March 19, 2017

Orangutan dan Sekonyer - TNTP Trip (Pt. 2)

Tiga hari di Tanjung Puting, ngapain aja tuh? Kalau di post sebelumnya "Klotok Bintang Lima" yang jadi highlight, untuk post kali ini aku akan menceritakan gimana rasanya mengarungi Sungai Sekonyer, kenapa sungai satu ini bisa masuk dalam novel ternama Dee Lestari bersanding dengan Machu Picchu, Himalaya, dan Stonehenge. Tentunya tak ketinggalan... pengalaman 'di-surprise-in' orangutan!

Orangutan, orang(kota), dan Sekonyer

March 17, 2017

Menjajal Klotok 'Bintang Lima' - TNTP Trip (Pt. 1)

Post ini menceritakan pengalaman seru mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah: berkenalan dengan sang guide kece, Mas Yusuf Hadi; menjajal hidup diatas klotok 'bintang lima'; mengarungi Sungai Sekonyer yang penuh keajaiban; dan yang paling utama... melihat orangutan langsung di habitatnya. Mari menjadi saksi kali pertamaku menginjak Pulau Kalimantan!

Selamat datang di Tanjung Puting

THE BEGINNING
Kayaknya aku memang berjodoh sama Mas Yusuf, deh. Kok bisa-bisanya secuil post beliau nongol di timeline-ku yang biasanya berisi video lucu anjing-kucing-panda, share berita ekonomi dan keuangan, status nyinyir (sisa-sisa) Pilkada DKI 2017, atau kisah petualang di luar negeri dari grup "Backpacker Dunia". Bahkan post Mas Yusuf itu ada di grup Facebook yang jaraaa~ng sekali aku buka.

Open Trip Taman Nasional Tanjung Puting 10-12 Maret 2017 ini sangat menarik perhatianku, si cewek irit nan mereki'. Bayangin guys, Mas Yusuf hanya nge-charge Rp1,7 juta per orang! Oemji... kalo diingat-ingat (dan di-google lagi) betapa ajakan open trip/tour dari penyedia jasa lain mengenakan harga Rp2 juta-an, Mas Yusuf ini bagai oase di tengah gurun pasir. Aku segera menghubungi beliau dan me-reserve satu kursi. Eh ternyata, sudah H-2 minggu begini peserta open trip baru satu orang bule Swedia yang belakangan mengundurkan diri karena pengen goes independent tanpa guide.

Mas Yusuf, the real MVP

March 04, 2017

Visa Jepang dan Travel Agent 'Perdana'

Selamaaa... darahku masih mengalir... selama itu pula aku milikmu akan menggunakan tenaga sendiri dalam hal traveling. *Buat yang nggak ngeh, itu di awal lirik lagu Om Ari Lasso - "Arti Cinta". Iya tau kok jayus :( Tentu dengan pengecualian tiket promo, hahaha (colek Bang Supriadi tersayang)

Visa Jepang yang terkenal cantik karena ada Sakura-nya
Source: blog.reservasi.com 

Namun akhirnya, mitos "bikin visa harus lewat agen!" mencipratiku juga. Bukan karena aku malas, bukan karena aku kelebihan uang -- seperti yang selalu di'canda'kan beberapa orang -- tapi memang karena tidak ada jalan lain. Mama dan aku wajib membuat visa Jepang karena kami pemegang paspor non elektronik. Emang rada-rada juga sih ini KemenkumHAM, launching si e-paspor persis sebulan setelah kami selesai memperpanjang paspor biasa. Mestikung sekali.

February 21, 2017

Sowan ke Museum Affandi, Sang Pelukis Tanpa Kuas

Jogja, di musim hujan, saat weekend... apa artinya? Bagiku, sih: no beaches, no temples, no popular tourism sites. Musim hujan memang saat yang tepat untuk bermeditasi, hibernasi, pensiun dini, you name it. Menenangkan diri sejenak dari segala penat menenteng backpack dan jalan kaki demi mengeksplor tempat liburan.

Tapi... Semua prinsip itu menguap pada saat hari kedua dinas di Jogja, aku justru merasa bosan mendekam di kamar hotel, menonton HBO dengan tayangan film yang itu lagi-itu lagi. View kamar saat itu menghadap swimming pool dan, dasar pelupa, aku lupa membawa baju renang favorit. Apa lagi yang bisa aku lakukan di hari kosong dinas di Jogja ini?

