July 18, 2016

Ephesus - Turkey Trip

The great theatre! Not as big as Stadion GBK sih, tapi tetap aja memukau...


Kamis, 7 Juli 2016.
Walau tak sedramatis cerita Kuala Lumpur, ekspedisi Kapadokya-Selçuk ini terasa begitu menyesakkan dada (atau "bokong"?). Bayangkan saja, Readers, bus malam kami berangkat dari Urgup-Kapadokya pada pukul 20.00 dan baru tiba di suatu terminal antah-berantah pada pukul 06.00 hari ini! Ketika akhirnya bus memasuki terminal, wajahku menjadi sumringah, semangat eksplorasi muncul ke permukaan... ealah, kami ternyata hanya transit! Selçuk masih 2 jam perjalanan lagi menggunakan dolmus. Aku, Aldo, dan Ananda hanya bisa menghibur diri sambil saling mengadukan kondisi tulang ekor yang naas. Tapi seorang Abang Bule yang kemudian kami sebut "Bujang" (Bule Jangkung.red) lebih kasihan lagi nasibnya. Jadwalnya yang padat mengharuskan Bang Bujang untuk mangkat dari Selçuk dan sudah harus di terminal lagi pada jam 1 siang. Artinya dia hanya punya 3-4 jam saja di Selçuk! Gileee... entah apa yang membuatnya menyusun itinerary begitu ketat. Bang Bujang bahkan sempat lepas kontrol dan beberapa kali berteriak emosi ketika Sopir Dolmus masih sempat-sempatnya menaikkan penumpang dari setiap halte. "Come on, are we going to Ephesus or not?! Step on it!" serunya kesal saat dolmus berjalan lambat. Untunglah si Supir hanya membalas dalam komat-kamit Turkish, kalau tidak mungkin sudah terjadi adu mulut.

"Kasian lho si Bujang, sempat nangis dia tadi habis marah-marah. Capek keknya hati Abang..." bisik Nanda. The perks of having native language which no one around you can understand. Seandainya Abang Bujang ini tipe lelaki idamanku, pasti sudah kuberikan pelukan 'puk-puk' penuh kehangatan :')

Selçuk -- selanjutnya akan kutulis "Selcuk" -- adalah pusat kota Provinsi İzmir yang mengalami perubahan nama dari "Ayasoluk" setelah diduduki oleh Dinasti Seljuk Turks pada sekitar abad ke-10. Selcuk merupakan kota persinggahan terbaik bagi traveler yang ingin mengunjungi kota kuno Efesus. Jadi jangan bingung ya ketika aku ganti-gantian menyebut Izmir, Selcuk, dan Efesus... sama aja kok destinasinya.

July 16, 2016

Cappadocia - Turkey Trip

Senin, 4 Juli 2016
Cappadocia atau Kapadokya adalah nama suatu daerah yang pertama kali kuketahui dari ayat Alkitab Kisah Para Rasul 2:9. Saat itu, Kapadokya merupakan suatu provinsi di sebelah timur Asia Kecil. Pada periode awal Kristen terbentuk, para pengikut pertama Yesus dan rasul-rasul berdiam di Kapadokya untuk sembunyi dari prajurit Roma. Rasul Paulus yang baru terusir di Yerusalem sedang dalam pencarian tempat bersembunyi yang aman. Di Kapadokya-lah dia memulai koloni Kristen pertama bersama murid-muridnya. Wih~ aku jadi terlihat kayak ahli Alkitab ya, padahal cuma nyontek disini :p

Turki/Kapadokya akan menjadi trip pertamaku menggunakan Couchsurfing. Adalah Atilla Özcan, seorang warga Kapadokya asli, yang akan menjadi host-ku. Cerita lebih lanjut tentang Atilla akan kuceritakan di suatu posting tersendiri.

Sesuai perjanjian dengan Atilla, aku dijemput oleh shuttle di gerbang arrival Bandara Kayseri. Detik pertama keluar dari bandara badanku langsung menggigil. Ini di luar ekspektasi, karena 2 minggu sebelumnya Atilla menginformasikan bahwa suhu di Turki sekitar 32 derajat. Nampaknya Kapadokya merupakan pengecualian, termometer justru menunjukkan angka 24-26 derajat. Brrrrrr~

Shuttle yang bisa menampung 15 orang ini ternyata menunggu tamu dari berbagai penerbangan dengan waktu kedatangan berbeda. Aku dan seorang cewek Ekuador adalah penumpang pertamanya, which means kami harus menunggu 1-2 jam baru shuttle akan berangkat dari bandara. Duh. Waktu menunggunya sih bukan masalah berhubung aku dan cewek Ekuador ini punya banyak cerita traveling yang sepertinya tak ada ujungnya. Hanya saja... dinginnya itu lho! :(

Reunion!

