December 31, 2012

Satu Hari Keliling Indonesia (Mini)

Kemarin aku dan Bang Adi sudah menjelajahi 10 buah museum yang ada di sekitar Jakarta (read more on here). Masih belum puas belajar sejarah, nih, ceritanyaa... jadi perjalanan Tour de Museum berlanjut ke: Taman Mini Indonesia Indah! Aku yakin, orang Indonesia pasti sudah banyak yang tahu TMII, bahkan sejak masih kecil sudah mendengar kata "TMII" disebut-sebut. Aku juga! Tapi cita-cita mengunjungi TMII baru kesampaian setelah 19 tahun 2 bulan hidup di dunia ini :')

Keliling TMII ini kami lakukan di hari Minggu, 30 Desember 2012. Kalau keliling museum di Jakarta kemarin menggunakan sepeda motor (thanks to Bang Adi yang udah mau membonceng saya yang ringan ini :p), kali ini kami cukup naik busway dan angkot untuk menuju ke/pulang dari TMII. Kami berangkat dari Halte Bendungan Hilir pukul 07.35 WIB.

Museum Purna Bhakti Pertiwi

Setelah sarapan dulu di luar gerbang masuk TMII, aku dan Bang Adi mengunjungi Museum Purna Bhakti Pertiwi sebagai 'pemberhentian' pertama. Museum yang terletak di luar wilayah TMII ini tidak masuk dalam daftar 15 museum di TMII oleh Wikipedia. HTM museum sebesar Rp2.000,- untuk orang dewasa dan dipungut biaya lagi jika pengunjung hendak membawa masuk kamera untuk memotret benda-benda koleksinya.


Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) didirikan olehYayasan Purna Bhakti Pertiwi atas prakarsa Ibu Tien Soeharto. Museum yang berada di Jl. Taman Mini I, Jakarta 13560 berisi koleksi benda-benda dan cennderamata yang bersangkut-paut dengan perjalanan pengabdian Presiden Republik Indonesia Ke-2, HM Soeharto.

Replika Peraduan Putri Cina. Replika ini terbuat dari batu giok-jadeite berwarna hijau dan berasal dari Provinsi Yunan, Cina. Konon replika dengan ukuran P 2,77m, L 2,14m, dan T 3,04m itu meniru peraduan putri Cina pada masa Dinasti Sung (960-1279) dan Dinasti Ming (1384-1644).
Museum Purna Bhakti merupakan wahana pelestarian benda-banda bersejarah tentang perjuangan dan pengabdian Bpk. Soeharto dan Ibu Tien Soeharto kepada bangsa Indonesia. Pengabdian dan perjuangan beliau sejak masa perang kemerdekaan hingga masa pembagunan.

Sebagai obyek wisata edukasi yang bermatra sejarah, museum ini juga menyimpan benda-benda seni bermutu tinggi, yang diperoleh Bapak Soeharto dan Ibu Tien Soeharto dari berbagai kalangan, baik rekan maupun sahabat sebagai cenderamata. MPBP memiliki koleksi kurang lebih 13.000 -an, koleksi tersebut memiliki hubungan dengan peran sejarah pengabdian Bapak Presiden Soeharto.

"LANGLANG BUANA" karya I Wayan Asin dari akar pohon karet.
Akar pohon karet berumur +- 100 tahun ini didapat dari halaman kediaman keluarga Jonathan Parapak, Jl. Tanjung No. 1, Menteng, Jakarta. Ukirannya menceritakan "Nawa Sanga" atau Sembilan Dewa yan menguasai 9 arah mata angin yang disebut "Langlang Buan" atau "Pengider-ider Bumi".
Brahma - Selatan; Wisnu - Utara; Siwa - Tengah; Iswara - Timur; Mahadewa - Barat; Sambhu - Timur Laut; Maheswara - Tenggara; Rudra - Barat Daya; dan Sangkara - Barat Laut.
Menurut kepercayaan Hindu, dapat digunakan untuk meramal nasib seseorang dilihat dari penanggalan kelahiran.

