February 26, 2020

Kedinginan di Bondi Beach - Sydney Trip Pt. 2

Cerita hari ini tidak akan terbatas pada pusat kota Sydney juga, tapi lebih jauh mengeksplor New South Wales hingga 16 kilometer ke selatan. Tiga highlights hari ini adalah: belanja, pantai, dan... peserta trip baru! Yeay!

Kali ini bukan difotoin orang asing yang lagi jalan-jalan di pantai, BUKAN!


Day 3 - Senin, 9 September 2019

Kami bertiga meninggalkan apartemen jam 11 pagi. "Kok lama banget?" Ya namanya juga tiga orang wanita nge-trip bareng, what do you expect? Hahaha. Toh tidak ada itinerary yang harus kami kejar di hari Senin ini, yang penting semuanya bahagia.

Foto-foto sekelak di peron Martin Place




Readers yang berencana ke Sydney dan suka menggunakan transportasi publik (ya kalo bisa nyewa private van buat keliling-keliling, why not kan? Hahaha) wajib menggunakan Opal Card selama di kota ini. Opal Card berfungsi serupa kartu elektronik (e-money, Flazz, BRIZZI, dll) di Indonesia tapi tidak diterbitkan oleh bank. Kartu ini bisa diperoleh di beberapa stasiun atau toko kelontong khusus. Harusnya aku membeli kartu ini sejak masih di bandara alih-alih ribet keliling lingkungan sekitar apartemen nyari toko kelontong yang menyediakan Opal Card.

Nah, kalau mendesak banget harus naik subway/bus tapi belum beli Opal Card, kalian bisa pakai... Jenius Debit Card! Hahaha ih si Erlin promosi mulu! Tentu saja, wong Jenius ini emang lifesaver card di segala kondisi. Tarik tunai bisa, bayar di merchant bisa, bayar angkutan umum pun bisa. Tapi kalau Opal Card tentunya ada sejumlah keuntungan ya, misalnya ada saat-saat di mana si Opal tidak dikenai biaya.

Di-photobomb oleh petugas keamanan stasiun
Hahaha untung ganteng lu, bang!

Satu hal penting yang selalu kusiapkan saat nge-trip dengan Mama adalah: harus ada minimal satu destinasi setiap hari yang 'instagrammable' alias cantik untuk dipakai foto-foto. Hari ini, destinasi tersebut adalah Queen Victoria Building a.k.a QVB. Dari apartemen cukup 15 menit naik subway menuju pusat kota Sydney. QVB adalah sebuah bangunan kuno yang berdiri sejak tahun 1890 dan dipugar 90 tahun kemudian dengan kemewahan dan kemegahan arsitektur bergaya kolonial. Di bangunan tiga lantai ini berjejer rapi toko pakaian, perhiasan, suvenir, serta kafe dan restoran.


Kiri: Mama bergerilya di toko-toko 
Kanan: Sesi pemotretan dimulai!


Menuju ke lokasi berfoto di lantai paling atas, kami tentunya sambil melirik butik-butik di kiri dan kanan koridor. "ADOH! Apa-apaan ini blus biasa doang harganya Rp1 juta!" rutukku dalam hati. Pantas saja QVB tampak sepi, rupanya hanya high-end boutique yang tersedia di sini. Toh label-label harga itu tidak menyurutkan Mama untuk singgah di satu-dua toko. Beliau iseng mengintipi harga sepatu-sepatu boots cantik yang tampak mewah di etalase. Hasilnya? Tentu saja tidak ada yang dibeli 😋





Nah, inilah instagrammable spot yang kusebutkan sebelumnya, cantik kaaan? Wajib main ke sini deh kalo readers suka foto-foto dengan latar bangunan klasik. Kakak juga berhasil menemukan spot lain yang sama apiknya. Mama memutuskan untuk nongkrong dulu di kafe, mengusir rasa dingin dengan segelas coklat hangat. Siang itu kafe diramaikan bapak-bapak bule (lokal) yang menikmati kopi dengan selembar koran di tangan.

