November 19, 2021

Matraman - Jakarta Walking Tour Series #2

Puas dengan walking tour bersama Jakarta Good Guide sebelumnya, aku putuskan untuk ikut tur lagi di minggu ini. Dari seluruh rute yang diumumkan, aku memilih untuk ikut Tur Matraman. Kenapa? Karena lokasinya yang dekat dari tempat tinggalku, hahaha. Selain itu aku penasaran juga, emang ada apa di Matraman, kok sampai diadakan tur? Seumur-umur di Jakarta, aku hanya tahu flyover dan toko buku Gramedia di Matraman.

Ada apa sih di Matraman selain Gramedia?

November 15, 2021

Glodok - Jakarta Walking Tour Series #1

Tinggal di Jakarta selama lebih dari lima tahun tidak serta-merta membuatku kenal seluk beluk Jakarta, atau bahkan mengetahui seluruh kisah tentang ibukota bersejarah ini. Suatu hari, seorang teman di Instagram mem-post perjalanannya bersama Jakarta Good Guide. Wah! Menarik sekali! Siapa mereka? Jakarta Good Guide alias JGG adalah sebuah layanan tur keliling Jakarta yang bersifat pay as you wish alias "terserah bayar berapa". Mereka memiliki 30 rute melingkupi Jakarta Utara, Barat, Timur, Selatan, dan Pusat yang beroperasi setiap akhir pekan (weekend). Lho kok wiken doang, mau dong hari Senin-Jumat juga! Boleh banget, kawan! Mereka juga melayani permintaan private tour kok, monggo langsung cek blog atau Instagramnya di @jktgoodguide.

Sekitar satu bulan setelah aku mem-follow JGG, akhirnya kesempatan untuk bergabung datang juga. Kupastikan seluruh kerjaan kantor dan skripsi rampung terlebih dahulu, barulah mendaftar ikut tur. Males banget kan kalau tiba-tiba aku harus membatalkan agenda menarik ini karena ada revisi Bab 4, atau dapat penugasan lembur ikut rapat 😅 

Minggu, 17 Oktober 2021 adalah kali pertama bagiku ikut walking tour bersama JGG. Tur spesial  ini diberi nama "A Walk To Understand: Going Around Glodok" yang merupakan kolaborasi JGG dengan 100 Persen Manusia, sebuah festival film yang mengutamakan isu-isu kemanusiaan. Kalau biasanya walking tour JGG bersifat pay as you wish, tur Glodok ini berbayar Rp100 ribu yang akan digunakan untuk program kerja 100 Persen Manusia. Ini juga yang bikin aku tertarik bergabung, karena ada commitment fee-nya. Kalau sudah bayar duluan gini, aku akan merasa lebih committed dan tidak mengalah pada rasa malas yang bisa saja tiba-tiba datang di hari H 😆 

Oke, sekian panjang latar belakang dari walking tour bersama JGG, marilah kita masuk pada ulasan perjalanan tur Glodok selama 1 jam 45 menit. Let's get started!

Salah satu destinasi, Wihara Dharma Bakti

10 orang peserta walking tour hari ini


October 31, 2020

Halloween di Universal Studio Singapore

Halo, Readers! Selamat gajian bagi yang gajiannya akhir bulan, dan selamat menanti bagi yang gajiannya baru hari Senin besok 😆 Tanggal hari ini, 31 Oktober, populer dikenal orang sebagai perayaan Halloween, suatu tradisi di mana orang-orang menggunakan kostum (biasanya seram/menakutkan), dan anak-anak pergi ke tetangga sekitar untuk "Trick or Treat!" alias meminta permen/coklat. Indonesia tentu saja tidak mengenal tradisi ini. Tidak ada istilah pumpkin carving atau mengukir buah labu menjadi Jack O'Lantern yang 'menyeramkan', di mana-mana labu yah untuk dimakan. Sudahlah... pandemi ini cukup menyeramkan, tak perlu lagi ditambah Halloween 😅

Sepanjang 27 tahun hidup, baru sekali aku 'merayakan' Halloween. Tepatnya satu tahun lalu. Lama juga yaa sudah satu tahun hehehe kok rasanya baru kemarin kami capek ketawa-ketiwi habis dari rumah hantu... Perencanaan dimulai tanggal 13 Agustus, di mana sang kepala suku, Bang Supriadi, mengirim chat: "Erlin, ke Singapore yuk Halloween". Rupanya beliau baru melihat ada diskon menarik untuk tiket Universal Studio Singapore sepanjang akhir Oktober. Sikattt!

