August 24, 2015

Hello Cambodia: Surviving in Phnom Penh

Sudah seminggu berlalu sejak kepergianku ke Kamboja, dan ternyata cukup banyak yang menagih cerita (dan oleh-oleh) tentang Kamboja. Oleh sebab itu, tanpa berlama-lama lagi mari kita langsung memulai cerita Kamboja trip!


SABTU, 15 AGUSTUS 2015

Aku dan Aldo Aribama Siahaan (travelmate semasa di Toraja, Belitung, Lombok, Bromo, and many more) tiba di Phnom Penh International Airport pada pukul 07.35 waktu setempat, alias GMT + 7 alias sama saja dengan WIB. Hal pertama yang kami lakukan? Mencari tempat makan tentunya! Hahaha, berhubung aku tidak punya ringgit, kami pun tidak sarapan dulu di KLIA dan sekarang baru terasa perut berbunyi keroncongan. Setelah mencoret nama-nama restoran dengan menu yang bisa ditemukan di Indonesia, diputuskanlah untuk makan di BBQ Chicken dan menghabiskan $5,5 untuk Olive Luxury Chicken Set yang cukup mengenyangkan. Kami tidak memesan minuman demi penghematan, hahaha, maklum Kamboja menggunakan dollar Amerika yang saat ini harganya hampir mendekati Rp14.000,- Di sini kami sekalian bertanya tentang transportasi ke pusat kota, dan para pegawainya menyarankan untuk menyewa tuktuk saja dengan ongkos $7, daripada taksi yang seharga $12.

Phnom Penh (yang dibelah Sungai Mekong) dilihat dari angkasa

Setelah makan dan cuci muka sekelak, kami langsung mencari tuktuk yang katanya banyak bertebaran di bandara. Benar saja, kami diserbu beberapa driver yang heboh menyodorkan secarik kertas bertuliskan "airport tuktuk" yang membuat kami berkesimpulan mereka adalah tuktuk resmi dengan harga yang resmi. Alhasil, kami tidak menawar mati-matian untuk harganya yang sebesar $9 itu (which we regretted so much later on). Kami memang sempat menawar $7 kok, sesuai yang disarankan tadi, tapi mereka tetap menunjuk-nunjuk lembaran kertas itu, saying that it was the official price for tuktuk to town center. Lagipula tidak ada lagi tuktuk selain rombongan tadi, apa boleh buat. Mari kita cussss!

First time riding the tuktuk!

Kerajaan Kamboja (Kingdom of Cambodia) adalah negara berbentuk monarki konstitusional yang merupakan penerus Kekaisaran Khmer yang pernah berkuasa di abad 11 dan 14. Negara ini dipimpin oleh Raja Norodom Sihamoni yang baru saja berulang tahun bulan lalu. Di sekitar istana dapat ditemukan berbagai karangan bunga dalam rangka perayaan ulang tahun Raja. Mereka menggunakan bahasa lisan dan tulisan Khmer yang sepintas sangat mirip dengan Thai. Yah, kira-kira seperti bahasa Melayu antara orang Malaysia dan Indonesia lah. Mayoritas penduduk Kamboja memeluk agama Buddha Theravada yang sekilas seperti perpaduan agama Buddha dan Hindu, serta mengandalkan sektor agrikultur, pariwisata, dan industri tekstil untuk perekonomiannya.

Kamboja adalah negara-berlaju-kemudi-sebelah-kiri pertamaku, yeay!

Berdasarkan itinerary, kami pun menyambangi Royal Palace straight from the airport. Alasannya, istana ini akan tutup pada pukul 10, lagipula semakin pagi semakin baik mengingat panasnya matahari di Kamboja. *Benar sekali, readers! Kurang dari 6 jam berada di Phnom Penh, kulitku sudah menghitam.* Baru saja menginjakkan kaki, yeah literally menapakkan kaki ke tanah dari tuktuk, kami sudah dihampiri driver tuktuk lain yang menawarkan mengantar ke tempat tujuan berikutnya. Astaga. Aku maklum sih, kedua driver ini pasti sudah berkongsi setiap kali yang satu tiba mengantar turis dari bandara ke Royal Palace. Aku dan Aldo tetap pasang muka besi alias bergeming mendengar penawarannya. Pokoknya mari melihat istana terlebih dahulu! Tiket masuk ke Royal Palace adalah $6,5 for each person.

Salah satu bangunan yang akan menyambut kita memasuki area Royal Palace
Royal Palace adalah sebuah kompleks kerajaan yang berwarna keemasan dan dihuni raja-raja Kamboja sejak tahun 1860. Dalam bahasa Khmer, istana ini disebut Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk. Pengunjung dapat menikmati keindahan kompleks istana raja dengan arsitektur bangunan megah khas Kamboja yang bersih dan terawat. Royal Palace mempunyai beberapa bangunan yang masing-masing mempunyai karakteristik yang khas dan mempunyai desain yang sangat indah. Salah satu objek andalannya adalah Throne Hall yang digunakan raja saat menerima tamu dan menggelar upacara keagamaan. Hall ini dihiasi singgasana dan perabot berlapis emas. Sayangnya, kami tidak dibolehkan mengambil gambar bagian dalam hall, jadi harus kalian sendiri yang menyaksikan keindahannya di Kamboja ya hehehe.


Silver Pagoda, memiliki ubin yang terbuat dari perak berjumlah 5329 buah. Mengagumkan.

Sarana ibadah ini tidak pernah absen terlihat di depan rumah setiap umat Buddha Kamboja

Banyak orang yang membanding-bandingkan istana ini dengan Grand Palace-nya Thailand, dan katanya sih masih kalah mewah. Aku yang belum pernah melihat istana selain Istana Negara di Jakarta Pusat itu sudah terkagum-kagum melihat Royal Palace, wah, semewah apa Grand Palace itu ya?


Tentu saja selfie adalah agenda wajib jalan-jalan bersama Erlin!

Seperti Thailand dan Laos, Kamboja mengandalkan "gajah" sebagai salah satu simbol pariwisatanya

10 bulan nggak ketemu, sahabat yang satu ini ternyata nggak banyak berubah :p

Satu hal yang sejak tadi mengganjal adalah... kami belum menenggak air sejak dari KLIA! Astaga. Kami pun buru-buru menemui seorang pedagang di dekat taman, yang ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Jreng~ pelajaran pertama yang kami temukan: $1 senilai dengan 4000 riel! Selanjutnya, aku akan menuliskannya dengan "KHR" yah. Jadi untuk dua botol air minum, si ibu pedagang mengembalikan KHR 2000 untuk $1 yang kami berikan.

Di taman diluar istana terdapat beberapa papan bunga raksasa dalam rangka perayaan ulang tahun sang Raja

Entah jodoh atau gimana, eh kami bertemu lagi dengan driver gigih yang tadi! Ckckck. Karena baik dan cantik cukup terkesan melihat kegigihannya, aku pun memutuskan untuk menyewa driver itu untuk kelanjutan perjalanan. Ya sudahlah, kadangkala Tuhan memang bekerja dengan cara yang tidak terselami kan? Siapa tahu driver ini memang butuh uang kami hahaha. Kok jadi khotbah, Lin -_-

Setelah berpanas-panas di istana, saatnya memasuki tempat yang adem: Tuol Sleng Genocide Museum. Bukan hanya adem, kami bahkan dibuat merinding di tempat ber-HTM $3 ini. Dari yang awalnya penuh tawa dan selfie selama di Royal Palace, kali ini kami bahkan ga berani berbicara keras karena terlalu hanyut melihat-lihat koleksi museum. Maafkan aku yang tidak banyak mengambil gambar ya, readers. Museum ini dulunya merupakan sebuah Kamp Konsentrasi pada masa rezim Khmer Merah yang berkuasa di Kamboja pada tahun 1975-1979. Nama "Tuol Sleng" sendiri berarti "Bukit Pohon Beracun" dalam Bahasa Khmer. Begitu banyak saksi bisu sejarah berdarah Kamboja di tempat ini: tempat tidur yang dialiri arus listrik, tiang gantung untuk interogasi, bak air untuk membenamkan terdakwa yang jatuh pingsan, bahkan kumpulan tengkorak manusia yang tidak pernah dikuburkan secara manusiawi! Aduh... untunglah aku masih bisa menahan air mata :(




Sebelumnya kami sempat iseng menanyai si driver apa makanan khas di Phnom Penh. Dia malah mengajak kami ke suatu kios makan dekat museum yang menurutnya memiliki makanan khas terenak yang layak dicoba. Ternyata owner tempat itu adalah temannya! Hahaha, another perkongsian terjadi. Untung saja Aldo bisa mencegahku mengiyakan ajakan itu. Kami pun menolak dengan alasan belum lapar, ya, jangan sampai uang kami dikuras oleh mereka deh.