Jangan diliatin lama-lama, ntar serem sendiri...


Mbak Devi, rekan kerja (eh?) yang menemani dinas kemarin, tiba-tiba saja memberi ide, "Apa kita ke Museum Affandi?" Nah. Ini adalah keputusan yang kesekian, setelah diskusi-diskusi sebelumnya dimana kami sempat mempertimbangkan Candi Ratu Boko (batal karena tidak mungkin sunset terlihat saat mendung begini), Hutan Pinus Imogiri Bantul (jauh bro, ditambah aku masih ber-high heels-ria), dan Rumah Makan Raminten (weekend sore gini pasti rame puoll!)

Gayung bersambut banget nih, soalnya saat perjalanan dari bandara Adisucipto ke hotel satu hari yang lalu, aku melihat Museum Affandi di sisi kanan jalan dan seketika berkeinginan untuk mengunjungi. Masih "keinginan" lho. Ealah ternyata sehati sama Mbak Devi. Selain alasan 'eksternal' di paragraf yang diatas, apalagi Lin yang mendorong kalian untuk ke Museum Affandi?

November 19, 2016

Terpukau Ladyboy di Pattaya

Trip kali ini adalah satu bukti lagi betapa impulsif-nya jiwa traveler-ku. Hanya berkat informasi singkat "Erlin ada tiket promo nih ke Pattaya" dari sang suhu (Bang Adi.red), kuputuskan untuk kembali mengunjungi negeri indah Thailand, namun kali ini ke Pattaya, wilayah di selatan Bangkok yang terkenal dengan nightlife di tepi pantainya.




Bersama Mbak Ari Sulistyowati, officemate dan teman seperjalanan waktu Aceh Trip, aku mengumpulkan banyak kenangan manis dan foto-foto keceh (penting!) selama tiga hari di Pattaya: 4 s.d. 6 November 2016. Seberapa banyak pun komentar miring yang aku dengar/baca tentang kota ini, Pattaya sukses membuatku tersenyum gembira saat menelusuri setiap sudut tempat wisatanya. Pattaya memang bukan Bangkok dengan berbagai kuil dan candi indahnya, bukan juga Phuket dengan pemandangan pulau dan laut yang memikat, tapi Pattaya punya banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri.

First dinner: seafood. Mbak Ari sang culinary explorer kaget ternyata porsi makanan di dalam nanas ini banyak juga!

Jadi... kemana saja kami selama 3H2M di Pattaya?

October 30, 2016

Sampai Meurumpok Lom Singo - Aceh Trip (Pt. 2)

Minggu, 9 Oktober 2016
Untuk menuju Sabang dari Banda Aceh, kita bisa menggunakan baik kapal cepat ataupun kapal lambat yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, tentunya dengan jadwal dan tarif yang berbeda yah. Kami memutuskan naik ferry biasa seharga 80K/orang untuk keberangkatan jam 10 pagi. Halo Pulau Weh, pulau yang selalu terdengar namanya dalam pelajaran IPS/Geografi di bangku sekolah dulu. ^^

Lokasi ini ada di kawasan Casanemo, serasa pantai milik sendiri
Menurut kesaksian dari sang tour guide (Bang Josua.red), penginapan di Sabang pada dasarnya 'cuma' terbagi atas Casanemo dan Freddie's. Maksudnya... dua penginapan ini yang paling terkenal di penjuru Sabang, dan kalo kita pengen dinner ala-ala anak Instagram hits yah memang di dua tempat ini. Kami memilih Casanemo dengan pertimbangan desain resort-nya yang lebih apik: kamar-kamar berbentuk bungalow yang bertebaran di pesisir pantai dan tebing landai, saling berjauhan satu dengan lainnya. Freddie's sendiri bentuknya seperti penginapan standar: kamar bersebelah-sebelahan. Setelah drop barang-barang dan touch up sekadarnya, berangkatlah kami menjelajahi pulau eksotis ini.

Untuk makan siang, kami menepi ke RM Kencana yang jadi terkenal sejak dikunjungi Presiden Jokowi pada bulan Maret 2015 lalu. Mereka menyajikan banyak makanan khas Aceh dengan konsep resto prasmanan. Dijamin bingung dan galau deh melihat banyaknya sajian! Kalau soal minuman, wajib deh memesan es pepaya serut. Seger banget, cuy!