Halloween in USS!

Tentunya aku bukan anggota tunggal Adi Tours & Travel kali ini, ada dua orang lagi: Kak Novrani Sitohang dan Yosafat Probo Kuncoro. Wah dream team banget! Bersama mereka bertiga, aku sudah pernah melanglang buana ke berbagai penjuru. Readers bisa cari nama mereka di blog ini, bertebaran di mana-mana! Hahaha. "Bang, apakah di USS akan ada pocong dan kuntilanak? Ntar sama pulak kayak rumah hantu di Kemayoran," tanya Kak Vani. "Kayaknya gak diimpor, Van, kurang berkelas mereka." OH BAIK. Makin ga sabar, penasaran bagaimana penampakan "hantu berkelas" di USS nanti 👻

The squad!


Tiket Universal Studio segera dibeli. Harganya Rp470 ribu per orang, diskon 30% dari harga awal Rp650 ribu. Lebih awal lagi, tiket pesawat Singapore Airlines sudah diamankan Bang Adi untuk kami berempat, tepat setelah dia mengirim japri WA tanggal 13 Agustus. GERCEP SEKALI. Harganya? Ehm, cuma Rp500 ribu saja untuk return flights. Jauh lebih mahal harga tiketku mudik ke Manado 😭

Sabtu, 26 Oktober 2019

Aku dan Bang Adi memulai perjalanan dengan naik Damri dari Stasiun Gambir pukul 05.00 pagi. Kami sama-sama hanya berbekal ransel kecil, seakan-akan cuma mau nge-mall di Grand Indonesia. Hahaha. Makin 'tua' emang makin pengen menikmati momen aja, gak mau ribet-ribet ngurusin outfit dan tetek-bengeknya. Toh cuma dua hari ini di negara tetangga.

Kayak cuma nge-mall ya...

Kami bertemu dengan Kak Vani dan Yosa di bandara, keduanya masih tampak mengantuk. Gak pa-pa... toh nanti bisa tidur di pesawat, bangun untuk menikmati sarapan khas maskapai bintang lima, lalu tidur lagi sampai mendarat di Bandara Changi. Pesawat kami lepas landas tepat pukul 07.55 WIB dan mendarat pukul 10.45 waktu Singapura.

"Kita ke USS-nya baru jam 7 malam ya. Keliling-keliling dulu nanti," info Bang Adi.
"Siap!" serentak kami jawab, walaupun belum terlintas di otak hendak ke mana siang-siang di Singapura.
"Btw emang pada berani nanti lihat hantu?" agak telat yah Bang Adi menanyakan ini. Udah di bandara lho, tiket udah terbeli. Gak mungkin dong tiba-tiba kita jual di IG Story atau Status WA.
"Lho aku malah suka, Bang," jawabku.
Dengan senyum manis direspon Bang Adi: "Padahal udah tiap hari liat di cermin ya Erlin." 😭😭

Entah yang ini lagi ngetawain topik yang mana~

Yang paling excited melihat Bandara Changi, tidak lain dan tidak bukan, adalah si anak bungsu. Yosa baru kali ini menginjak Changi. Aku dan Bang Adi pun semangat menyeretnya menuju Jewel, lokasi favorit para turis yang mendarat/transit di bandara ini. Lumayan lah, satu jam berlalu untuk foto-foto.


Kenapa kita gak foto tiduran kayak edak di belakang itu, guys? 


Dari Jewel, kami beranjak ke Crown Plaza Hotel di Terminal 3 untuk menjemput fasilitas modem gratis yang disediakan oleh Hotspot Connect untuk penumpang SilkAir dan Singapore Airlines. Modemnya gratis untuk 3D2N + 2GB, bisa terhubung up to 5 devices dengan daya tahan 8 jam sekali charge. Aku kurang tahu apakah saat ini penawarannya masih ada, tapi jika masih ada pastikan readers memesan dari jauh-jauh hari yaa karena kuotanya cukup terbatas.