Kalau readers pernah googling tentang Phnom Penh pasti tahu bahwa selain Museum Genosida ini ada suatu tempat lain yang menjadi tourism spot, yaitu Killing Fields. Aku juga sangat tertarik mengunjunginya. Sayang sekali lokasi itu berada di luar pusat kota, tidak cukup waktu bagi kami yang harus naik bus ke Siem Reap jam 2 siang nanti. Semoga masih ada kesempatan selanjutnya deh.

Lebih dikenal dengan nama "Russian Market"

Sesuai kesepakatan dengan Aldo, yang tidak begitu suka mengunjungi museum (HAHA!), next destination kami adalah Russian Market alih-alih National Museum. Bukan berarti museum kedua ini tidak menarik lho ya, hanya saja kami lebih tertarik melihat oleh-oleh khas Kamboja di pasar ini.
So... aku menghabiskan total $57 (sekitar IDR 770ribu) untuk belanja! Waduh, padahal aku yang sok-sokan menomorduakan tempat ini lho hahaha. Nyatanya jiwa perempuan ini tidak bisa dibohongi. Aldo sendiri hanya menghabiskan setengah dari total belanjaku :p

Saat awal menyusun itinerary aku diberitahu bahwa pasar ini mirip-mirip Mangga Dua dan Tanah Abang. Waduh! Sudah terbayang di kepalaku betapa crowded dan standar. Hampir saja aku melewatkan lokasi ini. Ternyata pasar ini jauh lebih rapi dan bersih dari bayanganku, meski tetap saja panas dan gerah. Hahaha. What to buy here? Kamboja terkenal dengan kualitas tekstilnya, jadi pastikan kalian membeli kaos, celana, atau selendang khasnya. Dijamin kalap sih melihat betapa murah-murahnya harga barang di sini.




Bagi readers yang kurang suka belanja, aku sarankan untuk mempersingkat waktu kunjungan ke pasar ini (tapi tentu saja tetap harus dikunjungi!) dan lanjut ke next destination: Sisowath Quay. Lokasi satu ini adalah boulevard sepanjang kurang lebih 1 kilometer dengan view utama Mekong River yang berwarna cokelat susu. Strolling on a riverside under the shining sunshine... sounds romantic, eh? Enggak sama sekali, readers, hahaha... unless you bring an umbrella and two bottles of cold soda, maybe it would work. Selain jalan-jalan di tepi sungai, bisa juga berpose sejenak di depan Independence Monument. Atau sekalian mengunjungi National Museum yang kusebutkan di atas, letaknya tidak begitu jauh dari istana kok. Atau, seperti keinginan Aldo awalnya, mengunjungi pagoda untuk sekadar mencuri beberapa candid dari para biksu yang 'berkeliaran' di sana. Kalau sudah merasa capek, jangan khawatir karena di seberang Sisowath Quay ada jejeran kios, cafe, restoran tempat nongkrong para turis yang menawarkan berbagai pilihan menu.


Sisowath Quay di sisi kanan jalan. Jejeran pohon palemnya indah juga ya?

Independence Monument

Biksu di luar pagoda dekat Royal Palace

Akhirnya, tiba saatnya untuk berpisah dengan Phnom Penh. Fiuh!! It was really hard to survive in this capital city of Cambodia, bisa jadi karena kesan pertama yang kami dapat tentangnya terlanjur negatif: everyone's trying to get money from you, as much as possible. Sebagai mantan turis yang setidaknya sudah mengalami 'perjuangan' ini, let me suggest you few things of how to survive in Phnom Penh as a one-day tourist:
  1. Make sure that "$1 = KHR 4000" is planted on your mind, so you won't get confused when someone sells you something in Riel. When you pay dollars for something in Riel, count your change properly. You don't need to change your currency to Riel, it's okay to only have dollar, because it'll be accepted anywhere in Cambodia. They use the combination of dollar and Riel.
  2. Do bargain hard! My first time buying in Russian Market is also the last time I bargained easy. When they say $2, ask for $1. They say $10, ask for $5. Yeah, it's usually half the price. But don't be surprised to know that $45 can be $10 after ten minutes bargaining.
  3. Sunglasses is a must. No need to ask why.
  4. Sunblock is a must. Or not, depends on how bad you want to sustain your skin color. Or you can just wear longsleeves, it's all up to you.
  5. Don't answer any tuktuk driver who offers his ride. Just don't. Because if they know that you can speak English, or simply the fact that you understand what they said, they'll never step back until you said "Okay". Put on straight face. Go straight to the driver you already booked, or you wanted to book, and just moved to another tuktuk if you don't get the deal with the first one.
  6. If you don't mind to spend additional $1-2, please buy drink or snacks from local. Cambodia is a developing country, which I believe is poorer than Indonesia. Buying from local merchant and cadger means we're supporting their economy too.
Kami memang hanya menghabiskan setengah hari saja di Phnom Penh, karena tujuan utama ke Kamboja ini tidak lain dan tidak bukan tentunya Angkor Wat! Dari hasil penyusunan itinerary dan googling kesana-kemari, kuputuskan untuk naik bus Mekong Express yang berangkat pukul 14.45 dengan harga tiket $13 (puji Tuhan kami dapat diskon $1 saat beli online dua minggu lalu). Perjalanan akan memakan waktu 7 jam menuju Siem Reap

Leaving Phnom Penh. This is a view of Mekong River, taken from the bus

Well, thank you for the good and bad memories, Phnom Penh! Kami banyak belajar hari ini. Satu hal utama, belajar bersyukur memiliki ibukota seperti Jakarta yang masih lebih rapi dan membanggakan dari segi infrastruktur. Phnom Penh ini lebih mirip Surabaya atau Semarang sih di mataku. Semoga bisa segera menyelesaikan pembangunannya deh.

Now, let's move on to next blogpost about Siem Reap, readers! :)

July 31, 2015

The Marbabo Goes To: Shenzhen

Menutup rangkaian kisah "The Marbabo Goes To Hong Kong", kali ini aku menghadirkan review perjalanan sehari di Shenzhen. Pun dibilang "Shenzhen trip" rasanya kok kurang pas, karena kami hanya 3-4 jam saja di sini, bahkan tidak menginjak lokasi lain diluar Windows of the World dan, jelas, stasiun kereta.