Having tea with an elegant background

Nah, Readers, dari QVB ini aku sudah kehabisan ide destinasi hahaha. Emang sulit yah menjadi tour guide andal dan berdedikasi :') *lah kok curcol* 😆 Puji Tuhan, datanglah sesosok penyelamat dalam wujud... abangku! Hahaha. Perkenalkan, pria ganteng ini namanya Bryan Sondakh, dia sedang kuliah sambil bekerja di Australia dan kebetulan sekali ber-homebase di Sydney. Jujur, aku lupa (atau emang tidak tahu) bahwa Bryan tinggal di Sydney. Pernah sih, Mama mengungkit-ungkit soal ini beberapa kali sebelum kami berangkat. Kakak dan Bryan sudah kontak-kontakan sejak kemarin dan memutuskan bahwa kami akan meet-up hari ini.

Bryan menjemput kami di Market Street, tak jauh dari Sydney Tower Eye kemarin, yang rupanya memang lingkungan apartemennya. Woah, gimana rasanya hidup di keramaian pusat kota Sydney. Setelah perundingan singkat, diputuskanlah bahwa hari ini kami akan ke pesisir Laut Tasmania alias main ke pantai! Ya ampun, padahal baru semalam aku sibuk mencari rute kendaraan umum terbaik untuk menuju Bondi Beach, eh sekarang justru naik mobil pribadi menuju sana. Puji Tuhan! Anyway, kalau mau pakai transportasi publik bisa banget lho. Caranya naik bus dari Circular Quay yang tersedia tiap jam. Bisa langsung beli tiket round-trip juga jika tidak ingin bermalam di Bondi.


Pantai Bondi (baca: Bonday)!

Mobil melaju hingga 8 kilometer ke arah timur, hingga 30 menit kemudian tibalah kami di Bondi Beach. Pantai ini serupa Pantai Kuta di Bali: punya pasir putih yang lembut, ombak menantang  bagi para peselancar, selalu ramai pengunjung, dan dikelilingi area komersial di sekitarnya.

Sebelum turun ke pantai, kami makan siang terlebih dulu di Macelleria yang terletak antara jalan Curlewis dan Campbell Parade. Siang ini kami menikmati steak n fries yang lezat sekali, setara dengan harganya 😅 Sebelas-dua belas dengan restoran di Botanic Gardens kemarin, porsi di sini pun dua kali porsi normal orang Indonesia, aku langsung kenyang hanya dalam beberapa suapan.

Lagi-lagi ketemu porsi jumbo ala orang Australia

Salah satu pertanyaan yang muncul di otakku saat mendengar nama Bondi Beach: "James Bond pernah syuting di sini?" 😝 Rupanya "Bondi" berasal dari kata "Boondi" yang dalam Bahasa Aborigin berarti "suara debur ombak di pantai". Kalau ditanya lebih cantik mana pantai Bondi dengan pantai di Indonesia... tentu aku akan menjawab Indonesia yah hahaha. Karena lebih kerasa suasana mantai-nya lengkap dengan deretan pohon kelapa, hamparan batu dan kulit kerang di pasir pantai, dan satu-dua pedagang es degan standby tak jauh dari garis laut. Paham nggak sih, readers, maksudku? Hahaha. Intinya sih dua-duanya punya pesona tersendiri: Indonesia lebih ke natural dan alami, Sydney lebih ke pusat hiburan yang serba-ada.

Cuma berani lepas kancing mantel selama 3 detik 🙊

Rambut acakadul? Bodo amat!




"Ada juga nih pantai yang cantik banget!" kata Bryan setelah kami duduk menghangatkan diri dalam mobil. Waduh, Bondi Beach aja udah cakep, gimana yang satu ini. "Tapi... masih mau nggak?" Tawaran bersambut positif, masih pada excited pengen jalan-jalan. Kami pun diajak ke arah selatan, menuju peninsula La Perouse.

Sepi bangeeet, kayak milik sendiri

Bare Island di kejauhan

Begitu turun di tanah lapang hijau tepian La Perouse mulailah terdengar seruan "YA AMPUUUN DINGIN BANGET!" yang langsung menggema hingga ke tengah Samudera Pasifik; siapa lagi kalau bukan mamaku tersayang 😂 Dari yang awalnya masih kuat melepas mantel, kali ini Mama melingkarkan syal erat-erat di leher. Masih belum afdol kalau tidak disertai pekikan: "ADUH, DINGINNYA!" Hahaha kocak banget kalau mengingat-ingat lagi momen itu. Walaupun dingin, kecentilan diri untuk berfoto-foto tetap tak terbendung. Kami bertiga lari-lari ke tengah area bukit demi mendapatkan background cantik. Bryan geleng-geleng kepala saja dari dekat mobil melihat kelakuan Ibu dan saudara-saudaranya.




