masih mengalir... selama itu pula aku milikmu akan menggunakan tenaga sendiri dalam hal traveling. *Buat yang nggak ngeh, itu di awal lirik lagu Om Ari Lasso - "Arti Cinta". Iya tau kok jayus :( Tentu dengan pengecualian tiket promo, hahaha (colek Bang Supriadi tersayang)

Visa Jepang yang terkenal cantik karena ada Sakura-nya
Source: blog.reservasi.com 

Namun akhirnya, mitos "bikin visa harus lewat agen!" mencipratiku juga. Bukan karena aku malas, bukan karena aku kelebihan uang -- seperti yang selalu di'canda'kan beberapa orang -- tapi memang karena tidak ada jalan lain. Mama dan aku wajib membuat visa Jepang karena kami pemegang paspor non elektronik. Emang rada-rada juga sih ini KemenkumHAM, launching si e-paspor persis sebulan setelah kami selesai memperpanjang paspor biasa. Mestikung sekali.

February 21, 2017

Sowan ke Museum Affandi, Sang Pelukis Tanpa Kuas

Jogja, di musim hujan, saat weekend... apa artinya? Bagiku, sih: no beaches, no temples, no popular tourism sites. Musim hujan memang saat yang tepat untuk bermeditasi, hibernasi, pensiun dini, you name it. Menenangkan diri sejenak dari segala penat menenteng backpack dan jalan kaki demi mengeksplor tempat liburan.

Tapi... Semua prinsip itu menguap pada saat hari kedua dinas di Jogja, aku justru merasa bosan mendekam di kamar hotel, menonton HBO dengan tayangan film yang itu lagi-itu lagi. View kamar saat itu menghadap swimming pool dan, dasar pelupa, aku lupa membawa baju renang favorit. Apa lagi yang bisa aku lakukan di hari kosong dinas di Jogja ini?

Jangan diliatin lama-lama, ntar serem sendiri...


Mbak Devi, rekan kerja (eh?) yang menemani dinas kemarin, tiba-tiba saja memberi ide, "Apa kita ke Museum Affandi?" Nah. Ini adalah keputusan yang kesekian, setelah diskusi-diskusi sebelumnya dimana kami sempat mempertimbangkan Candi Ratu Boko (batal karena tidak mungkin sunset terlihat saat mendung begini), Hutan Pinus Imogiri Bantul (jauh bro, ditambah aku masih ber-high heels-ria), dan Rumah Makan Raminten (weekend sore gini pasti rame puoll!)

Gayung bersambut banget nih, soalnya saat perjalanan dari bandara Adisucipto ke hotel satu hari yang lalu, aku melihat Museum Affandi di sisi kanan jalan dan seketika berkeinginan untuk mengunjungi. Masih "keinginan" lho. Ealah ternyata sehati sama Mbak Devi. Selain alasan 'eksternal' di paragraf yang diatas, apalagi Lin yang mendorong kalian untuk ke Museum Affandi?

June 04, 2015

Goyang Lidah di Jakarta dan Sekitarnya (2)

6. Cafe Pancake
Berlokasi di Lotte Mall Bintaro, Cafe Pancake ini menjadi pilihan aku, Bang Adi, dan Bang Tommy yang lagi craving for Nanny's Pavillon tapi cabang terdekatnya terlalu jauh (saat itu kami belum tahu branch BEC-nya) dan mencari di sekitaran Sektor 7 saja.
Tempatnya cozy dan menarik, tidak kalah menarik dengan NP's. Untuk rasa pancake-nya, memang tidak sekaya rasa pancake NP, tapi tetap saja enak di lidah ahahah. Kami langsung ceria melihat wujudnya ketika pertama kali disajikan: cantik!
Harganya juga tidak semahal di NP. Dengan kisaran 35K, kita sudah bisa menikmati empuknya pancake disini, dan 25K untuk segelas smoothies atau specialties drink andalannya.

