May 23, 2022

Sehari di Pangalengan: Wisata Kebun Teh dan Arung Jeram

Halo, readers! Ini akan jadi post paling cepat di tahun 2022 karena hanya berselang 9 hari saja pasca-trip. Harap maklum ya, kakiku memang lebih cepat melangkah daripada jariku mengetik. Aku masih berutang banyak cerita, baik walking tours maupun one day trips lainnya.

Rafting di Pangalengan

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku ODT ke Pangalengan, Jawa Barat. Trip ini berlangsung hari Sabtu, 14 Mei 2022 dan diselenggarakan oleh Backpacker Jakarta, sebuah komunitas backpacker yang giat mengadakan perjalanan bersistem cost sharing. Aku akan membahas soal biayanya di bagian akhir reviu. FYI aja ya readers, reviu ini akan sangat biased berdasarkan pengalamanku, jadi akan banyak sudut pandang negatif. Tetap pakai kepala dingin yaa saat membaca, kalo bisa sih fokus aja sama keindahan tempat wisata & keseruan di Pangalengan hahaha.

Aku memang terlalu semangat mendaftar trip ini. Pertama, karena gak sabar ingin menjajal rafting -- aku belum pernah mencoba rafting. Kedua, karena harganya terhitung lebih murah dari harga sejumlah operator trip lain. Tanpa banyak bertanya, aku langsung mentransfer biayanya. Lessons learned! Barulah aku terkaget-kaget setelah masuk ke grup WhatsApp yang dibuat oleh Dita sang "CP" (istilah untuk pemimpin trip di BPJ). Ada 30 orang di dalam grup tersebut! Alamak sudah terbayang akan seberisik dan se-riweuh apa di Pangalengan nanti.

Meeting point ODT ini adalah Sekretariat BPJ yang berlokasi di Cawang, Jakarta Timur. Kami diminta berkumpul hari Jumat, 13 Mei pukul 23.00 dan dijanjikan berangkat 23.30 WIB. Apakah on time? Tentu saja tidak hahaha. Alasannya, supir minibus perlu waktu untuk ganti ban. Ya sudah lah. Untung aku tidak sendirian, kali ini aku bersama Revan, jadi nggak begitu bengang-bengong lah ya di lokasi. Kami tiba sejak pukul 22.15, memang kepagian sih tapi tujuannya biar bisa nge-tag tempat duduk di bis duluan. Laaah, bisnya malah telat. Hahaha. 

Situasi "sekre" ramai sekali saat kami tiba. Banyak orang berkumpul di depan gerbang masuk, di pinggir jalan raya. Mayoritas menggunakan tas ransel dan sepatu gunung, bahkan beberapa terlihat menenteng trekking pole. Malam itu memang ada ODT lain yang juga akan berangkat, rupanya tujuan mereka hiking/trekking ke salah satu gunung di Jawa Barat.

Pukul 23.50 -- alias 20 menit terlambat -- dua buah minibus akhirnya merapat ke halaman sekre. Benar saja, semua peserta langsung berebutan naik, mengamankan tempat duduk masing-masing. Aku dan Revan mendapat barisan kedua dari belakang di "elf" biru yang menandakan awal mula penderitaanku selama ODT ini. Ceritanya ada di akhir post yaa.

Perjalanan ke Pangalengan kami tempuh dalam waktu 4-5 jam. Sekitar bada subuh, kami berhenti di salah satu masjid untuk salat. Hal ini adalah salah satu poin plus dari BPJ, mereka memastikan bahwa ada waktu untuk salat. Oh ya Pangalengan sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, berjarak sekitar 29 KM dari Kota Bandung. Objek wisata yang terkenal di sini adalah Situ Cileunca, perkebunan teh, pemandian air panas Cibolang, serta peternakan & pengolahan susu sapi KPBS Pangalengan.  

Pukul 05.45 kami tiba di destinasi pertama: Taman Langit Pangalengan. Cuaca sangat dingin dan berkabut pagi itu. Syukurlah aku memakai jaket windbreaker bertudung serta sneakers, jadi lumayan ampuh menahan dinginnya udara. Kedua CP Dita dan Ferdinan mengajak kami untuk mengaso dulu di warung, entah memesan Pop Mie atau teh manis hangat, sambil menunggu Taman Langit dibuka pukul 06.30. Beberapa peserta ada yang memilih untuk langsung lanjut saja, toh tidak ada yang melarang walaupun tali merah masih membentang di pintu masuk. Aku putuskan untuk minum teh hangat dulu di salah satu warung yang masih tampak sepi. Lagipula cuaca berkabut gini mau lihat apa? Jarak pandangku sudah sempit akibat mata yang silindris, tidak perlu lah mempersulit diri hahaha.

