April 18, 2022

Senayan - Jakarta Walking Tour Series #4

Hanya berjelang satu hari, aku kembali mendaftar ikut walking tour bersama Jakarta Good Guide ke kawasan olahraga paling terkenal se-Jakarta raya. Apakah dia? Yak betul GOR Bulungan GBK Senayan! Hari Minggu, 14 November 2021 aku mendaftar untuk ikut rute Senayan pukul 09.00 pagi. Sebenarnya, sebelum pandemi rute ini diselenggarakan sore hari dan mengusung judul "Senja di Senayan". Katanya sih pemandangan langit senja Jakarta tampak sangat indah dari area olahraga ini.

Kali ini, aku tidak sendirian readers. Aku berhasil menambah 'downline' nih di JGG, hahaha. Perkenalkan, Dwi Wijayanto, teman dari semasa kuliah (dan kini juga sekantor) yang akan menemaniku walking tour di Senayan pagi ini. Aku dan Dwi janjian bertemu langsung di meeting point yaitu TVRI yang terletak di Jalan Gerbang Pemuda No. 8. 

Pagi itu, jumlah peserta yang sudah hadir tidak begitu banyak, sekitar 10 orang saja. Sedangkan guide yang hadir ada dua orang, salah satunya Mas Huans yang jadi guide-ku di tur Matraman dan Pasar Baru sebelumnya. Sepertinya rute Senayan ini memang bukan termasuk rute favorit, jika dilihat dari jumlah peserta. Tidak masalah... aku justru senang, karena bisa lebih fokus mendengarkan cerita selama tur.

Grup Senayan Tour bersama Mas Huans

Tur pun dimulai pukul 09.10 WIB. Aku dan Dwi berada di satu grup dengan lima orang lainnya, dan dipandu oleh Mas Huans. Cerita pertama yang dituturkan Mas Huans, tidak lain dan tidak bukan adalah meeting point kami yaitu TVRI.



Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI ini berdiri pada tahun 1962. Pembentukan lembaga penyiaran nasional ini memang didorong oleh terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games, sebuah pesta olahraga se-Asia, yang kala itu diikuti oleh 12 negara. Secara resmi, siaran perdana dilakukan TVRI pada 24 Agustus 1962, namun pada 17 Agustus dilakukan siaran percobaan dari Istana Merdeka yang meliput prosesi upacara.

TVRI menyiarkan pertandingan Asian Games 1962
(Sumber: GNFI

TVRI merupakan jaringan televisi pertama di Indonesia dan memonopoli siaran televisi hingga tahun 1989, ketika televisi swasta pertama, RCTI, hadir sebagai kompetitor. Di tahun 1977, stasiun produksi dibentuk secara bertahap di beberapa ibukota provinsi, berfungsi sebagai perwakilan atau koresponden TVRI di daerah. Pada tahun 1981, Presiden Soeharto melarang penayangan iklan komersial di TVRI. Kebijakan ini memukul TVRI secara finansial, mengingat pendapatan dari iklan jumlahnya lebih besar daripada anggaran pemerintah. Dulu bahkan sempat ada "Mana Suka Siaran Niaga", suatu segmen yang khusus menayangkan iklan saja.


Dari TVRI, kami menyeberang ke destinasi utama: Gelora Bung Karno alias GBK. Hayooo readers pada tahu nggak apa artinya "Gelora"? Ini cuma akronim saja dari "Gelanggang Olahraga". Hebat ya pencetus nama ini, kreatif sekali. GBK dibangun di tahun 1962 juga, sama seperti TVRI, dalam rangka Asian Games. 

Sumber: GNFI


Lapangan Panahan

Perhentian pertama kami adalah Lapangan Panahan. Pagi itu, lapangan terlihat cukup ramai dengan 13 papan target berjejer di kejauhan. Sekitar 5-7 orang terlihat sedang berlatih dengan busur dan anak panah masing-masing. Matahari terlalu terik pagi itu, aku jadi tidak bisa melihat hasil panahan mereka, apakah "hits the bull-eye" atau justru melenceng. 

