May 20, 2026

Temu Kangen Belanda - Euro Trip 2026 Pt. 1

Hai, readers! Duh... seneng banget bisa nyapa kalian lagi. Makasih beribu-ribu ya untuk kalian yang masih rajin mampir ke blog ini. *peluk satu-satu

Kali ini aku pengen cerita tentang perjalanan Euro Trip 2026 bareng Mama dan Kakak yang kami lakukan di tanggal 16-25 April 2026 lalu. Ada 3 negara yang kami kunjungi: Belanda, Belgia, dan Spanyol. "Kok ke Belanda lagi, Lin?" mungkin kalian ada yang nanya gini ya, karena memang aku udah pernah ke Belanda tahun 2018. 

Jawaban simpelnya: kangen sama Keukenhof. Tapi selain itu, karena tiket promo yang ditawarkan Bang Supriadi (as always!) pilihannya hanya dua: landing di Paris atau Amsterdam. A real no-brainer decision karena aku pasti pilih Amsterdam. On top of them all, karena kami punya keluarga di Belanda, jadi bisa sekalian family gathering hehehe.

Mari kita mulai ceritanya!


Kamis, 16 April 2026

Aku, Mama, dan Kakak mendarat di Bandara Schiphol pada pukul 13.35 waktu setempat. Meskipun udah pernah ke Belanda tahun 2018, tapi waktu itu kami masuk lewat jalur darat alias pakai kereta. Jadi ini kali perdana bagi kami bertiga untuk menjajal antrian imigrasi Schiphol.

Dan seperti antrian negara-negara main destination Eropa pada umumnya, antrian imigrasinya sangat mengular. Baru pukul 16.00 kami selesai mengantri. Untungnya, kami nggak ketemu petugas yang usil. Aku mendahului untuk maju ke loket dan langsung melapor, "Saya datang bertiga dengan Mama dan Kakak untuk liburan ke Belanda, Belgia, dan Spanyol." Di tangan aku sudah menyiapkan clear map berisi dokumen tiket, akomodasi, dan asuransi, tapi semuanya tidak terpakai. 


Setelah mengambil bagasi -- yang sudah berjam-jam keliling di atas konveyor -- kami langsung keluar untuk bertemu Om Ronald dan Om Bert. Mereka adalah keluarga yang kusebutkan di awal tadi. Demi menyambut kami, mereka rela ikut menginap satu malam di Amsterdam agar waktunya efisien.

Kami tiba di Hotel Espresso sekitar pukul 17.30, di sinilah kami akan tidur satu malam. Letak hotel ini cukup strategis dan berada dalam walking distance ke sejumlah tempat wisata, salah satunya Rijkmuseum. Harganya Rp7,4 juta per malam untuk 3-bed bedroom yang cukup nyaman dan muat menampung lima koper kami. Yang bikin nyesek adalah city tax-nya; ini adalah tagihan tambahan yang harus dibayar cash atau with card di resepsionis. Untuk tiga orang, kami membayar pajak sebesar Rp716 ribu.





Agenda selanjutnya setelah beristirahat meluruskan kaki selama satu jam adalah makan malam. Karena om-om ini juga bukan warlok Amsterdam, mereka juga no clues untuk restoran yang enak. Akhirnya aku carikan lah restoran terdekat dari hotel yang punya rating tinggi dan menu yang bisa diterima lidah Asia kami. Pilihanku jatuh ke "De Hollandse Tulp" yang menyajikan berbagai menu Dutch food. Menurut Om Bert dan Om Ronald, makanan yang wajib dicoba adalah Stamppot dan Apple Pie.

"Stamppot" sendiri adalah hidangan tradisional khas Belanda yang terbuat dari kentang tumbuk (mashed potato) yang dicampur dan dihaluskan bersama berbagai jenis sayuran. Pada umumnya menu ini disajikan dengan potongan daging atau sosis asap (rookworst). Aku sendiri sih play safe aja dengan memesan fish n chips yang sudah pasti enak.



Sudah kenyang, tenaga pun sudah terisi lagi. Kami putuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel. Om Ronald memimpin arah langkah kami dengan bantuan Maps. Kami melewati kanal-kanal, taman, deretan bangunan megah, salah satunya Rijksmuseum. Sayangnya museum ini sudah tutup di waktu kunjungan kami. Tapi tidak masalah, kami tetap bisa menikmati eksterior gedungnya dengan banyak berfoto.



Rijksmuseum adalah museum seni yang terkenal di Amsterdam. Di  sekali lukisan dan karya seni lukis karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Vermeer, dan Van Gogh. Lokasi gedung ini berada di area yang disebut "Museum Square", karena selain Rijkmuseum juga ada Museum Van Gogh, Museum Stedelijk, dan Concertgebouw yang cukup berdekatan.

