June 04, 2015

Goyang Lidah di Jakarta dan Sekitarnya (2)

6. Cafe Pancake
Berlokasi di Lotte Mall Bintaro, Cafe Pancake ini menjadi pilihan aku, Bang Adi, dan Bang Tommy yang lagi craving for Nanny's Pavillon tapi cabang terdekatnya terlalu jauh (saat itu kami belum tahu branch BEC-nya) dan mencari di sekitaran Sektor 7 saja.
Tempatnya cozy dan menarik, tidak kalah menarik dengan NP's. Untuk rasa pancake-nya, memang tidak sekaya rasa pancake NP, tapi tetap saja enak di lidah ahahah. Kami langsung ceria melihat wujudnya ketika pertama kali disajikan: cantik!
Harganya juga tidak semahal di NP. Dengan kisaran 35K, kita sudah bisa menikmati empuknya pancake disini, dan 25K untuk segelas smoothies atau specialties drink andalannya.

Coffee Cream Cookies dan Banana Boat Pancakes, yum!
Blueberry Heaven, tasted like heaven!

May 31, 2015

'Hanyut' di Cukang Taneuh

Aloha, readers! Puji Tuhan, aku berkesempatan jalan-jalan lagi! Kali ini bukan dalam rangka Surat Tugas (ST), Diklat, apalagi Raker Instansi hehehe... Setelah Maret-April dikungkung oleh kerjaan kantor yang bikin aku makin bengkak *iya, dicekokin makanan terus tiap rapat/diklat huhu* bulan Mei ceria ini aku bisa menggenapi nazar untuk main ke pantai!

Trip mates kali ini adalah rekan-rekan kerja di kantor: Mbak Yiska Dini Nastiti, Mbak Devi Yanti br. Bangun, Mbak Jatu Setyarsi Hartini, Mas Affan Hanif Imaduddin, dan Agung Hari Nugroho. Tidak ketinggalan pula Nopri (sahabat sejak 3 tahun lalu + travel mate di Lampung kemarin) ikut meramaikan perjalanan ini. Literally RAMAI lho, readers! Kami hanya bisa diam di saat tidur saja sepertinya, hahaha~

Agung, Jatu, Affan, Nopri, Devi, Yiska, dan Ariana Grande :)))

Mbak Yiska adalah orang pertama yang mengajak kami bergabung dalam trip yang di-organize oleh "Bolang Adventure". Ini kali keduaku nge-trip dengan paket dari TO, dan jujur saja lumayan dikecewakan oleh pelayanan TO ini dibandingkan Kili-Kili Adventure yang pernah membawaku ke Pulau Harapan. Cerita lengkapnya nanti saja akan aku bahas kapan-kapan. Tapi maafkan aku ya, readers, jika banyak cerita disini yang baper (bawa perasaan.red) karena kekecewaanku yang terlalu mendalam terhadap TO kemarin.

May 29, 2015

Goyang Lidah di Jakarta dan Sekitarnya (1)

Aku suka banget hunting foto yang cantik dan unik. Makanan pun termasuk di dalamnya.
Sesungguhnya aku bukan orang yang gemar wisata kuliner, mengingat aku tidak suka sayur dan bukan penggila bumbu, rempah-rempah, spices, apapun itu namanya. Apalagi rasa pedas, hmm, I'm not that Manadonese actually.
Hingga suatu hari saat menyambangi Kota Terasi (iya, terasi udang itu lho...) aku merasakan nikmatnya wisata kuliner: city tour di setiap ujung kota untuk merasakan makanan khasnya: petis. Seru juga ya, pikirku kala itu.

Namun kegemaran memfoto setiap makanan yang kusantap baru bermula Oktober 2014, satu tahun lebih setelah mengenal indahnya icip-icip makanan. So... here it is, the story of my culinary adventure. Aku akan mulai membongkar arsip foto kulinerku sejak 2014, dan mulai menulis ceritanya satu per satu.

Please bear it when you see my faces everywhere, karena artikel ini akan mengandung begitu banyak foto selfie bersama kawan(-kawan ) yang acapkali menjadi partner-ku menjelajah dunia kuliner. Don't drool on your device, guys, cause the pics will be unbearably delicious!