The exit of WOTW train station
Source: Rancupid Blog


DAY 5. JULY 20. SHENZHEN, CHINA.
Seperti yang sudah pernah kusampaikan di post satu ini, Shenzhen adalah kota yang menjadi acuan dasar bagi bea cukai tentang pengelolaan pelabuhan dan dukungan industri. Shenzhen juga kota basis produksi komponen bahkan gadget yang diekspor ke seluruh dunia lho. iPad dan iPhone , salah satunya, diproduksi oleh perusahaan Foxconn yang berpabrik tidak jauh dari kota ini. Tapi sayangnya kehebatan itu tidak tercermin dari perangai warganya yang akhirnya juga berdampak pada kebersihan kota. Toilet terjorok yang pernah kutemui? Di Shenzhen letaknya. Aku sampai kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya, takut kalau ada reader yang sembari mengunyah malah jadi 'geli-geli sedap' kalau kulanjutkan.



Shenzhen terletak di kawasan daratan Republik Rakyat Tiongkok/China, beda dengan Hong Kong dan Macau, sehingga untuk masuk ke Shenzhen kita membutuhkan visa China yang bisa diperoleh on arrival. Nah jika ingin puas pesiar di Shenzhen, readers sebaiknya datang sepagi mungkin karena proses pembuatan visa memakan waktu 30-60 menit. Soal harga visa sendiri... aku masih menyesali keputusan untuk menghabiskan RMB 168 (sekitar 300ribu rupiah) hanya untuk VOA Shenzhen, apalagi setelah tahu 'wujud asli' kota ini. Ah. Harusnya uang itu bisa untuk belanja asik di Ladies Market~ VOA ini diurus di Lo Wu, stasiun di ujung perbatasan Hong Kong yang dapat dicapai dengan naik kereta (MTR) dari St. Hung Hom Hong Kong. Nah, kita sudah resmi menginjak mainland of China! ^^



July 30, 2015

The Marbabo Goes To: Macao

What is the Zonk of Day 4*? Banyak! Hahaha... tapi satu hal paling kocak: ada lah seseorang yang lepas sol sepatunya dan ga punya permen menthos (apalagi lem alteco) jadi nggak bisa sok cool dan malah berujung mencopot sendiri sol sepatu yang sebelah! HAHAHA. 

*Zonk of Day 1: The Not-So-Spectaculer Symphony of Lights
Zonk of Day 2: The $5 Future-Teller Machine
Zonk of Day 3: The Whole Day!


DAY 4. JULY 19. MACAO.
Kata orang, ke Hong Kong nggak afdhol kalau nggak ke Macau. So, we went there.

Macau (Macao) dan Hong Kong adalah dua daerah administratif khusus (special administrative region) yang masih termasuk wilayah kedaulatan Republik Rakyat China. Macau ini pernah lama dijajah oleh Bangsa Portugis, jadi sekilas terlihat lebih Italia daripada China-nya. Bangunan-bangunannya bergaya art deco seperti bangunan Portugal pada umumnya. Mereka menerima dollar Hong Kong (HKD) dan yuan China, tapi Macau juga punya mata uang sendiri yaitu Macaunese Pataca (MOP).

Highlight: reruntuhan gereja Santo Paul

Another highlight: lokasi syuting drama Korea populer "Boys Before Flowers"

Hal utama yang paling atraktif dari Macau adalah kasino dan hotelnya. Macau menjadi "mega-resort and casino center" dan tercatat menjadi new gambling resort capital of the world karena memiliki 5 dari 10 casino resorts terbesar di dunia. Backpacker macam kami ini manalah mungkin sanggup duduk berhadapan dengan para kaum berduit di kasino itu, jadi jangan lagi tanyakan apa kami menyempatkan diri berjudi di Macau.



Hanya Macau yang mampu mengalahkan Las Vegas dalam hal luas area kasino

Macau dapat ditempuh dengan ber-ferry dari HK-Macau Terminal atau China Ferry Terminal. Kami memilih opsi yang pertama, ditempuh dengan MTR menuju Shueng Wan St. lalu exit ke IFC Towers untuk membeli tiket ferry di lantai 3. Menurut banyak sumber, harga tiketnya bervariasi tergantung waktu (pagi-malam) dan hari (weekday/weekend) pembelian. Nyatanya memang tidak ada harga yang pasti untuk tiket ferry ini, puji Tuhan sih kami diberikan diskon dari harga yang tertera di tiket.

Mengantri menuju feri penyeberangan HK-MCO

Dari terminal feri Macau, kami langsung kebingungan. Kenapa? Pertama, karena kami tidak mengaktifkan free roaming lebih dulu sewaktu masih di Hong Kong sehingga tidak bisa internetan! Terminal feri kan jelas berbeda dengan bandara yang wi-fi-nya maknyus. Beneran lho readers, aku kali ini sangat menyarankan teman-teman untuk selalu menyusun itinerary sematang mungkin, jangan seperti kami yang seketika jadi 'bodoh' setibanya (dan selama) di Macau. Awalnya kami berencana menuju ke Fisherman's Market karena melihat lokasinya yang dekat dari terminal feri. Tapi karena tidak tahu harus menggunakan transportasi apa, atau harus berjalan kaki ke arah mana, kami pun batal kesana. Sayang sekali, padahal Bang Jona ingin sekali ke tempat wisata yang berbentuk mirip Colosseum ini. Setelah bertanya kesana-kemari, kami akhirnya tahu bagaimana cara menuju The Venetian.

July 29, 2015

The Marbabo Goes to: Hong Kong (Day 3)




We started Day 3 of this Hong Kong trip by waking up late! Yeay! Senangnya yah bisa bangun di atas jam 9 pagi, ini baru namanya liburaaaaan :3 (Setelah membeli sandal baru karena kaki yang sudah tidak kuat jalan-jalan dengan sepatu,) Aku dan Kak Yola bergegas kali ini mencoba sarapan di Yoshinoya yang tidak jauh dari hostel. Kenapa Yoshinoya? Karena kami rindu nasi, Jenderal! Susah juga menemukan menu nasi di Hong Kong ini. Readers, di Yoshinoya ini ada menu porky-nya lho, sekadar FYI aja buat teman-teman muslim dan berpantang babi kalau ingin ke Hong Kong :) Setelah puas memamah biak, kami bergabung dengan horbo lainnya: Bang Iman, Bang Jona, dan Bang Rapro, menuju Tsim Sha Tsui St. untuk memulai perjalanan hari ini. Jadi begini ceritanya...


DAY 3. JULY 18. HONG KONG

Hampir sebagian besar tourism attractions yang kami kunjungi di Hong Kong sudah diamankan sejak awal dengan membeli tiket masuk online (terima kasih, Bang Adi!) agar tidak perlu mengantri lagi di Hari H. Hal ini sangat sangat aku syukuri di hari ketiga ini, ketika melihat begitu panjang antrian menaiki Ngong Ping cable car! Ini juga masukan ya readers, belilah attraction ticket via internet dari jauh-jauh hari. Selain efisiensi waktu, praktis tinggal transfer/charged Kartu Kredit, seringkali juga ada promo lho hihihi, lumayan kan ;)



Ngong Ping 360 adalah situs pariwisata di Pulau Lantau di Hong Kong. Untuk menuju ke pulau ini, kita akan menaiki gondola lift yang sering disebut cable car, atau lebih kita kenal sebagai "kereta gantung", menghubungkan kawasan pusat Hong Kong dengan Tung Chung, bagian utara Lantau. Desa Ngong Ping sendiri terletak di atas bukit dan menjadi rumah bagi Po Lin Monastery dan Tian Tan Buddha


Gondola diisi 8 orang, alhasil aku sebangku dengan keluarga kecil asli Hong Kong yang,
sudah pernah ke Indonesia: Jogja dan Bali, namun baru kali ini mengunjungi Ngong Ping. Waduh! 

No caption needed!