 

Oh ya, sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, kami sudah melihat banyak sekali bunga-bunga cantik di pinggir jalan. Eropa di musim semi memang cantik sekali ya. Kami jadi semacam "pemanasan" sebelum besok akhirnya akan melihat jutaan bunga di kebun seluas 32 hektar! 


 

Jumat, 17 April 2026

Kami memulai hari dengan packing karena harus check-out dari hotel dan meninggalkan Amsterdam. Jadi rencananya, kami akan menginap di rumah Tante Grace & Om John di Arnhem sampai nanti melanjutkan perjalanan Euro Trip ke Brussels.

Hari ini kami akan pergi ke tujuan utama Euro Trip 2026 ini yaitu Taman Keukenhof. Karena belum sarapan, Om Ronald mengajak kami untuk singgah dulu ke restoran dekat Keukenhof untuk mengisi perut. Restorannya bernama "Venneper Lodge" yang sangat cantik. Makanannya pun enak-enak semua. Kami memesan Dutch pancake dan segelas coklat hangat. 



Dutch pancake berbentuk kue dadar bundar tipis yang ditumpuk dan disajikan dengan berbagai topping manis seperti madu, es krim, ataupun potongan buah. Cukup berbeda dengan American pancake yang biasanya berbentuk roti bundar lebih tebal.

Setelah kenyang dan puas foto-foto dengan latar rerumputan hijau, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi utama. Di jalan utama, sudah terbentuk antrian panjang mobil-mobil yang semuanya menuju Keukenhof. Tapi jangan khawatir, antriannya tidak stuck kok, hanya "ramai lancar" saja. Manajemen parkir Keukenhof sangat rapi. Deretan mobil tampak apik berjejer. Semakin pagi kalian tiba, semakin dekat juga jarak parkirnya ke main entrance Keukenhof. Kami sendiri tiba pukul 11.15 dan harus berjalan kaki cukup jauh menuju pintu masuk.

 

Keukenhof artinya "Kebun Dapur" dalam bahasa Belanda. Ia adalah salah satu taman bunga terbesar di dunia, mencakup area seluas 32 hektar dan memiliki sekitar 7 juta umbi bunga yang ditanam setiap tahunnya. Keukenhof terkenal dengan bunga tulipnya, dan juga terdapat banyak bunga lainnya seperti eceng gondok, bakung, lili, mawar, anyelir, dan iris.

Kalau readers mengamati foto-foto Keukenhof di blog ini, pasti ngerti deh kenapa aku pengen lagi dan lagi mengunjungi taman bunga satu ini. Kalau bisa, tiap tahun pengen mampir ke Belanda demi tulip-tulip cantik ini! 




Oh ya, di sini kami juga ditemani oleh Om Edwin dan anaknya, Lynn.



Aku keluar dari Keukenhof dengan perut keroncongan. Lynn dan Om Ronald mengatur agar kami 'ngemil' dulu di Intratuin Lisse sekitar 10 menit bermobil dari Keukenhof. Intratuin ini semacam supermarket yang berspesialisasi di penjualan tanaman dan peralatan berkebun. Begitu masuk ke sini, kami langsung teringat dengan IKEA. Dan persis seperti IKEA, ada restoran di bagian akhir setelah melewati area payment atau kasir. Makanannya cukup enak sih, ada berbagai pilihan pasta dan kue.



Yang paling mengesankan adalah... ada kebun tulip luas di seberang supermarket! Kami tidak sempat mencari tahu apakah kebun ini boleh dimasuki pengunjung, tapi melihatnya dari luar saja sudah cukup bikin mata dimanjakan.


Kebun tulip di seberang Intratuin Lisse

Kami lalu menempuh perjalanan 1,5 jam menuju Ede, kota tempat tinggalnya Om Freek. Di kota ini kami akan makan malam bersama di restoran "Eetkamer Lamens" yang masuk dalam daftar MICHELIN Guide Netherlands. Fancy ya? Interior restorannya langsung menunjukkan gaya industrial dengan meja-kursi dari kayu dan besi.

Tapi tolong jangan tanya aku apa saja menu yang kami makan malam itu, aku sudah lupa HAHAHA. Rasanya sih enak-enak saja. Namun yang paling aku sukai dari resto ini adalah dia menyediakan free flow air putih alias tap water. Tanpa perlu diminta, pitcher berisi air putih ini terus datang. Aku dan Mama senang sekali. Oh, dan satu lagi: toiletnya! Aku sangat mengapresiasi upaya resto ini untuk menyiapkan stok pembalut dan parfum spray di dalam toiletnya. Thoughtful sekali ya. 