1. Fat Bubble

Berbagai topping: mochi, ice cream, kuah susu, yum!
Dalam rangka kemek-kemek ultah, aku dan Geng BALOK + 3 Provinces Trips menjajal sebuah restaurant baru di bilangan Sektor 7 Bintaro yang lagi nge-hits di Path kalangan junior kampus STAN. "Fat Bubble" adalah sebuah restoran berkonsep tempat nongkrong nyaman, menyajikan menu dessert a la Taiwan sejenis Sumoboo dan Hongtang *aku sendiri juga tidak tahu apa namanya*.

March 19, 2015

Pulau Nikoi - Ketika Surga Harus Dibayar Mahal

Semua bermula ketika saya sedang 'mondar-mandir' di timeline Facebook. Sebuah artikel dari Indonesia.Travel muncul dengan caption: "Pulau Nikoi yang terletak di timur laut Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, tercatat sebagai satu dari tiga finalis kategori Pengubah Dunia (Earth Changers) dalam pemilihan World Legacy Awards 2015 yang diselenggarakan oleh National Geographic."


Mari sekilas kita lihat penampakan tokoh utama topik kita hari ini... 

*foto-foto diambil langsung dari situs pribadi manajemen Pulau Nikoi.*


© Nikoi.com

© Nikoi.com

Nikoi adalah nama sebuah pulau pribadi seluas 15 hektar yang terletak 8 KM di timur laut Pulau Bintan, Indonesia. Iya, letaknya di Indonesia kok, tenang saja! Namun karena lokasi pulau ini hanya sekitar 85 KM dari Singapura, dapat dipastikan bahwa mostly wisatawan di pulau ini berasal dari negara tetangga alias bukan domestik. Pulau Nikoi yang masih asri ini dijuluki sebagai salah satu pulau menakjubkan yang berada di lepas pantai bersih bebas polusi. Dikelilingi dengan pantai berpasir putih dan karang koral dengan warna-warni spektakuler, serta keberagaman dan garis pantai

Memiliki ketinggian 30 mdpl, pulau ini juga memiliki pemandangan hutan hijau yang subur termasuk pepohonan Banyan asli yang memberikan tempat berlindung untuk habitat burung lokal. Penginapan yang ditawarkan memiliki desain rumah pantai kontemporer khas Indonesia. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan para tamu adalah berenang, berlayar, berselancar, kayak, snorkeling, diving, hopping island, serta pijat dan relaksasi. Pihak manajemen juga menyediakan kolam renang buatan untuk dewasa dan anak-anak. Indoor entertainment yang ditawarkan meliputi lapangan tenis, bar area, dan bioskop mini.

March 09, 2015

Tebing Keraton dan Stone Garden - A Weekend Getaway

Halo, readers! Apa kabar? Semoga baik-baik saja ya, meski dirundung kegalauan dan kesuntukan akibat menumpuknya kerjaan di kantor. Hmmm, memang dua alasan itu yang menjadi salah satu faktor utama dilaksanakannya weekend getaway trip kali ini. Kenapa ke Bandung? Awalnya kami memang berencana main ke Bandung sekaligus menghadiri pernikahan seorang teman satu almamater kampus. Singkat cerita, jadwal berganti ke Plan B sehingga kami baru bisa menyambangi Bandung pada 27 Februari - 1 Maret 2015 yang lalu.


The amazing Stone Garden

"Kami"? Iya, "kami" consists of aku dan Septiyan Andy Prasetya (read: Asep) yang telah membulatkan tekad untuk kabur ke Bandung selama 3D2N. Aku yang telah membeli dua tiket kereta untuk hari Jumat malam terpaksa merelakan satu tiket seharga Rp100.000,- itu hangus, karena aku harus berangkat duluan ke Bandung untuk tugas kantor. Asep kemudian menyusul sesuai jadwal dari Gambir dan baru tiba di Stasiun Bandung pukul 23.00 WIB. Lucky him for being able to lay down on the seats hahaha~

November 09, 2014

Trip Termahal...?

Kemarin ada seorang teman yang bertanya,
Dari semua trip kamu, mana yang paling mengeluarkan banyak biaya?
Saat itu, dengan kesempatan berpikir tiga koma satu empat dua delapan lima tujuh (berasa hitungan phi kaliiii~) detik, aku pun menjawab: "Lombok!"

Sekarang, aku akan mencoba menjabarkan jumlah biaya dari beberapa trip termahal yang pernah kutempuh. Trip-trip berikut ini adalah perjalanan lintas provinsi yang berlangsung selama 1-10 hari.