Salah satu koleksi di Lantai 2 MPBP

Puas menjelajahi MPBP yang sangat luas dan kaya koleksi itu, kami pun masuk ke dalam TMII dengan membayar Rp9.000,- per orang. Museum kedua yang kumasuki adalah Museum Indonesia yang bangunannya memiliki arsitektur khas Bali. Cantik sekali!


Museum Indonesia adalah jenis museum antropologi dan etnologi. Museum ini berkonsentrasi pada seni dan budaya berbagai suku bangsa yang menghuni Nusantara dan membentuk negara kesatuan Republik Indonesia. Museum ini bergaya arsitektur Bali dan dihiasi beraneka ukiran dan patung Bali yang sangat halus dan indah. Museum ini menyimpan koleksi beraneka seni, kerajinan, pakaian tradisional dan kontemporer dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu koleksi Museum Indonesia yang menampilkan pakaian adat dari salah satu daerah di Indonesia
Bangunan utama museum terdiri atas tiga lantai yang berdasarkan pada falsafah Bali Tri Hita Karana, konsep moral yang menekankan pada tiga aspek yang dapat membawa manusia kepada kebahagiaan sejati yakni; memelihara hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam dan lingkungan sekitar.

Berfoto dengan salah satu patung Bali. Ornamen seperti ini ada di setiap sudut gedung Museum Indonesia
Museum ketiga adalah Museum Penerangan, sebuah museum yang mengumpulkan, mempelajari, menggelar, dan merawat objek sejarah penerangan dan komunikasi sekaligus sebagai media komunikasi massa keenam setelah tatap muka, radio, TV, film, dan pers. Rancang-bangun Museum Penerangan berbentuk bintang bersudut lima yang melambangkan Pancasila dan lima unsur penerangan.

Di halaman depan terdapat tugu yang menyangga lambang penerangan "Api Nan Tak Kunjung Padam" dikelilingi oleh lima patung juru penerang serta air mancur, pertemuan air dari atas tugu dengan air yang memancar dari bawah, melambangkan hubungan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, dan media massa. Bangunan terdiri atas tiga lantai berbentuk silinder, mencitrakan kentongan sebagai unsur penerangan tradisional, menyangga menara antena sebagai unsur modern.


Koleksi lantai satu berupa benda-benda yang mempunyai nilai sejarah informasi dan komunikasi dari film, radio, televisi, media tatap muka, termasuk wayang suluh, serta perkembangan media pers dan grafika berikut 17 patung setengah badan tokoh informasi dan komunikasi.

Koleksi berbagai mesin yang digunakan untuk mencetak koran tempo dulu
Salah satu kamera milik studio TVRI yang telah dimuseumkan
Gramofon antik, alat pemutar piringan hitam
Keluar dari Museum Penerangan, kami jalan-jalan dari satu anjungan ke anjungan yang lain di kompleks TMII ini. Anjungan-anjungan yang berada disini berbentuk rumah adat yang dimiliki setiap provinsi di NKRI. Bukan hanya per provinsi, ada juga rumah adat yang berbeda dimiliki suku-suku dalam satu provinsi; sebut saja suku Batak Toba dan suku Batak Karo yang berbeda bentuk rumah adat. Hampir seluruh anjungan yang ada di TMII kami lewati, dan sebagian besarnya kami masuki untuk melihat koleksi di dalamnya. Koleksi yang paling umum ada di dalam anjungan adalah diorama pelaminan lengkap dengan pengantin berbaju adat diiringi tim pemain musiknya. Aku takjub melihat alat musik gondang lengkap asal Batak, pasti seru kalau tiba-tiba ada yang memainkan jadi para pengunjung bisa manortor dadakan :D
Berikut ini adalah beberapa anjungan yang sempat terekam kamera Bang Adi.

Anjungan Riau
Anjungan Provinsi Riau di TMII menampilkan empat buah bangunan adat, yakni balai selasar jatuh tunggal, rumah Melayu atap limas, rumah Melayu atap kajang, dan rumah Melayu atap lontik. Semua bangunan adat diberi hiasan, terutama ukiran. Semakin banyak ukiran pada suatu rumah maka semakin tinggi pula status sosial pemiliknya.