Setelah makan malam berakhir, kami semua menuju Arnhem. Arnhem adalah kota tempat tinggalnya para bersaudara yang lain, termasuk Tante Grace yang rumahnya akan menjadi tempat kami menginap selama 2 hari. 


Sabtu, 18 April 2026

Hari ini kami diajak menuju Giethoorn yang umum dikenal sebagai "desa tanpa mobil". Seperti Venesia, desa ini dikelilingi kanal sehingga satu-satunya transportasi yang mungkin digunakan adalah perahu. 

Mampir sarapan di minimarket dalam pom bensin di Heerde 


Setibanya di Giethoorn, para om langsung sibuk mencari perahu yang telah mereka pesan lewat aplikasi. Untuk meng-unlock perahunya cukup dengan men-scan kode QR. Perahu pun siap dipakai untuk berkeliling kanal selama 3 jam ke depan. Om John dan Om Freek gantian menjadi 'nahkoda'.


Lihat gagahnya Om John di belakang kemudi!

Baru 5 menit berperahu, kami sudah disuguhkan pemandangan syahdu. Kanal-kanalnya yang bersih dan teduh, jembatan kayu melengkung yang cantik, dan rumah-rumah pertanian beratap jerami di kiri-kanan kanal. Beberapa rumah punya dekorasi lucu di halaman rumputnya: patung sapi atau patung anak kecil, kursi taman, pot-pot bunga. 

Dekorasi cantik di halaman salah satu rumah 

Cara terbaik untuk menikmati Giethoorn adalah dengan menyewa perahu listrik yang senyap, mendayung dengan kayak, atau berjalan kaki di jalur setapak. Mungkin kalau ada kesempatan lagi mampir ke Giethoorn, aku ingin menyisihkan waktu 3-4 jam agar bisa puas jalan kaki mengelilingi desa ini.


Di Giethoorn kami menyempatkan makan siang di "Grand Cafe De Fanfare". Seperti umumnya restoran Eropa, porsinya cukup besar untuk dua orang. Aku dan Mama sama-sama kekenyangan, sementara Kakak cukup cerdik dengan hanya memesan burger saja.

Pukul 15.30 kami tiba di destinasi selanjutnya yaitu Paleis Het Loo di kota Apeldoorn. Ini adalah istana atau kastil yang dulu didiami oleh keluarga kerajaan House of Orange-Nassau dari abad ke-17 hingga kematian Ratu Wilhelmina pada tahun 1962. Istana ini direnovasi pada periode 1976 hingga 1982. Sejak 1984, istana ini dijadikan museum nasional yang dibuka untuk umum.


Karena keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam museum dan cukup menikmati kebun istana saja. Ada air mancur, labirin, deretan bunga, dan tentunya bangunan istana yang megah. Kami sempat kehujanan di lokasi ini.

Dari Apeldoorn, kami kembali ke Arnhem untuk menjemput Om David di Toko Indradjaja. Ini adalah toko yang menjual barang-barang ekspor Indonesia dan ada makanan Indonesia juga yang dimasak oleh the one and only chef: Om David.


Gelang hasil prakarya Tante Grace dan oleh-oleh coklat + stroopwafel

Kami mengakhiri malam ini dengan packing karena besok harus bangun pagi-pagi untuk menuju ke Amsterdam.


Minggu, 19 April 2026

Setelah menikmati sarapan sederhana, kami pun berangkat menuju Amsterdam. It always feels blue to say farewell, padahal kami akan bertemu lagi sekitar akhir tahun karena para om-om ini akan 'mudik' ke Indonesia.

Om Bert dan Om Freek mengantarkan kami dengan mobil menuju Stasiun Amsterdam-zuid. Waktu perjalanannya sekitar satu hingga satu setengah jam. Kali ini aku pastikan tidak ada barang yang tertinggal, khususnya PASPOR. Ehem! Readers generasi lama, apakah masih ingat dengan kisah aku ketinggalan paspor di Belanda? Hahaha.


Kereta yang kami naiki adalah Eurocity kelas 2 dengan harga tiket sebesar Rp2,6 juta untuk bertiga. Kami berangkat pukul 09.40 dari Amsterdam, dan tiba di Brussels pukul 12.03 tepat. Perjalanannya singkat ya? Ini salah satu alasan kenapa aku sangat suka traveling ke benua Eropa. Selain kota-kotanya yang cantik, perpindahan antarkota bahkan antarnegara-nya bisa dibilang mudah. Apalagi negara-negara tetangga, cukup naik bis atau kereta saja dengan harga tiket yang masih terjangkau.