Lapangan Panahan GBK sudah berstandar internasional dengan luas lahan 10.471 meter persegi dan memiliki rumput alami seperti stadion utamanya. Ukuran standar internasional di antaranya adalah paving garis tembak yang berjarak 70 meter, panjang line 100 meter, lebar paving dari lapangan selebar 15 meter, serta panjang 59 meter untuk putaran internasional. Area ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung umum seperti toilet, masjid, ruang VIP, ruang ganti pemain, dan tribun top-down dengan kapasitas 97 kursi.

Panahan merupakan cabang olahraga pertama yang menyumbangkan medali bagi Indonesia di ajang Olimpiade. Di cabor ini, terkenal julukan "Tiga Srikandi" yaitu ketiga atlet panahan putri kebanggaan Indonesia. Tahun 1988 di Seoul - Korea Selatan, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani berhasil meraih medali perak dalam cabang panahan beregu putri. Kisah "Tiga Srikandi" bahkan sudah diangkat ke layar perak, dibintangi Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, dan Tara Basro.



Selanjutnya kami berjalan ke arah Stadion Utama GBK (SUGBK). Disebut stadion utama karena untuk membedakannya dengan stadion lain seperti stadion akuatik dan stadion tenis. Di tahun 1969, nama area ini sempat diganti menjadi "Gelora Senayan" karena kebijakan Orde Baru yang ingin melakukan de-Soekarno-isasi. Presiden Gusdur pun mengembalikan nama GBK ketika beliau menjabat di tahun 2001. Nama Senayan sendiri berasal dari nama seorang tokoh yaitu "Wangsanayan". Dulu kampung orang Betawi. Hotel mulia dulu pabrik kapas. Ada sawah di jaktim dan jakbar. Daerah cakung dan Cengkareng.

Jika readers masuk dari Pintu Utara yang menghadap Jalan Asia Afrika, pasti akan bertemu dengan dua 'penjaga' GBK. Mereka adalah Patung Dwarapala, berbentuk raksasa dengan ukurannya yang sangat besar dan memegang gada di salah satu tangan. "Dwara" berarti jalan, sedangkan "pala" berarti penjaga. Patung ini difungsikan untuk menjaga tempat-tempat yang suci dan dihormati, seperti keraton.

Patung Dwarapala

Sekitar 300 meter berjalan kaki dari Pintu Utara, kami menemukan 'hutan mini' di area timur laut stadion utama. Ini bukan Hutan Kota GBK yang viral itu, readers, yang adalah eks Senayan Golf Driving Range. Hutan satu ini justru lebih mirip "hutan" dengan rimbunnya pohon dan ramainya kicauan burung. Menurut pihak manajemen, di GBK terdapat lebih dari 5.897 pohon untuk menjaga keasrian kawasan olahraga ini. Bahkan 973 pohon di antaranya bahkan termasuk jenis pohon langka dan endemik Indonesia.

Area ini dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat. Ada anak-anak bermain badminton, ada anak muda sedang joget TikTok, dan ada juga satu kelompok yang duduk lesehan sambil mengobrol santai. Pohon-pohon yang tinggi memang menaungi pengunjung di dalam taman, cahaya matahari sulit masuk dan membuat suasana jadi jauh lebih sejuk dibanding area sebelumnya.




Mas Huans menunjuk ke arah pohon-pohon sambil menyebutkan namanya. Sebagian adalah pohon-pohon yang familiar bagiku, yaitu pohon mangga, matoa, mahoni, dan pohon asam. Sebagian lagi  memiliki nama yang terasa asing, yaitu baobab, eboni, eben merak, hopea, kepel, genip, buni, dan sebagainya. Selain itu, kami juga menemukan tumbuhan lain, salah satunya jamur besar yang menempel di pohon.


Jamur apakah ini?

Hutan kecil ini sering dikunjungi oleh para bird watchers alias peminat burung. Mereka senang mengamati burung-burung berdasarkan suara kicauan dan warna bulu. Mas Huans berbagi pengalamannya menjadi guide untuk para bird watchers ini. Area yang paling diminati adalah Muara Angke dan Kepulauan Seribu. 


