May 11, 2016

Annyeonghaseyo, Seoul!

Korea Selatan! Siapa yang nggak langsung membayangkan muka-muka manis, kulit putih, hidung mancung, dagu lancip saat nama negara ini disebut? Aku, salah satunya. Bagiku, Korea Selatan adalah tentang SNSD, Super Junior, dan Kim Jong Kook 'Running Man'. Kalo ditanya tentang tempat wisatanya... hmm... Nami Island? Istana khas Korea? Selain itu: blank.

Nami Island!

Ketidaktahuan ini jugalah yang membuat aku tidak begitu bernafsu untuk mengunjungi Korea Selatan. Namun akhirnya... segala hal tadi langsung terpatahkan begitu sang Ibunda Ratu a.k.a Mama awak a.k.a si Emak mengucapkan sebaris kalimat sakti:
De, kalo kwa ada tiket promo ke Korea, manjo torang pigi neh? (De, kalau ada tiket promo ke Korea, ayolah kita pergi ya?)
Alhasil di bulan September 2015, tiket AirAsia X KUL-ICH PP sukses di-booked hanya dengan Rp1,9juta saja (sembah sujud Bang Adi, sang Raja Promo) Selanjutnya, aku memutuskan untuk hanya keliling Seoul, tanpa menyambangi Busan apalagi Pulau Jeju. Waktu dan biaya memang tidak memungkinkan untuk extend the destination keluar Seoul.

Nah, what's so special about this trip? Ini adalah pertama kalinya aku akan mengajak mamaku backpacking. Dan sesungguhnya, selain Jepara Trip yang di-organize oleh rekan kerja Mama, ini juga pengalaman pertama kami travelling berdua. Wow! It's gonna be fun!

Oh ya, untuk menjawab teman-teman yang selalu mempertanyakan: "Kok bisa sih Erlin jalan terus?"... I will say, bisa banget! Do you guys know that jatah cuti adalah harta paling berharga di dunia kerjamu? You may get big salary, great boss, friendly co-workers, tapi kalo kamu ga punya jatah cuti.. ya udah wassalam aja. Di Seoul Trip ini aku tidak mengambil cuti tapi memanfaatkan libur panjang 2 hari + weekend, namun ditambah izin sehari yang memakan 5% gaji sebagai sanksi. Hiks.

Hari Selasa, 3 Mei 2016 aku memulai Seoul Trip dengan maskapai Malaysia Airlines seharga Rp737,6K per orang untuk menuju Kuala Lumpur. Belum apa-apa, aku sudah melakukan blunder, hahaha. Ternyata... tiket CGK-KUL sudah pernah kubeli di bulan Oktober 2015 yaitu dengan maskapai AirAsia seharga Rp309K per orang. Entah harus menyalahkan siapa atas amnesia separuh ini :)) Perjalanan ke Korea Selatan kemudian ditempuh dengan AirAsia X selama 6 jam terbang dengan tujuan akhir Incheon International Airport.

Day 1. Rabu, 4 Mei 2016
Hal pertama yang kusadari adalah waktu Seoul sama dengan WIT alias GMT + 9. Hal ini penting sekali bagi korban LDR seperti aku, hahaha. Perbedaan waktu 2 jam saja udah cukup memusingkan, apalagi yang LDR hingga Amerika/Eropa sana ya :(

Hello, Incheon!

The second thing is... aku dibohongi Google, pemirsa! AAARGGH. Kesel banget rasanya. Sekitar akhir April aku mengecek berbagai situs dengan keyword "Seoul weather now" dan hasilnya menunjukkan angka 24-27 derajat Celsius. Ternyata di hari H, Seoul sedang bersuhu 14 derajat Celsius! Matahari memang bersinar cerah, satu hal yang sangat aku syukuri, tapi sekalinya angin berhembus... widihhh dingin tak tertahankan!

Dari bandara Incheon, aku sudah membulatkan tekad untuk segera menuju guest house (GH) untuk setidaknya menaruh ransel dan touch-up sejenak. Untuk menuju ke GH yang terletak di Hongik University area, cara termudah adalah dengan kereta bawah tanah Korail (subway), sehingga perlu membeli kartu T-Money (sejenis Brizzi, Flazz BCA, Mandiri e-Money) agar praktis naik-turun subway. Kartu ini jauh lebih penting, Readers, daripada SIMcard. Jaga dengan segenap kekuatan, ya!

Early check-in di Leo GH Hongdae. Kami disambut penuh keramahan oleh cewek-cewek pengurusnya

Makanan Korea pertama: dumpling, mul-naengmyeon, dan kimchi!

Hari pertama di Seoul... bingung banget mau kemana. Duh. Kalo sesuai itinerary awal sih kami bisa jalan-jalan sekitar Hongdae yang katanya salah satu tempat hype di Seoul. Tapi kok sounds too fancy ya? Takut kalap, takut belum apa-apa duit udah terkuras. Hahaha. Jadilah aku mengajak Mamaku menikmati Han River, sungai yang pernah menjadi salah satu objek kegiatan di Running Man (variety show populernya KorSel) dimana para membernya diminta menyeberangi sungai hanya dengan perahu 'kardus'! Hahaha. Becanda kok, Readers. Bukan itu alasannya, tapi semata karena spontanitas saja. Sama halnya dengan memilih Jamsil Bridge sebagai tujuan.