Selesai sudah ceritaku di blog part 1 ini. Terima kasih sudah mampir ya, readers! Selanjutnya aku akan bercerita tentang Brussels - Belgia yang merupakan negara ke-31 bagiku. Sedikit bocoran, di kota ini pun kami tidak jauh-jauh dari foto dengan bunga-bungaan HEHEHE.

Sampai jumpa! Tot snel! See you soon!

February 13, 2026

Membuat Visa Schengen Belanda lewat VFS Kuningan City

HALO, readers! Kyaaa senang sekali akhirnya aku bisa menyapa kalian, walaupun hanya lewat satu blogpost ringkas ini. Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku membuat visa Schengen lewat Belanda. Semoga blogpost ini jadi pembuka jalan untuk pos-pos selanjutnya yaa... alias LIN AYO JANGAN MALAS NULIS BLOG DI 2026! Hahaha *cubit diri sendiri* 

Tujuan utama membuat visa Schengen tahun ini adalah early spring trip ke Belanda. Lho??? Kan udah pernah ke Belanda? Iya memang sudah pernah, tapi tahun ini ada yang spesial... Kakak ikut menemani aku dan Mama! Selain Belanda, kami juga akan mengunjungi dua negara Eropa lainnya. Nanti aku cerita lebih detil ya di blogpost khusus trip review Euro Trip 2026 😉

Salah satu hal yang mencolok perbedaannya adalah biaya jasa pengurusan visa oleh VFS Global harus dibayar di muka, alias aku harus mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu baru bisa membuat jadwal pertemuan aplikasi visa. Hal-hal lainnya? Akan kubahas lebih lanjut di bawah yaa.

----

Persiapan aplikasi visa


Situs VFS Global Belanda untuk Indonesia


February 04, 2025

Belajar tentang Karpet dan Ngarai di Tinghir - Morocco Trip Pt. 3

Ini adalah hari keempat di Maroko dan hari kedua ikut tur Merzouga. Sebelum masuk ke atraksi utama, kita akan terlebih dulu berkunjung ke Tinghir dan melihat perkebunan, perumahan tradisional, pembuatan karpet, dan belajar geografi di lembah-lembah. Sebenarnya aku ingin langsung menggabungkan ceritanya dengan perjalanan menuju Gurun Sahara, tapi ternyata banyak hal menarik yang ingin kuceritakan tentang wisata di Tinghir.


Salah satu destinasi hari ini

Mari kita mulai kisahnya...

DAY 4 12 NOVEMBER 2024

Pagi ini kuawali dengan rasa dingin yang menusuk karena the so-called AC 'penghangat' itu nggak berfungsi maksimal dan kami hanya punya satu selimut di kamar. Ah sudahlah, toh sebentar lagi kami akan check-out dan tidak akan pernah kembali ke sini. Biarlah aku menyimpan tenaga untuk membawa turun koper dari lantai empat ini. Mood-ku sedikit membaik ketika menemukan ruang makan masih tergolong sepi, dan sarapannya -- meski sederhana -- menyediakan telur dan butter untuk dioleskan ke roti. Cukup mengenyangkan bagiku. Tak berapa lama, antrean sudah tercipta dan cukup mengular. "Untung kita tepat waktu mulai sarapannya ya Lin," celetuk Bang Adi.

Supir akhirnya tiba, kami berdelapan langsung bergegas masuk ke dalam van. Aku tak kuat lagi menahan rasa dingin di luar. Sepertinya dari seluruh tempat yang kami kunjungi di Maroko, area inilah yang terdingin... yah karena dia juga yang paling tinggi sih. Van pun berangkat dan sempat singgah sebentar di "hotel luxury" untuk menjemput lima orang anggota tur lainnya. 


Tampilan dinding Monkey Paw Mountains di pagi hari 

Perjalanan hari ini akan dimulai dengan tur setengah hari di Tinghir, sebuah kota di timur Maroko yang berjarak sekitar 70 km dari tempat kami menginap. Setelah berkendara satu jam, van kami berhenti di tepi jalan Boulevard Birinzrane. Seorang pria berpakaian jubah putih membuka pintu mobil dan menyapa kami hangat, "Hello everyone, my name is Ahmed and I am your guide for today." Demikianlah kami berkenalan dengan pemandu tur hari kedua ini.


Jembatan Wadi Toudgha


Nama lokasi ini adalah Pont de Oued Toudgha atau Jembatan Wadi Toudgha. Di Google Maps lokasi ini diklaim sebagai atraksi wisata, di mana kita akan turun dari jalan raya/jembatan dan menempuh jalan tanah alias off-road. Sejujurnya aku pun kesulitan waktu mencari penjelasan tentang lokasi ini di Google. Ditambah aku kurang begitu menyimak penjelasan Ahmed karena pelafalannya yang sulit ditangkap oleh kupingku. Well... intinya sih ini adalah area perkebunan dan ladang yang luas. Kami akan menelusuri ladang pohon palem dan zaitun serta area mirip sawah-sawah. 