Meninggalkan second station.
Dari perjalanan 20 menitan ini kita akan melewati, namun tidak berhenti, di station ini

Menurutku pribadi, center attention dari situs ini ya kereta gantungnya! Menikmati berkendara di udara dengan panorama laut, pegunungan, dan bangunan-bangunan pencakar langit, yang seindah ini memang tidak ada di Indonesia! Kami hanya menggunakan Standard Cabin, maklumlah namanya juga backpacker, tidak terbayangkan betapa lebih indah lagi jika menggunakan Crystal Cabin yang lantainya tembus pandang. Uuuuhh~ 

Gerbang yang menandai masuknya kita ke kawasan Po Lin Monastery dan Sang Buddha Raksasa nampak dari kejauhan

Selfie dengan Tian Tan Buddha dan puluhan umat dari berbagai penjuru dunia hahaha

Turun dari gondola, rombongan kami segera berjalan kaki menuju The Giant Buddha, sebuah patung perunggu raksasa berwujud Sakyamuni Buddha yang selesai dibangun pada tahun 1993. Patung ini adalah satu sekaligus yang terunik dari lima patung raksasa di seluruh China, karena patung ini menghadap ke Utara di saat yang lainnya menghadap Selatan. Selain patung setinggi 34 meter ini, di sekelilingnya terdapat enam patung lebih kecil yang disebut "The Offering of the Six Devas" alias enam persembahan kepada Buddha, terdiri dari bunga, dupa, lampu, ramuan, buah, dan musik.

The 3 of 6 offerings around the Buddha

Puncak yang teratas bisa dimasuki jika kawan-kawan bersedia mengeluarkan uang tambahan lagi untuk melihat isi museum (menceritakan sejarah Tian Tan Buddha) atau melihat benda-benda peninggalan Gautama Buddha. Untuk yang terakhir ini kita harus membawa offering ke dalam, yah intinya sih teman-teman beragama Buddha saja yang bisa masuk hehehe.

Puas berjemur di Tian Tan Buddha, kami lanjut berjalan-jalan di kawasan Po Lin Monastery untuk melihat atraksi utama: Wisdom Path! Anehnya sepanjang perjalanan pergi maupun pulang dari sana, kami kok nggak bertambah-tambah ya kebijaksanaannya (wisdom = kebijaksanaan)? :(

Flawless Pose di depan Wisdom Path. Kapan bertambah bijaknya ya :(

Wisdom Path menampilkan susunan 38 papan kayu raksasa berukuran tinggi 8-10 meter dan lebar 1 meter. Di setiap papan terdapat tulisan kaligrafi China oleh Professor Jao Tsung-I, seorang Master of Chinese studies, yang disadur dari tulisan klasik Buddhist bernama "The heart Sutra". Papan-papan ini disusun membentuk lambang infinity lho, readers, alias angka "8" terbalik. Keren ya.




Itu doang? Enggak dong~ Desa Ngong Ping ini super duper luas dan menyajikan berbagai macam atraksi menarik. Sayangnya kami masih memiliki schedule lain untuk dikejar jadi tidak bisa berlama-lama di sini. Readers yang tertarik dengan kebudayaan dan sejarah wajib banget lho menjadikan Ngong Ping 360 sebagai one day trip, karena dijamin baru akan puas kalau sudah mengunjungi setiap sudutnya. Psstt, di sini juga banyak yang trekking naik-turun gunung lho! Kita bisa melihat pemandangan orang-orang trekking di antara hutan dari cable car. Kalau ada kesempatan lagi, aku ingin sekali trekking seperti itu juga, apalagi di antara hutan-hutan itu banyak air terjun alami yang sangat cantik dan sepi. Such a nice place to meditate!

Pas lagi galau enak kali ya menyendiri kesini :')
*kemudian tersesat dan tak tahu arah jalan pulang layaknya butiran debu hiks*

Kembali menggunakan metro yang selalu tepat waktu, kami menuju tempat wisata selanjutnya: Sky100. Jika ingin kesini, dari stasiun carilah petunjuk arah menuju "ICC". Bukan, bukannya "IL Cantante Choir"... tapi International Commerce Centre. Gedung setinggi 484 meter ini adalah gabungan mall dan business-purposed tower. Sky100 terletak di lantai ke-100 dan harus ditempuh dengan naik lift, ya iyalah masa naik tangga, gempor nanti hehehe. Liftnya akan mengantar kita ke lantai 100 hanya dalam 60 detik, readers, luar biasa kan?


Hong Kong view before the sunset

Hong Kong view when sun was setting down 

The amazing view of Victoria Harbour, kayaknya Symphony of Lights belum dimulai saat itu hahaha

Apa perbedaan Sky100 dengan SkyTerrace kemarin? 1) SkyTerrace lebih tinggi yakni 428 mdpl, mengalahkan Sky100 yang hanya 393 mdpl; 2) Sky100 dihalangi oleh kaca, karena lokasinya yang memang berada di dalam gedung, membuat pengambilan gambar jadi susah karena ada bayangan dalam ruang yang terpantul. Harus pintar-pintar mencari posisi dengan lighting terbaik. Karena hal ini juga, kami jadi tidak bisa selfie, hiks. Tapi ada juga kok positifnya, kita jadi terhindar dari masuk angin dan tersengat matahari langsung! Hahahaa; 3) Di SkyTerrace hanya ada The Peak I Love You sebagai fitur tambahan, sedangkan di Sky100 ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam ruangannya, contoh: MAKAN! Iya, ada cafe di dalamnya, tapi ya siap-siap aja merogoh kocek yang lumayan dalam. Banyak spot foto menarik juga disini, keren deh pokoknya. Dua-duanya punya keunggulan masing-masing, jadi jangan lewatkan keduanya ya.

Kalau nggak sabaran ya pasti menghasilkan foto seperti ini, readers, berbayang!

Untuk mengobati rasa kecewa karena tidak bisa selfie *duileh Lin penting banget yak* kami memutuskan untuk pergi ke Ladies Market! Kami naik metro menuju Mong Kok St. lalu keluar di Exit E2 dan jalan kaki sepanjang Nelson Street yang sangat ramai karena kehadiran artis-artis jalanan. Menyambangi tempat ini, jangan mencari tulisan "Ladies Market" di setiap penunjuk arah, readers, tapi carilah "Tung Choi Street"! Pasar ini biasanya beroperasi dari pukul 4 sore hingga tengah malam. Saat kami pulang sekitar jam 11, beberapa kios sudah mulai tutup. 


Aku yang penggila gantungan kunci ini tentu tidak membuang waktu. Berkat Kak Yola, aku sukses mendapat 6 keychains dengan harga HK$ 50 alias sekitar seratus ribu rupiah. Waduh, mahal juga ya. Itu pun nawarnya mati-matian lho. Barangkali ada teman-yang-tidak-kebagian-oleh-oleh yang tengah membaca posting ini, mohon maafkan aku yang frugal ini hehehe. Aku juga membeli kaos seharga HK$20 dan USB lucu seharga HK$50. Pasar ini sejenis dengan Mangga Dua, readers, jadi jangan terlalu berharap menemukan kaos "I Love HK" original di sana *ehem* Oh ya, aku ini bukan orang yang jago dalam bargain, jadi tidak bisa memberi saran berapa banyak harus menawar jika kalian ingin kesana. Tapi sepertinya harga aslinya memang hanya setengah harga yang disebut si pedagang kok. Semangat nawar-nya, ya! :)

Cici yang satu ini jago berbahasa Melayu, kami pun sukses dirayunya untuk beli kaos disini :(

Di Ladies Market ini sekali lagi kami terpisah dengan Bang Iman! Waduh, memang sepertinya abang yang satu itu punya keahlian khusus dalam hal "memisahkan diri dari rombongan". Karena sudah terbiasa, kami tidak begitu ambil pusing dan tetap berbelanja hahaha. Kali ini Bang Iman menyeret Bang Jona untuk turut serta "memisahkan diri". Aku, Kak Yola, dan Bang Rapro segera kembali ke hostel setelah puas menghamburkan uang di Ladies Market.