Oh ya, selain hutan mini, terdapat juga green house di sekitar Plaza Timur dan sebagian lantai atas Gedung Parkir A. Ini adalah upaya dari pihak manajemen GBK untuk mewujudkan kawasan yang hijau dan asri. Green house yang terbuat dari net atau anyaman jaring ini menampung berbagai jenis tanaman. Di antaranya ada kana daun merah, pucuk merah, miana, iris kuning, melati jepang, hingga sanseviera. Tanaman-tanaman ini nantinya digunakan untuk menghias area landscape yang ada di kawasan GBK.

Green House GBK
(Sumber: Chronodaily)

Kami kembali melanjutkan perjalanan, meninggalkan sejuknya hutan di belakang. Sekitar 250 meter jalan kaki, kami tiba di Stadion Akuatik. Di sisi luar gedung, banyak orang terlihat melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang melakukan yoga, badminton, atau hanya duduk-duduk nongkrong. Bangunan ini cukup luas dan terlindung dari terik matahari. Lantai keramiknya pun bersih dan terawat. Sayang sekali, bagian atapnya mulai terlihat rusak dan mengelupas.

Stadion Akuatik GBK, sebelumnya dikenal sebagai Stadion Renang Senayan, merupakan kolam renang berukuran standar internasional terbesar di Asia Tenggara. Setelah renovasi untuk Asian Games 2018, Stadion Akuatik memiliki empat kolam renang, yaitu kolam renang utama dengan 8 lajur (50 x 25 x 3 m), kolam polo air setinggi 3 meter, kolam selam (diving pool) berukuran 21 x 25 x 5 m, dan kolam pemanasan dengan dimensi 20 x 50 m setinggi 1,4 - 2 meter. Stadion berkapasitas ±8.000 penonton ini pernah digunakan untuk kejuaraan cabang renang, menyelam, synchronized, dan polo kano di Asian Games 1962 dan Asian Games 2018. 




Dari Stadion Akuatik, kami menuju Lobi Timur yang dulunya adalah lapangan parkir GBK. Sekarang area ini tampak lapang dengan sejumlah artwork tersebar di sekitarnya. Instalasi artworks ini menggambarkan sejumlah cabang olahraga Asian Games  Ada yang melambangkan badminton, sepak bola, ping-pong, hingga senam ritmik.

Arsitektur SUGBK sendiri diinspirasi oleh Stadion Luzhniki di Moskow, dengan keberadaan trek lari dan jumlah bangku berkapasitas 110.000 penonton. Dalam pidato peresmiannya, Bung Karno mengaku sangat terkesan dengan Luzhniki sehingga menginginkan bangunan serupa dibangun di Indonesia. Uni Soviet, selain memberi jasa arsitek, juga turun tangan memberi bantuan dana USD 12,5 juta bagi pembangunannya. 

Konstruksi dimulai pada 8 Februari 1960 dan selesai pada 21 Juli 1962, tepat waktu untuk menjadi tuan rumah Asian Games. Kapasitas asli stadion dari 110.000 orang berkurang menjadi 88.083, pascarenovasi SUGBK untuk Piala Asia AFC 2007. Stadion ini terbagi menjadi 24 sektor dan 12 pintu masuk, serta tribun atas dan bawah. Fitur khusus dari stadion ini adalah konstruksi atap baja besar yang membentuk cincin raksasa yang disebut temu gelang, sesuatu yang sangat langka pada tahun 1962. Selain untuk menaungi para penonton di semua sektor dari panasnya matahari, tujuan dari konstruksi cincin raksasa ini juga untuk menekankan keagungan stadion.



Mas Huans menjelaskan tentang arsitektur SUGBK

Mas Huans mengajak kami di perhentian terakhir: kaldron api. Ini adalah recent addition di GBK. Aku, yang belum pernah menginjakkan kaki ke GBK sejak tahun 2015, tentu saja belum pernah melihat instalasi ini. Kaldron ini terinspirasi dari bentuk keris, senjata khas Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kaldron api ini diberi nama "Bilah Nusantara". 

Kaldron sepanjang 95 meter ini terletak horizontal di depan stadion utama. Mengapa horizontal, karena sebagai perlambang kedamaian dan sportivitas. Menurut desainernya, kauldron memiliki tinggi 18 meter, lidah apinya 8 meter, dan ukiran kiri-kanan jika digabungkan memiliki panjang 2018 meter. Angka ini melambangkan 18 Agustus 2018, tanggal pembukaan Asian Games 2018. Bentuk keris akan terlihat jelas jika dilihat dari kolam, di mana pantulannya pada air menghasilkan tampilan satu keris yang utuh.