Coffee Cream Cookies dan Banana Boat Pancakes, yum!
Blueberry Heaven, tasted like heaven!

May 29, 2015

Goyang Lidah di Jakarta dan Sekitarnya (1)

Aku suka banget hunting foto yang cantik dan unik. Makanan pun termasuk di dalamnya.
Sesungguhnya aku bukan orang yang gemar wisata kuliner, mengingat aku tidak suka sayur dan bukan penggila bumbu, rempah-rempah, spices, apapun itu namanya. Apalagi rasa pedas, hmm, I'm not that Manadonese actually.
Hingga suatu hari saat menyambangi Kota Terasi (iya, terasi udang itu lho...) aku merasakan nikmatnya wisata kuliner: city tour di setiap ujung kota untuk merasakan makanan khasnya: petis. Seru juga ya, pikirku kala itu.

Namun kegemaran memfoto setiap makanan yang kusantap baru bermula Oktober 2014, satu tahun lebih setelah mengenal indahnya icip-icip makanan. So... here it is, the story of my culinary adventure. Aku akan mulai membongkar arsip foto kulinerku sejak 2014, dan mulai menulis ceritanya satu per satu.

Please bear it when you see my faces everywhere, karena artikel ini akan mengandung begitu banyak foto selfie bersama kawan(-kawan ) yang acapkali menjadi partner-ku menjelajah dunia kuliner. Don't drool on your device, guys, cause the pics will be unbearably delicious!

1. Fat Bubble

Berbagai topping: mochi, ice cream, kuah susu, yum!
Dalam rangka kemek-kemek ultah, aku dan Geng BALOK + 3 Provinces Trips menjajal sebuah restaurant baru di bilangan Sektor 7 Bintaro yang lagi nge-hits di Path kalangan junior kampus STAN. "Fat Bubble" adalah sebuah restoran berkonsep tempat nongkrong nyaman, menyajikan menu dessert a la Taiwan sejenis Sumoboo dan Hongtang *aku sendiri juga tidak tahu apa namanya*.

March 19, 2015

Pulau Nikoi - Ketika Surga Harus Dibayar Mahal

Semua bermula ketika saya sedang 'mondar-mandir' di timeline Facebook. Sebuah artikel dari Indonesia.Travel muncul dengan caption: "Pulau Nikoi yang terletak di timur laut Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, tercatat sebagai satu dari tiga finalis kategori Pengubah Dunia (Earth Changers) dalam pemilihan World Legacy Awards 2015 yang diselenggarakan oleh National Geographic."


Mari sekilas kita lihat penampakan tokoh utama topik kita hari ini... 

*foto-foto diambil langsung dari situs pribadi manajemen Pulau Nikoi.*


© Nikoi.com

© Nikoi.com

Nikoi adalah nama sebuah pulau pribadi seluas 15 hektar yang terletak 8 KM di timur laut Pulau Bintan, Indonesia. Iya, letaknya di Indonesia kok, tenang saja! Namun karena lokasi pulau ini hanya sekitar 85 KM dari Singapura, dapat dipastikan bahwa mostly wisatawan di pulau ini berasal dari negara tetangga alias bukan domestik. Pulau Nikoi yang masih asri ini dijuluki sebagai salah satu pulau menakjubkan yang berada di lepas pantai bersih bebas polusi. Dikelilingi dengan pantai berpasir putih dan karang koral dengan warna-warni spektakuler, serta keberagaman dan garis pantai

Memiliki ketinggian 30 mdpl, pulau ini juga memiliki pemandangan hutan hijau yang subur termasuk pepohonan Banyan asli yang memberikan tempat berlindung untuk habitat burung lokal. Penginapan yang ditawarkan memiliki desain rumah pantai kontemporer khas Indonesia. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan para tamu adalah berenang, berlayar, berselancar, kayak, snorkeling, diving, hopping island, serta pijat dan relaksasi. Pihak manajemen juga menyediakan kolam renang buatan untuk dewasa dan anak-anak. Indoor entertainment yang ditawarkan meliputi lapangan tenis, bar area, dan bioskop mini.

