Hai, readers! Duh... seneng banget bisa nyapa kalian lagi. Makasih beribu-ribu ya untuk kalian yang masih rajin mampir ke blog ini. *peluk satu-satu
Kali ini aku pengen cerita tentang perjalanan Euro Trip 2026 bareng Mama dan Kakak yang kami lakukan di tanggal 16-25 April 2026 lalu. Ada 3 negara yang kami kunjungi: Belanda, Belgia, dan Spanyol. "Kok ke Belanda lagi, Lin?" mungkin kalian ada yang nanya gini ya, karena memang aku udah pernah ke Belanda tahun 2018.
Jawaban simpelnya: kangen sama Keukenhof. Tapi selain itu, karena tiket promo yang ditawarkan Bang Supriadi (as always!) pilihannya hanya dua: landing di Paris atau Amsterdam. A real no-brainer decision karena aku pasti pilih Amsterdam. On top of them all, karena kami punya keluarga di Belanda, jadi bisa sekalian family gathering hehehe.
Mari kita mulai ceritanya!
Kamis, 16 April 2026
Aku, Mama, dan Kakak mendarat di Bandara Schiphol pada pukul 13.35 waktu setempat. Meskipun udah pernah ke Belanda tahun 2018, tapi waktu itu kami masuk lewat jalur darat alias pakai kereta. Jadi ini kali perdana bagi kami bertiga untuk menjajal antrian imigrasi Schiphol.
Dan seperti antrian negara-negara main destination Eropa pada umumnya, antrian imigrasinya sangat mengular. Baru pukul 16.00 kami selesai mengantri. Untungnya, kami nggak ketemu petugas yang usil. Aku mendahului untuk maju ke loket dan langsung melapor, "Saya datang bertiga dengan Mama dan Kakak untuk liburan ke Belanda, Belgia, dan Spanyol." Di tangan aku sudah menyiapkan clear map berisi dokumen tiket, akomodasi, dan asuransi, tapi semuanya tidak terpakai.
Setelah mengambil bagasi -- yang sudah berjam-jam keliling di atas konveyor -- kami langsung keluar untuk bertemu Om Ronald dan Om Bert. Mereka adalah keluarga yang kusebutkan di awal tadi. Demi menyambut kami, mereka rela ikut menginap satu malam di Amsterdam agar waktunya efisien.
Kami tiba di Hotel Espresso sekitar pukul 17.30, di sinilah kami akan tidur satu malam. Letak hotel ini cukup strategis dan berada dalam walking distance ke sejumlah tempat wisata, salah satunya Rijkmuseum. Harganya Rp7,4 juta per malam untuk 3-bed bedroom yang cukup nyaman dan muat menampung lima koper kami. Yang bikin nyesek adalah city tax-nya; ini adalah tagihan tambahan yang harus dibayar cash atau with card di resepsionis. Untuk tiga orang, kami membayar pajak sebesar Rp716 ribu.
Agenda selanjutnya setelah beristirahat meluruskan kaki selama satu jam adalah makan malam. Karena om-om ini juga bukan warlok Amsterdam, mereka juga no clues untuk restoran yang enak. Akhirnya aku carikan lah restoran terdekat dari hotel yang punya rating tinggi dan menu yang bisa diterima lidah Asia kami. Pilihanku jatuh ke "De Hollandse Tulp" yang menyajikan berbagai menu Dutch food. Menurut Om Bert dan Om Ronald, makanan yang wajib dicoba adalah Stamppot dan Apple Pie.
"Stamppot" sendiri adalah hidangan tradisional khas Belanda yang terbuat dari kentang tumbuk (mashed potato) yang dicampur dan dihaluskan bersama berbagai jenis sayuran. Pada umumnya menu ini disajikan dengan potongan daging atau sosis asap (rookworst). Aku sendiri sih play safe aja dengan memesan fish n chips yang sudah pasti enak.
Sudah kenyang, tenaga pun sudah terisi lagi. Kami putuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel. Om Ronald memimpin arah langkah kami dengan bantuan Maps. Kami melewati kanal-kanal, taman, deretan bangunan megah, salah satunya Rijksmuseum. Sayangnya museum ini sudah tutup di waktu kunjungan kami. Tapi tidak masalah, kami tetap bisa menikmati eksterior gedungnya dengan banyak berfoto.
Rijksmuseum adalah museum seni yang terkenal di Amsterdam. Di sekali lukisan dan karya seni lukis karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Vermeer, dan Van Gogh. Lokasi gedung ini berada di area yang disebut "Museum Square", karena selain Rijkmuseum juga ada Museum Van Gogh, Museum Stedelijk, dan Concertgebouw yang cukup berdekatan.