Bang Aldi mengajak kami ke Benteng Jepang yang terletak di daerah Pantai Anoi Itam. Mendengar kata "Benteng" pikiranku langsung melayang ke Fort Rotterdam Makassar. Ealah, ternyata "benteng" yang dimaksud hanya berwujud se-cungkup bungker dengan meriam kuno di dalamnya. Sisanya? Lapangan rumput dengan pohon kelapa dan pepohonan rindang lain, serta bebatuan karang di ujung tebing menghadap laut lepas layaknya pemandangan di Uluwatu.






Menuju bekas bunker Jepang ini bersiaplah untuk mendaki puluhan anak tangga yang, untungnya, tidak begitu melelahkan. Di puncaknya kita langsung tiba di cungkup bungker dan... mata seketika bertemu dengan laut lepas! KYAAA. Indahnya tak terkatakan. Meski matahari lagi terik-teriknya, langkah kaki kami langsung terarah ke tebing-tebing curam dan bebatuan koral di sekitarnya. Mari puaskan hasrat foto-foto! Tidak perlu khawatir jika lelah, di sini juga banyak pohon rindang untuk berteduh, bahkan ada warung sederhana dengan bangku-bangku kayu untuk kita duduk menikmati segelas kopi Gayo atau semangkuk indomie hangat. SEDAPPP.






Berjam-jam kami habiskan di Benteng Jepang sebelum akhirnya pindah ke lokasi sunset-an. Taman Rekreasi Sabang Fair adalah tempat yang pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Taman yang menghadap lautan Selat Melaka ini memiliki beberapa saung tempat kita bisa bersantai menunggu sunset. Sore ini, kami bertujuh duduk manis menanti sang surya tenggelam dengan ditemani rujak, bakso sejenis cilok, dan minuman dingin. Rujak di Sabang ini unik betul penampakannya: buah langsung ditaruh di atas saus + kacang. Bukan "saus kacang" ya, soalnya kacangnya masih utuh belum diulek bersama sausnya. Rasa saus ini pun unik, yang jelas aku suka!


Saus kacangnya juara! | source Instagram @ayu_mayshita

Sudah setia menanti lama yang mengakibatkan rambut berkibar tak karuan, mata kelilipan kemasukan debu, dan badan yang nampaknya mulai masuk angin... eh sunset-nya ketutupan awan! Hahaha. Kocak.

Sunset behind us, food in front of us: Perfecto!

Kami menjajal rasa italian food di Casanemo, kayak gimana sih rasa makanan yang diawaki oleh bule Italia tulen? Eh, ternyata... hambar. Hahaha. Garam, saus, kecap, sambel... kami minta semua penambah rasa disediakan demi melawan kehambaran makanan yang, yah... cukup enak lah. Perut kenyang, hati senang~ mari kita istirahat.

Senin, 10 Oktober 2016
Berbagai rencana yang dibuat kemarin bersama Agung untuk sunrise walking di Casanemo bubar sudah. Penginapan Casanemo ini ternyata kurang nyaman bagi kami, menyebabkan jam 12 semalam kami masih grasak-grusuk berujung aku yang pindah ke kasur single. Kamarnya memang hanya menggunakan kipas angin alias tanpa AC. Tapi hawa panasnya tetap mengganggu tidurku, tak peduli ada dua kipas angin dalam kamar.

Pantai Sumur Tiga di kawasan Penginapan Casanemo

Lokasi pertama yang akan kami kunjungi hari ini adalah Goa Sarang. Jarak dari Casanemo yang cukup jauh (45 menit) membuat kami menyiapkan cemilan, agar perjalanan lebih ceria dan berwarna. Memasuki tempat wisata satu ini kita diharapkan membayar retribusi, aku lupa tepatnya berapa, tapi murah kok. Kami langsung disambut oleh pemandangan laut dari ketinggian yang dapat dinikmati dari semacam pelataran viewpoint yang difasilitasi tiga ayunan sederhana dan bangku-bangku kayu. Kami pun menggelar bungkusan sarapan di sini.


Penampakan dari entrance

Tiga ayunan dengan view luar biasa

Hepot-nya sesi pemotretan Kak Tya dan Bang Josua

Gua yang terletak di antara laut dan gunung ini sekarang cukup mudah untuk diakses, sejak pemerintah berinisiatif membangun tangga beton. Meski sudah difasilitasi, tetap saja kami tidak tertarik untuk jalan kaki ke pesisir pantai untuk melihat gua. Kami lebih memilih untuk menikmati keindahan pemandangan dari puncak bukit saja.