Aaahh, another great day has passed! Besok kami akan melebarkan sayap *cie* lagi karena akan melintasi laut menuju Macau! Asik asik, Kak Yola pasti sudah nggak sabar mau 'napak tilas' syuting serial Boys Before Flowers hihihi. See you soon, Macao!



click the link below to read the trip review of:

July 28, 2015

The Marbabo Goes To: Hong Kong (Day 2)

"Kami udah di bawah. Mana kalian?!" adalah kalimat yang mengawali perjalanan kami hari kedua di Hong Kong ini. Karena kamar kami yang tidak memiliki jendela maupun ventilasi, aku dan Kak Yola sukses tertidur nyenyak berkat dinginnya AC dan gelapnya kamar. Meski alarm sudah berdering sejak jam 6 pagi, apa daya kami baru membuka mata setengah jam kemudian.

Full team on Day 2! 

DAY 2. JULY 17. HONG KONG


Betapa senang hatiku bisa bertatap muka lagi dengan orang-orang ini: 1) Bang Iman, yang sukses membuat kami terpukau karena the best outfit, 2) Bang Jona, yang meski pada awalnya sok-sok nolak, akhirnya mau menjadi bendahara trip, dan 3) Bang Rapro yang baru kali ini aku temui, dengan suara tawanya yang membahana membuat kami langsung pura-pura tidak kenal saking malunya. HAHAHA. The Horbo pun lengkap sudah, namun sayang sekali aku tidak bisa mendeskripsikan secara detail setiap kelucuan yang keluar dari mulut maupun tingkah laku mereka. Semoga orang-orang Hong Kong tidak ada yang stress mendadak melihat kelakuan kami walau hanya beberapa menit bersama di dalam metro :p

Sesuai itinerary kami hari ini akan berangkat menuju The Peak Tower dan Disneyland Hong Kong. Readers, karena aku cantik dan baik hati (?) dan tidak ingin kalian mengulangi kebodohan yang sama seperti The Horbos a.k.a Para Kerbau ini, susunlah itinerary sebaik dan setepat mungkin, terutama dalam aspek transportasinya. Setelah membeli sarapan roti seadanya demi penghematan anggaran di 7-11 terdekat, barulah kami tersadar tidak tahu bagaimana caranya menuju The Peak. Kak Yola pun dalam sekejap langsung menjadi "Kepala Bidang Pencarian Arah dan Transportasi" secara aklamasi, hahaha! Berbekal iPhone dan PowerBank, dia menuntun kami untuk melangkahkan kaki menuju stasiun metro. 

Walking to The Peak Tram Lower Terminus. Udara Hong Kong di pagi hari masih terasa segar

July 27, 2015

The Marbabo Goes To: Hong Kong

Mari kita mulai trip review untuk perjalanan pertamaku ke luar negeri tanggal 15-21 Juli 2015 yang lalu. Trip yang satu ini aku namakan "Trip Marbabo" karena satu kata itu yang paling sering disebut selama perjalanan, hahaha... Artinya "marbabo"??? Hmm, sesungguhnya aku juga tidak tahu hahaha. Nanti akan segera ku-update ya setelah bertanya pada sang pencipta istilah: Bang Iman.

Day 0-1 aku lewati bersama Kak Yola (dan Bang Adi sebagai cameo) dan baru akan bertemu tiga horbo ("kerbau" in Bataknese.red) lainnya di Day 2 alias Jumat, 17 Juli 2015. So... let the story begins!

Highlight of Day 1: Symphony of Light!

DAY 0. JULY 15. JAKARTA
Mengantisipasi kemacetan Jakarta, aku dan Kak Yolanda berangkat ke bandara pukul 15.30 WIB. Kami sama-sama mengabaikan nasihat teman-teman yang mengatakan bahwa jalanan Jakarta sudah lengang, artinya: tidak akan ada kemacetan. Benar saja. Kami sudah stand by di bandara pukul 16.55 sedangkan pesawat kami baru akan take off sekitar jam delapan malam, wow.

Muka-muka bahagia dan tak sabar menemui Hong Kong :)))

Penerbangan yang kami gunakan adalah Lufthansa LH 0783 menuju Kuala Lumpur, iya, kami memang transit dulu di negara Siti Nurhaliza itu. Ini adalah kali pertama bagiku duduk di aircraft dengan 3 banjar, hihihi, suka sekali melihat ruangan pesawat yang luas :') Baru kali ini juga aku tidak merasa terintimidasi oleh badan-badan pramugari yang rampingnya menyaingi lembaran kertas karena Lufthansa diawaki sejumlah pramugara/i senior (usia 30-40 tahun) dengan tubuh tinggi dan kokoh (tidak gemuk, hanya nampak kekar). They're very strict and didn't hesitate to scold passengers when they were out of control. I mean, it is very clear that we cannot use the toilet when we're going to take off, right? Semoga ini bukan penyakit bawaan orang Indonesia, huft.

Hal yang paling menegangkan adalah ketika harus berhadapan dengan petugas imigrasi. Padahal petugas imigrasi Malaysia ternyata jauh lebih ramah (meski tetap tanpa senyum) dibandingkan petugas di tiga kota lain yang akan kukunjungi selanjutnya. Aku khawatir akan ada masalah dengan pasporku yang masih kosong melompong padahal akan expire di bulan Maret 2016. Puji Tuhan, semua aman lancar tanpa masalah. 

Menunggu kereta transit menuju KLIA2
Dari KUL, kami langsung menuju KLIA2 menggunakan kereta transit berbiaya RM 2. Di KLIA2-lah kami akan menghabiskan waktu semalam sebelum nanti menaiki AirAsia jam 7 yang akan menuju Hong Kong. Setelah cuci muka dan sikat gigi, kami mencari tempat ternyaman di lantai 2 sekitar Burger King, Texas Chicken, dan Nanny's Pavillon untuk membaringkan diri sejenak. Tiba-tiba entah dari mana asalnya, sosok seorang pria muncul dengan penuh tawa keceriaan: Bang Adi! YA AMPUN! Padahal beliau baru saja sok-sokan menanyakan "Erlin, kalian istirahat dimana?" di WhatsApp, rupanya karena Bang Adi juga sedang transit untuk penerbangannya ke Sydney besok malam. Luar biasa ya, readers. Alhasil, kami bertiga pun berbaring di tepian toko yang masih tutup bersama dengan puluhan orang lainnya. Sayang juga sih, bandara jadi terlihat seperti terminal yang berantakan, tapi ya ini satu-satunya pilihan karena tidak ingin keluar uang lagi untuk membayar kamar hotel di bandara.



DAY 1. JULY 16. KUALA LUMPUR (KLIA2)

Setelah salah pilih menu untuk sarapan nikmat di Old Town KLIA2, Bang Adi mengantar kami menuju gate keberangkatan AirAsia. Terima kasih banyak, Abang! Selamat mencari hostel dan bersiap terbang ke Australia ya! *umak* [Later on, Abang ini sempet-sempetnya nonton "Ant-Man" dulu sebelum lanjut terbang. Ngeri ya, nonton bioskop aja sampai harus ke negara tetangga...]