Ahmed memberikan penjelasan tentang tanaman di ladang

Ahmed mengajak kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah area luas ini menjadi petak-petak sawah. Bedanya dengan sawah, ladang di sini lebih kering dan tidak becek. Ahmed lalu menjelaskan bahwa tanaman di area itu bukanlah padi-padian, tetapi sejenis tanaman rumput untuk makanan ternak. Setiap petak biasanya dimiliki oleh orang yang berbeda. Biasanya para pemilik datang untuk mencabut rumput lalu diberikan kepada hewan ternaknya di rumah. Atau bisa juga langsung membawa ternaknya ke ladang, seperti yang bisa readers lihat di foto di bawah.


Seekor keledai menikmati makanannya langsung dari ladang 

Perjalanan menyusuri ladang dan kebun ini berakhir di sungai yang belakangan kuketahui bernama Todra River. Hari itu aliran sungai tidak begitu tinggi dan deras, sampai-sampai ada sepeda motor yang bisa menyeberang tanpa kendala. 

Motor mudah saja menyeberangi sungai


Kami lalu dituntun menuju kawasan perumahan tradisional yang ada di seberang Sungai Todra. Di peta, readers bisa menemukan area ini dengan nama The Berber House yang memang secara harfiah berarti rumah-rumah (orang) Berber. Masih ingat dengan desa Ait Benhaddou kemarin? Nah, rumah-rumah ini juga dibangun dengan tanah liat seperti Benhaddou, tak heran dindingnya jadi berwarna oranye kemerahan seperti warna tanah liat. Kami berjalan mengitari kawasan ini sekitar 30 menit sambil mendengar penjelasan Ahmed.


Tekstur dinding rumah Berber dari dekat

Jika diamati dari dekat, tembok rumah Berber ini dibuat dari campuran tanah liat dan jerami. Atapnya sendiri juga terbuat dari jerami. Bahan-bahan ini memiliki dwifungsi: di musim panas dia membuat rumah tetap adem, dan di musim dingin dia menjaga suhu dalam rumah tetap hangat. Canggih sekali ya bahan-bahan tradisional ini?


Ahmad sedang menjelaskan soal instalasi listrik 


Bingkai pintu modern di rumah tradisional

Salah satu pelajaran menarik yang aku peroleh dari tur kali ini adalah soal huruf Berber. Ternyata suku Berber memiliki alfabetnya sendiri, selayaknya aksara Jawa dan Lampung. Zhor dan suaminya Mohammed menjelaskan soal huruf ini kepada kami. Dan sama juga seperti aksara-aksara tradisional di Indonesia, huruf Berber juga mulai pudar karena tidak diajarkan pada generasi muda. Mohammed misalnya masih bisa memahami bahasa Berber, tapi tidak begitu lancar mengucapkannya.

Penasaran dengan hurufnya? Nah, huruf Berber untuk penulisan jalur "Tizi n Tichka" adalah: ⵜⵉⵣⵉ ⴻⵏ ⵜⵉⵛⴾⴰ Jika diamati, alfabet Berber ini sama saja dengan alfabet Romawi yang biasa kita pakai ya dan tidak sesulit huruf kanji Jepang dan hanzi China. Barangkali readers ingin tinggal di Maroko dan mempelajari bahasa Berber, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah belajar alfabetnya hehehe.

Tulisan Berber di atas jendela

Alfabet Arab, Latin, dan Berber dalam satu plakat

Ahmed kemudian mengajak kami mampir ke rumah salah satu pengrajin karpet handmade. Tinghir ini memang terkenal sebagai daerah pembuat karpet tradisional khas Berber. Kami berkenalan dengan seorang pria -- aku lupa namanya -- yang selanjutnya menjelaskan banyak hal terkait pembuatan karpet. Dia menjelaskan jenis-jenis teknik berbeda untuk berbagai karpet, ternyata ada banyak sekali jenis teknik dan pastinya semua itu menghasilkan karpet yang indah. Silakan menikmati foto-foto di bawah, semuanya adalah karpet handmade yang dibuat dengan teknologi tradisional. 

Berbagai kerajinan karpet handmade

Rasanya ingin memborong semua

Sayangnya tidak ada satupun dari kami yang membeli karpet di sini. Sebenarnya secara harga karpet di Tinghir ini lebih murah daripada karpet Maroko yang dijual di Indonesia, tapi tidak mungkin kan kami mau berat-berat membawa karpet ini saat pulang nanti? Bisa juga sih dikirim lewat kargo... tapi rasanya tidak efisien. Cukuplah cerita dan foto-fotonya saja yang kami bawa pulang.