Makin ga jelas lagi bentukan rambut di sini hahaha

Peninsula La Perouse adalah tempat bersejarah bagi negara Australia. Di sinilah pendaratan Armada Pertama Capt. Arthur Philipp terjadi di tahun 1788. Namun demikian nama "La Perouse" justru diambil dari nama penjelajah Prancis yang juga mendarat di lokasi ini, tak lama setelah The First Fleet. Kalau readers ingin datang ke sini dengan kendaraan umum, bisa naik bus no. 94 dari Sydney.

Di lokasi ini, kami cukup berfoto dari peninsula saja, tak berani ke tepian atau bahkan menyeberang ke Bare Island yang memang terhubung dengan jembatan kecil. Kebayang sih betapa menyenangkan duduk-duduk di sini saat cuaca hangat; melihat laut lepas dengan burung-burung camar berterbangan di atas tebing curam. Padahal ada Museum La Perouse dan Benteng Bare Island yang pernah muncul di film Mission Impossible 2.

Jembatan kayu menuju Bare Island
Sumber: Sydney.com

Dalam perjalanan ke destinasi selanjutnya, Bryan kembali mencetuskan ide brilian, "Yuk kita lihat kampus di Sydney," tentunya lagi-lagi tanpa pertentangan. Kami pun singgah di University of Sydney, kampus pertama di Australia yang berdiri sejak zaman kolonial pra-PD 1 tahun 1850. Trus di sana ngapain aja, tur kampus gitu-gitu nggak? Enggak dong hahaha. Kami parkir sebentar, Bryan pergi membeli kopi di kafetaria kampus, dan sambil menunggu aku, Mama, dan Kakak saling memfotokan diri di depan bangunan utama yang disebut The Main Quadrangle.

Cantik banget gak sih, readers? Oleh media Daily Telegraph dan HuffPost asal Inggris, Universitas Sydney diakui sebagai satu dari sepuluh universitas terindah di dunia bersaing dengan Oxford dan Cambridge. Apik banget ya poseku di sini. Mungkinkah suatu pertanda bahwa kuliah S2 aku dan/atau Kakak adalah di kampus tertua Australia ini? 😍




"Destinasi selanjutnya" yang kumaksud dalam dua paragraf di atas adalah sebuah pusat perbelanjaan. Waktu pagi tadi ngobrol dengan Bryan, kuutarakan bahwa Mama pengen belanja tapi di sejenis factory outlet yang menawarkan barang labelan tapi dengan harga miring. Aku juga menyampaikan beberapa opsi toko, dan Bryan sepakat dengan salah satu opsiku yaitu Birkenhead Point. Hanya saja, kami tak bisa berlama-lama karena tokonya tutup jam 6 sore. "Tak apa, biar Mama nggak kebanyakan borong," aku nyengir puas.

Namanya wanita, hasrat belanja emang suka muncul begitu saja. Tapi kalau lagi di Sydney, jangan belanja di area CBD yang penuh toko-toko berlabel besar. Pergilah ke Birkenhead Point di Port Jackson, 6 kilometer dari pusat kota Sydney. Di lokasi ini tersedia lebih dari 140 premium outlet di mana barang-barang branded dijual dengan diskon mencapai 80%.

Dulunya gedung Birkenhead Point ini adalah kawasan industrial, salah satunya jadi pabrik produksi ban Dunlop. Tapi saat ini telah menjadi waterfront shopping complex lengkap dengan deretan apartemen. Jika pengunjung lelah berbelanja, bisa istirahat santai di area restoran atau jalan-jalan melihat harbour views. Oh ya, menuju ke sini bisa dengan transportasi umum lho, salah satunya naik kapal feri dari Darling Harbour!