Penerbangan dengan AirAsia kali ini aku dan Kak Yola duduk terpisah. Aku yang telat check in ini luckily dapet seat dekat jendela darurat yang punya ruang kaki lebih lega hihihi. SAYANGNYA... aku duduk di sebelah sepasang French lovers, sepertinya sih sudah menikah, yang sering mengumbar kemesraan. Tuhan, tolong hamba :( Aku duduk di sisi lorong jadi tidak bisa mengalihkan perhatian dengan foto-foto pemandangan awan di luar pesawat. Alhasil aku tidur sepanjang penerbangan (sambil sesekali menyusun kode rahasia yang nantinya akan dikirim via WhatsApp ke Lantai 4 sebuah gedung di Indonesia. Oke, abaikan, hahaha) 

Bandara Hong Kong

Sesuai amanat agung *tsah* Bang Adi, kami bergegas mencari tempat pembelian Octopus Card dan SIM Card di bandara Hong Kong yang luasnya naujubila min jalik ini. Pada saat itu, aku kembali belajar bersyukur telah dilahirkan sebagai orang Indonesia, sebagai anak dari orangtua yang sangat memfasilitasi anaknya belajar Bahasa Inggris *apa deh Lin* Jadi... Bahasa Inggrisnya orang Hong Kong itu sangat susah dipahami! Untung saja aku nggak puasa, kalau tidak pasti sudah batal karena emosi mencoba mengerti perkataan mereka. Setelah bertanya kepada 5-6 orang petugas yang berbeda, dan 3 kali mondar-mandir di Terminal B yang luas itu, akhirnya kami tahu bahwa loket penjualan Octopus Card adalah loket yang sama dengan yang menjual kartu kereta. Loketnya berbentuk bundar dengan 2-3 orang petugas disana, berada persis di depan waiting room kereta bandara. ADUH.

Penuh perjuangan mencari Octopus Card ini! :')

Setelah membeli Octopus Card seharga $150 (saldo $50, dan $100 akan dikembalikan saat refund kartu), kami menuju kios "1010" di samping 7-11 untuk membeli SIM Card. Antriannya lumayan panjang juga didominasi turis asal Korea Selatan. SIM Card ini berlaku selama 7 hari dengan kuota 5 GB dan bisa roaming jika ingin ke Macau. Harganya $118 dan langsung di-setting oleh pegawai tokonya ke HP kita. Oh ya, Octopus Card ini akan digunakan untuk seluruh transportasi di Hong Kong (selain taksi, sih, lagian backpacker mana juga yang jalan pake taksi di Hong Kong hihi...) jadi jangan pernah diletakkan sembarangan, dan rajin-rajinlah di-top up di 7-11 manapun. Toh juga nanti bisa refund kan.

Amanat selanjutnya: gunakan bis dari bandara untuk menuju ke hostel. Sekali lagi kami bertanya kesana-sini dan puji Tuhan bisa menemukan jalan yang benar untuk ke bus stop di luar Terminal B. Kami menggunakan bis A21 yang berhenti di depan Mirador Mansion, kawasan Tsim Sha Tsui. Untuk transportasi "dari" dan "ke" bandara Hong Kong, kalian bisa lihat disini ya. Syukurlah aku sudah pernah (sekali) menaiki bus city tour Jakarta, kalau tidak akan udik sekali kelihatannya menaiki bus dua tingkat seperti ini hahaha. Pastikan kalian duduk di sisi sebelah kiri ya, pasti akan terkagum-kagum melihat pembangunan atas (permukaan) laut Hong Kong, dan bisa melihat sibuknya pelabuhan mereka. Dari bandara menuju Mirador Mansion membutuhkan sekitar 30 menit.

Bus stop di luar Terminal B, bus A21 yang akan mengantar ke Mirador Mansion

Hostel kami adalah USA Hostel yang kantornya terletak di lantai 13 Mirador Mansion. Meskipun Bang Adi telah memesan kamar yang standar (aku tidak tahu persis kamar apa yang dipesankan), tapi pihak hostel berbaik hati memindahkan kami ke kamar yang lebih baru dan nyaman tanpa kena charge. Wah! That's why I gave them 5 stars on TripAdvisor. Kamar kami memang kecil dan sempit, tapi AC, TV, dan water heater berfungsi sangat baik, dan kamar mandinya juga nyaman. Di luar kamar juga disediakan dispenser dengan hot water, keren banget lah untuk hostel seharga Rp200 ribu/malam ini. Kekurangannya tentu ada juga: 1) sedang ada proyek di luar Mirador, jadi mulai jam 8 pagi kami sudah diusik oleh bunyi alat-alat pengecor, pengebor, dlsb; 2) hanya memiliki 4 lift yang hanya bisa diisi 8 orang, itu pun tidak berhenti di tiap lantai. Jadi jika lift ke Lantai 4 penuh, aku naik lift ke Lantai 5 dulu lalu turun satu lantai dengan tangga. Pada pagi hari dapat dipastikan semua lift yang turun itu penuh, jadi aku turun 4 lantai dengan tangga. Lebih efisien; 3) lewat dari jam 12 ada pemeriksaan di pintu masuk oleh satpam sehingga kita akan diminta mengisi formulir untuk keamanan. Iya sih, di gedung ini banyak sekali black people yang berkeliaran dan nongkrong di 7-11 terdekat. Bukannya rasis, toh aku juga termasuk golongan "black", tapi tingkah mereka memang kadang bikin cemas. 

Heading to Tsim Sha Tsui Promenade

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami menuju Avenue of The Stars yang bisa dicapai dengan berjalan kaki saja dari hostel. Jam 4 sore, kawasan Tsim Sha Tsui Promenade sudah dipenuhi kalangan turis yang ingin jalan-jalan sore juga. Kami sepertinya sama-sama tidak tahu bahwa jam 4 masih tergolong "siang" di Hong Kong. Matahari baru terbenam sekitar jam 7 malam disini. Kami mengantri cukup lama demi Kak Yola bisa berpose dengan patung Bruce Lee. Aku? Aku sudah cukup puas memotret handprints artis-artis ternama yang terbentang sepanjang boulevard ini, ada Jackie Chan dan Andy Lau lho! Panas dan gerahnya cuaca Hong Kong membuat kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Starbucks sambil menunggu mulainya Symphony of Light pukul 7 nanti. Psstt, tentunya aku tidak membeli apa-apa di Starbucks, hahaha, frugal macam aku ini kuat kok menahan haus dan lapar demi penghematan anggaran :')

Mengantri untuk berpose bersama 'Bruce Lee'

Jackie Chan's handprints

Starbucks on the boulevard

Symphony of Lights juga termasuk satu di antara sekian banyak amanat Bang Adi. Wajib tonton! Aku dan Kak Yola segera mengambil tempat terbaik di tepi boulevard dengan Victoria Harbour views. Pertunjukkan dimulai ketika lampu-lampu sekitar kami meredup dan muncul suara seorang wanita dengan aksen Chinese yang kental lewat speaker. Blablabla~ lalu akhirnya musik instrumental dimainkan! 40 bangunan di sekitar Victoria Harbour pun mulai memainkan lampu-lampu dengan indahnya. Iya, indah kok! No wonder pertunjukkan yang berlangsung selama sekitar 10 menit ini mendapat gelar "World's Largest Permanent Light and Sound Show". Tapi... ya ternyata tidak sespektakuler gambar-gambar di Google. Hahaha. Entahlah apa yang salah, tapi reality is always worse than expectation kan.


Puas menghabiskan memori HP untuk foto-foto di Avenue of the Stars, kami kini kelaparan. Hahaha! Saatnya mencari makanan! Hong Kong adalah surga makanan untuk orang doyan makan yang tidak punya pantangan, terutama daging babi *maaf*. Aku memang tidak begitu suka wisata kuliner, tapi mumpung lagi di Hong Kong... tentu harus memuaskan hasrat untuk pork party! Tempat makan malam yang kami kunjungi adalah Rice Noodle House, berdasarkan saran seorang kawan Kak Yola. Makanannya pasti enak andai saja tidak banyak sayur ditaruh dalam semangkuk mie ini hahaha... Boro-boro mau request "no vegetable", pesan minuman aja harus pakai 'bahasa Tarzan' dulu karena keterbatasan bahasa. Restoran di Hong Kong memang rata-rata kecil karena berada di ruko dengan luas seadanya. Pemandangan dua orang duduk berhadapan diam-diaman adalah hal biasa, karena dua-duanya orang asing yang datang sendiri-sendiri tapi terpaksa duduk di meja yang sama. Orang Indonesia harus membiasakan diri tidak duduk ngobrol berlama-lama, nanti keburu dinyinyirin dan ditatap terus dengan galak oleh si pemilik toko!

