December 27, 2019

#jalan2jenius ke Labuan Bajo

Hulaaa, Readers! Saat sedang memikirkan ide cerita untuk bulan Desember ini, aku teringat ada satu post yang terus tertunda hingga setahun berlalu: Labuan Bajo Trip bersama #temanjenius πŸ˜… Yaudah lah ya mohon dimaklumi, bukan Erlin namanya kalo nggak pelupa. Lagian... Russia Trip yang sudah 5 tahun berlalu aja sampe sekarang nggak selesai-selesai kok wkwkwk.

Nah, sebagai penutup tahun 2019 yang indah ini, here the long postponed story begins... 

*

Aku kembali menginjakkan kaki ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 19-22 Desember 2018. Bedanya dengan trip serupa dua tahun lalu, kali ini aku pesiar gratis sebagai pemenang blog competition yang diselenggarakan oleh Jenius CoCreate. Readers tahu dong apa itu "Jenius"? Digital banking-nya BTPN yang sudah lama hype di kalangan anak muda karena berbagai kecanggihannya! *keukeuh promosi ya Lin*

#jalan2jenius Labuan Bajo
(Cr: @jeniusconnect)

Sejujurnya aku tidak pernah bermimpi akan memenangkan hadiah utama. Justru aku berandai-andai menjadi pemenang kategori lain yang bukan berhadiah jalan-jalan ke Labuan Bajo. Toh memang sudah pernah ke sana, jadi aku tak ambisius untuk hadiah utama tersebut.

Ternyata jalan Tuhan berkata lain. Hari Sabtu, 6 Desember 2018 jam 10.35 pagi, notifikasi HP-ku berbunyi pertanda ada surel masuk. Pengirimnya adalah Hello CoCreate. Mataku langsung terperangah tak percaya melihat subjek surat di layar:
Selamat Erlinel, kamu memenangkan paket jalan-jalan ke Labuan Bajo!

Reaksiku sungguh 'nano-nano' selesai membaca isi surat tersebut. Pertama: panik. Saking tidak pernah berharap menang, aku sudah membeli tiket untuk penerbangan di tanggal yang sama ke Kuala Lumpur dengan kelas bisnis. Reservasi hotel pun sudah lunas dibayar. Sayangnya baik tiket maupun hotel, keduanya non-refundable. Berarti aku harus membayar opportunity cost dalam memilih salah satu dari Labuan Bajo atau Kuala Lumpur.

Kedua: sempat cemas. Kan pemenang hadiah utama jalan-jalan ke Labuan Bajo dari blog competition cuma satu nih... trus di sana aku pelesir dengan siapa? Garing amat dong ya kalau sendirian. Eh, usut punya usut, ternyata aku akan pergi dengan lima orang pemenang dari kompetisi fotografi yang telah selesai beberapa minggu sebelumnya.

Nah setelah tahu informasi tadi, datanglah perasaan ketiga: jiper. Dasar Libra sejati, aku langsung 'menyelidiki' satu per satu calon teman seperjalanan nanti. WAGELASIH. Semuanya begitu nge-hits dan 'bersinar'. Ada yang punya followers Instagram mencapai 14 ribu, ada yang sudah pernah traveling hingga ke Meksiko, ada yang videography skill-nya jago buangeeet (nambah ilmu dikit lagi bisa deh selevel Sam Kolder), ada yang cuantik buangeeet kek artis ibukota, bahkan ada juga yang sangat berprestasi dan punya bisnis kain tenun.
ADUH! GIMANA NGGAK JIPER WOY?


Keputusan terbaik yang pernah kuambil!
Cr: @luckypakor

Pada akhirnya, kuputuskan untuk membiarkan tiket & hotel Kuala Lampur hangus dan memilih untuk bertemu kelima orang keren itu di Labuan Bajo. It was a life-changing decision and I didn't regret it at all, despite the accident happened to me later on trip. Segera kubalas surel itu dengan data diri agar bisa langsung dipesankan tiket oleh Tim Jenius. Beberapa hari kemudian, aku resmi bergabung dengan Grup WA "#jalan2jenius Labuan Bajo" dan memulai interaksi dengan para pemenang lain. Waaahh, nggak sabar menunggu hari H!

