April 30, 2013

Laskar Jogja (Part 3)

Sabtu, 27 April 2013
Finally, the last day in Jogja! Hari ini dimulai dengan percekcokan akibat ke-kebo-an sebagian besar anggota laskar -_- Janjiannya sih bangun jam 6 biar bisa berangkat jam 8 ke Candi Prambanan, tapi realisasi bangunnya jam 8 lewat! Dwi, yang tidak ikut menginap di rumah Danang, jadi menunggu kami cukup lama di pintu masuk ke Candi Prambanan. Maaf ya, Dwi dan Adi... T.T

Pukul 12.15 siang akhirnya tibalah Laskar Jogja ke kawasan Candi Prambanan dengan disambut oleh ribuan pedagang di pintu masuk. Kalau tidak salah ingat, HTM ke taman purbakala Candi Prambanan waktu itu Rp30.000,- per orang.
Candi ini terletak di desa Prambanan, kurang lebih 20 KM timur Yogyakarta, 40 KM barat Surakarta dan 120 KM selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten. Intinya sih, candi ini berada di perbatasan... jadi bingung juga menyebut letak persisnya :D

Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.
Foto dengan gaya andalan: "Azmi's pose!" ^^

April 29, 2013

Laskar Jogja (Part 2)

Jumat, 26 April 2013
Kami berangkat dari penginapan di Malioboro menuju Candi Borobudur. Untuk menekan pengeluaran, kami berangkat ke Borobudur dengan Trans Jogja ke Terminal Jombor dengan biaya Rp3.000,- per orang. Kemudian dari Terminal Jombor kami menyewa sebuah minibus yang akan mengantar ke Borobudur, kemudian ke rumah Danang sepulangnya dari candi.
Sebelum masuk, anak-anak selain aku, Fina, dan Harry pergi ke masjid yang tidak jauh dari kawasan Candi untuk menunaikan Sholat Jumat. Alhasil baru pukul 13.30 siang kami masuk ke Candi Borobudur. Harga tiket masuk ke Candi Borobudur Rp30.000,- per orang.



Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Jadi sebenarnya kami kemarin tidak hanya "Laskar Jogja" tapi juga menjadi "Laskar Magelang" :p Candi terletak +/- 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.

April 28, 2013

Laskar Jogja (Part 1)

PROLOG. "Laskar Jogja" adalah cerita sekaligus trip review tentang perjalanan 14 mahasiswa dan 2 mahasiswi kampus STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara kelas 3J. Perjalanan ini sekaligus menjadi acara MAKRAB (Malam Keakraban) bagi kelas 3J (SOULJAH) selama 5 hari 4 malam di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dimulai dari 24 April 2013 pukul 18:40 dan berakhir pada 28 April 2013 pukul 01:00 WIB.

So, here comes the story...
Perjalanan ke Jogja kemarin adalah salah satu pengalaman travelling yang sangat berarti dan takkan pernah kulupakan. Karena itu bukan saja kali pertama bagiku menginjakkan kaki di Jogja, tapi juga itu adalah makrab kelas pertama dan trip backpacking pertama SOULJAH, kelasku tingkat tiga di kampus STAN. Bersama 15 orang lainnya, aku berbagi suka-duka backpacking di bawah teriknya Jogja dengan modal uang yang pas-pasan.

Perjalanan ini adalah hasil rancanganku bersama beberapa orang lainnya, terutama dengan Budi. Betapa senangnya ketika kami tahu bahwa "Laskar Jogja" meningkat dari hari ke hari, dari yang awalnya hanya beranggotakan lima orang. Namun, tetap saja duka besar kami rasakan ketika akhirnya Sali memutuskan tidak bisa ikut meskipun tiket kereta sudah di tangan. Tapi begitu tiba di Jogja, rasa duka itu tidak lagi begitu terasa, karena kami siap menjelajah Jogja dengan senyum kegembiraan!!