Jika dilihat dari pantulan kolam, kaldron akan tampak seperti keris

Walking tour rute Senayan berakhir di kaldron api ini, tepat pukul 11.00 siang. Sejauh ini, rute Senayan adalah rute terpendek bagiku. 

Patung Bung Karno di ujung Plaza Tenggara



Terima kasih, Mas Huans dan Jakarta Good Guide untuk tur kali ini. Aku senang sekali mengetahui bahwa ada hutan mini di tengah GBK, dan ada kauldron api yang baru dibangun. Minggu depan daftar rute apa lagi yaa?

December 10, 2021

Pasar Baru Pt. 2 - Jakarta Walking Tour Series #3

Dari Jalan Antara, Mas Huans memimpin rombongan kami menuju Pasar Baru yang pada umumnya dikenal orang. Pasar Baru ini pada masanya adalah pusat perbelanjaan kaum elite, selevel Plaza Indonesia dan Pacific Place. Kalau mau dianggap sosialita, belanjanya harus di Passer Baroe. Biasanya pelanggan di Pasar Baru adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Weltevreden.

Trivia dikit nih, readers. Pasar Baru kan ada di sini yaa, nah emang 'pasar lama' ada di mana? Rupanya pasar lama itu mengacu pada Pasar Senen dan Pasar Sabtu (sekarang Tanah Abang) yang ada sejak tahun 1730-an. Trivia lain, nama Kalijodo mengacu pada pesta rakyat zaman dulu bernama "Festival Pengcun" yang merupakan ajang para muda-mudi mencari jodoh. Sayangnya kemudian ajang ini disalahgunakan menjadi prostitusi. Sedangkan nama "Mangga Besar" dan "Sawah Besar" memang karena kedua kawasan itu dulunya adalah daerah pertanian.

Kami berkumpul di depan gerbang masuk Pasar Baru yang khas itu. Angka 1820 tertera besar di depan gerbang, menandakan tahun berdirinya pusat perbelanjaan ini. Toko-toko di sini dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa. Sebagaimana telah dijelaskan di Part 1, mayoritas penghuni kawasan ini adalah para pedagang yaitu warga keturunan Tiongkok, Arab, dan India. Tak heran di dalam Pasar Baru juga terdapat vihara dan kuil yang salah satunya akan kami singgahi di tur kali ini.

Vihara di sudut terdalam Pasar Baru

December 06, 2021

Pasar Baru Pt. 1 - Jakarta Walking Tour Series #3

Benar saja dugaanku, walking tour bersama Jakarta Good Guide itu emang jadi adiksi. Sekali ikut, pasti akan ikut lagi dan lagi alias ga cukup sekali saja 😂 Minggu ini aku kembali mendaftar tur JGG dua kali, hari Sabtu dan Minggu pagi. Kenapa? Karena memang seadiktif itu, readers, serupa main ke museum tapi sekaligus menjelajah. Jika beruntung, bisa menemukan tempat kuliner yang enak dan tempat nongkrong yang asyik. 

Hari ini, Sabtu, 13 November 2021, aku menemukan keduanya dari hasil tur Pasar Baru. Belum lengkap rasanya ikut tur JGG kalau tidak diiringi 'belajar' sejarah dan fun facts baru, salah satunya lokasi kantor berita yang sering muncul di Teka Teki Silang! Wah, kok seru banget? Banyak tempat menarik ya di Pasar Baru, selain jejeran toko sepatu dan lapak barang-barang murah?  Iya dong! Makanya tetap membaca blog ini yaa, simak hasil jelajah kami pagi itu 😁


Ikonnya Pasar Baru

November 19, 2021

Matraman - Jakarta Walking Tour Series #2

Puas dengan walking tour bersama Jakarta Good Guide sebelumnya, aku putuskan untuk ikut tur lagi di minggu ini. Dari seluruh rute yang diumumkan, aku memilih untuk ikut Tur Matraman. Kenapa? Karena lokasinya yang dekat dari tempat tinggalku, hahaha. Selain itu aku penasaran juga, emang ada apa di Matraman, kok sampai diadakan tur? Seumur-umur di Jakarta, aku hanya tahu flyover dan toko buku Gramedia di Matraman.