Jalan menuju ke gua yang sebenarnya

Sarapan sudah, foto-foto dengan background ala Honolulu pun sudah. Sekarang mari kita ke Monumen Nol Kilometer! Ini nih tempat hits yang tidak boleh dilewatkan jika ke Sabang. Sebenarnya ini adalah sebuah tugu, tapi saat kami kesana, sang tugu tengah direnovasi. Alhasil cuma bisa berfoto dengan tulisan oranye ini saja :') Penampilan juga kurang bisa 'cetar' disini karena banyaknya tukang/pekerja bangunan, menyebabkan banyak mata yang memandangi kami, cewek-cewek hits (termasuk Agung ya) yang doyan foto-foto.



Sebenarnya secara teknis, koordinat titik terbarat Indonesia berada di Pulau Rondo, namun karena pulau itu kosong dan sulit diakses, maka monumen penanda geografis ini dibangun di Pulau Weh dan diresmikan tahun 1997 oleh Wakil Presiden Try Sutrisno. Semoga renovasi cepat selesai yah, biar readers yang akan kesana bisa menaiki tugu yang punya pemandangan memukau dari puncaknya.

Bang Aldi mendengar informasi tentang adanya suatu kapal karam di dekat Pantai Iboih, lokasi penyeberangan ke Pulau Rubiah. Kami dibawa ke The Pade Dive Resort, tempat karamnya kapal besar yang berasal dari Thailand ini. Kapal Kargo MV Pataya III awalnya mengalami mati mesin dan terbawa arus hingga ke sini pada tanggal 11 Agustus yang lalu. Wuih. Puji Tuhan, ke-24 awak kapal selamat dan telah dipulangkan ke negeri asalnya.




Meet Bang Aldi, makhluk kece yang setia menemani kami keliling Pulau Weh

Destinasi terakhir dan paling ditunggu-tunggu: snorkeling di Pulau Rubiah! Pulau ini menjadi destinasi yang paling menguras kocek: sewa kapal, peralatan snorkel, tour guide, foto-foto bawah laut, dan makan siang di dermaga. It's okay lah, toh pemandangan bawah laut Pulau Rubiah memang indah dan mengesankan. Dari reviews yang kubaca di TripAdvisor, konon kita juga bisa bertemu lumba-lumba apabila snorkeling jam 9 pagi. 



Ternyata waktu kami justru habis untuk sesi foto underwater hahaha. Snorkeling sih, tapi kami jadi lebih fokus sama pemotretannya. Aku... as always tidak berbakat jadi model hahaha. Foto di atas air aja hasilnya standar, kok ya malah underwater hihihihi....



View bawah laut Pulau Rubiah memang indah, readers. Jenis ikannya beraneka ragam dan berwarna-warni. Sayang sekali airnya tidak begitu jernih sehingga mengurangi view clearance dan tentunya warna biru air laut. Di salah satu spot kami bahkan bertemu dengan baby 'Nemo', ituloh clownfish /ikan giru dengan garis-garis oranye-putih di tubuhnya. Tapi rumah si Nemo ini cukup jauh di kedalaman laut, Agung yang doyan menyelam bahkan tidak berhasil mendapat foto underwater yang kece bersama Nemo. Sepertinya sih ini pengaruh musim, snorkeling disini pasti akan lebih menarik di bulan-bulan Juli dan Agustus.



***

Geng Putri Tour full team!

Nah, readers... Selesailah sudah petualangan "Geng Putri Tour" di Pulau Weh. Terima kasih banyak, Bang Aldi, we are so blessed to have such a enthusiastic and amusing tour guide like you. Buat readers sekalian (khususnya sesama PNS Kemenkeu) bisa banget kok ngontak Bang Aldi jika ingin ditemani keliling di Sabang ;) Yang penting inget aja, doi udah taken hahaha... Makasih juga untuk Bang Josua selaku exclusive tour guide beserta Bang Alfian dan Edwin. You guys are da best!

Laporan birthday trip kali ini berakhir sampai sini ya. Terima kasih untuk kakak kesayangan se-dunia akhirat: Kak Putri, yang sukses meng-arrange semua rencana perjalanan (makanya kami namai: "Putri Tour"). Makasih juga buat Mbak Ari, Kak Tya, dan Agung yang sudah mewarnai cerita jalan-jalanku kali ini, semoga ada kali kedua yaaah.