July 14, 2016

Prologue - Turkey Trip

Erlin yakin mau ke Turki? Yakin?
Tidak sedikit kalimat bernada serupa yang hinggap di kuping, beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Turki. Sejak peristiwa teror mulai bermunculan di Turki, lebih tepatnya di Ankara, kekhawatiran (disertai hestek #prayforTurkey) mulai bergaung di sekitarku. Tanpa kenal lelah, aku tetap menjawab, "Yakin." :)

ERLIN WAZ HERE! ;)

Keinginan pergi ke Turki bukan semata karena khilaf melihat tiket promo. Eh, 75%-nya memang hasil dari pola pikir kompulsif sih, hahaha. Turki akan menjadi negara besar pertama bagiku (dibanding Korea, Hong Kong, atau negara ASEAN lain.) Aku tidak hanya mengincar Istanbul, sang ibukota, tapi juga tiga wilayah lain: Kapadokya, Pammukale, dan Efesus. Kapadokya yang menawarkan pengalaman naik balon udara dengan pemandangan menakjubkan; Pammukale yang terkenal dengan travertines berwarna putih-biru memesona; dan Efesus, salah satu pasal Alkitab, yang menyimpan banyak situs bersejarah. Lalu sang juru kunci: Istanbul, kota penuh daya pikat yang terbagi ke dua benua, Asia dan Eropa... ah, terlalu banyak alasan bagiku untuk tidak melewatkan Turki begitu saja.

Salah satu bangunan cantik nan megah di antara pertokoan kawasan Fatih, Istanbul

Apakah aku gentar melihat peristiwa pemboman Bandara Ataturk tanggal 29 Juni lalu? Ya, tentu saja. Aku ini manusia biasa yang mengenal rasa takut kok; seminggu sebelum berangkat kuputuskan untuk membeli travel insurance AIG, just because. Aku pun kembali memastikan itinerary bahwa kami tidak lama berlama-lama di Istanbul, 2 hari saja cukup.

July 11, 2016

Behind the Scene of Turkey Trip

Merhaba! Hari pertama setelah libur Lebaran usai, saatnya kembali membanting tulang untuk menutupi pundi-pundi yang bocor *insert cry emoticon* Bocor? Iya, kawan. Kantongku bocor sebanyak 14,086,600 IDR alias empat belasan juta rupiah. Itu duit ya, bukan daun kering yang berjatuhan karena peralihan ke musim gugur :(


One of the beautiful memories: Haga Sophia (Ayasofya), Istanbul

Sebelum berbagi trip review selengkapnya tentang Turki, ada baiknya aku menceritakan bagian nyesek bin pedih bin penyebab sakit hati dulu ya, sekalian agar aku bisa langsung move on dari segala pengalaman 'indah' ini, hehehe... Alkisah, perjalanan ke Turki ini bermula dari penawaran sang dewa tiket promo, Bang Adi, awal Maret 2016 lalu:
Lin, mau ke Turki nggak? Ini ada tiket promo 4,8 juta (IDR) lho padahal harga normalnya paling murah 9 juta-an
Bukan Erlin namanya kalau nggak 'tertantang' mendengar dua kata "tiket promo". In the end, sepaket tiket PP Malaysia-Turki sukses di-booked seharga 4,970 juta IDR saja, terdiri dari lima connected flights: 1) Malaysia Airlines 1034 Johor Bahru-Kuala Lumpur, 2) Qatar Airways 849 KL-Doha, 3) Qatar Airways 245 Doha-Istanbul, 4) Qatar Airways 246 Istanbul-Doha, dan 5) Qatar Airways 846 Doha-KL. Harganya naik seratus ribu hanya dalam beberapa jam, that's exactly why pemburu tiket promo punya sifat kompulsif yang hanya butuh waktu berpikir 3 detik. Nah, setelah tiket diri sendiri fixed, baru deh aku merekrut travelmates. Kali ini, Aldo Aribama Siahaan dan Ananda Goentoer Lumbantobing yang siap menjadi partner jalan-jalan di Turki. Tiket mereka kemudian sukses di-issued dengan kode booking yang berbeda dariku.