May 08, 2014

The Story of Animal Defenders (AD)


Hari ini, Kamis, 8 Mei 2014 aku menyambangi shelter Animal Defenders (AD) yang berlokasi di Depok. Pertama kali mengenal AD adalah ketika kakakku, Fie, bercerita tentang aktivitasnya sebagai volunteer di shelter AD. Dari sana jugalah dia mengadopsi Willy, seekor anjing ras Spanish water dog berwarna hitam yang super duper lucu! Setelah tertunda sekian lama, akhirnya datang juga kesempatan istimewa ini. Dengan ditemani Kak Nopri, kami pun motoran menuju shelter.

Animal Defenders adalah sebuah yayasan yang melindungi hewan (berfokus pada anjing dan kucing) dari kekejaman manusia. Salah satu alasanku begitu ingin mengunjungi shelter adalah keberadaan Rio. Rio dibuang di jalan tol dan diselamatkan oleh AD ketika banyak publikasi tentang dirinya di media sosial. Terima kasih Tuhan, untuk orang-orang baik seperti pasukan AD! :)

First time meeting Rio, and I fell in love for the first sight :') Wait! I've even loved him before I met him!
AD kini memiliki 170 ekor anjing dan belasan eor kucing serta seekor monyet di markasnya. Bukan hanya Rio yang memiliki kisah sedih, tidak sedikit hewan yang diselamatkan AD karena dibuang pemiliknya dalam keadaan kurus kering atau sakit. Ada juga hewan yang nyasar dan hingga saat ini belum diketahui siapa pemiliknya.

Her name is "Astrid" :) She's the most photogenic dog that I've ever met! A beautiful old lady, right?

This is "Daila", a three-legged female dog. Yes, she had her feet amputated after being crashed by a car.

The name is "Dede". So fluffy, so cute!
Say hello to "Jeremy"! 

A male big golden retriever named "Migo" :)
This medium-sized doggy is just soooo active! "Moreno" won't stop jumping around me :)

It's really heartbreaking when I meet "Pino". He's really skinny for a doberman breed :(

She's "Siska", another female golden retriever. Her scar on the head is getting treated by Mas Budi

The name is "Ventor" and he's having a sickness, that's why Mas Obi gave him an injection

Lastly: "Willy"! The man is Kak Nopri, and we can see that Willy can't be separated from him. That's what we called: "a loyal friend"! :) 
He is "Canggu", I'm not allowed to touch him because he got angry easily. This is because the trauma of his past that are often hit with a golf club :(
Another female retriever named "Tera". I think she's the twin of Astrid...

This relaxing old lady is "Yoko" :)



I believe that "Marvin" is actually a handsome dog, wish I could buy him any drugs needed for his skin diseases :(
Sleeping "Juno" :3
Lazy "Cecil", she did nothing but sleep while the others were busy jumping around me :p
Hello "Lemmy", are you the twin of Jeremy? :p *ga nyambung, Lin*
I love this sad expression of Jeremy, oh wait, this is his USUAL expression :D
I don't have any chance to stroke and play with "Mellow" :(
Ketika datang pagi tadi, shelter sedang ditinggal oleh pengurus-pengurusnya, karena hari Minggu besok di Central Park ada upcoming event yang melibatkan AD. The big boss, yang belum pernah aku temui, alias "Om Doni" sedang berada di Jogja mengurus kasus penembakan kucing. Want to know more about Animal Defenders? Silakan buka google.com, type "Animal Defenders Indonesia" and hit "Enter", voila!

Seperti inilah kehidupan sehari-hari di shelter AD...











His name is "Alfredo", seems like his owner was a tukang topeng monyet. Syukurlah dia bebas sekarang :')









STOP ANIMAL ABUSE!
Support Animal Defenders Indonesia by adopt, donate, or volunteer. Visit their official website: https://animal-defenders.net