November 07, 2019

Visa Australia yang Supermudah dan Supercepat

Sebelum memulai cerita trip review tentang Sydney, aku ingin terlebih dahulu berbagi pengalaman tentang membuat visa Australia. Sejak tahun 2018, visa Australia tidak lagi diproses secara fisik di Kedubes/VFS Kuningan tapi cukup daring via internet. Yang satu ini yang bikin visa Australia jadi supermudah, karena bisa diisi sambil ongkang-ongkang kaki di rumah, pakai daster, sambil menyeruput secangkir teh dari gelas ayam jago.

Visa Australia berbentuk digital dan dikirim ke e-mail

Aku perlu memperingatkan readers bahwa cerita di bawah ini aku tulis setelah visa-ku approved, bahkan setelah aku pulang dari trip 😅 Jadi urut-urutannya tidak terlalu mendetil, apalagi tampilan situsnya agak berbeda antara saat aplikasi dan setelah aplikasi. Readers bisa juga merujuk ke blog-nya Shintaries atau situs Javamilk yang kemarin menjadi panduanku saat mengajukan visa.

Oke, mari beranjak ke ceritaku...



Menyiapkan Aplikasi Visa

Aku lumayan 'santai' dalam menyiapkan aplikasi visa Australia karena: 1) aku berangkat dengan Kakak dan Mama, jadi beberapa persyaratan sudah aman -- misal, Kartu Keluarga; 2) persyaratan yang harus dipenuhi mudah saja: paspor, pas foto, surat keterangan kerja, slip gaji, rekening koran, kartu keluarga, seperti berkas-berkas visa yang lain. Jadi tak perlu ada yang disiapkan khusus; 3) berdasarkan referensi orang sekitarku, visa Australia selesai dalam 3 hari setelah submit dokumen jadi aku masih anteng-anteng saja, bahkan baru mendaftar aplikasi 1 bulan sebelum berangkat (jangan ditiru yah readers!)

Kepada Mama dan Kakak, aku sudah mewanti-wanti agar per 1 Agustus 2019 berkas-berkas mereka sudah siap. Berkas-berkas yang aku minta pada Mama dan Kakak adalah (soft-file/scanned):
  • Pasfoto ukuran 3.5 x 4.5 cm berlatar putih dengan zoom 80% (sama kayak visa Schengen)
  • Scan paspor saat ini dan paspor(-paspor) lama. Visa nantinya berbentuk digital jadi mereka tak perlu mengirimkan paspor fisik ke Jakarta untuk ditempeli visa. Sedih juga sih ya, padahal aku suka melihat lembaran visa menempel di paspor 😁
  • Scan visa-visa yang pernah dimiliki. Kalau aku: Schengen, UK, Ireland, Russia, SK, Jepang. Untuk Mama yang sudah pernah ke Melbourne, aku minta agar halaman paspor dengan stempel Melbourne-nya juga di-scan.
  • Akta Kelahiran (tidak perlu diterjemahkan)
  • KTP karena nanti akan diminta "National Identity Document"
  • Slip gaji selama 3 (tiga) bulan terakhir
  • Mutasi rekening selama 3 (tiga) bulan terakhir
  • Surat Keterangan Bekerja/Referensi Kantor, sangat penting untuk membuktikan bahwa kita benar-benar punya pekerjaan di Indonesia dan menjamin akan kembali ke tanah air setelah pelesir ke Australia
  • Slip gaji/Surat Keterangan Penghasilan selama 3 (tiga) bulan terakhir
  • Biaya visa selama 3 (tiga) bulan terakhir yaitu AUD 140 atau sekitar Rp1,5 juta per orang
Sementara itu aku sendiri menyiapkan sejumlah dokumen kolektif untuk kami semua, yaitu:
  • Kartu Keluarga
  • Bukti pesan akomodasi untuk setiap hari selama di Australia (kecuali bermalam di jalan, tunjukkan lampiran tiket bis/kereta malam). Pilihlah fasilitas free book/pay at the property seperti di Booking.com
  • Bukti pembelian tiket pesawat, mulai dari meninggalkan Jakarta hingga tiba kembali di Jakarta
  • Itinerary alias jadwal perjalanan. Mau ke mana saja selama di Australia, tulis dengan lengkap
  • Group Tour Detail berisi nama-nama yang akan pergi ke Australia. Kalau misal readers hanya berangkat sendiri, tidak perlu mengisi dokumen ini
14 dokumen itu saja yang diperlukan untuk apply visa Australia. Adapun untuk Surat Referensi Bank tidak diperlukan, jadi kita tak perlu 'membuang-buang' Rp150 ribu mengurusnya ke bank. Bahkan, "mutasi rekening" bisa berbentuk hasil cetakan mutasi dari internet banking ataupun foto hasil cetak buku tabungan. Begitu juga dengan Asuransi Perjalanan, tidak dibutuhkan sebagai dokumen pelengkap sebagaimana visa Schengen. Tidak ribet sama sekali kan?