1. Three Provinces Trip
Meliputi Dieng Plateau, Gunung Bromo, Jogja-Gunungkidul, dan Semarang, aku menghabiskan biaya sekitar Rp900.000,- untuk fixed cost, yaitu biaya diluar pengeluaran makan, jajan, biaya tak terduga, dan belanja pribadi lainnya.



Yang paling membuat mahal adalah ongkos bus dan travel yang kutempuh untuk berkeliling dari satu kota ke kota lain, karena tidak ada transportasi yang bisa mengangkut langsung dari kota A ke kota B yang sebenarnya menjadi tujuan utama.

2. Jelajah Toraja Trip
Sejujurnya aku agak lupa dengan biaya yang kukeluarkan untuk trip ini. Hal yang paling kuingat adalah biaya sewa mobil yang kami gunakan dari Makassar-Toraja-Makassar sebesar Rp800.000,- sudah termasuk bensin dan supir. Ya, agak besar memang. Maklumlah, perjalanan Makassar-Toraja butuh waktu tempuh 8 jam.


Untuk tiket pesawat, seingatku sebesar Rp400.000,- untuk PP karena sedang ada promo dari maskapai AirAsia. Jadi untuk keseluruhan perjalanan, aku menghabiskan Rp1.500.000,- termasuk pengeluaran pribadi, ongkos damri ke/dari bandara, serta airport tax.

3. Padang-Bukittinggi Trip
Kali pertama aku nge-trip sekaligus menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, aku hanya menghabiskan Rp500.000,- saja. Ya! Rahasianya? Aku mendapatkan tiket gratis kali ini, hihihi, thanks to temannya Bang Adi yang gagal berangkat :')


4. Bali-Lombok (BALOK) Trip
Sesuai dengan trip review yang telah kutulis disini, biaya yang kukeluarkan adalah sebesar Rp1.418.000,- diluar tiket pesawat untuk perjalanan kembali ke Jakarta (Rp950.000,-)


5. Pulau Belitung Trip
Perjalanan yang ini juga telah kuulas dalam Kisah Laskar Pejalan di Negeri Timah. Tiket pesawatnya seharga Rp787.000,- untuk PP Jakarta-Tanjungpandan dibeli dalam masa promosi maskapai Garuda Indonesia. Total biaya yang kami keluarkan termasuk makan selama 4H3M sebesar Rp1.995.751,- saja.


6. East Java Trip
Keliling Jawa Timur meliputi Kediri, Malang, dan Sidoarjo ini adalah trip paling tidak tercatat yang pernah kulakukan. Hahaha~ Bisa dibilang trip ini agak berantakan karena aku lebih mengkhususkan planning untuk surprise ulang tahun seseorang :p Secara kasar, biaya yang kukeluarkan untuk trip ini hanya Rp600.000,- (FC only), karena di Kediri dan Malang aku menginap di rumah Lely dan kos Shabrina.


7. Escape to Makassar Trip
Hanya berjarak seminggu setelah Jelajah Toraja Trip, aku kembali lagi menginjakkan kaki ke Provinsi Sulawesi Selatan. Bedanya, kali ini hanya jalan-jalan sekitar Kota Makassar. Karena masih menggunakan tiket promo dari AirAsia, sepertinya aku hanya menghabiskan Rp500.000,- untuk trip ini. Apalagi kami menginap gratis di rumah Bang Adi di Makassar, hehehe...


8. Hopping Island Trip
Sejauh ini, Hopping Island Trip adalah perjalanan satu-satunya yang kulakukan bersama sebuah trip organizer. Biayanya hanya Rp315.000,- sudah all in penginapan dan makanan 2H1M dengan meeting point dimulai dari Pelabuhan Muara Angke.


9. Laskar Jogja Trip
Kali perdana aku menginjak Jogja bersama dengan teman-teman seperjuangan di kampus STAN. Karena ini adalah perjalanan nggembel, aku yakin tidak menghabiskan banyak uang di trip ini. Mungkin sekitar Rp400.000,- lah biaya yang dikeluarkan selama lima hari tersebut. Thanks to Danang yang sudah memberikan tumpangan, dan Budi yang superjago dalam tawar-menawar! :)


10. Bandar Lampung Trip
Karena tinggal di rumah Fakhri, aku hanya menghabiskan sekitar Rp500.000,- saja untuk trip ini. Ditambah lagi kami hanya jalan-jalan menggunakan sepeda motor, sehingga pengeluarannya sebagian besar adalah untuk bensin.