Oh ya, sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, kami sudah melihat banyak sekali bunga-bunga cantik di pinggir jalan. Eropa di musim semi memang cantik sekali ya. Kami jadi semacam "pemanasan" sebelum besok akhirnya akan melihat jutaan bunga di kebun seluas 32 hektar!
Jumat, 17 April 2026
Kami memulai hari dengan packing karena harus check-out dari hotel dan meninggalkan Amsterdam. Jadi rencananya, kami akan menginap di rumah Tante Grace & Om John di Arnhem sampai nanti melanjutkan perjalanan Euro Trip ke Brussels.
Hari ini kami akan pergi ke tujuan utama Euro Trip 2026 ini yaitu Taman Keukenhof. Karena belum sarapan, Om Ronald mengajak kami untuk singgah dulu ke restoran dekat Keukenhof untuk mengisi perut. Restorannya bernama "Venneper Lodge" yang sangat cantik. Makanannya pun enak-enak semua. Kami memesan Dutch pancake dan segelas coklat hangat.
Dutch pancake berbentuk kue dadar bundar tipis yang ditumpuk dan disajikan dengan berbagai topping manis seperti madu, es krim, ataupun potongan buah. Cukup berbeda dengan American pancake yang biasanya berbentuk roti bundar lebih tebal.
Setelah kenyang dan puas foto-foto dengan latar rerumputan hijau, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi utama. Di jalan utama, sudah terbentuk antrian panjang mobil-mobil yang semuanya menuju Keukenhof. Tapi jangan khawatir, antriannya tidak stuck kok, hanya "ramai lancar" saja. Manajemen parkir Keukenhof sangat rapi. Deretan mobil tampak apik berjejer. Semakin pagi kalian tiba, semakin dekat juga jarak parkirnya ke main entrance Keukenhof. Kami sendiri tiba pukul 11.15 dan harus berjalan kaki cukup jauh menuju pintu masuk.
Keukenhof artinya "Kebun Dapur" dalam bahasa Belanda. Ia adalah salah satu taman bunga terbesar di dunia, mencakup area seluas 32 hektar dan memiliki sekitar 7 juta umbi bunga yang ditanam setiap tahunnya. Keukenhof terkenal dengan bunga tulipnya, dan juga terdapat banyak bunga lainnya seperti eceng gondok, bakung, lili, mawar, anyelir, dan iris.
Kalau readers mengamati foto-foto Keukenhof di blog ini, pasti ngerti deh kenapa aku pengen lagi dan lagi mengunjungi taman bunga satu ini. Kalau bisa, tiap tahun pengen mampir ke Belanda demi tulip-tulip cantik ini!
Oh ya, di sini kami juga ditemani oleh Om Edwin dan anaknya, Lynn.
Aku keluar dari Keukenhof dengan perut keroncongan. Lynn dan Om Ronald mengatur agar kami 'ngemil' dulu di Intratuin Lisse sekitar 10 menit bermobil dari Keukenhof. Intratuin ini semacam supermarket yang berspesialisasi di penjualan tanaman dan peralatan berkebun. Begitu masuk ke sini, kami langsung teringat dengan IKEA. Dan persis seperti IKEA, ada restoran di bagian akhir setelah melewati area payment atau kasir. Makanannya cukup enak sih, ada berbagai pilihan pasta dan kue.
Yang paling mengesankan adalah... ada kebun tulip luas di seberang supermarket! Kami tidak sempat mencari tahu apakah kebun ini boleh dimasuki pengunjung, tapi melihatnya dari luar saja sudah cukup bikin mata dimanjakan.
![]() |
| Kebun tulip di seberang Intratuin Lisse |
Kami lalu menempuh perjalanan 1,5 jam menuju Ede, kota tempat tinggalnya Om Freek. Di kota ini kami akan makan malam bersama di restoran "Eetkamer Lamens" yang masuk dalam daftar MICHELIN Guide Netherlands. Fancy ya? Interior restorannya langsung menunjukkan gaya industrial dengan meja-kursi dari kayu dan besi.
Tapi tolong jangan tanya aku apa saja menu yang kami makan malam itu, aku sudah lupa HAHAHA. Rasanya sih enak-enak saja. Namun yang paling aku sukai dari resto ini adalah dia menyediakan free flow air putih alias tap water. Tanpa perlu diminta, pitcher berisi air putih ini terus datang. Aku dan Mama senang sekali. Oh, dan satu lagi: toiletnya! Aku sangat mengapresiasi upaya resto ini untuk menyiapkan stok pembalut dan parfum spray di dalam toiletnya. Thoughtful sekali ya.
Setelah makan malam berakhir, kami semua menuju Arnhem. Arnhem adalah kota tempat tinggalnya para bersaudara yang lain, termasuk Tante Grace yang rumahnya akan menjadi tempat kami menginap selama 2 hari.