Ada apa sih di Matraman selain Gramedia?

November 15, 2021

Glodok - Jakarta Walking Tour Series #1

Tinggal di Jakarta selama lebih dari lima tahun tidak serta-merta membuatku kenal seluk beluk Jakarta, atau bahkan mengetahui seluruh kisah tentang ibukota bersejarah ini. Suatu hari, seorang teman di Instagram mem-post perjalanannya bersama Jakarta Good Guide. Wah! Menarik sekali! Siapa mereka? Jakarta Good Guide alias JGG adalah sebuah layanan tur keliling Jakarta yang bersifat pay as you wish alias "terserah bayar berapa". Mereka memiliki 30 rute melingkupi Jakarta Utara, Barat, Timur, Selatan, dan Pusat yang beroperasi setiap akhir pekan (weekend). Lho kok wiken doang, mau dong hari Senin-Jumat juga! Boleh banget, kawan! Mereka juga melayani permintaan private tour kok, monggo langsung cek blog atau Instagramnya di @jktgoodguide.

Sekitar satu bulan setelah aku mem-follow JGG, akhirnya kesempatan untuk bergabung datang juga. Kupastikan seluruh kerjaan kantor dan skripsi rampung terlebih dahulu, barulah mendaftar ikut tur. Males banget kan kalau tiba-tiba aku harus membatalkan agenda menarik ini karena ada revisi Bab 4, atau dapat penugasan lembur ikut rapat 😅 

Minggu, 17 Oktober 2021 adalah kali pertama bagiku ikut walking tour bersama JGG. Tur spesial  ini diberi nama "A Walk To Understand: Going Around Glodok" yang merupakan kolaborasi JGG dengan 100 Persen Manusia, sebuah festival film yang mengutamakan isu-isu kemanusiaan. Kalau biasanya walking tour JGG bersifat pay as you wish, tur Glodok ini berbayar Rp100 ribu yang akan digunakan untuk program kerja 100 Persen Manusia. Ini juga yang bikin aku tertarik bergabung, karena ada commitment fee-nya. Kalau sudah bayar duluan gini, aku akan merasa lebih committed dan tidak mengalah pada rasa malas yang bisa saja tiba-tiba datang di hari H 😆 

Oke, sekian panjang latar belakang dari walking tour bersama JGG, marilah kita masuk pada ulasan perjalanan tur Glodok selama 1 jam 45 menit. Let's get started!

Salah satu destinasi, Wihara Dharma Bakti

10 orang peserta walking tour hari ini


October 31, 2020

Halloween di Universal Studio Singapore

Halo, Readers! Selamat gajian bagi yang gajiannya akhir bulan, dan selamat menanti bagi yang gajiannya baru hari Senin besok 😆 Tanggal hari ini, 31 Oktober, populer dikenal orang sebagai perayaan Halloween, suatu tradisi di mana orang-orang menggunakan kostum (biasanya seram/menakutkan), dan anak-anak pergi ke tetangga sekitar untuk "Trick or Treat!" alias meminta permen/coklat. Indonesia tentu saja tidak mengenal tradisi ini. Tidak ada istilah pumpkin carving atau mengukir buah labu menjadi Jack O'Lantern yang 'menyeramkan', di mana-mana labu yah untuk dimakan. Sudahlah... pandemi ini cukup menyeramkan, tak perlu lagi ditambah Halloween 😅

Sepanjang 27 tahun hidup, baru sekali aku 'merayakan' Halloween. Tepatnya satu tahun lalu. Lama juga yaa sudah satu tahun hehehe kok rasanya baru kemarin kami capek ketawa-ketiwi habis dari rumah hantu... Perencanaan dimulai tanggal 13 Agustus, di mana sang kepala suku, Bang Supriadi, mengirim chat: "Erlin, ke Singapore yuk Halloween". Rupanya beliau baru melihat ada diskon menarik untuk tiket Universal Studio Singapore sepanjang akhir Oktober. Sikattt!

Halloween in USS!