Anjungan Sumatera Barat
Anjungan Sumatera Barat menampilkan lima bangunan adat secara lengkap: Rumah Gadang, Balairung, Rangkiang dan Surau, keempatnya merupakan rumah adat Minangkabau; serta rumah adat Mentawai.

Rumah gadang di anjungan ini difungsikan sebagai ruang peragaan dan pameran. Benda-benda yang dipamerkan berupa pelaminan, alat pertanian, alat musik tradisional, pakaian adat tiap kabupaten yang disajikan dengan peraga manekin. Kolong rumah digunakan untuk penjualan berbagai cinderamata hasil kerajinan tangan. Semua bangunan adat memiliki hiasan aneka ragam ukir: ukiran datar, pahat, tembus, dan ukiran bakar; kebayakan motif tumbuhan, bunga, dan satwa dengan warna dominan merah, kuning, hitam, dan biru.


Melewati Anjungan D.I. Aceh kita akan menemukan sebuah pesawat. Pesawat terbang jenis “Dakota” dengan nomor R.I 001 “SEULAWAH” ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih rakyat Aceh ketika terjadi perang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain museum dan anjungan provinsi, ada juga berbagai unit flora dan fauna yang bertebaran di TMII, salah satunya adalah Taman Apotik Hidup. Taman ini secara resmi dibuka untuk umum pada tanggal 20 april 1984. Taman ini memiliki koleksi sekitar 400 jenis tanaman obat asli indonesia. Jumlah tersebut dibagi berdasarkan tiga kategori. Pertama tanaman langka seperti kayu rapet (parameria barbata schum) dan kedawung (parkia biglobosa auct); kedua tanaman yang baru ditemukan dan masih diteliti khasiatnya, misalnya telosom (talinum paniculatum); dan ketiga, tanaman yang sudah dibudidayakan menjadi tanaman obat keluarga (Toga), misalnya kunyit, jahe dan kumis kucing. sementara di laboratorium, tersedia beragam contoh hasil tanaman obat yang telah diawetkan (simplisa).



Anjungan Kalimantan Timur
Unit flora dan fauna TMII yang kami kunjungi selanjutnya adalah Taman MelatiSemula taman ini merupakan kebun pembibitan aneka bunga. Atas prakarsa Ibu Tien Soeharto, bersamaan dengan penetapan melati sebagai bunga nasional (puspa bangsa) pada tahun 1994, kebun pembibitan tersebut menjadi Taman Melati. Taman dengan luas lahan 2.226 m2 ini mengoleksi dan membudidayakan aneka macam melati (jasminum sambac) dan beberapa tanaman hias lainnya.

source: el92.riyandi.org
Taman Melati merupakan taman yang representatif, lingkungan yang indah dan bersih, dilengkapi dengan sarana pendukung, sehingga menjadi tempat yang nyaman dan ideal untuk berbagai kegiatan sekolah, instansi, atau rombongan umum. Beberapa sarana yang tersedia antara lain ruang terbuka hijau berikut bangku taman, bangunan gedung berukuran 20 x 8 meter, tempat pesta kebun dan pertemuan, aneka jenis tanaman melati dan tanaman hias, kolam air mancur dengan patung Dewi Melati, serta pembibitan dan bursa tanaman. Tapi dasar aku dan Bang Adi adalah orang yang kurang paham tentang bunga-bungaan, kami sempat terbingung-bingung mencari tahu yang mana bunga melati itu. Waduh!