Nah, dari sepuluh trip diatas, ketahuan kan yang mana yang termahal? Bali-Lombok tentu saja! Berarti perhitungan asal-asalanku selama tiga detik tersebut benar adanya. Total bersih pengeluaranku untuk BALOK Trip adalah Rp2.368.000,- Itu pun hanya yang sempat terhitung, alias belum termasuk jajan-jajan kecil selama perjalanan, hehehe...

Jika nanti ada koreksi, akan segera ku-update ya, readers. Thank you for reading! :*

October 31, 2014

Three Provinces Trip: Semarang Tour

Sama seperti dua tahun yang lalu, atau bahkan seminggu yang lalu, Semarang masih saja panas menyengat, Bung! Tapi hal ini justru lebih melegakan, karena berarti... jalan-jalan akan terus terlaksana! Yihaaa! Di rumah Kunto ini kami bisa menikmati sepuasnya apa yang sebelumnya tidak bisa diperoleh: bangun siang! Didukung dengan kondisi kamar Kunto yang anti-terang (?) kami baru bisa terbangun diatas jam sembilan pagi, luar biasa.

Hari pertama, Vihara Buddhagaya Watugong menjadi first destination jelajah Semarang. Selain kami dan dua orang pria yang saling memotret di depan pagoda, tidak ada pengunjung lain disana. Mungkin karena hari kerja sih, ya. Tapi kami jadi ragu-ragu berkeliling vihara, takut melanggar ruang suci atau sejenisnya yang tidak boleh dimasuki pengunjung. 



Ujung-ujungnya, karena tidak ada yang melarang, kami pun masuk hingga ke dalam ruang utama vihara dimana terdapat patung Buddha raksasa setinggi +- 4 meter. Ini dia objek wisata utamanya. Tentunya kami berkeliling tanpa ribut-ribut, bahkan masuk ke ruang Buddha raksasa nyaris tanpa suara, bagaimanapun ini adalah tempat ibadah yang harus kita jaga kekhidmatannya.




Di bagian belakang terdapat Patung Buddha Tidur juga, lho...

Beranjak dari vihara, kami bergegas menuju Lawang Sewu. Bangunan yang hanya pernah kulihat di acara-acara televisi ini sekarang tidaklah seseram bayanganku. Pemerintah telah mengadakan renovasi di sana-sini sehingga Lawang Sewu menjadi gedung apik yang digunakan sebagai museum perkeretaapian dan dibuka hanya sampai sore hari. Padahal banyak teman-temanku yang sudah berpesan, "Datengin Lawang Sewu enaknya pas malem hari, masuk ke ruang bawah tanah, trus liat deh pasti banyak 'yang aneh-aneh'" Nah! Satu-satunya hal yang aneh disini adalah renovasi di Gedung A membuat kami tidak bisa melihat langsung kaca patri indah itu. Kaca patri? Ya, itu adalah sebuah mahakarya kaca bergambar dengan warna-warni memukau terdapat di lantai 2 Gedung A Lawang Sewu, sejenis dengan kaca mozaik yang bisa kita temukan di pintu masuk Museum Bank Mandiri, Kawasan Kota Tua. Kami pun hanya bisa mengaguminya dari lukisan-lukisan yang dipamerkan di Gedung B.




Salah satu benda pameran di Museum Kereta Api

Memasuki Lawang Sewu, kita dikenakan HTM sebesar Rp10.000,- per orang dan Rp30.000,- untuk tour guide. Katanya sih tour guide ini akan mengawal sehingga kita bisa memasuki ruang-ruang yang ditutup karena renovasi. Saat kutanyakan pada seorang pekerja di Gedung B, nyatanya kami tetap tidak bisa melihat kaca patri itu walau disertai seorang tour guide. Duh, untunglah kami tidak tergoda :(


(Gambar) Kaca Patri di Lawang Sewu

Karena Lawang Sewu tidak menyediakan lahan parkir, kami parkir di dekat restoran Holliday yang tidak jauh dari sana. Sekalian makan siang deh jadinya, hitung-hitung menunggu matahari 'tergelincir' agak ke Barat. 



Itadakimasu!