Petugasnya sangat ramah dalam menjelaskan cara penggunaan

Penyelamat hidup! Gak perlu ribet nyalain roaming~

Usai menjemput dan meng-install modem, kami putuskan untuk mencoba check-in hotel. Bang Adi menyarankan untuk naik Grabcar saja dari Crown Plaza. Kalau beramai-ramai seperti ini, moda transportasi Grabcar memang jadi pilihan ternyaman. Tak perlu jalan kaki jauh ke stasiun MRT atau terminal bus dan biayanya pun terjangkau karena dibagi berempat.

Puji Tuhan, resepsionis di V Lavender Hotel mengizinkan kami check-in lebih awal. Mereka bahkan meng-upgrade kamar kami dari yang tipe Superior menjadi Triple Room karena padatnya tamu. Bang Adi memang tak pernah salah dalam memilih akomodasi berkualitas hihihi.
Aku dan Kak Vani langsung berbaring di kasur, meluruskan tulang punggung sembari nonton dan mengobrol tentang kehidupan *duileh* Baru beberapa menit masuk kamar, hujan mulai turun cukup deras. Wah cuaca pasti bakal adem sore ini, pas sekali untuk jalan-jalan sebelum ke USS. "Dek, kok aku giliran udah di hotel malah nggak bisa tidur ya?" Kak Vani beretoris. Tapi beberapa menit kemudian matanya terpejam, membiarkan aku bengong sendiri memandangi hujan. Hahaha. 

"Ayok cari makan, guys." Chat dari Bang Adi seketika membangunkan kami. Untuk makan siang, kami jalan kaki sedikit ke Aperia Mall. Pilihan jatuh kepada Subway memang sudah jadi 'menu wajib' bagi Bang Adi tiap traveling ke Singapura. Sudah kenyang, perjalanan berlanjut dengan MRT dari Stasiun Lavender yang persis berada di depan hotel. Ehm... bayar MRT di Singapura bisa pakai kartu debit Jenius lho 😍 Gak usah panik kalau tidak bawa uang cash atau belum punya Tourist Pass.

Tiga duta Jenius dan satu impostor hahaha


Sempat pula photoshoot di dalam kereta

Destinasi pertama hari ini adalah Merlion Park yang kami tempuh dengan jalan kaki sejauh 6,3 KM dari hotel. Hujan siang tadi membuat cuaca terasa sejuk, namun harus hati-hati melangkah karena takut terciprat genangan air. Sepanjang perjalanan aku terus mengagumi deretan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Fullerton, titik berputarnya perekonomian Singapura. Inilah area bisnis yang ramai dikunjungi wisatawan karena adanya Merlion. Anyway... baru sekarang aku tahu bahwa ada 'anak patung' Merlion, tidak jauh dari patung utamanya. Readers pada tahu juga kah?






Waktu masih menunjukkan pukul 17.15 sore, masih terlalu dini untuk menikmati Halloween. Kami pun kembali mencari lokasi wisata terdekat sekalian restoran yang oke untuk makan malam. Dengan bus, kami menuju kawasan Bugis. Foto di bawah ini adalah Spiral Staircase yang pernah viral di Instagram. Sumpah, ketemunya gak sengaja! Hahaha. Aslinya kami mau langsung menuju Haji Lane tapi malah nyasar dan keluar-masuk gang di kawasan Bugis. Jika ingin ke sini, readers cukup mencari Bugis Village (ada KFC di depan Bugis Village). Nah, gang ini berada tepat di belakangnya.


Setelah memperbaiki titik destinasi di Google Maps, kami akhirnya tiba dengan selamat sentausa di Haji Lane. Ini kawasan hipster super terkenal yang jadi incaran turis karena mural-mural indahnya. Kalau mau berlama-lama, wajib nongkrong sekalian di salah satu kafe, karena waiter/waitress-nya tidak mengizinkan kita photoshoot tanpa memesan makanan-minuman. Foto-foto di sini memang melatih kesabaran dan ketangkasan menjepret kamera. Lengah dikit saja, belasan turis sudah ramai menjadi photo bomber.


Kok jadi kayak prewedding gitu kita, Kak?