Tentunya aku bukan anggota tunggal Adi Tours & Travel kali ini, ada dua orang lagi: Kak Novrani Sitohang dan Yosafat Probo Kuncoro. Wah dream team banget! Bersama mereka bertiga, aku sudah pernah melanglang buana ke berbagai penjuru. Readers bisa cari nama mereka di blog ini, bertebaran di mana-mana! Hahaha. "Bang, apakah di USS akan ada pocong dan kuntilanak? Ntar sama pulak kayak rumah hantu di Kemayoran," tanya Kak Vani. "Kayaknya gak diimpor, Van, kurang berkelas mereka." OH BAIK. Makin ga sabar, penasaran bagaimana penampakan "hantu berkelas" di USS nanti 👻

The squad!


Tiket Universal Studio segera dibeli. Harganya Rp470 ribu per orang, diskon 30% dari harga awal Rp650 ribu. Lebih awal lagi, tiket pesawat Singapore Airlines sudah diamankan Bang Adi untuk kami berempat, tepat setelah dia mengirim japri WA tanggal 13 Agustus. GERCEP SEKALI. Harganya? Ehm, cuma Rp500 ribu saja untuk return flights. Jauh lebih mahal harga tiketku mudik ke Manado 😭

Sabtu, 26 Oktober 2019

Aku dan Bang Adi memulai perjalanan dengan naik Damri dari Stasiun Gambir pukul 05.00 pagi. Kami sama-sama hanya berbekal ransel kecil, seakan-akan cuma mau nge-mall di Grand Indonesia. Hahaha. Makin 'tua' emang makin pengen menikmati momen aja, gak mau ribet-ribet ngurusin outfit dan tetek-bengeknya. Toh cuma dua hari ini di negara tetangga.

Kayak cuma nge-mall ya...

Kami bertemu dengan Kak Vani dan Yosa di bandara, keduanya masih tampak mengantuk. Gak pa-pa... toh nanti bisa tidur di pesawat, bangun untuk menikmati sarapan khas maskapai bintang lima, lalu tidur lagi sampai mendarat di Bandara Changi. Pesawat kami lepas landas tepat pukul 07.55 WIB dan mendarat pukul 10.45 waktu Singapura.

"Kita ke USS-nya baru jam 7 malam ya. Keliling-keliling dulu nanti," info Bang Adi.
"Siap!" serentak kami jawab, walaupun belum terlintas di otak hendak ke mana siang-siang di Singapura.
"Btw emang pada berani nanti lihat hantu?" agak telat yah Bang Adi menanyakan ini. Udah di bandara lho, tiket udah terbeli. Gak mungkin dong tiba-tiba kita jual di IG Story atau Status WA.
"Lho aku malah suka, Bang," jawabku.
Dengan senyum manis direspon Bang Adi: "Padahal udah tiap hari liat di cermin ya Erlin." 😭😭

Entah yang ini lagi ngetawain topik yang mana~

Yang paling excited melihat Bandara Changi, tidak lain dan tidak bukan, adalah si anak bungsu. Yosa baru kali ini menginjak Changi. Aku dan Bang Adi pun semangat menyeretnya menuju Jewel, lokasi favorit para turis yang mendarat/transit di bandara ini. Lumayan lah, satu jam berlalu untuk foto-foto.


Kenapa kita gak foto tiduran kayak edak di belakang itu, guys? 


Dari Jewel, kami beranjak ke Crown Plaza Hotel di Terminal 3 untuk menjemput fasilitas modem gratis yang disediakan oleh Hotspot Connect untuk penumpang SilkAir dan Singapore Airlines. Modemnya gratis untuk 3D2N + 2GB, bisa terhubung up to 5 devices dengan daya tahan 8 jam sekali charge. Aku kurang tahu apakah saat ini penawarannya masih ada, tapi jika masih ada pastikan readers memesan dari jauh-jauh hari yaa karena kuotanya cukup terbatas.

Petugasnya sangat ramah dalam menjelaskan cara penggunaan

Penyelamat hidup! Gak perlu ribet nyalain roaming~

Usai menjemput dan meng-install modem, kami putuskan untuk mencoba check-in hotel. Bang Adi menyarankan untuk naik Grabcar saja dari Crown Plaza. Kalau beramai-ramai seperti ini, moda transportasi Grabcar memang jadi pilihan ternyaman. Tak perlu jalan kaki jauh ke stasiun MRT atau terminal bus dan biayanya pun terjangkau karena dibagi berempat.