Sabtu, 18 April 2026
Hari ini kami diajak menuju Giethoorn yang umum dikenal sebagai "desa tanpa mobil". Seperti Venesia, desa ini dikelilingi kanal sehingga satu-satunya transportasi yang mungkin digunakan adalah perahu.
![]() |
| Mampir sarapan di minimarket dalam pom bensin di Heerde |
Setibanya di Giethoorn, para om langsung sibuk mencari perahu yang telah mereka pesan lewat aplikasi. Untuk meng-unlock perahunya cukup dengan men-scan kode QR. Perahu pun siap dipakai untuk berkeliling kanal selama 3 jam ke depan. Om John dan Om Freek gantian menjadi 'nahkoda'.
![]() |
| Lihat gagahnya Om John di belakang kemudi! |
Baru 5 menit berperahu, kami sudah disuguhkan pemandangan syahdu. Kanal-kanalnya yang bersih dan teduh, jembatan kayu melengkung yang cantik, dan rumah-rumah pertanian beratap jerami di kiri-kanan kanal. Beberapa rumah punya dekorasi lucu di halaman rumputnya: patung sapi atau patung anak kecil, kursi taman, pot-pot bunga.
![]() |
| Dekorasi cantik di halaman salah satu rumah |
Cara terbaik untuk menikmati Giethoorn adalah dengan menyewa perahu listrik yang senyap, mendayung dengan kayak, atau berjalan kaki di jalur setapak. Mungkin kalau ada kesempatan lagi mampir ke Giethoorn, aku ingin menyisihkan waktu 3-4 jam agar bisa puas jalan kaki mengelilingi desa ini.
Di Giethoorn kami menyempatkan makan siang di "Grand Cafe De Fanfare". Seperti umumnya restoran Eropa, porsinya cukup besar untuk dua orang. Aku dan Mama sama-sama kekenyangan, sementara Kakak cukup cerdik dengan hanya memesan burger saja.
Pukul 15.30 kami tiba di destinasi selanjutnya yaitu Paleis Het Loo di kota Apeldoorn. Ini adalah istana atau kastil yang dulu didiami oleh keluarga kerajaan House of Orange-Nassau dari abad ke-17 hingga kematian Ratu Wilhelmina pada tahun 1962. Istana ini direnovasi pada periode 1976 hingga 1982. Sejak 1984, istana ini dijadikan museum nasional yang dibuka untuk umum.
Karena keterbatasan waktu, kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam museum dan cukup menikmati kebun istana saja. Ada air mancur, labirin, deretan bunga, dan tentunya bangunan istana yang megah. Kami sempat kehujanan di lokasi ini.
Dari Apeldoorn, kami kembali ke Arnhem untuk menjemput Om David di Toko Indradjaja. Ini adalah toko yang menjual barang-barang ekspor Indonesia dan ada makanan Indonesia juga yang dimasak oleh the one and only chef: Om David.
![]() |
| Gelang hasil prakarya Tante Grace dan oleh-oleh coklat + stroopwafel |
Kami mengakhiri malam ini dengan packing karena besok harus bangun pagi-pagi untuk menuju ke Amsterdam.
Minggu, 19 April 2026
Setelah menikmati sarapan sederhana, kami pun berangkat menuju Amsterdam. It always feels blue to say farewell, padahal kami akan bertemu lagi sekitar akhir tahun karena para om-om ini akan 'mudik' ke Indonesia.
Om Bert dan Om Freek mengantarkan kami dengan mobil menuju Stasiun Amsterdam-zuid. Waktu perjalanannya sekitar satu hingga satu setengah jam. Kali ini aku pastikan tidak ada barang yang tertinggal, khususnya PASPOR. Ehem! Readers generasi lama, apakah masih ingat dengan kisah aku ketinggalan paspor di Belanda? Hahaha.
Kereta yang kami naiki adalah Eurocity kelas 2 dengan harga tiket sebesar Rp2,6 juta untuk bertiga. Kami berangkat pukul 09.40 dari Amsterdam, dan tiba di Brussels pukul 12.03 tepat. Perjalanannya singkat ya? Ini salah satu alasan kenapa aku sangat suka traveling ke benua Eropa. Selain kota-kotanya yang cantik, perpindahan antarkota bahkan antarnegara-nya bisa dibilang mudah. Apalagi negara-negara tetangga, cukup naik bis atau kereta saja dengan harga tiket yang masih terjangkau.
Selesai sudah ceritaku di blog part 1 ini. Terima kasih sudah mampir ya, readers! Selanjutnya aku akan bercerita tentang Brussels - Belgia yang merupakan negara ke-31 bagiku. Sedikit bocoran, di kota ini pun kami tidak jauh-jauh dari foto dengan bunga-bungaan HEHEHE.
Sampai jumpa! Tot snel! See you soon!

















