Akhirnya ada foto bareng Kakak tersayang satu ini

Dan doa terakhirku: Semoga bisa balik ke Aceh lagi dan menunaikan rasa penasaran berfoto di Masjid Baiturrahman, amin. Makasih sudah mampir membaca, readers!
Sampai Meurumpok Lom Singo! (Sampai berjumpa kembali!)

October 17, 2016

Peu Haba? Haba Get! - Aceh Trip (Pt. 1)

Sebenarnya trip tercetus karena kerinduan Putri Marina Debora pada adik lelakinya yang, akibat tuntutan ikatan dinas instansi, berada jauh di ujung Indonesia sana. Dengan perencanaan matang selama beberapa bulan, berangkatlah kami bersama Agung Hari Nugroho, Mbak Ari Sulistyowati dan Kak Hedithya Novel menuju Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Abang Josua Herry Tamba beserta Bang Alfian dan Edwin, kawan-kawan senasibnya di perantauan, berbaik hati menjadi tour guide dalam menjelajahi keindahan provinsi paling barat ini.

Salah satu objek di Museum Prov. Aceh

Anyway... Jika hari ulang tahun 2014 kulewatkan di Semarang dan tahun 2015 di Belitung, kali ini Banda Aceh-lah yang menjadi tuan rumahku merayakan pergantian usia menjadi 23 tahun. Yeay! Happy birthday, myself!

Nah, untuk memudahkan readers memahami keindahan Provinsi DI Aceh, posting kali ini akan memuat tentang wisata di Banda Aceh saja. Post selanjutnya barulah membahas tentang Sabang dan sekitaran Pulau Weh yang memukau itu.

Sabtu, 8 Oktober 2016
Pu/Peu Haba? Haba Get! (Apa kabar? Kabar baik!)
Banda Aceh panas menyengat! Meskipun kalender sudah menunjukkan bulan Oktober, tapi hawa sama sekali tidak mendingin. Yeah, the sad fact of climate change. Hawa boleh aja panas membara, tapi langit ternyata tetap menunjukkan wajah kelabunya. Momok hujan menghantui trip kami apalagi mengingat betapa sering dan derasnya hujan membasahi ibukota.

July 31, 2016

Epilogue - Turkey Trip

Kenapa baru sekarang aku menyelesaikan epilog Turkey Trip ini? Karena belum bisa move on! Hiks... Kayaknya bakal sulit sih, kalau setiap kali bosan melanda, hal pertama yang kulakukan adalah mantengin galeri HP yang isinya foto Turki semua :(

Gimana bisa move on...

Mengakhiri cerita Turkey Trip tentunya sungguh tidak afdol jika aku tidak mengucapkan special thanks buat kedua teman perjalanan-ku. Traveling dengan makhluk-makhluk setengah 'siluman' ini rasanya... hmm, menyenangkan sekaligus menjengkelkan: Nano-Nano! Aku masih geli kalau inget-inget lagi betapa ribetnya Nanda dengan rutinitas catok rambutnya dalam rangka totalitas penampilan. Atau inget Aldo yang paling peka dan sensitif masalah "bau ketek" berapapun jauh jarak 'sumber'nya. Atau tentang persaingan jumlah likers di Instagram, yang selalu dimenangkan telak oleh Aldo. Bersama mereka, buang angin a.k.a kentut bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi (lirik Nanda), eits meskipun aku tetap saja disuruh keluar kalau ada yang mau ganti baju (lirik Aldo) :/


The annoying part? Nggak puas 'cuci mata'! Bukan cuci mata dalam artian window shopping, yah. Lelaki-lelaki Turki ini jauh lebih indah daripada tas Gucci ataupun sepatu Manolo Blahnik special edition ^^ Ananda dan Aldo pasti sudah muak mendengar aku menyerukan kalimat: "Ganteng kali abang ini!" setiap bertemu cowok lokal Turki. Hingga akhirnya... mereka balas dendam! Kalimat pengagumanku tadi itu kembali terucap saat melihat seorang waiter di suatu kios Turkish Pizza. "Hey, she said that you are cute!" Muka ini langsung merah padam setelah Ananda dengan teganya menerjemahkan ucapanku pada si waiter. -____- 

Thank you for spoiling me with happiness!