Jika punya waktu luang, sempatkan juga mampir ke Masjid Sultan, masjid terbesar dan tertua yang didirikan pada tahun 1824 untuk sultan pertama Singapura. Eksterior masjid begitu indah karena kontras fasad putih dan kubah emasnya. Di malam hari, kubah-kubahnya tampak megah bercahaya. Kami makan malam di Zam Zam Restaurant depan masjid yang terkenal dengan sajian nasi briyani lezatnya.



Highlight of the trip akhirnya tiba: Universal Studio Singapore! 😍 Aslinya aku bukan penikmat theme park, apalagi kalau harus mengeluarkan uang jutaan hanya untuk menikmati beberapa wahana. Tapi karena bersama tiga orang ini, kegiranganku tak bisa ditutupi. Kyaaa! Gak sabar pengen ketemu hantu! Hahahaha.




Kami masuk ke tiga wahana malam itu. Curse of the Naga, wahana rumah berhantu yang terinspirasi dari film horor Thailand yang terkenal, sutradaranya sama dengan film "Shutter" dan "Phobia", mampus gak tuh gimana gak seram coba. Hell Block 9, konsepnya adalah penjara gelap dan kotor yang penuh siksaan para penjaga dan teriakan kesakitan para napi. Baru masuk pintunya aja, kami udah disambut dengan suasana mencekam dapur penjara. Banyak darah, banyak pisau 😫 Terakhir adalah favoritku, Transformers the Ride: 3D

Pakai kacamata 3D biar puas menikmati Transformers Ride

Seru sekali, readers, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata! Aku puas berteriak sepanjang malam. Teriak karena kaget dan teriak karena... melepaskan stress? Hahaha. Para aktor dan aktris "hantu"-nya sangat profesional, mereka sekadar mengagetkan saja tanpa berusaha menyentuh pengunjung. Sound effect dan lighting-nya pun sempurna. Jelas lah ya... sekelas Universal Studio gitu lho. Kurangnya cuma satu sih: antriannya! Buset. Panjangnya ngalah-ngalahin antrian launching iPhone 😭 


"Death Fest" para musisi metal yang 'bangkit dari kematian'


Kami akhirnya memutuskan pulang saat jam tangan menunjukkan pukul 01.00 dini hari, 30 menit sebelum USS tutup. Kami sempat panik karena tidak ada Grabcar yang terdeteksi di sekitar Sentosa Island. Puji Tuhan, masih ada bus yang beroperasi menuju Downtown. Bang Adi dan Yosa tampak tepar akibat berdiri di antrian selama berjam-jam.
 



Minggu, 27 Oktober 2019

Hari kedua sekaligus terakhir! Pesawat yang akan membawa kami pulang nanti berangkat pukul 17:20 sore, masih ada cukup waktu untuk beli oleh-oleh dan mampir ke satu destinasi lagi. Untuk oleh-oleh, kami memborong jajanan di Mustafa Centre. Namun sebelumnya, kami pelesir dulu ke salah satu daerah touristic yang view-nya ke Marina Bay. Apa itu? Aku pun tidak ingat 😅 Pokoknya berikut ini foto-fotonya...




Di depan lensa

Di balik lensa: umbrella girl dengan payung rusak sigap melindungi fotografer

Kehebohan terakhir terjadi di bandara, tepatnya di gerbang imigrasi yang sudah memakai Autogate. Tujuannya meringkas proses imigrasi, eh mesinnya lemot banget. Alhasil aku, Kak Vani, dan Yosa mengantri satu jam hanya untuk keluar imigrasi Soekarno Hatta. Bang Adi yang paspornya "anti-Autogate" mencecar kami dari kejauhan. "Aku udah sengaja ke toilet sampe tiga jam, kalian masih aja ngantri." 😂😂😂 Terima kasih banyak Bang Adi, Kak Vani, dan Yosa untuk short escape (meminjam istilahnya Yosa) ini. Terima kasih sudah membuat rahang saya mulai retak akibat terlalu sering ketawa dan teriak heboh. Gak pa-pa lah ya Halloween tahun ini kita berdiam diri di Indonesia tercinta. Sekalian nabung biar bisa langsung ke Universal Studio Amerika! Wkwkwk. Ada amen?