Puji Tuhan, resepsionis di V Lavender Hotel mengizinkan kami check-in lebih awal. Mereka bahkan meng-upgrade kamar kami dari yang tipe Superior menjadi Triple Room karena padatnya tamu. Bang Adi memang tak pernah salah dalam memilih akomodasi berkualitas hihihi.
Aku dan Kak Vani langsung berbaring di kasur, meluruskan tulang punggung sembari nonton dan mengobrol tentang kehidupan *duileh* Baru beberapa menit masuk kamar, hujan mulai turun cukup deras. Wah cuaca pasti bakal adem sore ini, pas sekali untuk jalan-jalan sebelum ke USS. "Dek, kok aku giliran udah di hotel malah nggak bisa tidur ya?" Kak Vani beretoris. Tapi beberapa menit kemudian matanya terpejam, membiarkan aku bengong sendiri memandangi hujan. Hahaha. 

"Ayok cari makan, guys." Chat dari Bang Adi seketika membangunkan kami. Untuk makan siang, kami jalan kaki sedikit ke Aperia Mall. Pilihan jatuh kepada Subway memang sudah jadi 'menu wajib' bagi Bang Adi tiap traveling ke Singapura. Sudah kenyang, perjalanan berlanjut dengan MRT dari Stasiun Lavender yang persis berada di depan hotel. Ehm... bayar MRT di Singapura bisa pakai kartu debit Jenius lho 😍 Gak usah panik kalau tidak bawa uang cash atau belum punya Tourist Pass.

Tiga duta Jenius dan satu impostor hahaha


Sempat pula photoshoot di dalam kereta

Destinasi pertama hari ini adalah Merlion Park yang kami tempuh dengan jalan kaki sejauh 6,3 KM dari hotel. Hujan siang tadi membuat cuaca terasa sejuk, namun harus hati-hati melangkah karena takut terciprat genangan air. Sepanjang perjalanan aku terus mengagumi deretan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Fullerton, titik berputarnya perekonomian Singapura. Inilah area bisnis yang ramai dikunjungi wisatawan karena adanya Merlion. Anyway... baru sekarang aku tahu bahwa ada 'anak patung' Merlion, tidak jauh dari patung utamanya. Readers pada tahu juga kah?






Waktu masih menunjukkan pukul 17.15 sore, masih terlalu dini untuk menikmati Halloween. Kami pun kembali mencari lokasi wisata terdekat sekalian restoran yang oke untuk makan malam. Dengan bus, kami menuju kawasan Bugis. Foto di bawah ini adalah Spiral Staircase yang pernah viral di Instagram. Sumpah, ketemunya gak sengaja! Hahaha. Aslinya kami mau langsung menuju Haji Lane tapi malah nyasar dan keluar-masuk gang di kawasan Bugis. Jika ingin ke sini, readers cukup mencari Bugis Village (ada KFC di depan Bugis Village). Nah, gang ini berada tepat di belakangnya.


Setelah memperbaiki titik destinasi di Google Maps, kami akhirnya tiba dengan selamat sentausa di Haji Lane. Ini kawasan hipster super terkenal yang jadi incaran turis karena mural-mural indahnya. Kalau mau berlama-lama, wajib nongkrong sekalian di salah satu kafe, karena waiter/waitress-nya tidak mengizinkan kita photoshoot tanpa memesan makanan-minuman. Foto-foto di sini memang melatih kesabaran dan ketangkasan menjepret kamera. Lengah dikit saja, belasan turis sudah ramai menjadi photo bomber.


Kok jadi kayak prewedding gitu kita, Kak?


Jika punya waktu luang, sempatkan juga mampir ke Masjid Sultan, masjid terbesar dan tertua yang didirikan pada tahun 1824 untuk sultan pertama Singapura. Eksterior masjid begitu indah karena kontras fasad putih dan kubah emasnya. Di malam hari, kubah-kubahnya tampak megah bercahaya. Kami makan malam di Zam Zam Restaurant depan masjid yang terkenal dengan sajian nasi briyani lezatnya.