Birkenhead Point bisa diakses dengan jalur air
Sumber: Australia51.com

Jejeran toko dan butik di Birkenhead Point
Sumber: Australia51.com

Penampakan Birkenhead Point di siang hari
Sumber: Mimoki.com


Karena kalap belanja, tentu tidak ada foto-foto yang bisa kutampilkan dari destinasi yang ini hihihi. Jadi kukasih foto dari persinggahan selanjutnya saja yaa: Bryan mengajak aku dan Kakak mampir sebentar di bawah Sydney Harbour Bridge di Hickson Road, tak jauh dari Hotel Park Hyatt. Pemandangannya indah bangeeeeet, aku bisa menghabiskan 2 jam duduk di sini kalau saja cuacanya sedang bersahabat hahaha. Mama juga ikut turun 5 menit, tapi langsung masuk mobil lagi mencari kehangatan car heater setelah mendapatkan foto ciamik.

Di bawah jembatan Sydney Harbour

Halo, Opera House!

Tujuan terakhir "Wisata Sydney bersama Bryan" hari ini adalah makan malam. Dia ingin mengajak kami ke restoran Asia favoritnya. Sepanjang perjalanan Bryan terus memuji-muji restoran ini, semakin lapar lah perut-perut kosong kami. "Pokoknya kalo di Sydney trus rindu nasi, paling pas ya nyari Thai Food." Siap, Kapten! Restoran yang dimaksud abangku itu adalah Holy Basil dengan spesialisasi makanan khas Thailand dan Laos.


Holy Basil ada di area lobi Shark Hotel, Liverpool St., tak jauh dari apartemen Bryan. Mobil kami parkir terlebih dulu di apartemennya baru jalan kaki ke The Shark. Kerepotan ini dilakukan untuk menghindar dari sulitnya mencari tempat parkir dan mahalnya harga parkir di kawasan CBD ini. Kami bertiga sepeda Cuaca yang dingin malam itu membuatku semakin mengeratkan ikatan mantel. Duh, yang kayak gini mau tinggal di Reykjavik? Hahaha!

All hail Bryan, makanan di Holy Basil terbukti enak dan lezat. Favorit kami adalah Roast Pork Belly dan tentunya kuah Tom Yum.



Selesailah sudah trip review hari kedua di Sydney. Aku mengakhiri malam ini dengan... Tidur? Bukan. Nonton drakor? Enggaklah. Telponan sama pacar? Iya sih, tapi sebelumnya aku ngerjain tugas kuliah dulu 😅 Baru di trip ini aku membawa laptop demi kepentingan kampus. Emang harus banget dikerjain, Lin? Berhubung aku ketua kelompok, dan tugasnya hitung-hitungan lumayan rumit... kubela-belain bawa laptop ke Sydney dan begadang malam itu untuk merampungkan tugas.

Anyway! Besok kami masih akan ditemani Bryan, yeay! Selain makin ramai karena makin banyak 'muncung' yang berisik saat perjalanan, tentunya jadi ada fotografer handal dooong. Serasa book fotografer dari SweetEs*cape gitu deeeh hihihi. Makasih buat hari ini, Yen, besok lagi yah!

Minggu depan mampir lagi yaa, Readers. Dadaaaah! 💃

February 07, 2020

The Girls Trip Begins! - Sydney Trip Pt. 1

Sesuai judulnya, trip ini merupakan Girls Trip karena beranggotakan tiga wanita cantik anggota keluarga Manuel-(Sondakh-)Robot 👊 Aku memiliki yearly goal mengajak Mama traveling ke negara baru yang belum pernah dia kunjungi, tapi di 2019 ini agenda tahunan kami jadi sangat spesial karena akhirnya kakak perempuanku satu-satunya, Fissheal Manuel a.ka. Fie, mau turut serta. Seneng banget! Mama pun memilih Sydney sebagai tujuan, meski sebelumnya beliau sudah pernah ke kota ini untuk perjalanan dinas. Tentu beda sensasinya dooong antara dinas sama pesiar, apalagi sama anak-anak tersayang, dan apalagi sama Erlinel Manuel yang ga suka pake agensi tur 😆

Girls Trip Begin!

Tiket sudah dibeli sejak 23 Mei, hotel sudah dipesan tanggal 23 Juli, dan visa sudah terbit per 29 Agustus, semua persiapan yang penting-penting sudah aman terkendali. Sekarang... tinggal perintilan-perintilan kecil seperti SIM Card Australia (IDR 320K via Shopee) hingga tiga botol collapsible tumbler, jaga-jaga siapa tahu harga air mineral di Sydney semahal Swiss yakaaan.