Aku lupa apa nama menunya, yang pasti ada "Cheese Sausage"-nya

Demikianlah hari pertama kami di Hong Kong berlalu dengan penuh cerita suka dan duka. Begitu tiba di hostel, kami langsung mengecek uang kas masing-masing, hahaha! Kemampuan akuntansi ala anak STAN memang sangat berharga di saat backpacking seperti ini ya :')

Besok kami akan berjumpa dengan tiga horbo lain yang sekarang masih dalam perjalanan dari bandara Hong Kong menuju hostel. Can't wait!

Pemandangan indah di Tsim Sha Tsui Promenade

click the link below to read the trip review of: 
DAY 2. JULY 17. THE PEAK and DISNEYLAND
DAY 3. JULY 18. NGONG PING, SKY100, and LADIES MARKET.
DAY 4. JULY 19. MACAO

July 25, 2015

Sekilas Tentang Hong Kong Trip

Trip yang memakan dana sekitar delapan koma lima juta rupiah ini telah direncanakan selama setahun, no wonder menjadi trip paling berkesan, yah, karena ini juga kali pertamaku menginjak negara asing sih, hehehe... Karena hutang trip review-ku masih banyak, ditambah Hong Kong Trip yang sudah mengantri, izinkan aku memberi sekilas cerita saja tentang HK Trip ini sekadar memuaskan rasa keingintahuan beberapa teman. Trip review selengkapnya tentu saja akan menyusul bulan depan, setelah segala urusan per-IJEPA-dan-IKCEPA-an di kantor selesai ya. Huft.


Meet my travelmates! Bang Rapro, Bang Iman, Kak Yola, and Bang Jona

Sekitar Juli 2014 yang lalu Bang Adi (sesepuh di dunia per-traveling-an, silakan di-search karena nama beliau bertaburan di blog ini) menawari aku tiket promo Jakarta-Kuala Lumpur keberangkatan Juli 2015. Setelah berpikir panjang aku pun mengiyakan, ditambah lagi ada Kak Yolanda Togatorop a.k.a Kak Yola yang akan menjadi travelmate nanti, dia adalah seniorku di STAN dan IL Cantante Choir.

Awalnya, kami berdua belum sempat memutuskan kemana kaki ini akan melangkah: Penang? Langkawi? Thailand? Hingga akhirnya - aku lupa kapan tepatnya - kami bergabung dengan tiga orang lainnya: Bang Rapro Mulya, Bang Sudirman Napitupulu, dan Bang Jonathan Frans Simamora yang kesemuanya adalah sesama almamater STAN, untuk melanjutkan perjalanan ke... Hong Kong! Lagi-lagi dengan bantuan Bang Adi, kami berhasil mendapat tiket promo dari Kuala Lumpur ke Hong Kong. Puji Tuhan, segalanya berjalan lancar! :) Aku dan Kak Yola berangkat dari Jakarta, sedangkan tiga orang lainnya dari berbagai penjuru Indonesia: Subang-Jabar, Pekanbaru, dan Medan. YEAY!

So... where did we go to in Hong Kong?
Avenue of The Stars (make sure to watch the Symphony of Light), SkyTerrace, Disneyland Hong Kong, NgongPing (the cable car was the best part!), Sky100, dan Ladies Market adalah daftar kunjungan kami di Hong Kong di Day 1-3. Berlanjut mengunjungi The Venetian, City of Dreams, dan The Ruins of St. Paul di Macau yang menjadi impian Kak Yola sejak dia terpikat Gu Jun Pyo di Boys Before Flowers *duh* Dan hari terakhir, Day 5, kami menuju Shenzhen dengan membayar VISA on Arrival seharga 168 yuan (atau "renmimbi") demi Windows of the World yang mengecewakan. Hari terakhir kami di Hong Kong dan Shenzhen dihiasi hujan cukup deras yang sukses membuat mood foto-fotoku menghilang. Tidak hanya itu, penerbangan HK-KUL menggunakan AirAsia juga ikut ter-delay 1,5 jam dan mengalami turbulensi parah (the worst ever in my life) selama usaha take off-nya. Puji Tuhan semuanya sudah selesai :')

Posing in front of the mighty Bruce Lee on Avenue of the Stars

Breathtaking moment inside the cable car, going to NgongPing

Aku tidak menyesal sudah melanggar janji pada diriku sendiri untuk tidak menginjakkan kaki ke luar negeri sebelum selesai keliling Indonesia. Karena selama di Hong Kong, aku belajar bersyukur lebih sering lagi setelah membandingkan berbagai aspek kedua negara ini.
  • Meski tidak sepanas Indonesia, Hong Kong memiliki udara yang panas dan lembab, membuat badan menjadi lengket, gerah, tak nyaman. Tetap saja aku (semakin) menghitam di sana meski sudah bersenjatakan sunblock
  • Entah aku saja yang tidak pernah tahu (terlalu fokus dengan Indonesia) atau emang udik dari sononya, ternyata ada perbedaan 'jam operasional' matahari di Hong Kong. Kalau biasanya pada jam 12 siang matahari berada persis di atas kepala, tidak demikian dengan Hong Kong. Padahal Indonesia-HK hanya berbeda 1 jam alias GMT+8.00 seperti Wilayah Indonesia Tengah (WITA). Matahari pun terbenam bukan sekitar jam 5-6 sore, tapi jam setengah 7 malam! Perbedaan ini membuat siang jadi semakin panjang, dan matahari terasa semakin terik.
Kacamata hitam adalah must have item selama di sana! (Location: NgongPing)
  • Hong Kong dan Macau adalah dua kota yang rapi dan terorganisir, tapi tidak dengan Shenzhen! Seseorang memberitahuku bahwa Shenzhen adalah kota rujukan bea cukai tentang pengelolaan pelabuhan dan dukungan industri. Oke, semua itu memang terlihat benar adanya. Kalau selama di KL, HK, dan MCO aku sudah dibuat tak nyaman dengan kejutekan petugas imigrasinya, petugas di Shenzhen bahkan lebih lebih lagi! Tidak ada yang berani macam-macam selama antri. We need those kind of officers in Indonesia's train and bus stations, all around Jakarta. Sayangnya... toilet Shenzhen super duper jorok! Ugh, rasanya 11-12 dengan toilet umum di terminal yang bau pesingnya bisa tercium dari radius beberapa kilometer. Penduduknya pun memiliki manner yang jauh berbeda: suka berteriak, bicara dengan volume maksimal, tidak ragu-ragu menatap orang lain, dan tidak pernah tersenyum. Geez! Something must've happened to them! I was wondering is there any dementor roaming around the city? Para orang tua seperti tidak bisa ngobrol santai dengan anaknya; adegan seorang anak diomeli hingga dicubiti jadi tontonan kami selama masa kunjungan setengah hari itu. Aku jadi merasa tidak ada sukacita di Shenzhen, sedih ya :(

