February 07, 2020

The Girls Trip Begins! - Sydney Trip Pt. 1

Sesuai judulnya, trip ini merupakan Girls Trip karena beranggotakan tiga wanita cantik anggota keluarga Manuel-(Sondakh-)Robot πŸ‘Š Aku memiliki yearly goal mengajak Mama traveling ke negara baru yang belum pernah dia kunjungi, tapi di 2019 ini agenda tahunan kami jadi sangat spesial karena akhirnya kakak perempuanku satu-satunya, Fissheal Manuel a.ka. Fie, mau turut serta. Seneng banget! Mama pun memilih Sydney sebagai tujuan, meski sebelumnya beliau sudah pernah ke kota ini untuk perjalanan dinas. Tentu beda sensasinya dooong antara dinas sama pesiar, apalagi sama anak-anak tersayang, dan apalagi sama Erlinel Manuel yang ga suka pake agensi tur πŸ˜†

Girls Trip Begin!

Tiket sudah dibeli sejak 23 Mei, hotel sudah dipesan tanggal 23 Juli, dan visa sudah terbit per 29 Agustus, semua persiapan yang penting-penting sudah aman terkendali. Sekarang... tinggal perintilan-perintilan kecil seperti SIM Card Australia (IDR 320K via Shopee) hingga tiga botol collapsible tumbler, jaga-jaga siapa tahu harga air mineral di Sydney semahal Swiss yakaaan.




Day 1 - Sabtu, 7 September 2019

Aku dan Mama berangkat dari hotel jam 2 dini hari menuju Terminal 3 Bandara Soetta dan bertemu Kakak di sana. Kami bertiga menggunakan penerbangan SQ951 yang lepas landas jam 05.25 WIB dan mendarat jam 08.50 (GMT+8) di Changi Airport Singapura. Penerbangan selanjutnya menuju Sydney akan boarding jam 09.30; memang singkat sekali, meski tidak sampai harus berlari-lari seperti drama Turkey Trip πŸ˜… Waktu yang sangat singkat menyebabkan aku tidak bisa mengajak Mama dan Kakak menengok Jewel. Tapi tak apa, Mama sudah senang kok melihat interior Changi.


The queen :)
Setelah 7 jam 40 menit berada di pesawat, akhirnya flight kami SQ288 mendarat juga di Kingsford Smith Airport Sydney pukul 20:20 (GMT+10). Imigrasi dan pengambilan bagasi lancar saja tanpa kendala, sungguh berbeda ya dengan bandara tanah air :')

Aku langsung memimpin rombongan kecil ini menuju stasiun bandara. Kami akan menggunakan subway menuju Kings Cross, stasiun terdekat untuk mencapai penginapan. 8 hari ke depan kami akan menginap di Regents Court Sydney, sebuah serviced apartment di ujung jalan Springfield Ave, sekitar 5 menit jalan kaki dari Kings Cross St. Apartemen yang kupesan berukuran studio dengan 3 tempat tidur, kamar mandi, dan full functioned kitchenette.

Kenapa memilih Regents Court, Lin? Sejujurnya karena ini yang termurah untuk tanggal pesiar kami. Ada juga sih beberapa Airbnb's yang harganya setara, tapi 'kalah' dalam beberapa hal seperti ukuran kamar (3 koper kami jelas akan bikin sesak) dan ketidaktersediaan lift. Gile aja disuruh naik tangga sambil bawa koper! Cukup sekali saja waktu di Tokyo, aku dan Mama kesusahan naik-turun tangga menenteng koper. Jangan sampai terulang!

Ngomong-ngomong tentang lift... apartemen ini punya lift yang sangat antik. Bukan antik dalam tanda kutip sebagaimana lift di apartemen Moskow yaaah, tapi emang old style karena adanya teralis yang menggantikan "pintu sisi dalam". 

Lift a la "Titanic" di hotel kami

Day 2 - Minggu, 8 September 2019

Hal pertama yang aku cek di pagi hari tentu saja adalah cuaca (ehm, tentunya setelah chat dari sang kekasih hati). Puji Tuhan, hari ini cuacanya cerah ceria! Dari jendela kulihat langit tampak biru, bersih dari awan. Suhunya 20 derajat Celsius dan tampaknya akan menurun hingga dua hari ke depan. Tidak apa lah, pokoknya nikmati dulu kehangatan hari ini. Kesusahan esok biarlah menjadi urusan besok hahaha. Kukabarkan berita sukacita ini pada Mama dan Kakak sehingga kami kompak memakai baju santai. Kakak malah langsung mengeluarkan jumpsuit seksi andalannya 😻

Kakak dan jumpsuit favoritnya

Destinasi pertama kami hari ini, tak lain dan tak bukan, adalah sang landmark: Sydney Opera House. Stasiun terdekat ke Opera House adalah Martins Place, cuma butuh 7 menit berkereta dari Kings Cross. Tantangan selanjutnya baru terasa: jalan kaki di sekitar Royal Botanic Gardens. Sebenarnya aku juga tak tega membuat Mama dan Kakak jalan kaki lama di trip yang membahagiakan ini, tapi ya gimana lagi, taman Royal Botanic ini cantik banget sayang kalau tidak dieksplorasi. Toh baru hari pertama juga, jadi tidak apa-apa lah ya membakar energi.