December 27, 2019

#jalan2jenius ke Labuan Bajo

Hulaaa, Readers! Saat sedang memikirkan ide cerita untuk bulan Desember ini, aku teringat ada satu post yang terus tertunda hingga setahun berlalu: Labuan Bajo Trip bersama #temanjenius 😅 Yaudah lah ya mohon dimaklumi, bukan Erlin namanya kalo nggak pelupa. Lagian... Russia Trip yang sudah 5 tahun berlalu aja sampe sekarang nggak selesai-selesai kok wkwkwk.

Nah, sebagai penutup tahun 2019 yang indah ini, here the long postponed story begins... 

*

Aku kembali menginjakkan kaki ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 19-22 Desember 2018. Bedanya dengan trip serupa dua tahun lalu, kali ini aku pesiar gratis sebagai pemenang blog competition yang diselenggarakan oleh Jenius CoCreate. Readers tahu dong apa itu "Jenius"? Digital banking-nya BTPN yang sudah lama hype di kalangan anak muda karena berbagai kecanggihannya! *keukeuh promosi ya Lin*

#jalan2jenius Labuan Bajo
(Cr: @jeniusconnect)

Sejujurnya aku tidak pernah bermimpi akan memenangkan hadiah utama. Justru aku berandai-andai menjadi pemenang kategori lain yang bukan berhadiah jalan-jalan ke Labuan Bajo. Toh memang sudah pernah ke sana, jadi aku tak ambisius untuk hadiah utama tersebut.

Ternyata jalan Tuhan berkata lain. Hari Sabtu, 6 Desember 2018 jam 10.35 pagi, notifikasi HP-ku berbunyi pertanda ada surel masuk. Pengirimnya adalah Hello CoCreate. Mataku langsung terperangah tak percaya melihat subjek surat di layar:
Selamat Erlinel, kamu memenangkan paket jalan-jalan ke Labuan Bajo!

November 15, 2019

Malam Mingguan di Marina Bay Sands

Dua kali transit di Singapura tidak berarti bahwa aku sudah sah pernah ke Singapura. Tiap kali ada teman yang bertanya, "Erlin udah pernah ke Singapura?" lalu kujawab dengan, "Pernah tapi transit doang", pasti akan protes keras lalu mengultimatum: "Ah itu mah berarti belum pernah dong."

BAIKKKKK.

Akhirnya di tahun 2019 yang berbahagia ini, aku berkesempatan untuk benar-benar memasukkan nama Negeri ... ke daftar Have Been There-ku. Dua kali malahan, hihihi. Di post ini aku akan bercerita tentang pengalaman perdanaku dulu yaaa *senyum manis ke Geng Singapore Trip* 😏 Nah, begini kisahnya...

Satnight di Marina Bay Sands SkyPark Observation Deck

November 07, 2019

Visa Australia yang Supermudah dan Supercepat

Sebelum memulai cerita trip review tentang Sydney, aku ingin terlebih dahulu berbagi pengalaman tentang membuat visa Australia. Sejak tahun 2018, visa Australia tidak lagi diproses secara fisik di Kedubes/VFS Kuningan tapi cukup daring via internet. Yang satu ini yang bikin visa Australia jadi supermudah, karena bisa diisi sambil ongkang-ongkang kaki di rumah, pakai daster, sambil menyeruput secangkir teh dari gelas ayam jago.

Visa Australia berbentuk digital dan dikirim ke e-mail

Aku perlu memperingatkan readers bahwa cerita di bawah ini aku tulis setelah visa-ku approved, bahkan setelah aku pulang dari trip 😅 Jadi urut-urutannya tidak terlalu mendetil, apalagi tampilan situsnya agak berbeda antara saat aplikasi dan setelah aplikasi. Readers bisa juga merujuk ke blog-nya Shintaries atau situs Javamilk yang kemarin menjadi panduanku saat mengajukan visa.

Oke, mari beranjak ke ceritaku...