Satu jam kemudian, kami bangkit dan berjalan menuju pintu masuk utama. Di sinilah mulai terlihat tidak jelas dan kurang tegasnya CP sebagai ketua rombongan. Dita dan Ferdinan saling berseru, "Bestie, yuk masuk yuk!" tapi sudah 10 menit tidak juga kunjung bergerak naik. Aku dan Revan sudah tidak tahan dengan dingin, kami putuskan untuk naik saja mendahului keduanya.

Berkabut

Hamparan kebun teh dan perbukitan

Jembatan kayu

View dari puncak jembatan

Pada dasarnya Taman Langit ini adalah tempat wisata di Desa Sukaluyu, dengan atraksi utama berupa jembatan dan tangga kayu memanjang di atas hamparan tanaman teh. Kebun teh ini adalah milik pribadi seluas 1 hektar dengan akses jalan perkebunan cukul (PT Gunung Slamet). Di tangga teratas, akan nampak tulisan "Taman Langit 1670 mdpl" tak heran di sini hawanya dingin sekali. HTM-nya Rp10.000 per orang untuk yang berwisata biasa. Taman Langit juga menyediakan camping area bagi pengunjung yang ingin berkemah, bisa memakai tenda pribadi ataupun menyewa dari pengelola.

Berhubung hari itu weekend dan sedang libur panjang, suasana cukup ramai. Kalau readers ingin melihat foto yang lebih ciamik, bisa main ke situs ini.




Sekitar pukul 08.30 elf kami merapat di basecamp Pamor Adventure, satu dari sekian banyak operator arung jeram di Situ Cileunca. Rafting akan dimulai pukul 09.00 tepat, jadi kami punya waktu 30 menit untuk bersiap. Karena akan berbasah-basahan, kami mengganti baju dan menyimpan barang bawaan di basecamp Pamor. Ada kamar terkunci yang bisa digunakan sebagai tempat penyimpanan jadi tak perlu khawatir barang kita hilang. Sejumlah teman tampak sibuk memilih case anti-air pelindung HP yang ditawarkan oleh penjaja lokal. Selain pelindung HP, dia juga menjual sandal gunung dan kacamata hitam. Lengkap sekali.

Risiko nge-trip dengan 30 orang salah satunya adalah manajemen waktu. Aku dan Revan sudah siap dalam 10 menit. Tapi ke-28 orang lainnya belum. Ada yang masih mengantre toilet untuk ganti baju, ada yang sibuk saling memakaikan sunscreen, ada yang mengatur HP dalam waterproof case, ada yang foto-foto... dan ada juga yang hanya duduk santai main HP tidak memedulikan rombongannya (yes, I'm talking about the CP.) Bahkan saat para guide Pamor menyuruh berbaris pun, 28 orang lainnya ini masih sibuk dengan urusan masing-masing. Sinar matahari sudah terik menyilaukan mata. Untung aku tidak terpancing emosi untuk berteriak: "WOY BISA DIEM KAGAK?!" hahaha.

Anyway... mari lanjut bercerita. Rafting dimulai dengan berperahu di atas Situ atau Danau Cileunca. Ini adalah danau buatan dengan luas sekitar 1.400 hektar, sebelum tahun 1918 danau ini adalah hutan belantara. Danau ini memiliki kedalaman danau mencapai 17 meter berlatar belakang perbukitan dan pegunungan. Situ Cileunca juga berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA), di mana air danau dialirkan melalui Sungai Palayangan. Nah... di sungai inilah kami akan merasakan serunya mengarungi banyak jeram. Sungai Palayangan memanjang sekitar 5 KM dengan jumlah jeram sebanyak total 18 jeram (selengkapnya bisa dibaca di sini). Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan hutan dan area penginapan baik bertema lodge maupun camping

Grup kami ada 6 orang, dipandu oleh Mas Tohir di 'kursi' belakang. Puji Tuhan sih 4 orang lainnya ini tidak termasuk peserta yang ngeselin ya. Satu pun dari kami tidak ada yang membawa HP. Baguslah jadi bisa fokus menikmati arung jeram, tanpa harus sedikit-sedikit berfoto. 