Sumringah banget nich ketemu bunga

Selama 12 menit kami bertiga jalan kaki sepanjang Macquarie Street. "De, jangan cepet-cepet ya jalannya, takut Kakak nggak kuat," pesan Mama lagi. Sebelumnya aku memang terus diingatkan Mama tentang hal ini saat menyusun itinerary, "Nanti nggak usah capek-capek ya, De, biar Kakak nggak kapok ikut kita traveling lagi." Siap, Mama, Your wish is my command!

Karena mengingat amanah mulia tersebut, aku jadi sering berhenti. Alasannya sih karena mau foto-foto dengan latar belakang graffiti cantik, padahal mah... ya emang lagi centil mau foto sih πŸ˜†

Centhyl

Akhirnya.. here we are! On the front of the popular Sydney Opera House yang kerapkali disamakan dengan Rumah Keong di TMII. "Wah bagus ya ternyata, Mama waktu ke sini dulu udah malam, udah gelap, jadi nggak tahu kalau ternyata pemandangannya sebagus ini."

Langsung sikat, gan!

Sydney Opera House dibangun di atas dataran yang terpisah dari mainland Sydney, rupanya dulu memang menjadi pulau yang terpisah saat air laut pasang. Lokasi ini kemudian disebut Bennelong Point. Opera House terletak tepat di samping The Cove yaitu lokasi pendaratan pertama kolonial Inggris tahun 1788. Ini menjadi awal mula penguasaan Inggris atas benua yang selama 40-70 ribu tahun telah dijaga dengan baik oleh penduduk aslinya, suku Aborigin.

Sydney Opera House
(source: Wikipedia)

Ini toh yang namanya Sydney Opera House...

Bangunan unik ini didesain oleh JΓΈrn Utzon dari Denmark yang berhasil mengalahkan 233 desain lainnya dalam kompetisi desain internasional Opera House dan memenangkan hadiah ₤5,000. Menurut Utzon, inspirasi datang ketika dia sedang menikmati buah jeruk sehingga desain Opera House memiliki lapisan-lapisan seperti kulit jeruk.

Meski disebut "Opera House", gedung ini menjadi pentas untuk sejumlah seni dan atraksi termasuk kejuaraan Mr. Olympia body building yang dimenangkan Arnold Schwarznegger pada tahun 1980. Dan ternyataaa... seniman pertama yang tampil di Sydney Opera House, bukanlah sebuah orkestra megah, tapi seorang penyanyi bass baritone bernama Paul Robeson yang, saat pembangunan tahun 1960, memanjat naik scaffolding dan menyanyikan lagu Ol' Man River pada para pekerja konstruksi yang sedang istirahat makan siang.

Kualihkan pandangan dari bangunan unik berbentuk kerang laut/kapal layar itu ke arah Laut Tasman.  Laut biru gelap berpadu cantik dengan langit biru muda tanpa awan. Siang itu cuaca cerah, makanya aku berani melepas jaket dan hanya berkaos lengan pendek saja. Satu-dua kapal layar tampak di kejauhan, memanfaatkan cuaca yang menyenangkan untuk bersantai di tengah laut. Setiap tahun, Imlek atau Chinese New Year dirayakan di Opera House dengan kapal layar berlampu merah dan lampion-lampion.




Aku, Mama, dan Kakak saling memotret dengan latar belakang Opera House. Begitu tiba saatnya untuk foto bertiga... bingung deh. Aku dan Kakak saling sikut-saling suruh untuk minta bantuan orang lain, "Kak, Kak, tuh yang itu kayaknya jago moto!" bisikku. "Tuh, tuh, ada mas-mas sendirian lagi nganggur!" Mama tak mau ketinggalan menambah keriuhan. Akhirnya pilihan jatuh pada dua orang pria yang tampak santai menikmati hari. Jadinya siapa yang minta tolong? Kakakku dooong! Hahaha, seperti ultimatumku, "Ini kan Kakak perdana ikut nge-trip jadi harus dipelonco." πŸ˜…