***

Expense List

Tiket pesawat --- Rp500 ribu PP
Tiket USS Halloween Horror Nights --- Rp470 ribu
Hotel V Lavender --- Rp600 ribu per kamar (300K per orang)
Makan + Grabcar --- Rp470ribu per orang
TOTAL: Rp1,74 juta/org 

August 06, 2020

Three Sisters, Legenda dari Aborigin - Sydney Trip Pt. 3

Setelah kemarin kami mengeksplor selatan New South Wales, hari ini giliran bagian barat dengan jarak tempuh hampir 10 kali lipat yaitu 106 KM! Kami akan menikmati indahnya panorama lembah dan pegunungan Blue Mountains selama setengah hari. Salah satu destinasinya adalah sebuah formasi batu yang menyimpan legenda dari Suku Aborigin 😍

Ceria banget nih yang fotonya pake 'seragam'

February 26, 2020

Kedinginan di Bondi Beach - Sydney Trip Pt. 2

Cerita hari ini tidak akan terbatas pada pusat kota Sydney juga, tapi lebih jauh mengeksplor New South Wales hingga 16 kilometer ke selatan. Aku, Mama, dan Kakak main ke pusat perbelanjaan, pesisir laut (samudera!), kampus, dan banyak makan enak. Hari ini pun semakin seru karena kami bertiga ditemani peserta trip baru! Yeay! Siapa tuuuh?

Kali ini bukan difotoin orang asing yang lagi jalan-jalan di pantai, BUKAN!


Day 3 - Senin, 9 September 2019

Kami bertiga meninggalkan apartemen jam 11 pagi. "Kok lama banget?" Ya namanya juga tiga orang wanita nge-trip bareng, what do you expect? Hahaha. Toh tidak ada itinerary yang harus kami kejar di hari Senin ini, yang penting semuanya bahagia.

Foto-foto sekelak di peron Martin Place




Readers yang berencana ke Sydney dan suka menggunakan transportasi publik (ya kalo bisa nyewa private van buat keliling-keliling, why not kan? Hahaha) wajib menggunakan Opal Card selama di kota ini. Opal Card berfungsi serupa kartu elektronik (e-money, Flazz, BRIZZI, dll) di Indonesia tapi tidak diterbitkan oleh bank. Kartu ini bisa diperoleh di beberapa stasiun atau toko kelontong khusus. Harusnya aku membeli kartu ini sejak masih di bandara alih-alih ribet keliling lingkungan sekitar apartemen nyari toko kelontong yang menyediakan Opal Card.

Nah, kalau mendesak banget harus naik subway/bus tapi belum beli Opal Card, kalian bisa pakai... Jenius Debit Card! Hahaha ih si Erlin promosi mulu! Tentu saja, wong Jenius ini emang lifesaver card di segala kondisi. Tarik tunai bisa, bayar di merchant bisa, bayar angkutan umum pun bisa. Tapi kalau Opal Card tentunya ada sejumlah keuntungan ya, misalnya ada saat-saat di mana si Opal tidak dikenai biaya.

Di-photobomb oleh petugas keamanan stasiun
Hahaha untung ganteng lu, bang!

Satu hal penting yang selalu kusiapkan saat nge-trip dengan Mama adalah: harus ada minimal satu destinasi setiap hari yang 'instagrammable' alias cantik untuk dipakai foto-foto. Hari ini, destinasi tersebut adalah Queen Victoria Building a.k.a QVB. Dari apartemen cukup 15 menit naik subway menuju pusat kota Sydney. QVB adalah sebuah bangunan kuno yang berdiri sejak tahun 1890 dan dipugar 90 tahun kemudian dengan kemewahan dan kemegahan arsitektur bergaya kolonial. Di bangunan tiga lantai ini berjejer rapi toko pakaian, perhiasan, suvenir, serta kafe dan restoran.


Kiri: Mama bergerilya di toko-toko 
Kanan: Sesi pemotretan dimulai!