Beranjak dari taman yang hijau dan sejuk, kami kembali masuk ke gedung 'pertunjukkan'. Kali ini adalah Pusat Peragaan IPTEK. Di dalam bangunan seluas 24.000 m² di atas lahan 42.300 m², disajikan berbagai peragaan tentang apa, mengapa, dan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Peragaan di PP IPTEK dibuat sangat menyenangkan dan menghibur. Momok mengenai ilmu pengatahuan dan teknologi yang serius dan membosankan terbantahkan. Pengunjung dapat mengembangkan motivasi dalam memahami prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mudah dan berkesan melalui 250 alat peraga yang bisa disentuh, dipegang, dan dimainkan.

source: teknologi.inilah.com
Sayangnya kami tidak sempat mendokumentasikan koleksi di Taman Melati maupun Pusat Peragaan IPTEK. Mungkin karena saking asyiknya melihat-lihat benda koleksinya yaaaa :')

Selanjutnya, tempat asalku: Sulawesi Utara! Anjungan Sulawesi Utara menampilkan dua buah rumah adat: rumah pewaris (wale wangko) mewakili suku Minahasa dan rumah adat Bolaang Mongondow, dilengkapi dengan berbagai patung, seperti tokoh pejuang Bogani, penari cakalele, siow walian, patung anra, babirusa, dan burung maleo di halaman anjungan. Keadaan alamnya digambarkan melalui tiruan Gunung Kalabat, Danau Tondano, dan Danau Moat. Pintu gerbang anjungan berhias burung manguni dan ular hitam di kedua tiangnya. Ukiran ular melambangkan kewaspadaan, sedang burung manguni dianggap hewan yang dapat memberi isyarat atau tanda melalui bunyinya pada malam hari. Keduanya dikeramatkan serta dianggap sebagai pemberi isyarat dari dunia atas dan dunia bawah.

Di anjungan ini kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kebetulan di anjungan Sulut terdapat kios yang menjual cemilan khas Sulawesi Utara. Kami pun tanpa berlama-lama segera menghabiskan sepiring pisang goreng panas komplit dengan sambal dabu-dabunya, serta dua mangkok es kacang merah (es brenebon) khas Manado. Maknyoss...!!
Anjungan Sulawesi Utara
Setelah kenyang mengisi perut dengan sajian khas Sulut, perjalanan berlanjut untuk mengunjungi Museum Perangko. Museum ini dibangun dengan tujuan untuk menyelenggarakan pameran perangko secara tetap dan memperkenalkan tentang sejarah PT. Pos Indonesia (persero). Di halaman depan terdapat bola dunia dengan burung merpati membawa surat di paruhnya, lambang tugas PT Pos Indonesia telah menjangkau seluruh dunia.




Museum ini memamerkan koleksi aneka prangko asal Indonesia dan luar negeri. Pameran-pameran dibagi kedalam enam ruang penyajian. Pameran dalam ruang penyajian I menyajikan berbagai materi, misalnya foto-foto perangko pertama di dunia yang dikenal dengan sebutan Penny Black, Kantor Pos pertama di Batavia, dan lain-lain. Pameran dalam ruang penyajian II menyajikan materi berupa patung seorang perancang perangko, dan lain-lain. Pada ruang penyajian III disajikan sejumlah perangko yang terbit tahun 1864-1950 pada masa pemerintahan Belanda, Jepang, dan perang kemerdekaan. Ruang penyajian IV menyajikan perangko dan souvenir sheet 'carik kenangan' yang diterbitkan sejak tahun 1950. Ruang penyajian V menyajikan perangko bertema sosial, pariwisata, taru dan satwa, lingkungan hidup, dan kemanusiaan. Ruang penyajian VI menyajikan perangko tematik, khususnya kepramukaan dan olahraga.


'Berkenalan' dengan Pak Pos yang ada di museum ;)
Dari Museum Prangko, kami singgah ke anjungan daerah asalnya Bang Adi: Anjungan Sulawesi Selatan. Disini kita bisa melihat rumah adat Bugis, Makasar, dan rumah tradisional Toraja tongkonan yang dilengkapi dengan tiga buah lumbung padi serta model perahu pinisi.