July 23, 2016

Istanbul - Turkey Trip

Have I told you that the capital of Turkey was once named "Constantinople"? Baca blog kok serasa belajar buku Sejarah ya? Hahaha maaaf, you can skip this but I'm telling you anyway... Konstantinopel didirikan Kaisar Romawi Konstantinus I di atas kota Bizantium, lalu diresmikan pada 11 Mei 330. Dalam sejarah kekristenan, kota ini juga penting karena merupakan pusat gereja di Romawi Timur (kota Roma untuk wilayah Barat) dan menjadi tempat lahirnya "Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel". Lahirnya 'syahadat' Kristen ini hasil dari dua konsili: Konsili Nicea tahun 325 yang menegaskan bahwa Anak adalah sehakikat dengan Bapa, serta Konsili Konstantinopel tahun 381 dengan mengakui Roh Kudus adalah Tuhan dan Allah yang setara dengan Bapa dan Anak. Akhirnya, setelah jatuh ke kekuasaan Utsmaniyah (Turkish lang.) alias Ottoman di tahun 1453, Konstantinopel pun berubah nama menjadi "Istanbul".


Di Masjid Sultanahmet (Blue Mosque), lebih lama selfie-nya daripada looking around

Jumat, 8 Juli 2016.
Pukul 08.40 pesawat mendarat dan setengah jam kemudian kami sudah berkutat di depan mesin penjual koin untuk naik subway. Dari Bandara Ataturk menuju hostel di daerah Fatih, kami cukup menggunakan subway ke stasiun Yenikapi, lalu jalan kaki 10-15 menit menelusuri gang-gang. Nah, mari kembali memasrahkan diri pada tuntunan 'kompas' bernama "Ananda" ;)

Turkey subway's interior, lebih luas standing area daripada seats

Di tengah perjalanan menuju hostel... ada sesuatu yang menegangkan terjadi! Jantung hampir dibuat berhenti berdetak karenanya...

July 18, 2016

Ephesus - Turkey Trip

The great theatre! Not as big as Stadion GBK sih, tapi tetap aja memukau...


Kamis, 7 Juli 2016.
Walau tak sedramatis cerita Kuala Lumpur, ekspedisi Kapadokya-Selçuk ini terasa begitu menyesakkan dada (atau "bokong"?). Bayangkan saja, Readers, bus malam kami berangkat dari Urgup-Kapadokya pada pukul 20.00 dan baru tiba di suatu terminal antah-berantah pada pukul 06.00 hari ini! Ketika akhirnya bus memasuki terminal, wajahku menjadi sumringah, semangat eksplorasi muncul ke permukaan... ealah, kami ternyata hanya transit! Selçuk masih 2 jam perjalanan lagi menggunakan dolmus. Aku, Aldo, dan Ananda hanya bisa menghibur diri sambil saling mengadukan kondisi tulang ekor yang naas. Tapi seorang Abang Bule yang kemudian kami sebut "Bujang" (Bule Jangkung.red) lebih kasihan lagi nasibnya. Jadwalnya yang padat mengharuskan Bang Bujang untuk mangkat dari Selçuk dan sudah harus di terminal lagi pada jam 1 siang. Artinya dia hanya punya 3-4 jam saja di Selçuk! Gileee... entah apa yang membuatnya menyusun itinerary begitu ketat. Bang Bujang bahkan sempat lepas kontrol dan beberapa kali berteriak emosi ketika Sopir Dolmus masih sempat-sempatnya menaikkan penumpang dari setiap halte. "Come on, are we going to Ephesus or not?! Step on it!" serunya kesal saat dolmus berjalan lambat. Untunglah si Supir hanya membalas dalam komat-kamit Turkish, kalau tidak mungkin sudah terjadi adu mulut.

"Kasian lho si Bujang, sempat nangis dia tadi habis marah-marah. Capek keknya hati Abang..." bisik Nanda. The perks of having native language which no one around you can understand. Seandainya Abang Bujang ini tipe lelaki idamanku, pasti sudah kuberikan pelukan 'puk-puk' penuh kehangatan :')

Selçuk -- selanjutnya akan kutulis "Selcuk" -- adalah pusat kota Provinsi İzmir yang mengalami perubahan nama dari "Ayasoluk" setelah diduduki oleh Dinasti Seljuk Turks pada sekitar abad ke-10. Selcuk merupakan kota persinggahan terbaik bagi traveler yang ingin mengunjungi kota kuno Efesus. Jadi jangan bingung ya ketika aku ganti-gantian menyebut Izmir, Selcuk, dan Efesus... sama aja kok destinasinya.