Menuju ke lokasi berfoto di lantai paling atas, kami tentunya sambil melirik butik-butik di kiri dan kanan koridor. "ADOH! Apa-apaan ini blus biasa doang harganya Rp1 juta!" rutukku dalam hati. Pantas saja QVB tampak sepi, rupanya hanya high-end boutique yang tersedia di sini. Toh label-label harga itu tidak menyurutkan Mama untuk singgah di satu-dua toko. Beliau iseng mengintipi harga sepatu-sepatu boots cantik yang tampak mewah di etalase. Hasilnya? Tentu saja tidak ada yang dibeli 😋





Nah, inilah instagrammable spot yang kusebutkan sebelumnya, cantik kaaan? Wajib main ke sini deh kalo readers suka foto-foto dengan latar bangunan klasik. Kakak juga berhasil menemukan spot lain yang sama apiknya. Mama memutuskan untuk nongkrong dulu di kafe, mengusir rasa dingin dengan segelas coklat hangat. Siang itu kafe diramaikan bapak-bapak bule (lokal) yang menikmati kopi dengan selembar koran di tangan.

Having tea with an elegant background

Nah, Readers, dari QVB ini aku sudah kehabisan ide destinasi hahaha. Emang sulit yah menjadi tour guide andal dan berdedikasi :') *lah kok curcol* 😆 Puji Tuhan, datanglah sesosok penyelamat dalam wujud... abangku! Hahaha. Perkenalkan, pria ganteng ini namanya Bryan Sondakh, dia sedang kuliah sambil bekerja di Australia dan kebetulan sekali ber-homebase di Sydney. Jujur, aku lupa (atau emang tidak tahu) bahwa Bryan tinggal di Sydney. Pernah sih, Mama mengungkit-ungkit soal ini beberapa kali sebelum kami berangkat. Kakak dan Bryan sudah kontak-kontakan sejak kemarin dan memutuskan bahwa kami akan meet-up hari ini.

Bryan menjemput kami di Market Street, tak jauh dari Sydney Tower Eye kemarin, yang rupanya memang lingkungan apartemennya. Woah, gimana rasanya hidup di keramaian pusat kota Sydney. Setelah perundingan singkat, diputuskanlah bahwa hari ini kami akan ke pesisir Laut Tasmania alias main ke pantai! Ya ampun, padahal baru semalam aku sibuk mencari rute kendaraan umum terbaik untuk menuju Bondi Beach, eh sekarang justru naik mobil pribadi menuju sana. Puji Tuhan! Anyway, kalau mau pakai transportasi publik bisa banget lho. Caranya naik bus dari Circular Quay yang tersedia tiap jam. Bisa langsung beli tiket round-trip juga jika tidak ingin bermalam di Bondi.


Pantai Bondi (baca: Bonday)!

Mobil melaju hingga 8 kilometer ke arah timur, hingga 30 menit kemudian tibalah kami di Bondi Beach. Pantai ini serupa Pantai Kuta di Bali: punya pasir putih yang lembut, ombak menantang  bagi para peselancar, selalu ramai pengunjung, dan dikelilingi area komersial di sekitarnya.

Sebelum turun ke pantai, kami makan siang terlebih dulu di Macelleria yang terletak antara jalan Curlewis dan Campbell Parade. Siang ini kami menikmati steak n fries yang lezat sekali, setara dengan harganya 😅 Sebelas-dua belas dengan restoran di Botanic Gardens kemarin, porsi di sini pun dua kali porsi normal orang Indonesia, aku langsung kenyang hanya dalam beberapa suapan.

Lagi-lagi ketemu porsi jumbo ala orang Australia

Salah satu pertanyaan yang muncul di otakku saat mendengar nama Bondi Beach: "James Bond pernah syuting di sini?" 😝 Rupanya "Bondi" berasal dari kata "Boondi" yang dalam Bahasa Aborigin berarti "suara debur ombak di pantai". Kalau ditanya lebih cantik mana pantai Bondi dengan pantai di Indonesia... tentu aku akan menjawab Indonesia yah hahaha. Karena lebih kerasa suasana mantai-nya lengkap dengan deretan pohon kelapa, hamparan batu dan kulit kerang di pasir pantai, dan satu-dua pedagang es degan standby tak jauh dari garis laut. Paham nggak sih, readers, maksudku? Hahaha. Intinya sih dua-duanya punya pesona tersendiri: Indonesia lebih ke natural dan alami, Sydney lebih ke pusat hiburan yang serba-ada.

Cuma berani lepas kancing mantel selama 3 detik 🙊

Rambut acakadul? Bodo amat!