Satu persatu berkas mulai dikirimkan Mama dan Kakak lewat WhatsApp Documents maupun e-mail. Awalnya aku memutuskan agar nanti saja membuka akun aplikasi visa Australia pada saat dokumen sudah lengkap. Tapi kok... hati rasanya cemas ya. Tidur jadi tidak nyenyak. Baiklah, mari kita buat akun saja, sekalian latihan submit visa ya kan. Kalau nanti ada yang salah, tinggal bikin akun baru lagi 😆


Membuat Akun dan Men-submit Aplikasi


Tanggal 3 Juli 2019, aku latihan membuat akun di situs imigrasi Australia (link https://online.immi.gov.au). Ternyata mudah saja, readers, setiap langkah-langkahnya sudah tercantum.

Wujud halaman pertama formulir setelah diisi

Aku kemudian men-submit aplikasi tanggal 23 Agustus. Step pertama yang tidak boleh terlupakan adalah membuat Group (ada di tab "Manage Groups" lalu klik "Create a New Group"). Gunanya adalah mengidentifikasi bahwa yang akan pergi ke Australia adalah satu rombongan, hubungan kekeluargaannya ditunjukkan lewat isian formulir dan lampiran Kartu Keluarga. Saat mengisi aplikasi, jangan lupa untuk memasukkan nama Group-nya.

Tampilan homescreen akunku berisi aplikasi visa kami bertiga

Aku membuat folder khusus di komputer untuk aplikasi visa Australia. Di dalam folder, kubuat lagi tiga sub-folder dengan nama kami masing-masing. Selanjutnya scanned files kupisahkan ke tiap folder dan langsung di-rename, misalnya: "ERLINEL-Pas Foto", "ERLINEL-Akte Lahir", dan "ERLINEL-Slip gaji". Begitu juga untuk dokumen milik Kakak dan Mama. Ketika tiba saatnya mengunggah lampiran, akan jadi mudah karena sudah terarsip dengan baik.


Tampilan attachments aplikasi visaku

Daftar dokumen yang menjadi lampiran aplikasiku (1)

Daftar dokumen yang menjadi lampiran aplikasiku (2)

Daftar dokumen yang menjadi lampiran aplikasiku (3)
Kalau readers meneliti tiga foto di atas, akan bingung melihat banyaknya lampiran yang ku-submit. Nah sebenarnya itu karena gangguan dari situsnya saja. Aku sebelumnya melampirkan dokumen tanpa di-rename (misal, pasfoto DSC0153 HK Foto) lalu karena merasa tidak rapi, akhirnya aku rename lalu kuunggah kembali. Tak lupa kuhapus juga file foto sebelumnya. Eh, entah kenapa meski sudah berkali-kali dihapus, file tersebut masih saja muncul.

Jadi readers sebaiknya bersiap matang-matang terlebih dahulu, khawatir berkas yang sudah diunggah tak bisa dihapus jika terjadi kesalahan.

Setelah data dan lampiran dokumen terisi semua, kita tinggal bayar. Tentu saja aku menggunakan Jenius andalanku sebagai pengganti kartu kredit. Biaya visa adalah AUD 140 per orang, hari itu konversinya menjadi Rp1.442.642 saja.

Surel yang aku terima setelah submit dan bayar aplikasi


Visa Terbit!

Akhirnya berita yang ditunggu-tunggu datang juga! Tanggal 29 Agustus 2019 jam 12 siang, aku mendapat e-mail dengan judul/perihal "IMMI Grant Notification". Woah, demi mendengar kata "grant" (kabulkan/setuju) saja aku sudah girang bukan main.

Gimana tidak, wong dari beberapa testimoni teman kantor dan blog panduan aplikasi visa, semuanya mengatakan bahwa proses visa tidak memakan waktu lebih dari 2 hari. Nah, aku sudah memasuki hari kerja ke-4, wajar saja kan kalau aku panik dan harap-harap cemas? 😆

Langsung saat itu juga aku kabari Mama dan Kakak: "Puji Tuhan approved multiple entries sampai 2022!" Ini karena kami memang berencana untuk kembali ke Australia di tahun mendatang, mungkin ke Canberra atau Perth, untuk liburan bertiga lagi 😍

Aku langsung mengunduh ketiga visa yang dikirimkan untuk berjaga-jaga apabila petugas imigrasi/maskapai menanyakan visa kami sebelum dan saat tiba di Australia.

***

Demikianlah, readers, ceritaku tentang kemudahan apply visa Australia yang sudah mepet H-1 bulan. Jangan ditiru yah! Hahaha. Nah... karena visa Australia bentuknya digital, jadi tidak ada foto paspor yang bisa kubagikan di blogpost kali ini 😀

Sampai jumpa di cerita selanjutnya tentang... Sydney trip review!

0 testimonial:

Post a Comment