Meeting point: Masjid Ceger pukul 18:44 WIB
Kamis, 25 April 2013
Kami menginjakkan kaki pertama kali di St. Lempuyangan, Jogja. Backpacking trip pun seketika dimulai! Dengan berjalan kaki, 16 orang mahasiswa/i ini menuju St. Tugu. Karena 'buta arah' kami sempat beradu pendapat mengenai arah jalan. Sempat terpikir bahwa kami sebaiknya menyusuri rel kereta dari St. Lempuyangan ke St. Tugu yang hanya berjarak satu stasiun saja. Ide konyol, karena kami tidak ingat bahwa rel kereta tidak terus-menerus ada di tanah, tapi ada juga jembatan yang melintasi sungai kecil. Bayangkan apa yang terjadi jika kami nekat menyusuri rel kereta, kemudian di jembatan itu ada kereta yang lewat! Hahaha...!!

April 20, 2013

Kepulauan Seribu, 'Surga'-nya Jakarta

Trip tanggal 13-14 APRIL 2012 kemarin menjadi pengalaman pertama bagiku jalan-jalan dengan jasa trip organizer. Bersama "Kili-kili Adventure" yang dimanajeri Bima, aku dan 20-an orang lainnya menikmati weekend yang menyenangkan di Kepulauan Seribu dengan biaya Rp315.000,-/pax.

Sesuai itinerary yang tersusun, kami berkumpul di Muara Angke pukul 06.30 WIB untuk naik kapal kayu menuju Pulau Harapan. Kapal kayu ini merupakan transportasi umum yang digunakan masyarakat yang akan mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta ataupun sebaliknya. Kepulauan Seribu merupakan gugusan lebih dari 300 pulau yang berada di Teluk Jakarta.

Kapal berangkat pukul 07.00 dan tiga jam kemudian kami tiba di Pulau Harapan. Walaupun ini bukan kali pertamaku naik kapal kecil, tapi serangan seasickness tidak bisa dihindari. Mungkin karena aku hanya sarapan sepotong roti dan duduk di bagian bawah (kapalnya 3 tingkat.red), ditambah lagi cuaca memang kurang bersahabat sehingga kami sempat diterjang badai kecil di tengah laut. Wow. Sensasinya pasti luar biasa seandainya aku duduk di tingkat atas :( 

Welcome to Harapan Island! :)

Tanaman Bakau yang bertumbuh subur di Pulau Harapan


Pukul 11.23 WIB tiba di Homestay Baronang 2 dan langsung menikmati makan siang seafood yang lezat.

Rombongan tiba di Homestay
Pukul 13.13 perjalanan hopping islands dimulai! Rencana yang tertera di itinerary kami akan mengunjungi Pulau Macan Gundul, Pulau Genteng Kecil, dan Pulau Bira.

Siap berangkat hopping island hari pertama! ^^

Snorkeling heboh!


Pukul 15.39 WIB rombongan kami tiba di Pulau Bira. Dan aku pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama pulau ini!

Pemandangan dari Pulau Bira
Birunya Pulau Bira

Di Pulau Bira kami berencana menyaksikan sunset. Sambil menunggu sunset, kelompok kami terpecah: ada yang jelajah pulau, ada yang main bola, ada yang foto-foto narsis, sedangkan aku? Aku main-main bersama anjing retriever Labrador yang kebetulan tengah diajak jalan-jalan oleh anak kecil penjaganya di sekitar dermaga. 

SUNSET! (Captured by Den Bima, sang juragan TO)
 Lezatnya udang goreng saat makan siang tadi kali ini bersaing dengan sajian makan malam kami! Pukul 19.00 WIB kami disuguhkan seafood lagi yang tidak kalah lezat: ikan bakar! Kami makan lesehan di teras dan menikmati sejuknya hujan rintik-rintik (karena hujan inilah kami tidak jadi pesta barbecue di pinggir pantai seperti itinerary yang dibuat), sambil sesekali melempar canda satu dengan yang lain.

