Showing posts with label D.I. Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label D.I. Yogyakarta. Show all posts

February 21, 2017

Sowan ke Museum Affandi, Sang Pelukis Tanpa Kuas

Jogja, di musim hujan, saat weekend... apa artinya? Bagiku, sih: no beaches, no temples, no popular tourism sites. Musim hujan memang saat yang tepat untuk bermeditasi, hibernasi, pensiun dini, you name it. Menenangkan diri sejenak dari segala penat menenteng backpack dan jalan kaki demi mengeksplor tempat liburan.

Tapi... Semua prinsip itu menguap pada saat hari kedua dinas di Jogja, aku justru merasa bosan mendekam di kamar hotel, menonton HBO dengan tayangan film yang itu lagi-itu lagi. View kamar saat itu menghadap swimming pool dan, dasar pelupa, aku lupa membawa baju renang favorit. Apa lagi yang bisa aku lakukan di hari kosong dinas di Jogja ini?

Jangan diliatin lama-lama, ntar serem sendiri...


Mbak Devi, rekan kerja (eh?) yang menemani dinas kemarin, tiba-tiba saja memberi ide, "Apa kita ke Museum Affandi?" Nah. Ini adalah keputusan yang kesekian, setelah diskusi-diskusi sebelumnya dimana kami sempat mempertimbangkan Candi Ratu Boko (batal karena tidak mungkin sunset terlihat saat mendung begini), Hutan Pinus Imogiri Bantul (jauh bro, ditambah aku masih ber-high heels-ria), dan Rumah Makan Raminten (weekend sore gini pasti rame puoll!)

Gayung bersambut banget nih, soalnya saat perjalanan dari bandara Adisucipto ke hotel satu hari yang lalu, aku melihat Museum Affandi di sisi kanan jalan dan seketika berkeinginan untuk mengunjungi. Masih "keinginan" lho. Ealah ternyata sehati sama Mbak Devi. Selain alasan 'eksternal' di paragraf yang diatas, apalagi Lin yang mendorong kalian untuk ke Museum Affandi?

October 30, 2014

Three Provinces Trip: Yogyakarta City

Jogja! Jogja! Jogja! Semoga kota ini tidak bosan menerima kedatanganku yang seringkali menjadikannya tempat transit :')

Aku, Aldo, Kunto, dan Yung menginjakkan kaki di Yogyakarta pada pukul 18.00 WIB. Sang nyonya rumah, Lia, berhalangan untuk menemui kami malam ini karena sesuatu dan lain hal *tsahh* Lia yang begitu baik hati dan rajin menabung ini, readers, telah memesan homestay untuk kami tinggal selama 4H3M ke depan. Duh, baik bangeeeet :3 Lia! Awas aja ya kalau kamu ke Manado tapi nggak bilang-bilang ke aku dulu :( 
Penginapan kami terletak di Pojok Beteng Kulon yang menurut GPS hanya berjarak +- 10 menit berkendara dari Lempuyangan. Harga Rp50.000,- naik taksi dan Rp30.000,- naik becak, yang kami tanyai di stasiun, terasa sangat membebankan untuk jarak 10 menit itu. Maklumlah, aku memang pejalan superirit. Kami pun dengan nekat berjalan kaki menempuh 4,3 km perjalanan ke Pokteng Kulon. Di tengah perjalanan memang sempat mengisi perut untuk makan malam, tapi ternyata 4,3 km itu melelahkan juga ditempuh dengan membawa ransel berat.

Three Provinces Trip: Mount Bromo

Setibanya di Wonosobo, perjalanan kembali tersendat. Rupanya, kami tidak bisa langsung meneruskan perjalanan ke Malang! Huastagaahhh~ Padahal dalam itinerary yang kususun, perjalanan Wonosobo-Malang dapat ditempuh hanya dalam 8 jam menggunakan bis ekonomi. Entah dari mana aku mendapatkan info itu. Yang jelas, pada kenyataannya, kami harus menempuh Wonosobo-Magelang-Jogja-Jombang sebelum akhirnya bisa menginjak Malang. Inilah kenyataan hidup sebagai backpacker, alih-alih naik bis eksekutif P.O. Handoyo Magelang-Surabaya, malah akhirnya naik bis ekonomi ke Jogja yang hanya seharga Rp10.000,- itu. Jadwal pun mengalami reschedule disana-sini sehingga aku langsung menghubungi Mas Pras, pemilik jip di Malang, untuk minta maaf karena mengundurkan jadwal sehari. Readers, nanti kalian akan membaca betapa ramahnya sosok Mas Pras ini ketika kami menyambangi rumahnya sebelum & sesudah ke Bromo. Saat aku mengabari bahwa kedatangan kami diundur sehari, beliau malah menyemangati: "Gak papa Mbak, namanya juga di jalan. Semua adventure itu tetap harus mengutamakan safety." Wah, padahal aku sudah cemas nanti akan diprotes, atau kena charge, atau malah dibatalkan sepihak dari Mas Pras. Hehehe...