June 16, 2016

Body-Shaming in South Korea

Readers yang sudah membaca dua review Seoul trip-ku pasti notice, "Lho, kenapa cerita ini nggak masuk di trip kemarin?"

Alasannya, karena aku tidak ingin menjatuhkan citra Korea Selatan di mata para calon-traveler. Satu hal yang kusadari setelah beberapa kali menulis cerita perjalanan adalah betapa berpengaruh cerita versiku dan sudut pandang pribadiku terhadap cara pandang pembaca atas suatu destinasi. "Kayaknya ke Shenzhen itu gak worthy ya, Lin, jadi males kesana setelah baca blog-mu." Ucapan bernada serupa juga datang dari beberapa orang lain yang meminta saran destinasi untuk ke Hong Kong. Wah. Padahal Shenzhen itu sangat menarik untuk dikunjungi, hanya saja aku tidak betah dengan tingkah laku para pribuminya yang jauh dari kesan menyenangkan.

Changdeokgung Palace, Seoul, Korea Selatan

Ide menulis tentang topik ini muncul akibat membaca artikel "Tackling Body-Shaming in South Korea" yang mengungkap kisah prihatin seorang cewek blasteran Korea-Kazakhstan yang di-bully teman sekolahnya di Korea karena memiliki badan plus-size alias berisi.

It's okay to be ugly, but being fat is unforgivable // Jelek bukan masalah, tapi berbadan gendut tidak dapat dimaafkan.
Cewek Korea-Kazakhstan dalam artikel tersebut

May 29, 2016

Berlabuh di Labuan Bajo - Flores Trip

Nusa Tenggara Timur (East Nusa Tenggara) adalah satu dari lima Daftar Keindahan Laut Mutlak versiku sendiri (bersaing dengan Raja Ampat, Derawan, Wakatobi, dan Pulau Weh), sehingga mencoret NTT dari To-Visit-List adalah suatu pencapaian yang sungguh amat begitu membanggakan, dan layak kuberi gelar: Trip of The Year! 

Berbeda dengan trip yang biasa, kali ini aku berpetualang dengan metode "share cost." Hah? Baru kali ini emangnya, Lin? Yuhuuu... Readers tahu dong ya bahwa aku tipe planning maniac alias selalu suka membuat jadwal/itinerary sendiri. Atau, kalau malasnya sedang kambuh atau kekurangan teman jalan, aku akan menjajal open trip yang diperoleh dari berbagai sumber informasi.

"Touring Flores Mei 2016", nama grup WhatsApp yang menjadi wadah para "share cost"-er penyewaan kapal. Terdiri dari 16 orang yang mayoritas berasal dari Surabaya, kami adalah orang-orang yang berkumpul karena sukses kena iming-iming keliling Flores dengan biaya IDR 800K saja. Wow! Hanya 800 ribu untuk perjalanan keliling pulau-pulau di NTT selama 3H2M (3D2N), jika dibandingkan dengan tawaran penjual jasa trip maker di berbagai lapak yang minimum 2 juta... it's like a dream come true!

Tawaran ini kutemukan pertama kali di salah satu thread grup FB Beautiful Indonesia yang menceritakan indahnya Flores, NTT. Di salah satu komentar, ada Mas Budi yang mengajak member grup untuk ikut dalam rencana grupnya share cost kapal keliling Flores selama 3H2M dengan estimasi harga 800K. Demikian lah cerita intro perjalanan Flores Trip-ku.


Pesona Labuan Bajo sukses bikin jatuh cinta pada pandangan pertama

Trip review kali ini akan kubagi dalam dua bagian. Pertama, tentang kisah selama di daratan alias di Labuan Bajo beserta itinerary and expense list selengkapnya. Kedua, tentang cerita living on board yang menyimpan begitu banyak kenangan dan kebaperan. Cihuuuyy!