Salah satu yang berkesan bagiku adalah si pengrajin ini menguasai banyak bahasa. Memang begitulah kemampuan alami orang-orang Maroko yang tinggal di perbatasan Eropa dan Afrika. Mereka menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa nasional, namun lihai berbahasa Prancis, Spanyol, dan Italia juga karena banyaknya turis dari negara tersebut yang berkunjung ke Maroko. Tak ketinggalan bahasa Inggris juga sebagai bahasa global, dan bahasa Berber sendiri sebagai bahasa daerah. 

Sampai jumpa, Tinghir!

Perjalanan dilanjutkan ke destinasi kedua yaitu Dadès Gorge atau Ngarai Dadès dalam Bahasa Indonesia. Kami bermobil selama satu jam atau sekitar 70 km ke arah Barat. Destinasi ini berupa serangkaian ngarai atau lembah yang dalam dan curam yang terbentuk oleh aliran Sungai Dadès. Ketika turun dari mobil, hal pertama yang ku-notice adalah tingginya dinding ngarai mengapit jalanan, dan aliran sungai cetek di bawahnya. Sayang sekali kami tiba saat hari masih siang, sehingga posisi matahari tidak begitu maksimal menyinari ngarai. Banyak bayangan gelap yang terbentuk karena matahari berada di atas kepala. Sepertinya akan lebih estetik jika sinar datang dari timur atau barat. 


Ngarai Dades dan aliran Sungai Dades

Dinding ngarai yang tampak megah dari kejauhan

Karena posisi matahari yang sudah tinggi di atas kepala, ditambah lambung yang sudah mulai keroncongan, jujur saja aku tidak begitu menyimak penjelasan dari Ahmed di lokasi ini. Walau begitu, aku tak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat dinding-dinding ngarai yang terbentuk oleh erosi aliran air sungai atau proses geologi lainnya selama jutaan tahun.  

Aku tidak banyak menjepret di Ngarai Dadès. Hanya sesekali saja ketika ada situasi yang menarik, seperti seekor keledai dan anaknya yang tiba-tiba lewat, atau sekelompok pemanjat di kejauhan yang tampaknya baru selesai memanjati salah satu dinding ngarai. Tinggi ngarai bervariasi, di beberapa tempat ada yang mencapai 1.600 meter. Lumayan juga jika didaki hanya dengan bergelantungan di tali... aku ngeri-ngeri sedap membayangkan proses pemanjatan mereka. 


Sekelompok pemanjat di puncak ngarai

Keledai dan kuda pengangkut barang

Readers masih inget nggak, aku sempat menyinggung soal "budaya tip di Maroko" pada post bagian pertama? Nah, di akhir tur Gorges Dades ini kami berpisah dengan Ahmed si pemandu tur, namun dia menutupnya dengan pesan, "Jika kalian senang dengan guide saya, mohon berkenan memberi tip. Namun jika tidak juga, tidak masalah, saya tak berkeberatan." Memang sih budaya meminta (dan memberi tip) ini cukup lumrah di dunia pariwisata di negara apapun. Bahkan di beberapa negara, salah satunya Austria (yang paling kuingat), para waiter/waitress restoran pasti meminta tip saat kita membayar tagihan. Konon di negara-negara ini, gaji para waiters ini memang sedikit, jadi mereka sangat bergantung pada bayaran tip. 

Di Maroko sendiri, para guide selalu minta tip jika kita berkenan. Aku dan Bang Adi memang tipikal orang yang pasti memberi tip, apalagi kalau si pemberi jasa memang layak mendapatkannya. Namun kami cukup kaget ketika di kios penjualan SIM card, si pegawai terang-terangan minta tip untuk jasanya menyetel SIM card. Pertama, wasn't this part of your service? Kedua, caranya meminta tip sungguh lantang seakan kami tidak punya ruang untuk menolak. Alhasil Bang Adi menyuruhku untuk ngasih tip 50 dirham. 

Belajar dari kebiasaan meminta tip ini, serta berkaca pada turis-turis lain yang cukup pelit dalam memberi tip (padahal mereka kan berasal dari negara yang lebih kaya!), di beberapa kesempatan aku jadi lebih berani untuk menolak jika dimintai tip. "Sorry, we don't have that much money." Jujur 100% sih... toh harga rupiah juga lebih murah daripada dirham. Aku merasa lebih adil jika mereka minta tip kepada orang-orang Eropa saja. Eh tapi aku nggak mau kasih tip untuk restoran ya... kalau untuk pemandu wisata sih tetap ngasih.