Highlight of the trip akhirnya tiba: Universal Studio Singapore! 😍 Aslinya aku bukan penikmat theme park, apalagi kalau harus mengeluarkan uang jutaan hanya untuk menikmati beberapa wahana. Tapi karena bersama tiga orang ini, kegiranganku tak bisa ditutupi. Kyaaa! Gak sabar pengen ketemu hantu! Hahahaha.




Kami masuk ke tiga wahana malam itu. Curse of the Naga, wahana rumah berhantu yang terinspirasi dari film horor Thailand yang terkenal, sutradaranya sama dengan film "Shutter" dan "Phobia", mampus gak tuh gimana gak seram coba. Hell Block 9, konsepnya adalah penjara gelap dan kotor yang penuh siksaan para penjaga dan teriakan kesakitan para napi. Baru masuk pintunya aja, kami udah disambut dengan suasana mencekam dapur penjara. Banyak darah, banyak pisau 😫 Terakhir adalah favoritku, Transformers the Ride: 3D

Pakai kacamata 3D biar puas menikmati Transformers Ride

Seru sekali, readers, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata! Aku puas berteriak sepanjang malam. Teriak karena kaget dan teriak karena... melepaskan stress? Hahaha. Para aktor dan aktris "hantu"-nya sangat profesional, mereka sekadar mengagetkan saja tanpa berusaha menyentuh pengunjung. Sound effect dan lighting-nya pun sempurna. Jelas lah ya... sekelas Universal Studio gitu lho. Kurangnya cuma satu sih: antriannya! Buset. Panjangnya ngalah-ngalahin antrian launching iPhone 😭 


"Death Fest" para musisi metal yang 'bangkit dari kematian'


Kami akhirnya memutuskan pulang saat jam tangan menunjukkan pukul 01.00 dini hari, 30 menit sebelum USS tutup. Kami sempat panik karena tidak ada Grabcar yang terdeteksi di sekitar Sentosa Island. Puji Tuhan, masih ada bus yang beroperasi menuju Downtown. Bang Adi dan Yosa tampak tepar akibat berdiri di antrian selama berjam-jam.
 



Minggu, 27 Oktober 2019

Hari kedua sekaligus terakhir! Pesawat yang akan membawa kami pulang nanti berangkat pukul 17:20 sore, masih ada cukup waktu untuk beli oleh-oleh dan mampir ke satu destinasi lagi. Untuk oleh-oleh, kami memborong jajanan di Mustafa Centre. Namun sebelumnya, kami pelesir dulu ke salah satu daerah touristic yang view-nya ke Marina Bay. Apa itu? Aku pun tidak ingat 😅 Pokoknya berikut ini foto-fotonya...




Di depan lensa

Di balik lensa: umbrella girl dengan payung rusak sigap melindungi fotografer

Kehebohan terakhir terjadi di bandara, tepatnya di gerbang imigrasi yang sudah memakai Autogate. Tujuannya meringkas proses imigrasi, eh mesinnya lemot banget. Alhasil aku, Kak Vani, dan Yosa mengantri satu jam hanya untuk keluar imigrasi Soekarno Hatta. Bang Adi yang paspornya "anti-Autogate" mencecar kami dari kejauhan. "Aku udah sengaja ke toilet sampe tiga jam, kalian masih aja ngantri." 😂😂😂 Terima kasih banyak Bang Adi, Kak Vani, dan Yosa untuk short escape (meminjam istilahnya Yosa) ini. Terima kasih sudah membuat rahang saya mulai retak akibat terlalu sering ketawa dan teriak heboh. Gak pa-pa lah ya Halloween tahun ini kita berdiam diri di Indonesia tercinta. Sekalian nabung biar bisa langsung ke Universal Studio Amerika! Wkwkwk. Ada amen?

***

Expense List

Tiket pesawat --- Rp500 ribu PP
Tiket USS Halloween Horror Nights --- Rp470 ribu
Hotel V Lavender --- Rp600 ribu per kamar (300K per orang)
Makan + Grabcar --- Rp470ribu per orang
TOTAL: Rp1,74 juta/org