(Kiri) Kondisi saat makan siang (Kanan) Kondisi saat makan malam: SAMA-SAMA SERU & LEZAT! :9
Berbagai jenis hidangan seafood yang disiapkan TO, ikan bakar dan cumi gorengnya JUARA!
Selesai makan malam, kami mengadakan acara keakraban. Ternyata beberapa anggota trip kali ini sudah saling kenal dari trip-trip sebelumnya yang juga diselenggarakan oleh Bima. Aku adalah anggota termuda di trip kali ini, karena yang lainnya adalah professional muda alias orang-orang kantoran. Mengetahui aku berasal dari Manado, anak-anak lain langsung request nyanyian "Balada Pelaut" olehku -___-

SUNRISE! (Captured by Den Bima)
Subuh-subuh aku dibangunkan oleh teman-teman yang ingin hunting foto sunrise di pantai Pulau Harapan. Tentu saja kutolak, aku kan 'sleeping beauty' :p Benar saja, aku yang 'horbo' sejati ini akhirnya bisa membuka mata jam 07.00 dan langsung bergegas mandi dan sarapan pisang & ubi goreng, yum! 

Pukul 08.00 hopping island hari kedua pun dimulai! Destinasi pertama kami adalah Pulau Bulat yang hanya berjarak setengah jam dari Pulau Harapan. 




Sesuai dengan namanya, pulau ini berbentuk bulat dan tidak terlalu luas, hanya 1,28 hektar luasnya. Kita bisa dengan mudah dan cepatnya mengelilingi pulau tanpa khawatir nyasar. Denger-denger sih, pulau ini milik Pak Soeharto.

Ada beberapa bangunan semacam penginapan yang cukup besar namun kelihatan tak terurus. Tidak ada yang tinggal disini kecuali sepasang bapak-bapak tua yang bertugas sebagai penjaga pulau. Sebenarnya sih pulau ini bukan lokasi camping yang disarankan karena tidak tersedia camping ground maupun MCK yang memadai. Tapi memang bisa menjadi pilihan alternatif bagi traveler-traveler yang doyan camping.

Michael Christoffel, salah seorang peserta trip yang ternyata sesama orang Manado :')
Dari Pulau Bulat perjalanan berlanjut ke berbagai pulau lain untuk mencari spot snorkeling yang oke. Maaf ya readers, saking banyaknya pulau-pulau di Kep. Seribu ini, aku jadi lupa pulau mana saja yang kami singgahi :(



Puas menggosongkan diri dengan snorkeling dan sunbathing di atas perahu, kami pun dibawa Bima mengunjungi Pulau Kelapa Dua. Pukul 10.10 WIB rombongan kami tiba di Pulau Kelapa Dua melihat pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di kantor Taman Nasional Laut Kep. Seribu. Sambil berjalan menyusuri rumah warga di pulau ini, kami menyapa penduduk setempat sambil melihat-lihat model rumah mereka yang unik. Di Pulau Kelapa Dua rumahnya rata-rata berbentuk rumah panggung. Di atas rumah digunakan untuk tempat tinggal, di bawahnya untuk aktifitas lainnya. Seperti tempat untuk mengobrol ataupun bekerja. Cukup berjalan kaki 10 menit, kami sampai di pojok lokasi yang sepi yang merupakan tempat penangkaran penyu sisik.

Pemandangan di Pulau Kelapa Dua
Lucunya bayi-bayi penyu >___<
Penyu sisiknya cantik banget!
Penangkaran Penyu Sisik di Pulau Kelapa Dua ini dimaksudkan untuk memulihkan populasi penyu yang nyaris punah. Kegiatan penangkaran meliputi kegiatan penetasan telur sebisa mungkin sesuai dengan proses alamiah dan perawatan anak penyu sampai siap untuk dilepas kembali ke alam.
Penyu Sisik atau Eretmochelys imbricata adalah salah satu populasi penyu yang nyaris musnah dan karenanya dilindungi. Bentuk badannya sangat unik dengan sisik-sisik tebal pada kulitnya.
Konsumsi daging dan pencurian telur penyu di beberapa daerah di Indonesia adalah salah satu ancaman musnahnya hewan penyu. Di Indonesia terdapat beragam jenis penyu. Diantaranya Penyu Hijau, Penyu Belimbing, Penyu Ridel, Penyu Pipih, Penyu Tempayan. Semua jenis penyu tersebut dilindungi. (source: http://thearoengbinangproject.com/penangkaran-penyu-pulau-kelapa-dua-kepulauan-seribu/)

Ada juga pelestarian tanaman bakau di sini
Di luar kompleks penangkaran Penyu Sisik, Departemen Kehutanan juga membuat Arboretum Mangrove. Tempat ini adalah areal yang sengaja dibuat dan ditanami dengan berbagai jenis tanaman Mangrove atau Bakau yang mewakili jenis-jenis yang ada di wilayah penyebarannya, khususnya di daerah Kepulauan Seribu, sehingga dapat berfungsi sebagai tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, riset, wisata alam dan budidaya.