Puas mengisi perut dan memanjakan lidah, perjalanan pun dilanjutkan ke next tourism spot: Klenteng Sam Po Kong. Panasnya matahari masih tidak tertahankan. Sangat disarankan untuk membawa pelindung mata dan kepala, karena luasnya Sam Po Kong akan membuat kita banyak berjemur keasyikan memotret seluruh sudutnya. Warna merah-kuning klenteng begitu menyejukkan, ditambah lagi langit yang saat itu berwarna cerah, sangat kontras berpadu dan memukau setiap orang yang melihat. Aku pribadi langsung teringat film-film kolosal Korea dan Cina begitu menginjakkan kaki ke halaman klenteng yang teramat luas. Rp3.000,- tidak berharga rasanya jika dibandingkan kemegahan yang satu ini. Keren!











Selama perjalanan di Dieng, Yuangga dan Kunto sering menunjukkan feed Instagram milik beberapa traveller yang di-follow-nya. Disana terdapat berbagai foto suatu lokasi tersembunyi di Semarang yang baru-baru ini menjadi primadona wisatawan domestik maupun mancanegara. Namanya "Brown Canyon" yang disebut-sebut sebagai "Arizona"-nya Indonesia. Lihat saja foto-foto di bawah ini, gersangnya bukit ditambah tegaknya berbagai batu padas yang menjulang dimana-mana. Luar biasa. Bahkan di grup facebook "Beautiful Indonesia" pun pernah dibahas tentang lokasi ini. Tak kurang dari 300 komentar menghiasi post tersebut. Rupanya lokasi ini adalah bukit yang tengah dalam proses perataan untuk pembangunan komplek perumahan baru di Pucang Gading. Wah sayang sekali. Kami sebelumnya sempat tersesat ketika mencari lokasi bukit ini. Beruntung, kami nyasar ke sebuah pondok pesantren yang juga berada di ujung jalan tanjakkan, dan dari ponpes ini terlihat jelas batu-batuan padas yang megah kecokelatan di kejauhan. Aku langsung dibuat terpesona pada pandangan pertama. Readers bisa membayangkan kan gimana rasanya melihat keindahan ini dari dekat? :)









Hari kedua penjelajahan Semarang dimulai pada siang hari. Rombongan hari ini pun bukan terbatas pada kami berempat lagi, melainkan bertambah Papa, Mama, dan Tante Kunto yang lebih mengenal tempat-tempat wisata yang akan kami kunjungi hari ini. Sebenarnya, daripada menyebut trip ini sebagai "Three Provinces Trip", lebih cocok jika menyebutnya "Temple Hunting Trip". Kenapa? Karena hari ini kami menyambangi begitu banyak candi! Hahaha... Destinasi pertama (dan terbanyak objek wisatanya) adalah Candi Gedong Songo yang berlokasi di Kec. Bandungan, Kab. Semarang. "Songo" berarti "Sembilan" dalam Bahasa Jawa. Artinya, ada sembilan buah candi di lokasi ini yang tersebar dalam beberapa titik. Disini juga kami dituntut untuk mendaki lagi demi menemui keenam candi yang masih tersisa. Thank God we have mamanya Kunto yang sudah menyediakan bekal cemilan dan jagung rebus untuk sumber tenaga :') Walaupun berangkat bersama Mama, Papa, dan Tante, toh mereka tidak cukup kuat untuk mendaki hingga candi terujung. Alhasil kami berempat dibiarkan mendaki sendiri, hingga waktu azhar tiba. Lama ya? Iya, banyak istirahat (dan foto-foto selfie) sih...


Candi pertama





Candi ketiga

Reruntuhan candi yang belum sempat dipugar

Selfie di candi kesembilan, akhirnya!

Destinasi kedua sekaligus terakhir letaknya lebih tersembunyi lagi dari Bukit Batu Padas, karena berada di antara pemukiman warga. Meskipun hari sudah beranjak malam, Papa Kunto tetap gigih mengunjungi tempat ini agar kami bisa melihat salah satu bukti peninggalan budaya lainnya. Ya, kami mengunjungi Candi Ngempon. Candi Ngempon ini dibangun pada masa yang sama dengan Gedongsongo, yaitu sekitar abad 12-13 M. Candi terdiri dari 6 bangunan, yaitu 1 candi induk dan 5 candi perwara yang saling berhadapan. Sama seperti Candi Gedongsongo juga, di lokasi candi ini terdapat tumpukan bebatuan yang diperkirakan adalah bangunan candi yang runtuh dan belum bisa dipugar kembali. Karena keadaan sudah gelap, kami tidak berlama-lama di sini. Toh juga tidak bisa puas berfoto karena lighting yang tidak memadai. Cukuplah sudah melihat arsitekturnya yang unik (memiliki relief burung yang berbeda-beda di setiap badan candi). Mari kita pulang!


