November 05, 2018

My Mother's Happiness is My Ultimate Purpose

Travelling itu bikin candu. Sejak pertama kali 'mengenal' tiket promo di tahun 2014, aku putuskan untuk harus rutin travelling setiap tahun, baik di dalam maupun luar negeri. Demi niat teguh ini, aku pun merelakan potongan budget hura-hura ke bioskop atau kafe cantik, bahkan menahan diri untuk nggak beli baju lucu di online shop; sebagai gantinya, tabunganku terus mengembung untuk jadi modal travelling. Nggak apa-apa lah dibilang "kuper" atau "anak rumahan", asalkan aku bisa terus melihat daerah dan negara baru, dengan keindahannya yang memukau.

Namun, beberapa kali travelling bersama teman-teman atau sendiri, aku jadi merenung, “Kapan ngajak orang tua untuk merasakan kekaguman yang sama ketika melihat dunia luar?” Akhirnya kuputuskan, setiap tahun aku harus mengajak si Mama, orang tua tunggalku, untuk travelling berdua. Pokoknya beliau jadi prioritasku. Travelling with purpose bagiku adalah melihat wajah bahagia Mama saat kuajak ke tempat-tempat eksotis yang selama ini hanya dilihatnya lewat layar kaca atau, seperti celotehan Mama, di gambar kalender! Pokoknya… her happiness is my ultimate purpose.

Awal musim semi tahun 2018 ini, aku mengajak Mama keliling Prancis, Belanda, dan Finlandia. Wah, persiapannya riuh sekali: mulai dari menyiapkan visa hingga memborong jaket dan mantel supertebal, maklum kami besar dan lahir di kota pinggir pantai, jadi paling nggak kuat sama udara dingin.

Sukacita adalah melihat Mama main sama burung-burung di Taman Versailles, Prancis 

November 01, 2018

Postcrossing: Direct Swap #1


Kemarin aku sudah membahas tentang Postcrossing dan obsesiku yang cukup mendalam kepadanya #tsah Postcrossing juga memiliki fitur lain yang bisa digunakan untuk langsung bertukar kartu pos, alias tidak ditentukan by system. Namanya "Direct Swap". Caranya, cukup membuka profil pengguna yang kita inginkan, lalu kirimkan dia pesan berisi ajakan direct swap. Mudah? Banget! Aku aja udah 3 kali melakukan direct swap ini.

Normalnya, kalau kita menerima kartu pos, kita harus segera meregistrasikan nomor ID yang tertera di belakangnya agar si Pengirim tahu bahwa kartunya sudah sampai. Tapi kalau pakai direct swap, kita tidak menerima ID kartu pos sehingga kartu yang kita kirim/terima tidak terlacak oleh sistem Postcrossing, dan akhirnya tidak akan terpajang di profil kita. 

Sekelumit penjelasan di atas sebenarnya hanya menjadi pembuka bagiku untuk menjelaskan kenapa ada blogpost satu ini, hahaha. Aku akan meng-upload foto-foto kartu pos yang kuterima via direct swap di blog ini agar kenangannya abadi. Maklum... anaknya pelupa. 

Udah sih gitu aja. Hahaha.

----------------------------------------

  • 1. Fuji-san covered in snow. 18-28 September 2018. Megumi-san (loveusagi) 
Ajakan swap pertama yang kuterima. Aku gemar menjelajah galeri kartu pos Postcrossing yang ada di halaman utama situs. Waktu melihat gambar ilustrasi Gunung Fuji, aku otomatis me-like kartu pos ini karena emang gambarnya cantik banget... setuju kan? Eh tak disangka, si Pengirim kartu mengirimi aku direct message untuk menawarkan direct swap. Aku senang banget waktu tahu beliau mengirimkan aku kartu yang sama dengan yang aku sukai kemarin :) Kartu pos ini datang dengan prangko Kastil Nagayo dan dihiasi stiker deretan Ninja dan Gunung Fuji. Lovely.



Psstt... direct message pertama Megumi-san ditulis dalam Bahasa Indonesia lho! Rupanya dia pernah tinggal di Indonesia tahun 1998-2002 mengikuti penugasan sang suami. Keren ya, 16 tahun sudah berlalu dia masih saja hapal bahasa kita.
*
  • 2. Catholic Church in Vileika city, Minsk. 3-29 Oktober 2018. Alesya (alesya1998)
Ajakan direct swap kedua datang dari gadis cantik asal Minsk, Belarus. Dia menghiasi kartu posnya dengan washi tape dan stiker buaya yang lucu. Ada stiker cantik juga yang bertuliskan: "Popular Girl's Names in Belarus: Aliena, Aliesia, Ganna, Darja, Zosia, Iryna, Volga, Katsiaryna, Ksenija, Marja, Marysia, Nadzieja, Nasta, Janina". Menarik. Jadi makin pengen main ke Belarus!