Sesuai dengan yang tertera pada papan pemberitahuan, terdapat 12.000 batang bakau yang di tanam dari 9 jenis tanaman bakau. Diantaranya Rhyzopora stylosaRhyzopora mucronataRhyzopora apiculataBruquera cylindrica/Bogem, Bruquera gymnoriza/Prepat, Ceriop tagal/Tegar, Xylocarpus granatum/Nyiri Batu, Avicennia marina/Api-api, Sonneratia alba/Pedada (Perapat laut). Jadi selain kita bisa belajar mengenai pelestarian Penyu Sisik, di tempat ini kita juga bisa sekalian mengetahui berbagai jenis tanaman Bakau.

Langit biru seperti ini bisa ditemukan di mana pun di Kepulauan Seribu. Surganya para fotografer :')

Seorang bapak penduduk Pulau Harapan yang tengah bekerja menganyam bambu
Pukul 13.20 rombongan kami siap berangkat kembali ke Jakarta. Setelah makan siang, jangan lupa minum Antimo! Wajib banget mengingat cuaca yang kurang bersahabat sehingga kemungkinan terjadi badai cukup besar.

Makan siang dulu sebelum berangkat Jakarta :9
Sesuai perkiraan, laut memang bergelora, tapi tidak sedashyat saat berangkat. Untung aku duduk di tingkat dua kapal kali ini, dan sudah minum Antimo sehingga setengah tertidur saat perjalanan mengarungi laut. Kapal merapat di dermaga Muara Angke pukul 16.10 WIB. Sedih juga rasanya harus berpisah dengan teman-teman baru yang seru dan gokil seperti mereka, apalagi aku yang termuda di rombongan ini (rata-rata anak kantoran semua euy!)

Mengikuti trip organizer untuk jalan-jalan memang seru dan asyik karena kita tinggal ongkang-ongkang kaki aja, semuanya diurusin sama sang TO mulai dari transportasi, makan, penginapan, hingga foto-foto pun siap! Tinggal terima bersih aja. Tapi ikut TO tidak sejalan dengan prinsip hidup backpacker sejati. Backpacker harus bisa mandiri: menyusun rencana dan itinerary sendiri sehingga biaya nge-trip pun bisa ditekan jika kita hemat dan makan seadanya *aku banget ini mah!*

Buat readers yang mau jalan-jalan hemat sangat tidak disarankan untuk ikut trip organizer, sebaiknya susun rencana jalan-jalan sendiri dengan menggunakan referensi tempat & harga dari berbagai sumber, atau nebeng nge-trip sama teman sehingga bersistem cost-sharing trip, lebih rame, seru dan pastinya murah meriah!
Tapi nge-trip dengan TO, apalagi Kili-kili Adventure (ehem, promosi dikit :p), juga disarankan buat readers yang pengen nge-trip dengan santai dan nyaman, karena perjalanan jadi 'bergaransi' sama si juragan TO. Selain itu, nambah banyak banget temen baru lho, lumayan kan nambah-nambah followers twitter :p Pilihan ada di tangan kalian, kawan! ;)

PS. (Buat peserta trip Hopping Island 13-14 April kemarin)
Kayaknya kita sempat ke Pulau Magaran, kan? Aku kok samar-samar ingat kita pernah kesitu... Kalo ada yang ingat dan kebetulan baca posting ini, mohon dijawab ya :3

February 13, 2013

PERKASA Trip: Bandar Lampung (Pt. 3)