Anyway, pada penasaran nggak blogpost mana yang berhasil memenangkan aku jalan-jalan ke Labuan Bajo? Yang satu ini lhoooo πŸ’•


HARI 1. RABU, 19 DESEMBER 2018

Setelah singgah sebentar ke kantor mengurus kerjaan, aku menuju Gambir untuk naik Damri ke bandara. Pesawat kami akan lepas landas jam 12.00 siang nanti. Kalau boleh terus terang, perasaanku masih cemas membayangkan orang-orang asing yang dalam satu jam lagi akan kutatap secara langsung.

Di depan pintu keberangkatan aku bertemu anggota trip pertama: Buci. Namanya unik banget, begitu juga orangnya. Selama trip aku sekamar dengan Buci, menyenangkan sih. Anaknya tanpa drama, tipikal cewek tangguh yang fun dan koplak. Selanjutnya aku kenalan dengan Kak Theo yang, mengutip kata anggota trip lain, "tipe cowok kantoran Jakarta yang ganteng dan sukses" 😎 Buci dan Kak Theo adalah anggota tim Jenius yang akan menemani para pemenang kompetisi #jalan2jenius selama pelesir di Labuan Bajo.

Kami para pemenang sejak hari pertama pun sudah dimanjakan oleh Jenius. Waaah, ini toh nikmatnya jalan-jalan 'disponsori'! Kami ditraktir sarapan di kafe bandara sekalian untuk jadi ajang perkenalan. Pemenang pertama yang kutemui adalah Kak Tiwi, sang perintis Tenoon.id yang akun IG-nya di-follow oleh banyak sekali traveler idolaku. Yang kedua, Lucky yang tampak paling hype dengan kostum siap mantai. Hasil karya videografinya membuat Lucky sukses jadi pemenang photography competition, tak heran sih wong video-video buatannya emang kece abis. Lalu ada Rita yang langsung bikin aku terpesona pada pandangan pertama. Cewek satu ini mirip banget sama Tasya Kamila! Otak jahatku dalam hati sudah mulai mengira-ngira... kayaknya cewek ini bakal menye-menye dan dependen deh. Pemikiran yang terbukti salah 100% setelah lebih lama jalan sama Rita. Next: Raka, yang sejujurnya paling tidak meninggalkan kesan bagiku. Tak ada yang spesial dari perkenalan ataupun gaya pakaiannya, sampai-sampai aku lupa bahwa dialah yang sudah menginjakkan kaki ke Meksiko! Si Raka ini lah, Readers, salah satu penyebab kejiperanku untuk bergabung ke trip #jalan2jenius πŸ˜… Last but not least, ada Bang Gary dari tim Jenius yang muncul dengan gaya cool uncle-nya.

Drama sudah terjadi di hari pertama trip. Salah satu pemenang kompetisi yang berbasis di Bandung tidak berhasil mengejar KA Bandara jam 8.51 dan akhirnya naik yang jam 9.51 tiba jam 10.37. Belum lagi pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1C. Mepet parah sih. Kami baru bisa bernapas lega ketika detik-detik terakhir pintu pesawat ditutup, Iqbal muncul dengan tampang kelelahan habis berlari-lari. "Pake adegan jatuh tersungkur segala lagi..." curhat Iqbal setelah duduk nyaman di kursi antara Raka dan Lucky. Yang penting semua anggota trip #jalan2jenius telah lengkap di dalam pesawat... mari kita berangkat!

The winners!

Tiba di Labuan Bajo, rombongan kami dijemput oleh kru Get Lost Partner yang dipilih Jenius sebagai trip organizer. Kami berkenalan dengan Akbar, guide selama trip, dan Akmal, sang foto dan videografer. Kami ber-11 langsung menuju Hotel Laprima Labuan Bajo untuk check-in dan beristirahat sejenak sebelum berangkat mencari pemandangan sunset. Ngomong-ngomong soal organized trip... setelah usaha keras menggali info dari Tim Jenius, ternyata harga paket tur Labuan Bajo (excl. tiket pesawat) ini mencapai 3 juta IDR per orang! Wadidawww, kebanting banget dong ya perjalananku tahun 2015 yang cuma bermodalkan 670 ribu IDR dengan destinasi yang sama persis (tapi berbeda di level akomodasi dan jenis kapal πŸ˜…).