Spontanitas ini ternyata membuahkan hasil membahagiakan. Awalnya memang kami sempat hilang arah di Jamsillaru St. karena tidak tahu dimana letak Han Gang Park. Namun setelah mengelilingi stasiun dua kali (dan berfoto di antara gedung-gedung apartemen keren yang pasti pernah jadi tempat syuting salah satu K-drama) dan hampir naik subway lagi untuk pulang, akhirnya aku menemukan jalan yang tepat! Seperti inilah kebahagiaan kami yang begitu polos dan naif menikmati jalan-jalan hari pertama :)







Kami kedinginan, Readers! Mamaku yang hanya berblus tipis + celana sebetis, dan aku yang berbaju supertipis merasa sangat, sangat salah kostum di trip ini. Haruskah aku kembali menyalahkan Google? :( Nah, mumpung hari masih sore, perjalanan pun lanjut Dongdaemun Shopping Complex, salah satu lokasi belanja terbesar di Seoul. Saking besar/luasnya, aku dan Mama jadi kebingungan. Daerah yang kami masuki hanya menjual pakaian dan bahan jahit (grosiran ritsleting, kancing, dll), entah dimana letak stall penjual souvenir atau tas dan sepatu. Kondisi ini berbeda jauh dengan shopping complex seperti Thamrin City Jakarta, Angkor Market Kamboja, atau Ladies Market Hong Kong yang kubayangkan. 


Puji Tuhan, walaupun awalnya kebingungan, kami pun sukses membeli mantel yang diidam-idamkan. Perjuangan mencari mantel ini juga tak bisa dipandang remeh, Readers. Harga pakaian Korea ternyata tidak semurah buatan Hong Kong karena kualitasnya yang lebih baik. Kisaran harganya malah sama dengan toko-toko elite Grand Indonesia. Nah, disini lah keandalan Mama dalam tawar-menawar kembali terbukti. Dari harga awal 120,000 KRW (1,38 juta IDR!), Mama berhasil menawar hingga setengahnya. Keren banget, kan, Mamaku? #bangga

Oh ya, Readers, ada banyak kejadian lucu lho selama Seoul Trip. Salah satunya terjadi di toko ini. Pandangan si Ibu Pedagang, dari awal hingga akhir proses belanja, tidak pernah lepas dari aku. Ini beneran, Readers, beliau juga tidak henti-hentinya memuji "You have good smile!" dan "Neomu yeppeo (cantik banget)" sambil memegang wajahku. Yaaaah, kalo boleh GR dikit sih... mungkin si Ibu udah bosan sama cantiknya orang Korea atau turis negara-negara Anglosfer yang 'gitu-gitu aja', jadi sekalinya bertemu aku yang peranakan Minahasa-Sangir-Portugis (?) ini beliau langsung jatuh hati. ASEK! Nggak bisa tah cowok Korea sejenis Yesung SUJU aja yang jatuh hati? :(

Pulang dengan wajah sumringah berhasil membeli mantel, kami singgah sebentar ke suatu taman dekat stasiun yang dialiri sungai Cheonggyecheon. Taman ini sangat teduh, nyaman, dan memiliki banyak lokasi strategis untuk pacaran. Keren ya pemerintah Seoul menyediakan public area seperti ini... di Jakarta, paling lumayan juga Taman Suropati atau Taman Menteng. Hiks.





Day 2. Selasa, 5 Mei 2016
Hari kedua ini akan penuh jalan-jalan! Menurut itinerary, kami akan berkelana di sekitar Gapyeong: Pulau Nami, Petite France, dan The Garden of Morning Calm. Pada akhirnya sih, destinasi terakhir tadi tidak sempat kami kunjungi. Toh memang tidak semenarik dua tempat lainnya.


Ternyata dari Hongdae St. ke Gapyeong St. butuh waktu hingga hampir 2 jam! Kami baru mendarat di Gapyeong Wharf pada pukul 11:30 atau ngaret 3,5 jam dari jadwal. Selain ferry, pengunjung juga dapat mencoba zip wire seharga 38,000 KRW (437,000 IDR) untuk sensasi duduk bergelantungan 80 meter selama... 1,5 menit! Sayang banget ah duitnya kalo hanya 1 menit 30 detik...

Welcome to Nami Island!

Pulau Nami sukses mencuri hati kami pada detik pertama melangkah di antara pepohonan Metasequoia-nya. Aku akhirnya mengetahui tipe wisata apa yang disukai Mama: yang penuh pemandangan! Kecintaannya pada bunga dan tanaman memang sudah tercermin dari banyaknya tanaman pot di rumah kami. Jadi, membawa Mama ke Pulau Nami yang serupa kebun/taman raksasa subur ini merupakan keputusan yang sangat tepat. Ah ya, Mama juga menyukai atraksi menarik dan unik seperti Guard Changing Ceremony di Gyeongbokgung Palace dan Laser Show-nya Victoria Harbour, HK. 