Beberapa jam menuju keagungan Bromo!

April 30, 2013

Laskar Jogja (Part 3)

Sabtu, 27 April 2013
Finally, the last day in Jogja! Hari ini dimulai dengan percekcokan akibat ke-kebo-an sebagian besar anggota laskar -_- Janjiannya sih bangun jam 6 biar bisa berangkat jam 8 ke Candi Prambanan, tapi realisasi bangunnya jam 8 lewat! Dwi, yang tidak ikut menginap di rumah Danang, jadi menunggu kami cukup lama di pintu masuk ke Candi Prambanan. Maaf ya, Dwi dan Adi... T.T

Pukul 12.15 siang akhirnya tibalah Laskar Jogja ke kawasan Candi Prambanan dengan disambut oleh ribuan pedagang di pintu masuk. Kalau tidak salah ingat, HTM ke taman purbakala Candi Prambanan waktu itu Rp30.000,- per orang.
Candi ini terletak di desa Prambanan, kurang lebih 20 KM timur Yogyakarta, 40 KM barat Surakarta dan 120 KM selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten. Intinya sih, candi ini berada di perbatasan... jadi bingung juga menyebut letak persisnya :D

Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.
Foto dengan gaya andalan: "Azmi's pose!" ^^

April 29, 2013

Laskar Jogja (Part 2)

Jumat, 26 April 2013
Kami berangkat dari penginapan di Malioboro menuju Candi Borobudur. Untuk menekan pengeluaran, kami berangkat ke Borobudur dengan Trans Jogja ke Terminal Jombor dengan biaya Rp3.000,- per orang. Kemudian dari Terminal Jombor kami menyewa sebuah minibus yang akan mengantar ke Borobudur, kemudian ke rumah Danang sepulangnya dari candi.
Sebelum masuk, anak-anak selain aku, Fina, dan Harry pergi ke masjid yang tidak jauh dari kawasan Candi untuk menunaikan Sholat Jumat. Alhasil baru pukul 13.30 siang kami masuk ke Candi Borobudur. Harga tiket masuk ke Candi Borobudur Rp30.000,- per orang.



Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Jadi sebenarnya kami kemarin tidak hanya "Laskar Jogja" tapi juga menjadi "Laskar Magelang" :p Candi terletak +/- 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.

April 28, 2013

Laskar Jogja (Part 1)

PROLOG. "Laskar Jogja" adalah cerita sekaligus trip review tentang perjalanan 14 mahasiswa dan 2 mahasiswi kampus STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara kelas 3J. Perjalanan ini sekaligus menjadi acara MAKRAB (Malam Keakraban) bagi kelas 3J (SOULJAH) selama 5 hari 4 malam di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dimulai dari 24 April 2013 pukul 18:40 dan berakhir pada 28 April 2013 pukul 01:00 WIB.

So, here comes the story...
Perjalanan ke Jogja kemarin adalah salah satu pengalaman travelling yang sangat berarti dan takkan pernah kulupakan. Karena itu bukan saja kali pertama bagiku menginjakkan kaki di Jogja, tapi juga itu adalah makrab kelas pertama dan trip backpacking pertama SOULJAH, kelasku tingkat tiga di kampus STAN. Bersama 15 orang lainnya, aku berbagi suka-duka backpacking di bawah teriknya Jogja dengan modal uang yang pas-pasan.

Perjalanan ini adalah hasil rancanganku bersama beberapa orang lainnya, terutama dengan Budi. Betapa senangnya ketika kami tahu bahwa "Laskar Jogja" meningkat dari hari ke hari, dari yang awalnya hanya beranggotakan lima orang. Namun, tetap saja duka besar kami rasakan ketika akhirnya Sali memutuskan tidak bisa ikut meskipun tiket kereta sudah di tangan. Tapi begitu tiba di Jogja, rasa duka itu tidak lagi begitu terasa, karena kami siap menjelajah Jogja dengan senyum kegembiraan!!

Meeting point: Masjid Ceger pukul 18:44 WIB
Kamis, 25 April 2013
Kami menginjakkan kaki pertama kali di St. Lempuyangan, Jogja. Backpacking trip pun seketika dimulai! Dengan berjalan kaki, 16 orang mahasiswa/i ini menuju St. Tugu. Karena 'buta arah' kami sempat beradu pendapat mengenai arah jalan. Sempat terpikir bahwa kami sebaiknya menyusuri rel kereta dari St. Lempuyangan ke St. Tugu yang hanya berjarak satu stasiun saja. Ide konyol, karena kami tidak ingat bahwa rel kereta tidak terus-menerus ada di tanah, tapi ada juga jembatan yang melintasi sungai kecil. Bayangkan apa yang terjadi jika kami nekat menyusuri rel kereta, kemudian di jembatan itu ada kereta yang lewat! Hahaha...!!