Sunset di Bukit Silvia

Sunset hari pertama kami lewatkan di Bukit Silvia, masih di daratan Labuan Bajo. Aku sebelumnya sudah pernah ke sini tapi tidak terburu pas waktu sunset. Jalur trekking-nya mudah saja, lumayan lah  pemanasan untuk Pulau Padar. Dari puncak bukit, pemandangannya sungguh sangat memukau bikin kami betah berlama-lama duduk memandang matahari. Berkat destinasi pertama ini, aku bisa menyaksikan langsung jiwa-jiwa kreatif para travelmates-ku. Bukan hanya keempat pemenang, tapi juga tiga Tim Jenius. Iseng-iseng kuintip layar kamera atau HP-nya setiap mereka sedang membidik. Kece-kece banget baik dari segi angle, lighting, dan composition. Aku jadi semakin mengamini bahwa "It's not about the gear, it's the men/women behind the lens."

Menunggu matahari terbenam

Go check his cool photoworks on @luckypakor

Agenda selanjutnya adalah makan malam seafood di Kampung Ujung Bajo dan membeli perbekalan berlayar di minimarket. "Cukup nggak ikannya segini?", "Ada yang mau nambah udang?", "Eh kalo masih laper bilang yaa!" Teriakan Buci dan Kak Theo terus menerus terdengar sepanjang makan malam. Begitu pun saat memilih jajanan, "Erlin mau snack apa? Bilang yaa!" Begitu kusebut "kacang", dua bungkus kacang kulit Garuda langsung masuk ke troli. Mantap! Jenius benar-benar memastikan kami selalu kenyang dan bahagia selama nge-trip πŸ’ž


Makan seafood di Kampung Ujung Bajo
(cr: @rakaikrar)

Beli jajan!


HARI 2. KAMIS, 20 DESEMBER 2018

Alarm HP sukses membangunkanku jam 06.00 pagi untuk sarapan. Duh, kadangkala liburan seperti ini memang menyakitkan: liburan tapi justru harus bangun lebih pagi daripada hari kerja biasa πŸ™Š Sarapan di Laprima Hotel cukup lengkap, ada sereal dan butter kesukaanku. Rasanya? Biasa sih, standar, tidak terlalu mengesankan, tapi cukuplah memberi energi berkat adanya hidangan kentang dan roti panggang.


Berpose "Ketawa Karir" demi content πŸ˜†

Selesai sarapan kami ngumpul di dermaga bagian belakang hotel untuk testimonies recording. Terakhir kali aku ngomong di depan kamera seperti ini kayaknya waktu bikin rekaman untuk video 'penembakan' teman sekelas di kampus deh hahaha. Pas lagi direkam kayak gini, baru deh aku merasa adanya ikatan profesional antara kami. Kehadiranku di Labuan Bajo adalah sebagai pemenang kompetisi Jenius, bukan semata liburan. Tapi selepas itu, sama sekali tak ada beban! Padahal aku sempat parno mengira akan dituntut untuk menulis satu-dua blogpost atau memajang foto promosi Jenius di feed IG. Ternyata tidak sama sekali. Jenius benar-benar mengizinkan kami liburan!

Kami diantar ke pelabuhan jam 9 pagi untuk memulai Living On Board alias LOB. Kapal yang digunakan Get Lost Partner adalah Kapal Derya, berawakkan empat orang (selain Akbar) sebagai kapten, koki, canoe driver, dan sekaligus juga ABK. Oh ya, ngomong-ngomong tentang koki... masanannya enak BUANGET! Yah 11-12 lah sama koki kapalku dulu di Trip Flores. Apa semua orang Labuan Bajo punya advanced skill ya dalam memasak, terutama seafood? Kami semua selalu excited tiap kali jam makan tiba, entah untuk makan ataupun meng-instastory menu saat itu.