Sukses mendapatkan foto bertiga yang ciamik, kami pun beranjak dari Sydney Opera House dan berjalan melintasi Royal Botanic Gardens. Taman seluas 30 hektar ini menjadi oasis bagi kawasan bisnis Sydney. Enak banget pasti yah menikmati makan siang di bawah naungan pohon, dengan pemandangan skyscrapers berlatarkan langit biru. Kami menghabiskan waktu untuk sesi foto di sekitar Parade Ground dan Twin Ponds, area yang paling cantik menurut mataku dan Kakak. Lihat saja bukti di bawah ini πŸ˜‰




Aku sibuk dengan G-Maps di tangan untuk mencari lokasi restoran terdekat. Ada sejumlah tempat makan di sekitar Royal Botanic Gardens, dan aku yakin tidak satu pun yang merupakan low cost restaurant semacam KFC dan McDonald's. Hahaha. Di lokasi yang strategis seperti ini, pastilah para tenants itu harus membayar mahal untuk sewa. Pasrah dengan kondisi ini, aku pun memilih restoran yang paling dekat dari lokasi kami saat itu, yaitu Botanic House. Harganya... sudahlah ya tak perlu ditanyakan. Tapi ternyata porsi yang datang besar sekali! Kesalahan pertama ku: melupakan betapa besarnya porsi makanan orang-orang bule. Harusnya aku dan Mama berbagi satu porsi saja.

Oh ya, hampir seluruh restoran menyediakan tap water. Kita tak harus membeli minuman jika ingin berhemat dengan segelas air putih. Rasanya pun nikmat-nikmat saja di lidah. Botol minum kami bertiga langsung kuisi dengan air tersebut, tidak perlu khawatir ditegur, "Woy apaan lu ngabis-ngabisin aer galon!" yah karena memang bukan akuwa galon πŸ˜™  Ditambah lagi ada se-bucket es batu jika ingin meneguk air dingin. Waduh, dimanjakan banget kan?

Makan siang raksasa

Selesai mengisi perut, kami jalan kaki mengitari Mrs Macquaries Road untuk melihat Sydney Opera House dari sisi lain, dan mampir sebentar di Mrs Macquaries Chair. 'Kursi' yang berdiri di peninsula Sydney Harbour ini ternyata adalah pahatan batu sandstone yang memang bisa diduduki. Batu tersebut dipahat di tahun 1810 untuk Elizabeth Macquarie, istri dari Gubernur New South Wales saat itu. Ah, baru paham, ternyata nama jalanan ini berasal dari nama beliau.

Mrs. Macquarie's Chair

Opera House dan Sydney Harbour Bridge

Perhatian kami sempat teralih sejenak ketika melihat keramaian di tengah kebun. Ada apa nih? Demo buruh? Bukan dong, wong tamunya pakai tuksedo dan gaun cantik. Oh, mungkinkah pemilihan Raja dan Ratu Pensi SMA Negeri 1 Cibeureum? Eits, salah juga.

5 menit penuh penantian lewat, tiba-tiba mengalunlah lagu "A Thousand Years"-nya Christina Perri . Sepasang anak kecil keluar dari (semacam) rumah, mulai menebarkan bunga dari keranjang di tangan mungil mereka. Lalu tampaklah bintang utama hari itu: pengantin wanita yang tampak memukai dalam gaun putihnya. Senyum merekah dari mulutnya, semakin cantik dia terlihat.

Hatiku deg-degan. Setengah otakku bersuara, "Duh pengen juga..." dan setengahnya lagi malah bilang, "Please Mama jangan sampe tiba-tiba nanya, 'Ade dan Kakak kapan?'" πŸ™Š Every wedding is beautiful, but wait until you're the one wearing the veil. Semoga saat siap nanti, aku bisa menggelar resepsi yang intim dan privat seperti ini, bukan yang dihadiri 500 orang tak kukenal, di gedung yang harus disewa 1 tahun sebelumnya. Hahaha. 


Private wedding in a garden

Kami pun tiba di destinasi ketiga, Art Gallery of New South Wales. Dalam hati kuputuskan untuk hanya menghabiskan sekitar 10-15 menit di dalam galeri ini, mengingat Mama yang tidak begitu suka dengan galeri lukisan. Eh ternyata justru Kakak yang betah berlama-lama di sini. It's beyond my expectation. Akhirnya aku tak perlu sendirian menikmati benda-benda seni ini. Kami pun mengeksplor keseluruhan Art Gallery, sementara Mama duduk menunggu di lobi.