October 28, 2019

Satu Hari Keliling Manila - El Nido Trip Review Pt. Finale

Halo, readers! Kumusta kayo? ("Apa kabar?" dalam Bahasa Tagalog). Di reviu bagian terakhir ini akan ada cerita lengkap tentang aktivitas setengah hari di Kota Manila, lengkap dengan cerita kekagumanku tentang perlakuan hormat warga Filipina pada pahlawan nasionalnya. Di part finale ini juga aku akan membocorkan besarnya pengeluaran selama El Nido (dan Manila) Trip.

Hari Selasa, 5 Februari 2019 ini kami main ke Rizal Park, Intramuros, Katedral Manila, Mall of Asia, dan mencicip rasa ayam goreng waralaba-nya Filipina, Jollibee.

"The Independence Flagpole" setinggi 46 meter di Rizal Park

October 19, 2019

Canopy Walk & Lagoon Kayaking - El Nido Trip Review Pt. 2

Mabuhay! Aku, Kak Vani, Bang Adi, Bang Tommy, Goen, dan Yosa bangun lebih awal dibandingkan kemarin. Semua karena niat suci tulus untuk menjajal Canopy Walk! Bang Adi paling bersemangat untuk aktivitas ini, sejak malam sudah diwanti-wantinya kami agar tidak begadang dan memasang alarm jam 6.30 pagi full volume . AHSIAAAAP!

Main highlight of the day!

October 05, 2019

Islands Hopping di Teluk Bacuit - El Nido Trip Review Pt. 1

Trip pertamaku di tahun 2019 adalah ke negara berjulukan "Pearl of the Orient" alias Filipina. Selama 3 hari, aku berkesempatan mereguk keindahan Pulau Palawan, salah satu destinasi wisata terbaik dunia yang juga masuk dalam daftar UNESCO Heritage List.

Perjalanan satu ini tergolong yang paling surprising dan berkesan karena... Bang Supriaditravelmate andalanku, sudah membelikan tiket untukku tanpa basa-basi bertanya terlebih dahulu 😅 Barulah aku diberi tahu pas kami makan siang bareng: "Abang sama siapa ke Filipina nanti?" Dijawab Bang Adi dengan santai tanpa beban, "Samamu." Ga paham lagi sih sama Abang satu ini 😂 Yang cuma bisa ngajak traveling bareng memang akan kalah ya sama yang langsung beliin tiket (walaupun nanti ditagih juga menjelang due date kartu kredit hahaha)


Akhir November 2018, terbentuklah grup WhatsApp "El Nido Trip" dan akhirnya ketahuan siapa saja 'curut-curut' anggota trip kali ini: Bang Tommy Otniel TobingAnanda Goentoer Lumbantobing, Yosafat Probo Kuncoro, dan Kak Novrani Sitohang. Senangnyaaa! Kali ini aku punya teman sekamar. Bye bye, rasa kesepian di tengah malam! Oh ya, jadi ternyata semua anggota trip ini tidak diberitahu siapa saja pesertanya. "Nanti aja, biar surprise," jawab Bang Adi tiap kali mereka menanyai. Ckckck... cem apa kali ya Bang 😏

Anggota lengkap!

Anyway... mengutip saran dari Bang Adi, waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Palawan adalah bulan Januari - April karena cuacanya bagus dan matahari bersinar dengan teriknya. Terbukti selama 3 hari 2 malam di El Nido, kami disambut cuaca cerah tanpa mendung sama sekali. Sedangkan untuk urusan uang tunai, kami tidak menukar peso (mata uang Filipina) dari Indonesia karena rate-nya cukup mahal, maklum Peso terbilang mata uang langka di sini. Kami langsung tarik tunai dengan kartu debit Jenius-nya BTPN di bandara maupun kota El Nido. Rate-nya terbukti lebih murah dari money changer baik di Indonesia maupun Filipina.

August 16, 2019

Via Ferrata di Gunung Parang Purwakarta

11 Juni 2019 pukul 16:35, masuklah sebuah chat WA dari Yosa: "Mau ke Gunung Parang nggak?"

Aku mengenal Gunung Parang sejak 3-4 tahun lalu, biasalah nemu dari 'bertualang' di tab Explore Instagram. Rencana main ke sana kerap tertunda karena... udah nggak punya teman main lagi :( Hingga akhirnya datanglah ajakan via WA dari Yosafat Probo Kuncoro a.k.a Yosa (travelmate di Pulau Kei dan El Nido) tadi. Seneng banget! Akhirnya kerinduan ini berbalas. Dan datangnya pun saat aku baru saja mulai opname di RS Carolus karena sakit GERD, semacam penghiburan sekali yakan? 😆