Sabtu, 9 Februari 2013
Para petualang Bandar Lampung kali ini ketambahan satu lagi personil (cadangan :p), let me introduce him to you, Feridio Juliansah! Feri ini adik tingkat kami di kampus STAN, angkatan 2011 mahasiswa D1 Pajak yang sampai saat ini masih menganggur karena ketidakjelasan penempatan Kementerian Keuangan :( Sosoknya yang ngocol, kocak, dan cepat akrab dengan orang lain membuat kami memutuskan untuk mengajak dia nge-trip hari ini, karena Raka tidak bisa ikut sehingga kami juga sebenarnya kekurangan kendaraan untuk jalan-jalan, hahaha... Maaf ye, Fer :p


First destination adalah Taman Kupu-kupu Gita Persada. Meskipun bangun jam 08.00 pagi, tapi karena menunggu Feri datang, kami berangkat pukul 10.00 dan tiba di tujuan pukul 12.00 siang.

FYI, Bandar Lampung adalah kota terpanas se-Indonesia, menurutku (yang baru menjejaki beberapa kota di tiga pulau Indonesia, sebenarnya :p). Panasnya nggak nyantai! Dijamin langsung gosong kemerah-merahan kalau berani keluar rumah tanpa sunblock dan 'perlindungan' lengkap. Sakitnya bahkan terasa sampai ubun-ubun karena pening kalau terkena panas matahari. Apalagi kalau kita menuju ke jalan lintas Sumatera yang sering dilalui truk-truk besar, debu dan polusi dari knalpotnya itu juga ikut menambah penderitaan :'(

Nah, menuju ke Taman KGP ini, kita memasuki 'dunia' yang berbeda. Asri dan sejuk! Padahal hanya 15 menit jaraknya dari Bandar Lampung. Puji Tuhan, ternyata masih ada tempat yang sejuk di Bandar Lampung ini...

February 12, 2013

PERKASA Trip: Bandar Lampung (Pt. 2)

Jumat, 8 Februari 2013
Rencana untuk hari ketiga di Bandar Lampung tidak berjalan mulus. Bangun jam tujuh pagi menjadi wacana semata :D Apalagi telah bertambah satu orang dalam antrian kamar mandi, Arga Abdilah, yang baru tiba di Bandar Lampung dini hari tadi.

Bandar Lampung Trip hari ketiga dimulai dari Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (ada juga yang nyebut "Taman Hutan Rakyat Wan Abdurahman, hmm...) pukul 09.52 WIB. Taman Hutan ini merupakan kawasan hutan kota yang terletak 5 Km arah barat pusat kota Bandar Lampung yaitu pada sebuah lembah di Gunung Betung dengan ketinggian 700 M diatas permukaan laut dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau. Taman ini adalah lokasi youth camp (perkemahan muda-mudi) yang sering menjadi spot lintas alam dan berkemah oleh siswa-siswi SMP/SMA maupun mahasiswa. Saat kami datang, taman sedang digunakan sebagai tempat berkemah oleh guru dan siswa/i dari salah satu MTs (Madrasah Tsanawiyah).


Tujuan utama kami bukanlah untuk berkemah ataupun lintas alam, melainkan untuk 'menaklukkan' Air Terjun Hanura, yaitu rangkaian air terjun yang terdiri dari 7 buah air terjun.

February 11, 2013

PERKASA Trip: Bandar Lampung (Pt. 1)

Bermula dari obrolan iseng-iseng di warkop Ponjay tengah malam, Perkasa pun memulai trip pertamanya: Bandar Lampung! Sayang anggotanya tidak lengkap dalam trip kali ini. Aku, Ayuni, dan Nopri berangkat dari Bintaro jam 08.00 hari Rabu (6 Februari 2013). 
Perjalanan yang panjang kami lewati mulai dari naik angkot ke Serpong Plaza (08.52 WIB), naik minibus Arimbi Jaya ke Pelabuhan Merak (11.42 WIB), lalu akhirnya menyeberang ke Pulau Sumatera dengan kapal KM Musthika Kencana (12.28 WIB).