Selanjutnya, mari kita biarkan foto-fotonya yang lebih banyak bercerita ya... :)




Sejak kapan Mama jadi andal jeprat-jepret gini ya? :)










Di Pulau Nami juga terjadi pengalaman lucu, Readers! Saat aku sibuk memotret Mama yang sedang melihat-lihat Pameran Fotografi Nami Island, ada seorang Mbak-mbak (mari sebut dia "Noona") yang awalnya asyik selfie malah jadi memperhatikan kami. Mungkin Noona ini menunggu kami beranjak agar dia bisa gantian berfoto, begitu pikirku. Tiba-tiba, si Noona cantik malah menghampiriku dan memberi isyarat mengajak foto bareng! Astaga. Detik itu aku serasa menjadi Zooey Deschanel atau Nadine Chandrawinata yang tengah melayani permintaan selfie dari penggemarnya. HAHAHA. Mungkin karena tidak ingin mengesampingkan Mama, Noona kemudian meminta temannya memotret kami bertiga. Aku hanya bisa tersenyum manis menghadapi momen aneh ini. Tidak hanya berhenti di situ, Noona juga meminta nomor ponselku. Wah. apa ini pertanda aku harus segera mendirikan Erlinel Fans Club sepulangnya nge-trip?

Tujuan utama di Pulau Nami: Winter Sonata First Kiss Statue!

Ngaret saat ke Pulau Nami akhirnya berdampak juga ke jadwal selanjutnya. Kami selesai keliling Nami pukul 14.30, tapi kemudian menunggu shuttle bus hingga 2 jam lebih. Pokoknya kisruh banget deh saat mengantri shuttle bus. Antrian sudah mengular tapi si shuttle tak kunjung datang. Ketika akhirnya tiba di bus stop, banyak orang yang bertindak curang dengan menyalip antrian. Semoga kita tidak termasuk dalam kaum yang masih bermental barbar seperti itu ya, readers. :)


Petite France adalah sejenis komplek bangunan French-style warna-warni di atas bukit yang menjadi terkenal sejak muncul di drama Korea "Secret Garden" dan "My Love from the Star". Ah iya... variety show "Running Man" juga! Sebenarnya lokasi ini sangat cantik, atau istilah kekiniannya: "instagrammable" Tapi sayang, ramainya pengunjung membuat kita sulit mengambil gambar yang sesuai keinginan hati. Too crowded. Tempat wisata pasti akan berkurang daya tariknya kalo udah terlalu ramai.


Drama masih belum berakhir! Ada satu hal yang miss dari penyusunan itinerary, kami lupa mencantumkan bahwa shuttle bus terakhir beroperasi pada jam 5 sore, sedangkan kami beranjak dari Petite France pada jam 6 malam. Tidak ada opsi selain taksi, yang entah kenapa saat itu sulit didapat, atau jalan kaki. Atau hitchhike. Atau menginap di hotel untuk satu malam dan pulang ke Gapyeong pagi harinya. Pengunjung lain yang menunggu di halte mulai sibuk memesan by phone. Setiap kali ada taksi muncul dari kejauhan, kami semua langsung mencari tahu apakah itu taksi yang dipesan atau bukan. Jika bukan, kami tentu siap saling rebut demi bisa pulang dari Petite France ini.


Aku, yang tentunya tidak bisa order by phone karena tidak punya nomor lokal Korea, hanya bisa mengharap mujizat. Hingga pada suatu momen, kami memberanikan diri menyapa tiga remaja cewek asli Korea yang baru selesai memesan taksi. Puji Tuhan sekali, mereka dengan sangat ramah mengiyakan untuk memesankan kami taksi. Sambil menunggu, mereka mengajak kami mengobrol banyak hal. Salah satunya bahkan bisa mengucapkan "Selamat malam", hasil belajar dari teman Indonesia-nya semasa kuliah. Orang-orang Korea yang kami temui semuanya sangat ramah dan helpful. Meski memiliki nada bicara tinggi/keras, bukan berarti mereka sedang marah-marah kok. Mungkin mereka memang punya hubungan darah dengan saudara suku Batak kita yang juga punya pita suara dengan nada dasar satu oktaf lebih tinggi dari manusia pada umumnya ^^

Saat taksi pesanan mereka akhirnya datang, dengan begitu baik hati mereka justru mempersilakan kami untuk duluan naik. Luar biasa ya cara Tuhan bekerja, dipakai-Nya orang lain di sekitar kita untuk menolong di saat-saat terjepit seperti ini. Sayang sekali tidak sempat berfoto bareng, may God always bless you, yeodongsaeng (adik-adik perempuan kami)! Lega sekali akhirnya bisa pulang meski harus bayar taksi 37.600 KRW (432.400 IDR) menuju Gapyeong St. :')

0 testimonial:

Post a Comment