"Ada juga nih pantai yang cantik banget!" kata Bryan setelah kami duduk menghangatkan diri dalam mobil. Waduh, Bondi Beach aja udah cakep, gimana yang satu ini. "Tapi... masih mau nggak?" Tawaran bersambut positif, masih pada excited pengen jalan-jalan. Kami pun diajak ke arah selatan, menuju peninsula La Perouse.

Sepi bangeeet, kayak milik sendiri

Bare Island di kejauhan

Begitu turun di tanah lapang hijau tepian La Perouse mulailah terdengar seruan "YA AMPUUUN DINGIN BANGET!" yang langsung menggema hingga ke tengah Samudera Pasifik; siapa lagi kalau bukan mamaku tersayang 😂 Dari yang awalnya masih kuat melepas mantel, kali ini Mama melingkarkan syal erat-erat di leher. Masih belum afdol kalau tidak disertai pekikan: "ADUH, DINGINNYA!" Hahaha kocak banget kalau mengingat-ingat lagi momen itu. Walaupun dingin, kecentilan diri untuk berfoto-foto tetap tak terbendung. Kami bertiga lari-lari ke tengah area bukit demi mendapatkan background cantik. Bryan geleng-geleng kepala saja dari dekat mobil melihat kelakuan Ibu dan saudara-saudaranya.




Makin ga jelas lagi bentukan rambut di sini hahaha

Peninsula La Perouse adalah tempat bersejarah bagi negara Australia. Di sinilah pendaratan Armada Pertama Capt. Arthur Philipp terjadi di tahun 1788. Namun demikian nama "La Perouse" justru diambil dari nama penjelajah Prancis yang juga mendarat di lokasi ini, tak lama setelah The First Fleet. Kalau readers ingin datang ke sini dengan kendaraan umum, bisa naik bus no. 94 dari Sydney.

Di lokasi ini, kami cukup berfoto dari peninsula saja, tak berani ke tepian atau bahkan menyeberang ke Bare Island yang memang terhubung dengan jembatan kecil. Kebayang sih betapa menyenangkan duduk-duduk di sini saat cuaca hangat; melihat laut lepas dengan burung-burung camar berterbangan di atas tebing curam. Padahal ada Museum La Perouse dan Benteng Bare Island yang pernah muncul di film Mission Impossible 2.

Jembatan kayu menuju Bare Island
Sumber: Sydney.com

Dalam perjalanan ke destinasi selanjutnya, Bryan kembali mencetuskan ide brilian, "Yuk kita lihat kampus di Sydney," tentunya lagi-lagi tanpa pertentangan. Kami pun singgah di University of Sydney, kampus pertama di Australia yang berdiri sejak zaman kolonial pra-PD 1 tahun 1850. Trus di sana ngapain aja, tur kampus gitu-gitu nggak? Enggak dong hahaha. Kami parkir sebentar, Bryan pergi membeli kopi di kafetaria kampus, dan sambil menunggu aku, Mama, dan Kakak saling memfotokan diri di depan bangunan utama yang disebut The Main Quadrangle.

Cantik banget gak sih, readers? Oleh media Daily Telegraph dan HuffPost asal Inggris, Universitas Sydney diakui sebagai satu dari sepuluh universitas terindah di dunia bersaing dengan Oxford dan Cambridge. Apik banget ya poseku di sini. Mungkinkah suatu pertanda bahwa kuliah S2 aku dan/atau Kakak adalah di kampus tertua Australia ini? 😍




"Destinasi selanjutnya" yang kumaksud dalam dua paragraf di atas adalah sebuah pusat perbelanjaan. Waktu pagi tadi ngobrol dengan Bryan, kuutarakan bahwa Mama pengen belanja tapi di sejenis factory outlet yang menawarkan barang labelan tapi dengan harga miring. Aku juga menyampaikan beberapa opsi toko, dan Bryan sepakat dengan salah satu opsiku yaitu Birkenhead Point. Hanya saja, kami tak bisa berlama-lama karena tokonya tutup jam 6 sore. "Tak apa, biar Mama nggak kebanyakan borong," aku nyengir puas.