Salah satu relief di kaki candi

Mie ayam di Bakmi Jakarta (Mie Ayam Gajah), lezaaaaat~

Seiring dengan berakhirnya hari kedua, selesai jugalah petualangan kami di Semarang. Begitu banyak pengalaman baru yang aku peroleh di Semarang, sebagian besar karena transfer ilmu dari Papa-Mama Kunto :') Terima kasih banyak, Pakdhe dan Budhe, semoga bisa bertemu lagi di liburan selanjutnya! Hihihi...

Cuma punya foto bareng Budhe :(

Rumah Kunto yang penuh keris antik koleksi si Pakdhe

Nah, readers, demikianlah perjalanan naik gunung-turun gunung, menginjak berbagai terminal & stasiun, melihat puluhan kabupaten di tiga provinsi, dan tentu saja mereguk begitu banyak keindahan yang diciptakan Tuhan. Mulai dari matahari terbit hingga terbenam, mulai dari pantai hingga puncak gunung, mulai dari makan mie instan hingga mencicipi restoran mahal, serta menempuh ribuan jarak dengan kaki, motor, mobil, dan kereta! Semuanya terpenuhi dalam 10 hari, dengan biaya Rp900.000,- saja! Semoga nggak ada lagi yang asal nyeletuk, "Erlin duitnya banyak ya bisa jalan-jalan terus..." karena sesungguhnya kita semua bisa melakukannya jika ada kemauan dan tekad keras ;)

Terima kasih banyak sudah membaca. Semoga catatan perjalanan ini banyak membantu pembaca sekalian yang sedang menyusun itinerary, atau sekadar memberi pengetahuan baru untuk yang belum sempat mengunjungi tempat-tempat ini. Dan jangan lupa juga motto hidup pejalan, "Take nothing but pictures, leave nothing but footsteps, kill nothing but time // Jangan ambil apapun selain potret, jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki, jangan bunuh apapun selain waktu." Sampai jumpa!


PS. Special thanks kali ini kupersembahkan untuk Bili :)) Siapa Bili? Nama lengkapnya adalah.... Mobilio! Hahaha... Mobil keluarga Kunto ini telah begitu memanjakan kami yang selama seminggu sebelumnya harus jalan kaki untuk kemana-mana. Bili bahkan dengan tangguhnya bisa membawa kami ke daerah penuh pasir macem Brown Canyon. Makasih ya, Bil! :*


PPS. Daftar pengeluaran di Semarang hingga pulang Jakarta



Tiket Lawang Sewu                Rp10.000
Tiket Sam Po Kong              Rp3.000
makan malam di Adi's*         Rp28.000 
beli oleh2 tahu bakso*        Rp26.000
makan siang di Bakmi Jakarta*  Rp12.000
beli aqua*                      Rp3.000
KA Matarmaja SMC-PSE       Rp60.000
Total Fixed Cost                  Rp73.000
Total FC + Personal Cost (*) Rp142.000

Total biaya trip: Rp217.000 + 365.500 + 251.000 + 73.000 = Rp906.500,-

October 30, 2014

Three Provinces Trip: Yogyakarta City

Jogja! Jogja! Jogja! Semoga kota ini tidak bosan menerima kedatanganku yang seringkali menjadikannya tempat transit :')

Aku, Aldo, Kunto, dan Yung menginjakkan kaki di Yogyakarta pada pukul 18.00 WIB. Sang nyonya rumah, Lia, berhalangan untuk menemui kami malam ini karena sesuatu dan lain hal *tsahh* Lia yang begitu baik hati dan rajin menabung ini, readers, telah memesan homestay untuk kami tinggal selama 4H3M ke depan. Duh, baik bangeeeet :3 Lia! Awas aja ya kalau kamu ke Manado tapi nggak bilang-bilang ke aku dulu :( 
Penginapan kami terletak di Pojok Beteng Kulon yang menurut GPS hanya berjarak +- 10 menit berkendara dari Lempuyangan. Harga Rp50.000,- naik taksi dan Rp30.000,- naik becak, yang kami tanyai di stasiun, terasa sangat membebankan untuk jarak 10 menit itu. Maklumlah, aku memang pejalan superirit. Kami pun dengan nekat berjalan kaki menempuh 4,3 km perjalanan ke Pokteng Kulon. Di tengah perjalanan memang sempat mengisi perut untuk makan malam, tapi ternyata 4,3 km itu melelahkan juga ditempuh dengan membawa ransel berat.