May 27, 2016

Living on Board - Flores Trip

Fotonya boleh blur. Kenangannya enggak. :)

Senin, 23 Mei 2016.
Kapal kami baru mulai melaut sekitar jam 8 pagi karena surat izin Syah Bandar belum terbit. Seharusnya sih jam segini kami sudah mulai bertualang di tengah laut hehe.. Pelajaran nih buat teman-teman yang mau sailing, jangan lupa mengurus surat izin dengan menyetor nama lengkap beserta nomor identitas (KTP/SIM/Paspor) kepada awak kapal/petugas pelabuhan. Kantor Syah Bandar yang baru buka jam 7 pagi bisa bikin gagal berangkat subuh soalnya. :(

Perhentian pertama: Pulau Kenawa. Pulau yang dimiliki oleh WNA ini menyimpan pesona atas dan bawah laut. Setelah Captain (Capt.) memberi tanda aman, tanpa berlama-lama lagi kami semua langsung nyebur lengkap dengan peralatan snorkeling dan action cam masing-masing. Ups, bukan "kami" sih, karena sayangnya aku malah kedatangan tamu tepat di hari mendarat di Labuan Bajo :( Selain aku, Mas Fahmi sang pemilik lensa tele dan Mas Tri Warso yang sesama punggawa keuangan negara juga tidak ikut nyebur. Aku ngiler juga sih sebenarnya melihat dermaga Pulau Kenawa yang begitu apik, begitu instagrammable. Untuk menuju kesana, kami harus membayar perahu kecil lagi karena kapal besar tidak bisa mendekat ke dermaga. Aku hanya bisa memandangi keseruan mereka berfoto-foto dari jauh. Cie, Erlin baper...

Dermaga Pulau Kenawa. Dari kejauhan :(

Nggak sedih-sedih banget sih, udah pernah nyicipin Bunaken yang jauh lebih indah soalnya hehe

Starfish!


Puas basah-basahan, kami langsung disambut makan siang pertama di atas kapal hasil olahan Bunda, panggilan sayang kami pada ibu juru masak di kapal. Nikmat banget rasanya! Apalagi makan beramai-ramai 14 orang lainnya yang terlihat begitu lahap mengunyah hidangan seafood segar, makananku pun semakin terasa nikmat :)

May 13, 2016

Kamsahamnida, Seoul!

Day 3. Jumat, 6 Mei 2016
Karena ini adalah hari terakhir menginap di Leo GH Hongdae, aku dan Mama memutuskan bangun lebih awal untuk packing lalu menitipkan koper + ransel di loker Hongdae St. Ngomong-ngomong soal loker... opsi ini sebenarnya sangat meringankan beban backpacker asal siap membayar sekitar 12ribu KRW alias 138ribu IDR untuk sewa loker setengah hari ukuran 50cm x 40cm x 20cm. Mahal? Banget! Tapi lumayanlah daripada harus bawa koper dan ransel 10 kg selama keliling-keliling kan?

Masih ingat dengan kisah "aku dibohongi Google" di post Part 1? Di hari ketiga ini aku malah merasa kecewa dan jengkel karena justru tidak mempercayai informasi Google. Jadi, ketika aku mengecek "Seoul weather may 2016" bulan lalu, Google menunjukkan padaku bahwa pada Jumat, 4 Mei 2016 Seoul akan didatangi hujan deras yang cukup awet. Nah... aku lupa akan hal ini, ehm, "sengaja melupakan" sih sebenarnya karena aku trauma dengan perkiraan 24℃-nya.

Keinginan pake hanbok belum tercapai :(

May 11, 2016

Annyeonghaseyo, Seoul!

Korea Selatan! Siapa yang nggak langsung membayangkan muka-muka manis, kulit putih, hidung mancung, dagu lancip saat nama negara ini disebut? Aku, salah satunya. Bagiku, Korea Selatan adalah tentang SNSD, Super Junior, dan Kim Jong Kook 'Running Man'. Kalo ditanya tentang tempat wisatanya... hmm... Nami Island? Istana khas Korea? Selain itu: blank.

Nami Island!