Bukti betapa fancy-nya kapal kami

Kapal Derya adalah definisi kapal mahal yang tidak akan mungkin kugunakan jika tanpa sponsor πŸ˜‚ Kapal bertingkat tiga (+rooftop) ini memiliki empat kamar dengan AC di setiap kamarnya. Di belakang kapal ada semacam lounge yang dilengkapi TV dan sound system. Buset deh, itu apa nggak gempor ya bahan bakarnya? Hahaha. Sungguh berbeda jauh dengan kapal murah-meriah Trip Flores-ku di mana kami ber-12 ndlepok di satu area tidur bersama dengan alas kasur busa saja. Makanya, di Derya ini tak perlu khawatir sama sekali soal stop kontak a.k.a colokan! Sama halnya dengan toilet, ada dua toilet tersedia di sisi kiri dan kanan, jadi tak perlu mengantri lama-lama saat ingin mandi atau buang air. Untuk masalah kebersihan, tak perlu ditanyakan lagi lah ya. TOP BGT!

Begitu menginjakkan kaki di kapal, kami dibuat terkaget-kaget oleh penataan area santai: delapan bean bags melingkar di bawah naungan 'kanopi'. Tak berhenti di situ, berbagai cemilan dan segelas sari jeruk dingin sudah tersedia! Ah, nikmatnya jalan-jalan kali ini!

Menikmati hidup

Para 'content creator' sibuk jepret sana-sini

Kenalin ini Akmal (@nurakmaln), fotografer selama trip

Ki-Ka: Lucky, Kak Tiwi, Raka, Tiwi, Bang Gary, Kak Theo, Buci
(Iqbal lagi out of frame)

Now comes the bitter part of this trip -- at least for me: Aku terpeleset di dek kapal dan kaki kiriku terantuk ujung tangga yang membuat tulang jari kelingking terkilir. Oalah, jari kelingking doang... "Iya kelingking DOANG kok", begitu juga pikiranku setelah terpeleset. Tapi kok lama-kelamaan terasa perih juga? Ternyata kulitku sobek dan berdarah cukup banyak, sampai-sampai Akbar harus ekstra pelan saat menolongku membubuhkan Betadine pada luka.

Sooo... jika readers (pernah) bertanya kenapa Erlin selama di Labuan Bajo ini tidak terlihat berenang, yah karena luka ini. Boro-boro berenang, mau berjalan aja susah banget bagiku karena rasanya urat dan tulang kakiku belum bisa menahan beban. (NB: Puji Tuhan, kakiku akhirnya bisa dipakai normal mid-Januari 2019, tapi hingga sekarang tak bisa seluwes kondisi normal 😒)

Halo, sesama pengunjung LOB!

Disuguhkan view ini terus sepanjang perjalanan :)

The show must goes on. 30 menit setelah lepas sauh, kapal kami merapat ke destinasi pertama: Pulau Kelor yang berbentuk seperti daun Kelor. Ini pulau kecil tak berpenghuni dengan bukit 'mungil' yang asyik banget buat didaki, apalagi buat kalian (dan aku!) yang hobi trekking. Jalurnya pendek tapi lumayan curam, jadi pasti akan merasa pegal untuk waktu yang singkat, dan harus hati-hati saat turun πŸ˜‰ Nah, di puncaknya Readers bisa lihat pemandangan indah berupa deretan bukit dan pantai berpasir putih. Indah banget pokoknya!

Menuju Pulau Kelor

Can you spot my #temanjenius ?

Buci on top of the hill (Taken by @rakaikrar)

Wajah-wajah bahagia sukses menaklukkan bukit Kelor

'Antrian' naik kapal

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rinca untuk melihat komodo, the living dragon of Indonesia. Sebenarnya di Pulau Kelor aku pengen ikut turun, tapi nggak bisa karena lukaku belum boleh kena air. Berhubung di Pulau Rinca ada dermaga untuk turun (tidak langsung di pasir pantai), aku putuskan untuk turun kapal meski kaki masih harus diseret untuk berjalan. Apa daya, begitu melewati gerbang Komodo National Park aku akhirnya berhenti untuk mengistirahatkan kaki. "Gapapa, Lin, toh udah pernah juga kan ke sini. Gapapa, daripada nanti malah merepotkan orang lain." Itu mantra yang berkali-kali kuucapkan selama trip ini πŸ˜… Aku melambai-lambai dengan wajah sok girang pada kesembilan #temanjenius-ku yang sudah siap trekking Pulau Rinca bersama tiga rangers. Selamat berburu Komodo!