Anjungan Sulawesi Selatan
Tongkonan merupakan bangunan panggung persegi panjang yang terkenal dengan atapnya berbentuk perahu layar atau tanduk kerbau. Lantai (tallung lonta) bertingkat: bagian utara dan selatan lebih tinggi daripada bagian tengah. Tangga persegi empat terletak di samping kanan rumah atau di bawah lantai atau kolong rumah. Baik tongkonan maupun lumbung dindingnya diberi ragam hias berwarna merah, hitam, dan putih dengan pola satwa, tetumbuhan, dan benda-benda langit. 

Naik tedong yang ada di halaman anjungan SulSel
Di sebelah bangunan tongkonan dibuatkan tiruan bukit-bukit yang berlubang-lubang sebagai kubur atau tempat pemakaman suku Toraja, sedangkan di depannya bergayut sederet tanduk kerbau, yang aslinya menandakan bahwa pemilik rumah telah mengadakan upacara penguburan dengan mengadakan pengorbanan ratusan ekor kerbau.


Replika tebing pekuburan, meniru bentuk Tebing Lemo di Toraja
Museum keempat yang kami kunjungi adalah Museum Transportasi. Di museum ini aku puas berfoto-foto karena begitu banyak koleksi museum yang dipajang di posisi strategis sehingga pas untuk foto-foto. Belakangan aku tahu ternyata lokasi ini juga menjadi tempat latar berfoto Buku Angkatan-nya STANers 2013 kelas 3H Pajak. Brilliant idea, guys! :)

Museum ini merupakan lembaga milik Departemen Perhubungan Republik Indonesia dengan maksud mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta peranannya. Tujuannya memberikan informasi dan tambahan pengetahuan kepada para pengunjung mengenai transportasi dan sejarah perkembangan teknologi transportasi sekaligus sebagai tempat rekreasi yang edukatif.

Pesawat udara jenis DC-9 PK-GNT milik Garuda Indonesia yang pernah melayani penerbangan ke negara-negara Asean dan Australia
Pameran luar statis menampilkan berbagai jenis lokomotif generasi pertama Perusahaan Kereta Api Indonesia, termasuk rel kereta api dan terowongan, Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden Rl Pertama Soekarno-Hatta pada waktu Pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, bis yang pernah dioperasikan di Indonesia, serta pesawat udara jenis DC-9 PK-GNT milik Garuda Indonesia yang pernah melayani penerbangan ke negara-negara Asean dan Australia. Di samping itu terdapat sebuah rangkaian kereta api, terdiri atas lokomotif dan dua gerbong kayu, sebagai sarana hiburan bagi pengunjung.

Taksi di jaman dulu. Warnanya cantik!!! :*
"Oplet", salah satu jenis angkutan umum di Indonesia

Salah satu bis bertingkat yang pernah beroperasi di Indonesia
Sebenarnya masih banyak lagi museum yang bertebaran di TMII, sebut saja Museum AsmatMuseum Fauna Indonesia KomodoMuseum IstiqlalMuseum Keprajuritan IndonesiaMuseum Listrik dan Energi BaruMuseum Minyak dan Gas Bumi Graha Widya PatraMuseum PusakaMuseum SeranggaMuseum Telekomunikasi, dan Museum Timor Timur. Tapi karena sudah capek (maklum faktor usia :p) berkeliling TMII yang luasnya kurang lebih 150 hektar ini, kami pun memutuskan untuk mengakhiri petualangan di TMII. Oh ya, sebenarnya bisa saja menyewa sepeda atau sepeda motor dari kantor pengurus TMII agar tidak capek-capek jalan kaki, namun kurang praktis rasanya karena harus mencari parkir lagi apabila ingin mengunjungi anjungan-anjungan.



Menuju pintu keluar, kami melewati Gereja Sta. Catharina yang berdampingan dengan Masjid Pangeran Diponegoro dan Gereja Kristen Haleluya. Gereja dibangun tahun 1973 dan diresmikan tahun 1975 dengan luas bangunan 1.030 m2 di atas lahan seluas 2.860 m2. Bentuk bangunannya merupakan tiruan gereja katholik pertama di Indonesia, yaitu Gereja Santa Catharina di Surabaya. Gaya arsitekturnya dipegaruhi gaya Roma kuno, tetapi atapnya memiliki ciri khas bangunan tradisional Jawa; tidak memiliki hiasan dekoratif, hanya jendelanya terbuat dari kaca diffus bergambar salib. Garis-garis yang berkaitan dengan struktur atap mengesankan pengaruh Roma tersebut.