Three Provinces Trip: Mount Bromo

Setibanya di Wonosobo, perjalanan kembali tersendat. Rupanya, kami tidak bisa langsung meneruskan perjalanan ke Malang! Huastagaahhh~ Padahal dalam itinerary yang kususun, perjalanan Wonosobo-Malang dapat ditempuh hanya dalam 8 jam menggunakan bis ekonomi. Entah dari mana aku mendapatkan info itu. Yang jelas, pada kenyataannya, kami harus menempuh Wonosobo-Magelang-Jogja-Jombang sebelum akhirnya bisa menginjak Malang. Inilah kenyataan hidup sebagai backpacker, alih-alih naik bis eksekutif P.O. Handoyo Magelang-Surabaya, malah akhirnya naik bis ekonomi ke Jogja yang hanya seharga Rp10.000,- itu. Jadwal pun mengalami reschedule disana-sini sehingga aku langsung menghubungi Mas Pras, pemilik jip di Malang, untuk minta maaf karena mengundurkan jadwal sehari. Readers, nanti kalian akan membaca betapa ramahnya sosok Mas Pras ini ketika kami menyambangi rumahnya sebelum & sesudah ke Bromo. Saat aku mengabari bahwa kedatangan kami diundur sehari, beliau malah menyemangati: "Gak papa Mbak, namanya juga di jalan. Semua adventure itu tetap harus mengutamakan safety." Wah, padahal aku sudah cemas nanti akan diprotes, atau kena charge, atau malah dibatalkan sepihak dari Mas Pras. Hehehe...


Beberapa jam menuju keagungan Bromo!

October 28, 2014

Three Provinces Trip: Dieng Plateau

Judul trip-ku yang terbaru kuberi judul "Trip Tiga Provinsi" karena lokasinya yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Namun sesungguhnya trip ini terwujud sebagai trip terakhir dengan status pengangguran, karena kami memang akan segera mulai bekerja di Kementerian Keuangan.

Destinasi pertama, Dieng, dengan tumpukan-tumpukan sawahnya.
Adalah Kunto dan Aldo, dua anggota BALOK Trip yang lalu, yang menjadi salah satu faktor utama aku mengadakan trip ini. Ya, selama berbulan-bulan ini aku banyak menghabiskan waktu dengan mereka, sehingga sempat terlintas dalam benak: "Bagaimana jika nanti mereka ditempatkan jauh dari Jakarta yang otomatis akan membuat kami susah bertemu?" FYI, keduanya adalah CCPNS di Dirjen Pajak dan sama-sama berkeinginan untuk kerja di kota asalnya masing-masing, sementara aku sudah pasti akan hidup di Jakarta sebagai pegawai di BKF. Alhasil, aku pun berencana menyambangi mereka di Semarang sebelum memulai perjalanan trip entah-kemana-saja-kaki-ini-hendak-melangkah.

Yuangga Friski Primayoga a.k.a Yung, teman seperjuangan di Paduan Suara Panitia Wisuda (PAPAN Panwis) 2012, adalah orang pertama yang kami ajak bergabung ke trip ini. Yung memang sesama pecinta jalan-jalan dan beberapa kali juga berwacana ingin bergabung dalam trip selanjutnya. Tercapai! :)

Setelah berembuk di grup WhatsApp selama beberapa hari, tercapailah keputusan yang bisa mengakomodasi semua keinginan kami: gunung, pantai, city tour, dan foto-foto. Tentu saja, bagian "foto-foto" adalah keinginan terkuat Aldo (aku bosan membaca "Jangan lupa bawa kamera" yang berkali-kali ditulisnya di grup -__-)
Dataran tinggi Dieng, Gunung Bromo, Pantai Gunungkidul & Kota Yogyakarta, serta jelajah Semarang menjadi destinasi trip kami selama +- 10 hari. Selanjutnya, kami ketambahan beberapa personil lagi untuk setiap tujuan: Arifin Nur Hidayat a.k.a Ipin, Septiyan Andy Prasetya a.k.a Asep, dan Desiana Rizki Amalia a.k.a Lia.