Selain Yosa, aku menjalani trip Gunung Parang dengan 3 junior se-almamater yang ternyata sejiwa dan seotak semuanya: hobi ngakak dan penuh semangat 😍 Mereka adalah Erma Prilyani Sihotang, Olivia Elizabeth Saragih, dan Hevenli Hotasi Simorangkir a.k.a Ipen. Seharusnya ada satu wanita lagi biar genap berenam, yaitu Kak Novrani Sitohang (travelmate di Rusia dan Kiluan-Lampung). Sayangnya jadwal trip yang berubah dari 27-28 Juli menjadi 3-4 Agustus ini bentrok dengan jadwal Kak Vani yang lain, alhasil doi urung bergabung. Tapi berlima aja udah sangat berisik dan nggak berhenti ngakak sih... gimana kalo berenam ya? 😭

Nih, ngakak-ngakak kayak gini terus pokoknya selama 2H1M

Jasa guide yang dipilih Yosa adalah @gunungparang_badega (bisa langsung diklik untuk lihat Instagram-nya!) Untuk harga trip, tergantung pada ketinggian pendakian yang kita pilih. Kami memilih 900 meter jadi kena harga Rp450 ribu/orang. Ketinggian 900m ini kami pilih secara sembrono, awalnya sok-sokan, "Yang paling tinggi lah! Masa ga bisa sih!" setelah dijalani... hmmm... hahaha nanti lah ya kita bahas lebih lanjut di reviu nanti. Total biaya trip Gunung Parang ini, ditambah sewa penginapan dan antar-jemput ke/dari Stasiun Purwakarta, adalah Rp550 ribu/orang.

July 04, 2019

Game of Thrones Tour - England-Ireland Trip Pt. Finale

Sebagai pengikut setia serial Game of Thrones-nya HBO (halah padahal selalu nonton lewat IndoXXI hahaha), aku sangat excited mengikuti tur hari ini. Terlepas dari harganya yang mencapai Rp1,2 juta, tur Game of Thrones (GoT) membuatku merasa sangat dekat dengan serial favoritku ini. Terlebih lagi, lokasi-lokasi syuting ini mayoritas adalah lokasi Winterfell, rumah bagi House of Stark, jagoanku dalam GoT.

Di awal rangkaian trip review ini aku sudah pernah cerita kan bahwa Bang Adi sempat bimbang menentukan destinasi, apakah akan ke Edinburgh atau ke Irlandia setelah dari London. Nah, keputusan memilih Irlandia tidak lain dan tidak bukan karena tur GoT ini. Di Irlandia sendiri, ada dua lokasi tur yang bisa kita pilih, Dublin atau Belfast. Kami mengambil yang Dublin karena tentunya lebih dekat dan terjangkau dari penginapan. Sebenarnya mungkin saja kami juga ikut tur Belfast kalau durasi tinggal di Irlandia lebih lama. Apa daya, kami hanya tiga hari saja di negara cantik ini.

Cita-cita: menjadi Arya Stark

Tur ini dioperatori oleh Game of Thrones Tours Ltd. yang, menurut TripAdvisor, berada di nomor urut teratas untuk kategori Outdoor Activities di Dublin. Reviunya bagus-bagus semua, jadi Readers nggak perlu khawatir kena scam kalau pesan tur di mereka. Harga untuk mengikuti tur ini sebesar €75 per orang. Oh ya, tur dikhususkan untuk orang dewasa (18+) ya jadi jangan membawa anak remaja apalagi bayi yah. Selain itu, tur akan membutuhkan banyak jalan kaki, jadi tidak disarankan bagi orang dengan keterbatasan mobilitas. Seluruh peserta tur diharapkan menggunakan sepatu outdoor yang nyaman dan menggunakan pakaian yang sesuai dengan cuaca Irlandia Utara yang sejuk.

Siapkan sepatu dan pakaian yang nyaman

Hari ini aku dan Bang Adi akan mengunjungi sejumlah lokasi syuting tiga season awal GoT di Dublin, mulai dari Winterfell Castle hingga camp-nya Robb dan Catelyn Stark.