Hasil berburu!

Pulau Rinca

Yay, full team!
Cr: @luckypakor

Dari Pulau Rinca, sambil menikmati makan siang, kami diantar ke salah satu snorkeling spot tak jauh dari Pulau Kalong. Sobat-sobat Jeniusku yang sudah lama mendamba air laut (derita budak korporat Jabodetabek) akhirnya berkesempatan untuk terjun ke air. Pasti seger banget rasanya berenang sore-sore setelah trekking di dua pulau.


Muka-muka bahagia

Sebagai penutup Hari 2, Pulau Kalong menjadi tempat kami berburu sunset. Lokasi satu ini lah yang membedakan trip saat ini dengan Flores Trip 2015-ku di mana kapal kami tidak sempat mencapai Pulau Kalong menjelang sunset. Ditambah lagi, Kapal Derya punya semacam rooftop yang bisa kita duduki saat ingin menatap langit dengan manja. Yah, asal siap masuk angin/gosong/kehujanan aja hahaha. Momen senja hari itu resmi menjadi sunset terbaik versiku: ribuan kalong terbang keluar dari kumpulan mangrove menuju daratan Labuan Bajo, dengan latar langit bersemburat oranye. 😍


Momen kalong #1

Momen kalong #2


HARI 3. JUMAT, 21 DESEMBER 2018

Suara berisik terdengar dari lantai di atas kamarku dan Buci. Sepertinya satu persatu tengah dibangunkan untuk turun ke Pulau Padar, menyaksikan sunrise dari puncak bukit. Buci juga bangun dari tempat tidur, "Erlin ikut nggak?" Aku menggeleng, "Enggak deh." Wong semalam pas tidur saja aku terus-terusan terbangun karena rasa ngilu di kaki ditambah rasa was-was takut tertendang Buci, apalagi sekarang harus trekking. Seingatku Pulau Padar memang tidak 'securam' Gili Lawa, tapi jalurnya jauh dan melelahkan. Aku tak tega menyakiti diriku sendiri.

Aku pun kembali melanjutkan tidur di tengah hiruk-pikuk rombongan di luar yang sibuk panggil-memanggil untuk naik ke perahu. Satu jam kemudian, aku bergerak bangun dan mandi untuk menyegarkan diri. Kegiatan favoritku di atas kapal, selain tidur siang tentunya, adalah mengeringkan rambut dengan sinar matahari dan angin laut alami. Nikmat banget.

View dari rooftop di pagi hari

Raka membawa cerita seru dari Pulau Padar: "Masa ya, pas giliran gue foto di spot sejuta umat eh bisa-bisanya nggak ada angin bertiup, padahal gue udah siap sama kain etnik. Heran banget, kayaknya tuh influencers di Instagram pada beli angin kali ya biar fotonya bagus?" 😭 Hasil foto mereka cakep semua, apalagi pagi itu mereka kompakan memakai kemeja putih sebagai dresscode (kecuali Iqbal sih, hmmm). Keren! lalu ku menangys di pojokan


Akhirnya bisa terbang ya, Ka :))
(Taken by @luckypakor)

Raka berhasil menggenapkan mimpi ke Pulau Padar.
Terima kasih, Jenius! πŸ’“

Cakeeeep!

Setelah kembali ke kapal dan menikmati sarapan, kami berhenti di destinasi kedua: Pink Beach. Semuanya semangat untuk snorkeling di air sejernih kristal dengan latar pasir kemerahan. Aku ikut berbinar-binar saat mendengar cerita mereka tentang karang-karang cantik di bawah lautnya.

Pink Beach (Taken by @rakaikrar)

Semakin erat, semakin akrab!

