September 27, 2013

East Java Trip: Malang (Day 1)

East Java Trip: September 18, 2013

Perjalanan ke Malang dimulai dengan berangkat dari Stasiun Kediri pukul 07.55 naik KA Penataran tujuan Surabaya lewat Malang. Harga tiket cuma Rp5.000,-! Surga! Kapan di Sulawesi dibangun jaringan kereta api ya? :3

Sepanjang perjalanan, aku menikmati pemandangan hijau yang luar biasa di tanah Jawa Timur ini. Pemandangan sawah yang menenangkan hati, apalagi melihat padi yang sudah menguning siap dituai, aku memikirkan betapa nikmatnya karunia Tuhan yang diberikan untuk Indonesia ini. Indonesia is a very blessed country!


Melintasi Sungai Blitar yang tenang namun tetap memesona
Selain sawah, ladang, dan sungainya, aku juga menikmati 'pemandangan' di setiap stasiun: Pemimpin Perjalanan Kereta Api alias Train Dispatcher. Melihat pria berseragam rapi yang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sigap merupakan pemandangan indah bagiku :) Selamat bertugas, para Train Dispatchers! I admire you guys, so much!


Tibalah kami di Stasiun Malang pukul 12.00. FYI, Stasiun Malang berada di ketinggian 444 km DPL, hawa yang jauh lebih dingin dari Kediri pun siap menyergapku di malam hari nanti. Wadaw!

Kami segera mencari angkot AL (rute Arjosari-Landungsari) untuk menuju kampus temannya Lely yaitu Universitas Brawijaya. Di kosan Shabrina-lah nantinya kami akan bernaung selama 2 malam di kota Malang. Sama seperti kosanku di Bintaro ini, kos-kosan mahasiswa UNIBRAW juga mayoritas terletak di belakang kampus, tepatnya daerah Kelurahan Ketawanggede.


Hari pertama di Malang, sesuai itinerary yang telah dibuat dari Bintaro, kami bertiga akan night hang-out di Kota Batu. Pukul 17.00 kami tiba di Batu Night Spectacular (BNS) dengan mengendarai 2 motor. BNS adalah sebuah tempat wisata di Batu yang buka mulai pukul 15.00-24.00 WIB. BNS berada di desa Oro-Oro Ombo dan menyajikan berbagai wahana menarik mulai dari sepeda udara tertinggi, merry-go-round, drag race, go cart track, rumah hantu, hingga taman lampionnya yang terkenal itu. Tiket masuk seharga Rp15.000,- memang belum termasuk harga tiket untuk mengendarai/memasuki wahana-wahana di dalam BNS, tapi cukuplah bagi pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana BNS tanpa bermain wahana.


Ini dia, salah satu wahana paling memukau bagi saya! Saya, yang seorang beginner photographer, berkali-kali mengabadikannya. Sayang sekali, Kursi Terbang (yang mirip Ontang-Anting-nya Duffan) tidak beroperasi saat itu karena belum ada pengunjung yang menaikinya. Jadinya saya cukup puas memotret wahana dalam keadaan diam.


Memasuki Taman Lampion, kita dikenai biaya retribusi lagi sebesar Rp15.000,- per orang. Harga yang normal untuk menikmati begitu banyak lampion indah di dalamnya! Taman Lampion sebaiknya dinikmati mulai pukul 18.00 yaitu ketika langit sudah gelap, agar cahaya lampunya bisa maksimal dan bagus ketika terekam kamera.


Lampion ini adalah salah satu favorit saya: Balon Udara!


Dan.... tentu saja, Menara Eiffel! Lampion Menara Eiffel bersebelahan dengan lampion Monumen Nasional (Monas), sayang sekali melihat pengunjung lebih antusias berfoto dengan monumen negara lain daripada monumen sendiri :( Saya saja harus mengantri 15 menit untuk bisa berpose dengan lampion ini karena ada jasa fotografer profesional langsung cetak yang sedang memotret pelanggan-pelanggannya di lampion ini.


Karena masih ingin jalan-jalan lagi di Batu, kami pun mengakhiri petualangan BNS di Taman Lampion. Sebelum keluar, aku sempat membeli berbagai jenis kripik untuk oleh-oleh buat seorang sahabat yang akan kukunjungi di kota selanjutnya. Harganya cukup variatif. Favoritku adalah kripik apel Malang yang gurih & lezat.


Tepat di depan BNS terletak Rumah Sosis yaitu rumah makan khas sosis yang merupakan cabang dari outlet Bandung. Aku, Shabrina, dan Lely segera menyerbunya karena perut kami mulai ribut minta diisi.


Hmmm... lihat betapa menggodanya sosis-sosis ini! Kami memesan Sosis Bakar Cheesy (Rp13.000,-), Sosis Bakar Chicken (Rp12.000,-), Sosis Bakar Black Pepper (Rp13.000,-), Hot Tea (Rp4.000,-), Hot Teh Tarik (Rp8.000,-) dan Hot Chocolate (Rp10.000,-) namun dengan porsi sekecil ini tentu saja kami merasa kurang kenyang :(


Perjalanan berlanjut ke Alun-alun Kota Batu yang tidak begitu jauh dari kawasan wisata Desa Oro-Oro Ombo. Alun-alun ini menjadi sarana rekreasi bagi masyarakat sekitar karena tempatnya sangat cozy dan memiliki banyak spot menarik untuk kongkow-kongkow atau hunting foto.


Spot favorit saya, apalagi kalau bukan BIANGLALA! Sayang sekali, lampu yang dipasang di badan bianglala kurang ramai dan menarik, menurut saya, sehingga ketika difoto, yang nampak hanyalah warna putih dari rangka besi. Dari kejauhan tentu saja bianglala kurang menarik. Aku berharap nantinya akan dipasang lampu-lampu yang lebih meriah lagi menghiasi bianglala ini.


Dengan Rp3.000,- saja kita bisa menaiki bianglala ini dan menikmati indahnya kota Batu dari ketinggian 10 meter.


Icon-icon KWB sebagai kota pertanian juga bertebaran di Alun-alun. Apel hijau, strawberry, dan susu menjadi pemanis alun-alun ini. Tak lupa juga air mancur yang mengisyaratkan banyaknya sumber mata air di KWB. Ada juga spot menarik berupa titik-titik air mancur kecil yang menyemprotkan air setiap 5 detik, namun akan diam jika ada orang yang mendekati. Kreatif sekali! Selain sebagai tempat rekreasi dan bersantai keluarga, Alun-Alun KWB ini juga diharapkan bisa melatih masyarakat menjaga lingkungan. Dengan himbauan tidak membuang sampah sembarang dan tidak merokok di area Alun-Alun KWB (smoking area disediakan).

Aku berharap di Manado nantinya bisa diciptakan sebuah pusat kota berbentuk Alun-alun seperti Alun-alun KWB ini yang bersih, bebas asap rokok, memiliki bianglala, dan menghadirkan berbagai icon khas kota Manado sebagai salah satu bentuk promosi kepada wisatawan yang datang. 

Terima kasih kota Batu! I'll see you again!

NB. Suhu di Kota Batu cukup menyengat lho! Selalu siap sedia jaket/sweater. Kota Batu bagi Malang sama seperti Puncak bagi Bandung, brrrrr... dinginnya, nggak kuat!

2 comments:

  1. sepi amat BNS , hari apa kesana ? jadi kangen malang kan hadeuh

    ReplyDelete
  2. Hahaha iya sepi, Chan.. tanggal 18 September, berarti hari Rabu. Ayo kamu kapan ke Malang? Aku ikut dong mau nge-Bromo euy! :D

    ReplyDelete