Bagian paling seru dari trip Pangalengan pun dimulai di sungai ini. Mas Tohir menjelaskan bahwa dia akan memberi sejumlah aba-aba sepanjang rafting. Aba-aba ini menandakan kami harus kompak melakukan suatu gerakan yang berguna memperlancar jalannya perahu karet. Ada empat jenis aba-aba yaitu "Boom!" (berjongkok), "Goyang-goyang!" (badan harus bergoyang-goyang, uget-uget, kayak cacing tanah hahaha), "Geser kanan!" dan "Geser kiri!" 

Selama 2,5 jam rafting, hampir tidak ada waktu hening di perahu. Sekalinya arus sungai tenang dan lurus, eh Mas Tohir iseng menciprati kami dengan dayungnya. Beberapa kali kami berbenturan dengan perahu karet peserta lain, langsung lah terjadi kegaduhan saling ciprat bahkan saling tarik. Saat perahu kami melewati area camping pun, kami menyapa para tamu ataupun staf penginapan dengan lantang. "Halo, Pak!" atau "Permisi lewat ya!" dan seringnya dibalas dengan senyum lebar. Wah... pokoknya suaraku langsung serak setelah rafting berakhir. Di bawah ini adalah foto-foto dari keseruan rafting dipandu Mas Tohir Pamor Adventure.

Dari Situ Cileunca nanti akan lanjut ke Sungai Palayangan







Mas Tohir tetap menjahili kami hingga akhir sungai

Setibanya kembali di basecamp Pamor, hidangan makan siang sudah tersaji. Menunya sederhana namun mengenyangkan. Ada ayam goreng serundeng, ikan teri kacang, tahu, lalapan, dan kerupuk putih serta pisang raja. Kami menikmati makan siang nikmat ini sembari mengantre kamar mandi untuk bilas ataupun mandi. Setelah semua peserta kenyang dan bersih, kedua CP mengumpulkan rombongan untuk saling berkenalan sekaligus menagih Rp15.000 ekstra per orang untuk kekurangan biaya rafting dan dokumentasi yang diambil oleh Tim Pamor Adventure.

Pukul 13.37 kami tiba di destinasi ketiga sekaligus terakhir, Nuansa Riung Gunung. Sekilas memang terlihat mirip saja dengan Taman Langit, ada kebun teh, jembatan kayu, camping area, dan lautan manusia. Namun Riung Gunung lebih luas karena memanfaatkan 10 hektar kebun teh, atau 10 kali lipat daripada Taman Langit. Di jembatan kayu sepanjang 400 meter banyak sekali spot foto bagi pengunjung yang ingin ber-selfie. Bisa juga turun ke kebunnya apabila ingin berfoto di antara tanaman teh. Jika sudah puas foto-foto, pengunjung bisa kongko saja di restoran, kios, atau warung yang tersebar baik di dalam maupun luar Riung Gunung.  

Karena waktu memang sudah sore, pengunjung di Riung Gunung lebih banyak daripada Taman Langit tadi pagi. Berkali-kali kami harus berhenti, menunggu orang lain selesai berfoto barulah bisa lewat. Bukan keharusan sih, tapi ya aku pun tidak ingin ada orang yang lalu lalang jika sedang difoto hahaha. Di bagian ujung/akhir jembatan, orang-orang memilih untuk duduk santai di pinggir jembatan. Karena peserta trip lain masih asyik foto-foto, kami juga memutuskan untuk duduk sejenak. Enak sekali rasanya, duduk bengong ngeliatin kebun teh dan sesekali mengamati tingkah laku unik para pengunjung lain. Cuaca cukup ramah sore itu, nampaknya akan hujan sekitar 2-3 jam lagi.

Riung Gunung: Camping ground dan jembatan kayu di kebun teh

Bisa juga berfoto di antara tanaman teh

View jembatan kayu dari bawah

Di ujung jembatan, banyak yang mengaso di bawah pohon

Bonus foto cantik aku 😘

Sudah puas menikmati cantiknya Pangalengan? Nah, sekarang aku akan bercerita tentang berbagai 'keajaiban' trip ini. Di penghujung trip terjadi kasus aneh, thanks to the unprofessional CP & driver. Seharusnya dari Riung Gunung kami akan singgah dulu ke tempat beli oleh-oleh (aku kurang hafal di mana lokasinya). Namun dalam perjalanan, kami nyasar di daerah perbukitan! Kok bisa nyasar? Disesatkan oleh Google Maps. Berarti kan... baik CP maupun sopir sebenarnya tidak menguasai jalan? Yang nyasar pun cuma elf kami saja, elf yang satunya tidak. Hahaha.