Selain rumah ibadah di atas, kami juga melewati Museum Olahraga memiliki bentuk bangunan yang sangat unik, yakni berbentuk bola menghadap ke arah Teater Keong Emas. Berdiri di atas tanah 1,5 hektar dengan luas bangunan 3.000 m2 , museum ini bertujuan memberikan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya olah raga bagi kesehatan badan. Tapi cukup berfoto saja, sudah tidak ada tenaga yang tersisa lagi untuk menjelajahi museum ini :')

August 01, 2012

Daerah asal RA Kartini: Jepara

29 Juli 2012 yang lalu merupakan pengalaman traveling bersama Mama untuk pertama kalinya :D Haha, kenapa kusebut "pertama kali"? Karena ini jalan-jalan perdana bagi kami untuk menikmati keindahan suatu daerah. Hmm, kurang adil sebenarnya kalau kusebut "jalan-jalan", karena pada dasarnya Mama ke Jawa Tengah untuk perjalanan dinas; melakukan penilaian akreditasi di rumah sakit daerah di Desa Kelet, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.

RSUD Kelet yang mendapat penghargaan untuk pelayanan maksimalnya, keren!
Singkat cerita, begitu tiba di Jepara, objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Bandengan. Pantai ini ada di desa Bandengan, kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pantai yang terletak di pesisir pantai utara Jawa, tidak begitu jauh dari ibukota Semarang. Sebutan nama Pantai Bandengan ini erat kaitannya dengan salah satu legenda asal usul kepulauan pulau karimunjawa, yand dalam legenda dikisahkan Amir Hasan putra Sunan Muria yang diperintahkan untuk pergi memperdalam dan sekaligus mengembangkan ilmu agama ke Kepulauan Karimunjawa. Ketika sampai di pantai ini, mereka menemukan banyak Ikan Bandeng sehingga wilayah itu dinamakan Desa Bandengan yang lantas pantainya biasa juga disebut sebagai Pantai Bandengan.

May 20, 2012

Monas Bukan Cuma "Monumen"!

Sudah berapa tahun aku menghirup udara Kota Jakarta? Kurang lebih 4 tahun. Apa yang pertama kali tercetus di kepalaku ketika mendengar kata "Jakarta"? Hmm, selain "macet", tentu saja "Monumen Nasional"! Apakah aku sudah pernah MENGINJAK Monumen Nasional? BELUM!

Bersama dengan kedua sahabatku di kelas 1G (SUGAR) Kebendaharaan Negara kampus STAN yaitu Fakhri Rizki Saputra dan Ni Ketut Ayuni, aku pun akhirnya sukses 'menginjak' sang Monumen pada 18 Mei 2012 yang lalu.

Nyatanya, Monumen Nasional bukan cuma "monumen" ataupun emas di puncaknya! Aku baru tahu lah -__-
Ada museum di lantai bawah Monas: "Museum Sejarah Nasional". Nah, berikut ini review dan kisah singkat sejarah Monumen Nasional kebanggaan Tanah Air kita :)


source http://amazingholidaytour.blogspot.com 

Sejarah Monumen Nasional

Untuk mengenang dan melestarikan kebesaran perjuangan bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi Kemerdekaan Rakyat Indonesia 17 Agustus 1945 dan untuk membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme bagi generasi sekarang dan generasi masa mendatang, maka dibangunlah suatu tugu peringatan yang kemudian dikenal sebagai Tugu Monumen Nasional (Monas).