Terima kasih, Ahmed!

Oke, sekian intermezzo soal tip-mengetip di Maroko. Kembali ke cerita, rombongan kami pun berpisah dengan Ahmed dan berjalan kaki sedikit untuk balik ke van. Bang Adi sempat membeli satu stel pakaian katun putih yang telah diincarnya sejak masih di Marrakesh. Harganya lebih mahal 50 dirham, tapi tetap dibelinya karena ini pun sudah lebih murah daripada harga jual di tempat wisata lain seperti Ait Benhaddou kemarin.


Cerita berlanjut ke Part 4...

December 17, 2024

Desa yang Mendunia di Ouarzazate - Morocco Trip Pt. 2

Di hari ketiga, aku dan Bang Adi akan memulai perjalanan kami menuju another highlight of Morocco yaitu Gurun Sahara! Namun untuk menuju sana, kami terlebih dahulu berwisata di kota yang dikenal sebagai "Hollywood-nya Maroko". Di post ini, readers akan melihat banyak foto-foto dengan dominasi warna coklat dan merah. Kalian para moviegoers juga mungkin akan merasa... "Eh, kok aku familiar ya dengan bangunan itu?" 

Pokoknya nikmati saja ya keindahan destinasi di cerita Trip Maroko bagian ke-2 berikut ini.

Tujuan utama Morocco trip hari ketiga 


DAY 3 - 11 NOVEMBER 2024

Sebenarnya untuk tiga hari mendatang kami mendaftar tur Gurun Sahara dan tidak backpacking atau jalan sendiri. Nah, biasanya kan aku senang mencantumkan nama tur dan kontak/media sosial... tapi kali ini akan jadi pengecualian. Aku pribadi cukup merasa kecewa oleh kelalaian operator tur ini, jadi kuputuskan untuk tidak merekomendasikan dia kepada readers sekalian. Aku yakin kok masih banyak operator tur lain yang bisa mengantarkan ke Sahara, dan pasti jauh lebih bertanggung jawab. "Apa yang terjadi, Lin?" Nanti akan kuceritakan.

Aku dan Bang Adi bangun pukul 06.00 pagi. Dibandingkan waktu bangun normalku di Jakarta, ini memang terlalu pagi. Tapi karena malamnya aku tidur lebih awal, jadi durasi tidurnya sudah tercukupi. Toh nanti kami akan menempuh perjalanan jauh dengan mobil, pasti banyak kesempatan untuk tidur.

Sempat terjadi sedikit kebingungan soal titik jemput, tapi akhirnya bisa teratasi. Singkat cerita, mobil tur kami siap berangkat dari Avenue Hommane Al Fatouaki Marrakesh pada pukul 08.00 (GMT+1). Syukurlah Bang Adi terlebih dahulu membeli sarapan berupa croissant, teh mint panas (mendidih!), dan jus jeruk, karena ternyata lambung ini tidak sanggup menunggu lebih lama lagi untuk diisi. Bisa-bisa aku mules sepanjang perjalanan kalau tidak sarapan berat. Di dalam mobil terdapat 13 orang peserta tur yang akan menjalani paket wisata 3 Days 2 Nights menuju Gurun Sahara. 

Seperti inilah wujud mobil van yang kami naiki selama ikut tur

November 29, 2024

36 Jam Menuju Marrakesh - Morocco Trip Pt. 1

Halo readers yang sangat kurindukan! Lama banget ya kita nggak ketemu di platform ini. Kalian gimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan bahagia ya! *peluk satu-satu*

Kali ini aku mau memulai rangkaian ulasan perjalanan tentang... MAROKO! Destinasi ini adalah overseas trip terjauhku tahun ini. Oh berarti ada yang lebih deket? Adaaa hehe tapi I'll talk about it later ya. Aku ke Maroko pada musim gugur 2024 bersama seorang travelmate yang sangat sering kusebut di blog ini: Bang Supriadi. Jalan-jalan berdua doang apa serunya? Seru banget dong, yang pasti aku nggak perlu mengantre untuk jadi objek potretan Bang Adi yang selalu cakep hasilnya itu hahaha.

Nggak sabar mau ketemu Marrakesh


Yuk lah mari mulai cerita tentang perjalanan ke Maroko, negara pertamaku di benua Afrika 😍


DAY 1 - 9 NOVEMBER 2024

Aku memulai perjalanan dengan terbang dari Jakarta ke Singapura, sedangkan Bang Adi berangkat dari Denpasar. Perjalanan Bang Adi memang lebih jauh dan lebih lama, tapi tidak perlu khawatir karena beliau berangkat dengan nyaman berkat kelas bisnisnya hahaha. Dari Singapura barulah kami naik pesawat bersama menuju Casablanca, dengan terlebih dahulu transit di Jeddah - Arab Saudi.