Kehebohan selanjutnya terjadi di Manta Point saat Kak Tiwi dan Rita berteriak excited menyaksikan Manta yang berenang beriringan dengan kapal. Raka langsung bergegas meloncat ke air, "Pengen Manta hunting!" katanya.



Demi konten ya, Ka!
(Taken by @luckypakor)

Pemberhentian terakhir di Hari 3 adalah Taka Makasar. Genaplah sudah 24 jam aku tidak turun dari kapal demi menghindarkan kaki dari air. Taka Makasar adalah gugusan pulau berupa gusung pasir yang timbul saat air laut surut. 2 tahun lalu Geng Flores Trip malah melewatkan destinasi ini. Mungkin karena air sedang pasang saat kami singgah. Dari kejauhan, "pulau pasir" ini tampak memikat. Namun dibandingkan Pantai Ngurtavur di Kepulauan Kei, yang satu ini tampak lebih minimalis. Untunglah sore itu tak banyak pengunjung, jadi teman-temanku bisa puas berfoto tanpa takut photobomber.


Taka Makassar sepi pengunjung (cr: @rakaikrar)


HARI 4. SABTU, 22 DESEMBER 2018

Hari terakhir living on board! Selesai menyantap sarapan nikmat (nasi goreng?) kami semua naik perahu menuju Pulau Kanawa. Iya bener, kali ini aku ikut turun (diiringi teriakan haru dari makhluk-makhluk koplak: "AKHIRNYA ERLIN MENYENTUH DARATAN!" πŸ˜‚) karena pulau memiliki dermaga kayu, jadi tak akan terkena air. Bahagia banget sih, lebih-lebih mengingat bahwa kami belum punya foto lengkap berenam selama LOB. Aku juga belum 'menyumbang' footage untuk Akmal. Berat juga yah jadi videografer, despite all the accidents and incidents tetap wajib bikin video yang komplit dan komprehensif.

Pulau Kanawa! Masih cantik dan memukau ya!

Dari atas dermaga saja sudah jelas terlihat mata aneka jenis ikan berenang-renang lincah di atas terumbu-terumbu karang. Akbar berjongkok di tepi dermaga, lalu mulai menyobek-nyobek roti tawar menjadi potongan kecil. BRRR!!! Langsung terjadi pertempuran begitu potongan roti dilempar, ikan kecil dan ikan besar semuanya bersaing untuk jadi yang tercepat memangsa si roti. Meski kata hati berkata lain (aku percaya ikan-ikan di laut tidak sebaiknya dibiasakan makan roti/biskuit dari tangan manusia), aku tetap duduk manis menikmati keseruan di dalam air sana. Ah, pasti lebih seru lagi kalau aku langsung terjun, melihat ajang rebutan roti dari bawah permukaan air.

Gerombolan ikan di bawah dermaga

Selagi teman-teman lain menikmati snorkeling terakhir mereka di Flores, aku pelan-pelan berjalan ke arah resor. Atau... lebih tepatnya, "bekas resor". Dari yang dulunya berjaya sebagai salah satu dari hanya dua resor di kawasan Taman Nasional Komodo, Pulau Kanawa kini "mati enggan hidup tak mau". Sejumlah pondok tampak terbengkalai. Ketika kudekati, tampak masih ada kasur di tiap-tiap pondok. Lengkap dengan seprai dan gorden yang melekat. Beberapa daun pintu sudah menghilang, seakan menyambut hewan-hewan liar untuk menghuni pondok kosong ini.

Satu-satunya yang ramai di Kanawa tinggal kios/restoran yang berada di ujung dermaga. Pagi itu restoran memang penuh oleh turis-turis Asia yang baru selesai snorkeling atau main-main di tepi pantai. Menengok agak jauh ke atas, tampak bukit-bukit yang begitu menggoda untuk dijelajahi. Kalau saja kakiku sehat, aku pasti sudah pamit ke Akbar untuk trekking ke atas sana. Maklum, ini juga kali perdanaku menginjak Pulau Kanawa. Lho, pas dua tahun lalu kamu nggak ke sini, Lin? Ehm... akunya yang nggak turun dari kapal sih hahaha.