Pembangunan Tugu Monumen Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 tanggal 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketuai oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional baru terwujud ketika Republik Indonesia genap berusia dua windu atas dasar gagasan Presiden Republik Indonesia Pertama Ir.Soekarno, dan pemancangan tiang pertama sebagai awal pembangunan Tugu Monumen Nasional dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1961. Rancang bangun Tugu Monumen Nasional dibuat oleh arsitek terkenal Indonesia yaitu Soedarsono dan penasehat konstruksi adalah Prof.Dr.Ir.Roosseno.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional dibiayai sebagian besar dari sumbangan masyarakat Indonesia secara gotong-royong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1972 berdasarkan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor Cb.11/1/57/72.


Ciri Khas Tugu Monumen Nasional

Arsitektur Tugu Monumen Nasional dan dimensinya penuh mengandung lambang khas budaya bangsa Indonesia. Bentuk tugu yang menjulang tinggi melambangkan lingga (alu/antan), sedangkan pelataran cawan melambangkan yoni (lumpang). Alu dan lumpang merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah pribumi Indonesia. 

Lingga dan yoni melambangkan positif dan negatif, seperti lelaki dan perempuan, siang dan malam, air dan api, langit dan bumi sebagai lambang dari alam yang abadi.

Di pelataran puncak tugu, api nan tak kunjung padam, melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang yang tidak akan pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan 17 meter dan tinggi ruang Museum Sejarah 8 meter, luas pelataran cawan yang berbentuk bujur sangkar berukuran 45 meter X 45 meter merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI 17-8-1945.


Bagian-bagian Utama Tugu Monumen Nasional

Ruang Museum Sejarah
Ruang Museum Sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional dengan ukuran luas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantai secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.

Berikut ini adalah hasil karya foto-foto benda-benda pameran Museum Sejarah Nasional:


















Ruang Kemerdekaan
Ruang Kemerdekaan berbentuk amfiteater yang terletak di dalam Cawan Tugu Monumen Nasional. Di dalamnya terdapat empat atribut kemerdekaan Republik Indonesia; Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan Pintu Gapura yang berisi Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (Note: Bendera Sang Saka Merah Putih disimpan di Istana Merdeka, yaitu istana yang menghadap Monas)


source: http://amazingholidaytour.blogspot.com 

Keluar dari Museum Sejarah, aku, Fakhri dan Ayuni segera bersiap menaiki lift yang akan mengantar kami ke pelataran puncak Monas. Meskipun saat itu weekday (Jumat), namun antriannya luar biasa panjang! Hmm...







Pelataran Puncak

Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan elevator tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran Puncak yang luasnya 11x11 meter persegi, dan dapat menampung sebanyak 50 orang. Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmat pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator di dalam badan Tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.



Berikut ini hasil karya foto-foto diambil dari Pelataran Puncak Monas. Sayang cuaca sedang mendung sehingga langitnya tidak begitu indah :(
























Cukup bayar Rp1.000,- untuk mencoba teropong ini :) 


Lidah Api Kemerdekaan

Lidah Api di Pelataran Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan Lidah Api berlapis emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari halaman Tugu Monumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.



Konon lidah api Monas memiliki bentuk seperti badan seorang perempuan lho :) 


Nah, sudah puas menikmati Kota Jakarta dari ketinggian 115 meter, kami turun ke cawan Monas. Sambil menunggu hujan reda, kami ngegembel dulu sambil ngemil telur rebus dan kacang yang dijajakan pedagang-pedagang di sekitar cawan.




Readers, gimana? Sudah pernah ke Monas dan Museum Sejarah Nasional belum? :D


*
Alamat:
MONUMEN NASIONAL (MONAS)
Jalan Silang Monas
Jakarta
Telp. 021-344 7733, 351 4333, 384 2777
Fax. 021-344 7733

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.30-17.00
Libur buka

Tiket:
Dewasa Rp 2.500,00 (Pelataran Cawan), Rp 7.500,00 (Pelataran Puncak)
Mahasiswa/Anak-anak Rp 1.000,00 (Pelataran Cawan), Rp 3.500,00 (Pelataran Puncak)

Source: http://www.museumindonesia.com/museum/25/1/Museum_Sejarah_Nasional_Jakarta