Jika menghitung durasi penerbangan dan transit, aku menghabiskan 33 jam dari Jakarta untuk menginjakkan kaki di Maroko. Woah! Ini bahkan lama dari waktu perjalananku ke Eropa tahun lalu. Baru sekarang lah aku menyadari sejauh apa benua Afrika itu 😅

Rute penerbangan Jakarta-Casablanca


Belum berakhir di situ, aku dan Bang Adi masih harus berpindah kota menuju destinasi pertama kami yaitu kota Marrakesh. Genaplah total perjalananku menjadi 36 jam!

June 29, 2023

The Girls Reunited in Switzerland - Euro Trip 2023 Pt. 1

2023 pecah telor! Akhirnya aku bisa nulis blog lagi, tapi yang terutama... bisa traveling ke luar Indonesia lagi! Woo-hoo 👏 Aku memang belum berani untuk ke luar negeri lagi selama pandemi kemarin. Traveling sih udah tapi masih di sekitaran Indonesia aja. "Lho kok gak ada ceritanya di blog?" Ehm, gimana ya readers... jari-jariku udah kaku untuk memulai nulis cerita. Draft-nya udah banyak tapi gak ada satu pun yang selesai HAHAHA.

Anyway... kali ini aku pengen bercerita tentang Euro Trip 2023 kemarin. Aku akan memulai post ini dengan pernyataan: Tuhan tuh baik banget ya. Doaku saat trip solo tahun 2019 lalu dijawab Tuhan dengan begitu indah. Waktu itu, aku perdana menginjakkan kaki ke Swiss, negara yang langsung menjadi negara tercantik nomor satu yang pernah kusinggahi. Pertama kali mataku memandang alam Swiss, sebait doa langsung terucap di dalam hati. Doa itu pun terus kuulang selama 3 hari di sana: "Tuhan, boleh yaa 2-3 tahun nanti aku bisa ke sini lagi sama Mama."

Memang bukan 2-3 tahun setelah itu, karena dunia justru 'dipaksa istirahat' gara-gara pandemi. Tapi waktu Tuhan bukanlah waktu kita; waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik. Akhirnya di akhir tahun 2022 kemarin, doaku seperti dijawab-Nya dengan: "Ya, boleh Erlin, tahun depan kalian boleh ke Swiss" 💖

Waktu Tuhan emang yang terbaik!

June 20, 2022

Manggarai - Jakarta Walking Tour Series #5

Aku kembali mendaftar walking tour bersama Jakarta Good Guide, kali ini dengan rute "Manggarai". Hari Sabtu, 20 November 2021, aku menemui para peserta dan guide di bawah JPO halte Transjakarta Pasar Rumput. Jumlah peserta pagi itu tidak seramai rute Pasar Baru, tapi juga tidak se-sedikit rute Senayan. Hanya ada satu guide yang bertugas, yaitu Mas Pampam. Orangnya seru, ceriwis, dan sangat mendetil dalam bercerita. Rute satu ini tergolong lama dan panjang, menurutku, dibandingkan keempat rute sebelumnya. Mungkin juga ditambah faktor cuaca yang sedang terik, jadi waktu 2 jam terasa lama bangeeet. 

Post ini juga akan cukup panjang ya, readers, karena memang banyak sekali cerita dan sejarah yang kami pelajari selama tur ini. Ada 10 (sepuluh!) lokasi yang kami kunjungi di rute Manggarai ini, dan semuanya menyimpan cerita yang menarik.

...
Ingat Manggarai, ingat stasiun kereta

May 23, 2022

Sehari di Pangalengan: Wisata Kebun Teh dan Arung Jeram

Halo, readers! Ini akan jadi post paling cepat di tahun 2022 karena hanya berselang 9 hari saja pasca-trip. Harap maklum ya, kakiku memang lebih cepat melangkah daripada jariku mengetik. Aku masih berutang banyak cerita, baik walking tours maupun one day trips lainnya.

Rafting di Pangalengan

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku ODT ke Pangalengan, Jawa Barat. Trip ini berlangsung hari Sabtu, 14 Mei 2022 dan diselenggarakan oleh Backpacker Jakarta, sebuah komunitas backpacker yang giat mengadakan perjalanan bersistem cost sharing. Aku akan membahas soal biayanya di bagian akhir reviu. FYI aja ya readers, reviu ini akan sangat biased berdasarkan pengalamanku, jadi akan banyak sudut pandang negatif. Tetap pakai kepala dingin yaa saat membaca, kalo bisa sih fokus aja sama keindahan tempat wisata & keseruan di Pangalengan hahaha.