Namanya wanita, hasrat belanja emang suka muncul begitu saja. Tapi kalau lagi di Sydney, jangan belanja di area CBD yang penuh toko-toko berlabel besar. Pergilah ke Birkenhead Point di Port Jackson, 6 kilometer dari pusat kota Sydney. Di lokasi ini tersedia lebih dari 140 premium outlet di mana barang-barang branded dijual dengan diskon mencapai 80%.

Dulunya gedung Birkenhead Point ini adalah kawasan industrial, salah satunya jadi pabrik produksi ban Dunlop. Tapi saat ini telah menjadi waterfront shopping complex lengkap dengan deretan apartemen. Jika pengunjung lelah berbelanja, bisa istirahat santai di area restoran atau jalan-jalan melihat harbour views. Oh ya, menuju ke sini bisa dengan transportasi umum lho, salah satunya naik kapal feri dari Darling Harbour!

Birkenhead Point bisa diakses dengan jalur air
Sumber: Australia51.com

Jejeran toko dan butik di Birkenhead Point
Sumber: Australia51.com

Penampakan Birkenhead Point di siang hari
Sumber: Mimoki.com


Karena kalap belanja, tentu tidak ada foto-foto yang bisa kutampilkan dari destinasi yang ini hihihi. Jadi kukasih foto dari persinggahan selanjutnya saja yaa: Bryan mengajak aku dan Kakak mampir sebentar di bawah Sydney Harbour Bridge di Hickson Road, tak jauh dari Hotel Park Hyatt. Pemandangannya indah bangeeeeet, aku bisa menghabiskan 2 jam duduk di sini kalau saja cuacanya sedang bersahabat hahaha. Mama juga ikut turun 5 menit, tapi langsung masuk mobil lagi mencari kehangatan car heater setelah mendapatkan foto ciamik.

Di bawah jembatan Sydney Harbour

Halo, Opera House!

Tujuan terakhir "Wisata Sydney bersama Bryan" hari ini adalah makan malam. Dia ingin mengajak kami ke restoran Asia favoritnya. Sepanjang perjalanan Bryan terus memuji-muji restoran ini, semakin lapar lah perut-perut kosong kami. "Pokoknya kalo di Sydney trus rindu nasi, paling pas ya nyari Thai Food." Siap, Kapten! Restoran yang dimaksud abangku itu adalah Holy Basil dengan spesialisasi makanan khas Thailand dan Laos.


Holy Basil ada di area lobi Shark Hotel, Liverpool St., tak jauh dari apartemen Bryan. Mobil kami parkir terlebih dulu di apartemennya baru jalan kaki ke The Shark. Kerepotan ini dilakukan untuk menghindar dari sulitnya mencari tempat parkir dan mahalnya harga parkir di kawasan CBD ini. Kami bertiga sepeda Cuaca yang dingin malam itu membuatku semakin mengeratkan ikatan mantel. Duh, yang kayak gini mau tinggal di Reykjavik? Hahaha!

All hail Bryan, makanan di Holy Basil terbukti enak dan lezat. Favorit kami adalah Roast Pork Belly dan tentunya kuah Tom Yum. Kakak dan Bryan berkolaborasi dengan apik untuk menandaskan sajian di meja kami. Mama adalah anggota pertama yang menyerah kekenyangan, "Udah udah, Mama nggak sanggup lagi." Hahaha kami memang seperti 'pesta' besar malam itu.




Selesailah sudah trip review hari kedua di Sydney. Aku mengakhiri malam ini dengan... Tidur? Bukan. Nonton drakor? Enggaklah. Telponan sama pacar? Iya sih, tapi sebelumnya aku ngerjain tugas kuliah dulu 😅 Baru di trip ini aku membawa laptop demi kepentingan kampus. Emang harus banget dikerjain, Lin? Berhubung aku ketua kelompok, dan tugasnya hitung-hitungan lumayan rumit... kubela-belain bawa laptop ke Sydney dan begadang malam itu untuk merampungkan tugas.

Anyway! Besok kami masih akan ditemani Bryan, yeay! Selain makin ramai karena makin banyak 'muncung' yang berisik saat perjalanan, tentunya jadi ada fotografer handal dooong. Serasa book fotografer dari SweetEs*cape gitu deeeh hihihi. Makasih buat hari ini, Yen, besok lagi yah!

Minggu depan mampir lagi yaa, Readers. Dadaaaah! 💃