The only happiness in Shenzhen: visiting Windows of the World

  • Meski iri melihat jalan bawah laut milik Hong Kong dan kerapian tata letak kota Kuala Lumpur (tidak ada kemacetan di sana), aku sangat, sangat bersyukur punya pantai dan laut seindah milik Indonesia. Ketika menyeberang ke Macau, air lautnya berwarna biru-coklat keruh. Aku sama sekali tidak berhasrat untuk photo hunting dari dek kapal, seperti ketika menyeberang ke Lombok atau Lampung. Bahkan dari ketinggian menuju NgongPing, yang menakjubkan hanyalah tingginya gedung dan proyek pembangunan jembatan HK-Macau saja. Lautnya? Biasa aja tuh. I just can't stop thanking God for Bali, Gili Trawangan, Derawan, Belitung, and of course... Manado!
The forest of concrete: Hong Kong
(Location: SkyTerrace)

The amazing view of Hong Kong at the night from Sky100

  • Mereka tidak mengenal "saos" dan "wastafel di tempat makan". Bahkan untuk restoran sekelas KFC dan McDonald's, tidak ada wastafel di sana. Alih-alih wastafel, kita diberikan sarung tangan plastik agar tetap higienis mengonsumsi ayamnya. Widih. Dan saus, jelas bukan kebutuhan mereka. Keempat seniorku itu mengeluh terus karena rasa hambar makanan tanpa saus. Pantas saja banyak orang Indonesia tertahan di pemeriksaan bandara karena membawa terlalu banyak saus sachet, hahaha. Satu lagi, sudah bukan rahasia kan bahwa makanan di Hong Kong ini 95% haram? Harus cermat memilih tempat makan, karena bahkan di Yoshinoya pun ternyata menjual daging babi dalam menunya.
  • They live like a robot. Bukan tradisi mereka untuk makan sambil mengobrol, duduk nongkrong lama di 7-11, bercakap-cakap dengan orang yang kebetulan duduk sebelahan di dalam MTR, well I've told you they know nothing about "smile" right? Ada sih segelintir orang yang bisa diajak saling lempar senyum. Literally, "segelintir". Di satu sisi, segala hal jadi lebih efisien. Di sisi lain, aku merasa terlempar ke dunia robot. Aku rindu Jogja. Aku rindu Indonesia.
The most 'pre-wed-photo-able' location is this The Venetian Macau!

Well, sepertinya hal-hal tersebut sudah cukup memberi sekilas gambaran tentang Hong Kong Trip-ku kemarin. Di bawah ini ada sekilas itinerary yang bisa membuat readers semua mengira-ngira, ke mana lenyapnya Rp8,5 juta yang kusebut di awal tadi. Ah ya, maaf terlewatkan... Mohon maaf lahir dan batin ya, Happy Eid Al-Fitr for those who celebrate! :)

Mohon bersabar menanti trip review selengkapnya. Thanks for reading! 



ITINERARY + EXPENSE LIST

Day 0:
Rp 2 juta = tiket PP CGK-KUL-HK
Rp 1 juta = hostel 5 hari (share cost 2 ppl)
Day 1: 
Rp 65 ribu = ongkos taksi & toll (sharing 2 ppl)
Rp150 ribu = airport tax Soetta
RM 20 = sarapan di KLIA2
RM 2 = tiket kereta transit KUL-KLIA2
HK$ 118 = SIM Card csl.
HK$ 150 = Octopus Card for transport all around HK (+ top up $250)
Day 2:
HK$ 48 = tiket SkyTerrace
HK$ 474 = tiket Disneyland Hong Kong
HK$ 115 = makan + jajan Day 2
Day 3:
HK$ 150.5 = beli sendal!!! (yeah, they charged 50 cent for every plastic bag)
HK$ 159 = tiket cable car + entrance NgongPing
HK$ 138 = tiket Sky100
HK$ 120 = belanja di Ladies Market
HK$ 88 = makan + jajan Day 3
Day 4:
HK$ 310 = tiket ferry PP HK-MCO (got discount for round way)
HK$ 18 = beli eggtart Koi Kei (must buy!) $9/pc
HK$ 96 = makan + jajan Day 4
Day 5:
RMB 168 = VoA Shenzhen
RMB 8 = tiket metro PP St. Luo Ho - Windows of the World
RMB 9 = beli payung (hikssss T.T)
RMB 180 = tiket Windows of the World
RMB 32.8 = makan siang
HK$ 25 = bayar charge hostel utk check out jam 6 sore (sharing $50/2 ppl)
Day 6:
RM 25 = sarapan
RM 22 = tiket bus airport ke Sentral
RM 5.2 = tiket kereta Sentral ke KLCC + tiket PP KLCC ke Pasar Seni
RM 45 = tiket bus Hop On Hop Off, tur keliling KL
RM 67 = belanja di Pasar Seni
RM 31.5 = makan siang
RM 2 = tiket kereta transit KLIA2-KUL
Rp40 ribu = tiket Damri Soetta-Gambir
Rp25 ribu = taksi Gambir ke kosan
--- selamat menghitung! kurs HK$ = Rp1770, kurs RM = Rp3520, kurs RMB = 2144 ---





PS.
Make sure kamu tidak sedang dalam kondisi galau asmara saat mengunjungi kota-kota ini karena dijamin akan tambah galau selama di sana. There were couples everywhere! Holding hands, hugging, laughing together, selfie, playing around, kissing (!), sama sekali tanpa ragu mengumbar kemesraan dan kebahagiaannya. Aih. Kata siapa Paris kota paling romantis sedunia? :') 


They said: "go as far as you can so you will be able to recognize whom the person you're missing the most".
So, seeing that this code has already written even before I arrived at Hong Kong, then I guess that person is him.

June 29, 2015

Camping Manja Papandayan

Sebagai seorang tukang jalan-jalan, aku dengan malu harus mengakui bahwa diriku nggak pernah naik gunung! Bukan karena nggak kuat nanjak ya, readers (jangan meragukan otot betis-pohon-palem-ku ini) hanya saja aku masih belum bisa berteman dengan suhu dingin, selain kamar ber-AC yang biasanya kusetel 25 derajat Celsius. Kelemahan yang mungkin dimiliki oleh sebagian besar orang Indonesia berdomisili di ibukota provinsi yang panas dan sarat polusi. Mohon maaf, Manado selalu bersuhu 30-an derajat. Hingga pada suatu hari yang cerah, di tengah rehat dari kerjaan kantor, aku melihat ajakan open trip "Camping Manja Papandayan" di forum grup Indotravellers. Sayangnya, tidak ada kawan dan rekan yang mau ikut aku nge-trip. Yaaahhh, memang sih pencinta pantai jauh lebih banyak daripada pencinta gunung :| 
Ya sudahlah, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datangnya hanya setiap tahun kabisat (?) ini. Segera kuhubungi CP-nya, transfer 350K IDR, packing, dan cuuusss berangkat. let me tell you the story... 


*Thank you Hannie, Bang Mame, Pak Yoyok, dan lainnya untuk foto-foto kecenya!*

June 04, 2015

Goyang Lidah di Jakarta dan Sekitarnya (2)

6. Cafe Pancake
Berlokasi di Lotte Mall Bintaro, Cafe Pancake ini menjadi pilihan aku, Bang Adi, dan Bang Tommy yang lagi craving for Nanny's Pavillon tapi cabang terdekatnya terlalu jauh (saat itu kami belum tahu branch BEC-nya) dan mencari di sekitaran Sektor 7 saja.
Tempatnya cozy dan menarik, tidak kalah menarik dengan NP's. Untuk rasa pancake-nya, memang tidak sekaya rasa pancake NP, tapi tetap saja enak di lidah ahahah. Kami langsung ceria melihat wujudnya ketika pertama kali disajikan: cantik!
Harganya juga tidak semahal di NP. Dengan kisaran 35K, kita sudah bisa menikmati empuknya pancake disini, dan 25K untuk segelas smoothies atau specialties drink andalannya.

Coffee Cream Cookies dan Banana Boat Pancakes, yum!
Blueberry Heaven, tasted like heaven!