Ketidaktahuan ini jugalah yang membuat aku tidak begitu bernafsu untuk mengunjungi Korea Selatan. Namun akhirnya... segala hal tadi langsung terpatahkan begitu sang Ibunda Ratu a.k.a Mama awak a.k.a si Emak mengucapkan sebaris kalimat sakti:
De, kalo kwa ada tiket promo ke Korea, manjo torang pigi neh? (De, kalau ada tiket promo ke Korea, ayolah kita pergi ya?)
Alhasil di bulan September 2015, tiket AirAsia X KUL-ICH PP sukses di-booked hanya dengan Rp1,9juta saja (sembah sujud Bang Adi, sang Raja Promo) Selanjutnya, aku memutuskan untuk hanya keliling Seoul, tanpa menyambangi Busan apalagi Pulau Jeju. Waktu dan biaya memang tidak memungkinkan untuk extend the destination keluar Seoul.

Nah, what's so special about this trip? Ini adalah pertama kalinya aku akan mengajak mamaku backpacking. Dan sesungguhnya, selain Jepara Trip yang di-organize oleh rekan kerja Mama, ini juga pengalaman pertama kami travelling berdua. Wow! It's gonna be fun!

Oh ya, untuk menjawab teman-teman yang selalu mempertanyakan: "Kok bisa sih Erlin jalan terus?"... I will say, bisa banget! Do you guys know that jatah cuti adalah harta paling berharga di dunia kerjamu? You may get big salary, great boss, friendly co-workers, tapi kalo kamu ga punya jatah cuti.. ya udah wassalam aja. Di Seoul Trip ini aku tidak mengambil cuti tapi memanfaatkan libur panjang 2 hari + weekend, namun ditambah izin sehari yang memakan 5% gaji sebagai sanksi. Hiks.

Hari Selasa, 3 Mei 2016 aku memulai Seoul Trip dengan maskapai Malaysia Airlines seharga Rp737,6K per orang untuk menuju Kuala Lumpur. Belum apa-apa, aku sudah melakukan blunder, hahaha. Ternyata... tiket CGK-KUL sudah pernah kubeli di bulan Oktober 2015 yaitu dengan maskapai AirAsia seharga Rp309K per orang. Entah harus menyalahkan siapa atas amnesia separuh ini :)) Perjalanan ke Korea Selatan kemudian ditempuh dengan AirAsia X selama 6 jam terbang dengan tujuan akhir Incheon International Airport.

February 13, 2016

Wisata Selfie (dan Macet!) di Lembang

Sebagai seorang pegawai tetap (cie, bukan "magang/CPNS" lagi) dunia kantor sudah mulai berasa melelahkan. Hahaha. Hari libur sehari pun tidak disia-siakan. Tanpa berlama-lama, aku, Kak Putri, Agung dengan menyeret serta seorang additional member bernama Billy Gustyan, langsung merencanakan runaway trip ke Lembang saat libur Imlek. Sayang sekali... lelaki yang doyan berpose hot itu tidak bisa ikut nge-trip karena alasan yang sama yang pernah kuceritakan di BogorJuara-Curug trip review. Hahaha. Jadilah kami bertiga siap menjamah Lembang!


Susah banget dapetin foto full team :')

Day 1. Sabtu, 6 Februari 2016. 
Jika readers pikir drama kejar-kejaran kereta dan pesawat hanya terjadi di FTV dan sinetron picisan pada umumnya, well, berarti aku adalah aktris pendatang baru di industri ini. Hahaha! Kereta kami berangkat jam 05.00 tapi aku malah baru bangun jam 04.34. Super sekali kan? Segala puji syukur bagi Tuhan Yesus Kristus, kami bertiga sukses berangkat dengan full team.


Scooter lucu di halaman hostel tempat kami menginap

Farmhouse adalah destinasi pertama kami. Karena tujuan utama trip ini adalah cuci mata dan selfie sebanyak-banyaknya, otomatis kaki kami hanya melangkah mengikuti langkah pengunjung lainnya, hahaha. Awalnya sok-sokan pengen foto berlatarkan pagar berhiaskan gembok warna-warni, eh apa daya space-nya kurang luas untuk kami bertiga. Cus, pindah ke spot lain!




Farmhouse Lembang pada dasarnya menyajikan miniatur pemandangan alam pedesaan yang sedikit banyak meniru suasana pedesaan Eropa. Aku langsung jatuh cinta melihat domba (foto di atas) yang sedang asyik merumput tanpa merasa terganggu dengan riuhnya pengunjung sekitar 'lapangan rumput'. Lihat dong betapa gendut dan tebalnya bulu kedua domba ini, AAAWW~