Kosong tak berpenghuni


Jam 11 siang kapal Derya mulai bergerak menuju Labuan Bajo. Perjalanan akan makan waktu lebih dari 1 jam, kata Akbar, karena arus air laut yang sudah mulai kencang. Makan siang pun ditunda hingga tiba di pelabuhan nanti, takutnya kami mual karena pergerakan kapal yang cukup dashyat. Rombongan kami mulai bersiap-siap. Ada yang berkemas, ada yang mandi, dan ada yang tidur siang. Aku termasuk geng tidur siang, tapi di atas dek kapal agar tetap terkena belaian angin laut. Sayang rasanya kalau sudah di atas kapal lalu tetap memilih tidur di kamar ber-AC. Semacam... membuang kesempatan emas untuk sunbathing. Makan siang terakhir di atas kapal ditutup dengan gurihnya KERUPUK! Ya ampun, rasa bahagia ketemu kerupuk ngalah-ngalahin rasa senang ngeliat komodo, hahaha.

Huhuhu... udah makan siang terakhir aja. Ah, pasti bakal kangen banget sama Raka dan kehebohannya apply sunscreen, Rita dan cerita anak ayamnya, Kak Tiwi dan ke-Aries-annya, Iqbal dan vlog editing-nya (dan setelan ngantor!), Lucky dan lagu Blackpink-nya, Akmal dan cerita santrinya, dan seluruh night-talk kami yang super-random! Obrolannya ngaco sih tapi beneran baru sekarang bisa ngerasa se-open ini ke orang asing. You guys are the best, sukses selalu yaa kalian, baik karir maupun hobi pelesirnya! πŸ™†

(I had the most interesting talk with Raka and he wrote about it very well on his blog. Make sure to check it out, Readers! Kalian juga bisa baca cerita tentang Trip #jalan2jenius dari sudut pandang Raka di post dia yang satu ini)

Kapal Derya merapat mulus ke dermaga pelabuhan, tempat kami akan berpisah dengan Akbar, Bang Huber, dan tiga awak kapal lainnya. Terima kasih banyak, Derya Crew, kalian keren sekaliii! Mobil dari Get Lost Partner sudah menunggu untuk memboyong kami ke Bandar Udara Komodo.

Sukses selalu, Akbar!

Terlebih dahulu kami mampir ke toko suvenir dekat bandara untuk beli kain tenun khas Flores. "Inget yah, kain tenun yang asli tuh nggak mungkin murah," siap laksanakan, Kak Tiwi, ibundanya Tenoon! Eh tapi dasar anak muda yang nggak mau rugi (saking mahalnya kain tenun asli), beberapa orang memutuskan untuk membeli kain tenun dari penjaja keliling yang di Kampung Ujung Bajo. Saking niatnya, mereka nyewa ojek untuk bawa si Abang Penjaja dari pelabuhan ke bandara untuk beli kain, HAHAHA KOCAK SUMPAH. Gapapa ya yang penting bahagia πŸ˜‚

Tim komplit #jalan2jenius Labuan Bajo
(minus Akmal yang ngefotoin)

Berakhirlah sudah #jalan2jenius di Labuan Bajo. Sungguh suatu pengalaman yang magis: ketemu orang-orang keren di lokasi yang bahkan lebih keren lagi. Tiap teringat momen tiga hari kemarin, aku bawaannya pengen sujud syukur :') Terima kasih Tuhan sudah memberiku kesempatan berharga ini.

***

Oke, Readers, terima kasih sudah mampir yaaa. Selamat (menyambut) tahun baru untuk kita semua! Semoga di tahun 2020 kita mendapat lebih banyak kesempatan untuk bertemu orang baru, dapet kenalan-kenalan yang kece, dan... traveling ke berbagai tempat indah ciptaan Tuhan. BYE-BYE! πŸ’‹

2 comments:

  1. Akhirnya tulisan yang kutunggu tunggu! Walaupun Kak Erlin tidak ikut main air, tapi jujur "rasa" dari #Jalan2Jenius banyak diberikan dari kak Erlin.. Mizz U sooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak Rakaaa! Miss you too! As much!

      Delete