Ketika menuju titik buntu hasil nyasar itu, elf harus melewati banyak tanjakan yang cukup terjal. Aku yang sejak berangkat dari Riung Gunung tertidur lelap seketika terbangun panik karena mendengar suara mesin dan ban mobil yang terus-terusan meraung. Jantungku dag-dig-dug tak karuan tiap kali kami mendaki tanjakan. Masalahnya jalan yang ditempuh sangat kecil, hanya muat untuk satu mobil. Di sisi kiri ada lembah yang cukup dalam. Bayangkan kalau elf kami limbung sedikit saja. Aku bergidik setiap kali membayangkannya.

Terlepas dari kasus nyasar ini, sopir elf kami memang sudah ugal-ugalan sejak awal berangkat. Dia sangat mengebut ketika di jalan tol, melaju di sisi kiri yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk mengebut. Aku ingat sekali, ketika sudah memasuki Pangalengan dini hari, elf kami disalip oleh mobil lain dengan tiba-tiba. Si sopir merasa tidak terima dan menekan klakson dengan kencang. Bukannya legowo, dia memutuskan untuk mengajak mobil lain ini balapan. Melaju lah elf kami dengan kecepatan tinggi di antara rumah-rumah warga. Jalanan sepi tapi ada saja satu-dua motor dan mobil. Duh... tak bisa terjelaskan lagi rasa horor dalam hatiku. Sepanjang jalan aku mengatupkan kedua tangan, berulang-ulang mengucap "Doa Bapa Kami" dalam hati. Niatku kan untuk berwisata, kenapa jadi mengadu nyawa bahkan belum tiba di destinasi pertama 😖😰

Tentu saja tidak ada dokumentasi ya untuk hal ini. Baterai HP-ku sudah lemah dan aku memang hanya fokus berdoa saja sepanjang perjalanan. Kalaupun tidak berdoa, aku pasti sedang merenungi betapa sempit dan panasnya elf ini jika dibandingkan dengan minibus yang kugunakan pada dua open trip sebelumnya hahaha. Karena ceritanya sudah selesai, saatnya aku berbagi tentang harga trip ini. Biaya share cost adalah Rp347.145 untuk anggota komunitas BPJ dan Rp377.145 untuk non-anggota. Kami tentunya termasuk yang kedua. Biaya tersebut sudah mencakup:

1. Transportasi Elf + bensin dan tol
2. HTM Rafting & Tempat wisata lain
3. Makan siang
4. Asuransi
5. Donasi sekretariat BPJ

Dengan kata lain, kami tidak perlu lagi membayar untuk tip guide/sopir, seperti dua tripku sebelumnya dengan dua operator yang berbeda. Jadi apakah ini murah? Sangat murah, menurutku. Akan lebih murah lagi jika aku mendaftar sebagai anggota BPJ. Namun apakah worth the journey? Tidak sih. Aku pribadi lebih memilih operator yang on time, komunikatif, mampu memimpin, dan transportasi yang lebih aman dan nyaman. Semuanya kutemukan di dua operator tripku yang lain (ceritanya menyusul!). Readers juga bisa membaca sejumlah pengalamanku yang lain bersama trip organizers lain, klik di sini.

Apakah aku akan ikut trip lain bersama BPJ? Pastinya. Karena BPJ ini punya banyak sekali trip, bahkan ke tempat-tempat yang belum pernah kudengar. Readers yang tertarik ikut, bisa follow dulu Instagram mereka di backpackerjakarta . Boleh juga mengajakku jika ingin nge-trip bareng hahaha. 

Terima kasih sudah mampir, readers! Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

---

Itinerary:
23.30 Mepo di Sekretariat BPJ
23.50 - 04.30 Otw ke Pengalengan
04.30 - 07.30 Explore Taman Langit
09.00 -12.30 Rafting di Situ Cileunca
12.30 - 13.30 Ishoma
14.30 - 16.00 Explore Riung Gunung
16.00 - 17.30 Menuju dan beli oleh-oleh
+ 17.30 Otw Jakarta
+ 21.30 Tiba di Jakarta

0 testimonial:

Post a Comment