Art Gallery of New South Wales

5 menit awal, Mama masih mau berusaha menikmati galeri 😁

Salah satu booth yang paling berkesan bagiku adalah "Room of Happiness" (atau semacam itu). Hanya berupa ruangan persegi kecil dengan dinding putih di keempat sisinya, namun penuh ditempeli post it berwarna-warni. Satu persatu kubacai kertas-kertas itu. Yah, meskipun ada satu-dua tulisan aklamasi seperti "XXX was here" tapi kebanyakan menulis tentang hal yang menenangkan hati.

Rupanya pengunjung diminta untuk menulis satu hal yang membuat mereka tersenyum/bersyukur akhir-akhir ini. Wah, kalau aku sih banyak sekali ya hahaha. Jadi kubiarkan Kakak menulis bagiannya. "Aku nulis tentang Pak Petugas di stasiun kemarin lho..."

Oh iya. Betul juga. Jadi semalam aku salah membeli tiket kereta dari bandara ke Kings Cross, tiket yang kubeli lebih murah dari harga seharusnya akibat salah memilih stasiun turun. Saat tap out, tiket kami ditolak dan gerbang tak mau membuka. Aku pun langsung mendekati dua orang laki-laki berseragam dekat gerbang, mencoba menjelaskan duduk perkara. "I'm sorry, Sir, I apparently bought the wrong tickets. Where can I pay for the full price?" Hanya butuh 5 detik bagi salah satu Pak Petugas untuk berpikir, lalu serta merta membuka gerbang yang khusus untuk wheelchair.

"It's okay, you guys may go." Hatiku tak henti mengucap syukur. Entah berapa kali kami ucapkan terima kasih padanya. Mungkin karena melihat kami bertiga, para wanita berwajah lusuh dan kucel akibat penerbangan jauh, menyeret koper-koper besar, beliau tergerak untuk 'membebaskan' kami. Bisa juga Tuhan yang berbisik padanya, "Let my children go." Duh, pengen nangis lagi kalo inget kejadian ini.

 


Perjalanan kami lanjutkan dengan jalan kaki melintasi Art Gallery Road. Sempat nyasar sebentar gara-gara aku salah melihat peta. Hahaha, "Woman vs The Map" memang bukan cerita fiksi. Untunglah belum terlalu jauh nyasarnya, jadi langsung balik kanan menuju arah yang benar. Awalnya aku pengen mengajak Mama dan Kakak singgah sebentar ke St. Mary's Cathedral yang tampak begitu megah di bawah sinar matahari senja. Ditambah adanya nuansa musim gugur yang diciptakan pohon-pohon di sekitarnya, gedung gereja ini tampak sangat menawan. Sayangnya, karena hari ini hari Minggu, sedang ada kebaktian berlangsung sehingga kami tak bisa mengintip interior dalamnya. Pasti cantik banget sih!

St. Mary's Cathedral

Entah bagaimana ceritanya, tujuan kami untuk hari pertama ini bertambah: Sydney Tower Eye. Padahal menurut itinerary yang kususun, lokasi ini untuk hari kesekian. Tapi ya sudahlah, toh kami memang sudah dekat jaraknya dari katedral St. Mary. Berhubung ponselku sudah low battery, Kakak inisiatif mengambil alih komando. Eh ternyata doi oke juga dalam membaca peta, aku yang awalnya ragu akhirnya pasrah sepenuhnya. "Nanti di depan belok kanan ya ke Market Street!" SIAP, KAPTEN!


Berlama-lama di Sydney Tower biar bisa melihat cahaya sunset

Menemukan bangunan satu ini gampang-gampang susah ternyata. Beda dengan Seoul Tower di Korea Selatan atau Tokyo Tower di Jepang, Sydney Tower tidak bisa langsung dikenali karena letaknya yang menyatu dengan gedung pusat perbelanjaan Westfield. Harga tiketnya lumayan menguras kantong: 29 AUD per orang atau hampir Rp300 ribu. Tapi puas kok, pemandangannya indah sekali dari atas sana. Aku, Kakak, dan Mama menghabiskan 2 jam duduk santai di observation deck sambil menanti matahari terbenam.

Seperti apa pemandangan gedung-gedung Sydney dari ketinggian 250 meter dari permukaan jalanan? Kayak gini nih, readers...





Petualangan hari pertama di Sydney pun berakhir di observation deck ini. Hati rasanya bahagia sekali, meski kaki lumayan pegal akibat jalan kaki seharian. Raut yang sama kutemukan di wajah Mama dan Kakak, ah, puji Tuhan segalanya berjalan lancar. Mari istirahat hari ini dan menyiapkan diri (dan outfit terkece!) untuk hari Senin. Besok akan ada cerita tentang... Bondi Beach dan University of Sydney!

Makasih udah mampir, readers, minggu depan ketemu lagi yaa!


Makan malam: buah pisang, kue, biskuit, susu almond... apa lagi ya?

0 testimonial:

Post a Comment