Ini adalah kali pertamaku (dan mungkin Ayuni & Nopri juga) menyeberangi selat dengan menggunakan kapal. Eh, tapi aku sudah pernah ding menyeberangi laut (yang lebih besar daripada selat) ketika mudik ke Tahuna (Sangihe Talaud, Sulawesi Utara), kota kelahiran Papaku. Naik kapal ke Tahuna butuh waktu +/- 12 jam, sedangkan menyeberang ke Sumatera hanya butuh 3-4 jam saja. 

February 06, 2013

Padang-Bukittinggi: Mendaki Bukit, Lewati Lembah (2)

Minggu, 3 Februari 2013
Hari kedua sekaligus terakhir di Bukittinggi! Ah, padahal belum puas merasakan nikmatnya Sate Padang asli di Sumatra Barat sambil menikmati indahnya pemandangan Ngarai Sianok :')

Dari Hotel Ambunsuri kami berangkat menuju Danau Maninjau, sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang dan 36 kilometer dari Bukittinggi. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. 

Danau Maninjau dilihat dari Kelok 44
Salah satu tempat wisata unik di Bukittinggi ini adalah Situs Kelok 44 (Site of Corners 44), dimana terdapat 44 buah kelokan/belokan yang menurun ke arah Danau Maninjau. Ada beberapa belokan tajam yang akan membuat jantung berdesir ketika kendaraan membelok dengan 'indah'nya! Ya, gimana nggak indah? Pemandangan sawah membentang di sebelah kanan dan birunya Danau Maninjau di sebelah kiri, siapa yang nggak terpesona? :) Lengkapnya tentang Situs Kelok 44 dapat dibaca disini.

Di tiap kelokan terdapat plang yang menandai jumlah kelok dari 1 hingga 44
Mencari spot terbaik untuk merasakan sejuknya air Danau Maninjau sama sekali bukan hal yang mudah! Pasalnya di sekeliling danau telah banyak dibangun resort, hotel, atau penginapan sederhana sehingga untuk mengakses danau kita harus masuk ke penginapan itu terlebih dahulu. Alhasil, kami berempat pun menembus 'hutan rimba' yang berujung di halaman homestay sederhana milik warga setempat. Ada sekitar lima buah pavilion yang ditempati oleh turis asing yang membawa serta keluarganya untuk pelesir Sumatera Barat. Saat kami tiba disitu, seorang om bule tengah asyik berjemur dan untungnya tidak merasa terganggu sama sekali oleh kenarsisan kami, hehehe...

Berfoto dengan latar belakang Danau Maninjau

February 05, 2013

Situs "Kelok 44" di Bukittinggi

Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ada suatu jalur panjang yang dijadikan tempat wisata, bernama KELOK 44. Jalannya menurun menuju Danau Maninjau. Ada 44 kelokan (belokan) sangat curam yang membuat kendaraan harus berbelok 180 derajat di tiap kelok.

Berikut ini adalah foto-foto terkait Situs Kelok 44 yang berada di Bukittinggi, Sumatera Barat:

Salah satu kelokan di jalur Kelok 44

Penampakan Kelok 44 diambil dari udara

February 04, 2013

Padang-Bukittinggi: Mendaki Bukit, Lewati Lembah (1)

The majestic Jam Gadang is located in Bukittinggi, West Sumatra (source: http://id.wikipedia.org)
Sabtu, 2 Februari 2013
Provinsi Sumatera Barat menjadi provinsi pertama bagiku menginjakkan kaki di Pulau Sumatera! Perjalanan ini juga menjadi trip traveling pertamaku dengan Bang Supriadi alias Bang Adi yang kemudian (dan seterusnya, amin! :p) menjadi partner traveling paling asyik. Beliau menawariku tiket milik temannya yang batal ikut traveling ke Padang, sehingga dengan berbekal kartu identitasnya, aku (juga untuk yang pertama kalinya) mendapat tiket PP gratis sebagai modal jalan-jalan kali ini!

 Aku, Bang Adi, dan kedua teman sekantornya: Mas Niko dan Mbak Endang memulai Padang-Bukittinggi Trip dari Bandar Udara Internasional Minangkabau (PDG) pukul 07.12 pagi hari.

View from the plane; It's really amazing, isn't it?