June 29, 2015

Camping Manja Papandayan

Sebagai seorang tukang jalan-jalan, aku dengan malu harus mengakui bahwa diriku nggak pernah naik gunung! Bukan karena nggak kuat nanjak ya, readers (jangan meragukan otot betis-pohon-palem-ku ini) hanya saja aku masih belum bisa berteman dengan suhu dingin, selain kamar ber-AC yang biasanya kusetel 25 derajat Celsius. Kelemahan yang mungkin dimiliki oleh sebagian besar orang Indonesia berdomisili di ibukota provinsi yang panas dan sarat polusi. Mohon maaf, Manado selalu bersuhu 30-an derajat. Hingga pada suatu hari yang cerah, di tengah rehat dari kerjaan kantor, aku melihat ajakan open trip "Camping Manja Papandayan" di forum grup Indotravellers. Sayangnya, tidak ada kawan dan rekan yang mau ikut aku nge-trip. Yaaahhh, memang sih pencinta pantai jauh lebih banyak daripada pencinta gunung :| 
Ya sudahlah, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datangnya hanya setiap tahun kabisat (?) ini. Segera kuhubungi CP-nya, transfer 350K IDR, packing, dan cuuusss berangkat. let me tell you the story... 


*Thank you Hannie, Bang Mame, Pak Yoyok, dan lainnya untuk foto-foto kecenya!*

JUMAT, 26 Juni 2015

Aku sudah membawa carrier ke kantor karena tidak berencana untuk kembali ke kosan dulu sebelum berangkat. Alhasil, seisi Lantai 7 kini terlanjur mencapku sebagai "Anak Gunung" hanya karena sebiji carrier itu. Sekalian jadi doa deh, hihihi. Jam 7 malam, aku pun bergegas menuju Terminal Senen dengan teori bahwa perjalanan 2 jam yang akan kutempuh sudah pas sesuai dengan waktu meet-up yang ditentukan Bang Benny. Senen-Kampung Rambutan bisa ditempuh dengan bis Mayasari Bakti yang ternyata datangnya sekali dalam sejam, aku menunggu lama sekali waktu itu. Karena sebelumnya ku nggak pernah Kampung Rambutan, agak was-was juga takut terlambat atau malah membuat yang lain menungguku terlalu lama. Salah satu life's rule seorang traveler (baca: aku doang kok :p) adalah "Jangan pernah terlambat lebih dari setengah jam." Menunggu itu jauh lebih melelahkan daripada trekking dua jam, lho, kawan!

Oh ya, berhubung ini adalah kali pertamaku naik gunung, dua hari sebelumnya aku baru heboh mempersiapkan sendal gunung dan carrier. Sendal gunung berhasil kuperoleh dari meminjam senior di kantor hahaha, rasanya aku belum butuh-butuh banget lah punya sendal gunung. Carrier? Wah yang satu ini perlu beli sendiri, meski nggak bisa langsung upgrade ke merk ternama semacam Eiger. Dari yang awalnya berniat beli Consina, malah lari ke toko tas deket Terminal Senen yang memang buka hingga pukul 10 malam. Semua serba dadakan! Semoga saja tas tanpa merk ini nggak berulah di tengah jalan. Kami juga nggak perlu lagi bawa tenda, sleeping bag, matras, atau kompor buat di puncak. Cukup bawa diri! Aku pun hanya berbekal satu kaos, satu longsleeves, sepasang long john, payung, mantel hujan, serta kaos putih + jeans + sweater yang melekat di badan setelah berganti baju di kantor. Semua perlengkapan berkemah telah disiapkan dan jadi bagian open trip seharga 350K ini, kurang manja apa lagi coba.

Sebelum lanjut, mari kukenalkan kalian dengan makhluk-makhluk yang baru pertama kali kukenal di sana: [1] Bang Benny, si trip organizer yang lebih memilih mendaki gunung dengan ojek, [2] Pak Yoyok, 'kepala suku' sekaligus yang paling necis dalam rombongan, [3-6] Bang Faris, Mas Eka, Bang Mame dan Ryan, empat lelaki kocak dan gentle yang sangat bisa diandalkan, [7-9] Hannie, Vivi, dan Arin, tiga gadis superceria yang senang diajak (maupun mengajak) selfie, [10-11] Mr. Erik dan Mbak Dewi, bule asli Syria dan istrinya yang asli Indonesia. he told us a lot of stories about his life, thanks for sharing, Sir!, [12-13] Nita dan Priyo, sepasang dara yang nggak pernah absen megang kamera. Terkadang jadi baper juga sih kalo liat mereka lagi asyik berdua :( Dan lastly: [14-15] Bang Yandi dan Bang Sada, walaupun nggak sempat ngobrol banyak, tapi keduanya seru dan banyak turun tangan bantuin kami (para wanita) selama pendakian, Bang Sada even cooked us a very delicious cheesy potato!
Itulah ke-15 anggota rombongan kami. Semuanya seru, gokil, dan asik. Nggak bisa berhenti bersyukur sama Tuhan dikasih kenalan baru yang super kayak mereka :)


Beberapa anggota trip "Camping Manja Papandayan", I miss them already!

Kami ber-16 pun memulai perjalanan dengan bis besar sejenis Primajasa pukul 10.00, keberangkatan terakhir dari Terminal Kp. Rambutan ini. Berhubung baru saja melewati hari yang berat di kantor, aku pun segera jatuh tertidur begitu lampu dalam bis dibuat temaram. Selamat tidur!


SABTU, 27 Juni 2015

Setibanya di Terminal Guntur, Garut, jam 3 pagi, rombongan turun untuk berganti naik angkot. BRRRR!!! Dinginnya mulai terasa! Aku langsung merogoh carrier untuk mengambil kaos kaki, dan setengah berharap yang kubawa adalah kaos kaki wol yang tebal, hiks. Setelah naik angkot yang entah bagaimana bisa diisi 16 orang itu, kami turun di Desa Cicurupan untuk berganti kendaraan lagi: pick-up. Nah disini, dinginnya lebih menusuk lagi, readers. Aku buru-buru memasang sarung tangan, serta scarf untuk menutup wajah. Wooowww. Sudah lama sekali nggak merasakan dingin menusuk kulit seperti ini!


Menunggu pick-up siap berangkat sambil ngemil cakwe hangat!

Jam 5 pagi, pick-up pun mulai menanjak untuk mengantar kami ke kaki Gunung Papandayan. Widih, goncangannya luar biasa. Beberapa kali kami melewati jalanan super menanjak hampir-hampir vertikal, hahaha... Pernah juga sekali mobil mundur perlahan karena tidak kuat naik dan akhirnya ambil ancang-ancang lagi dengan persneling satu dari bawah, haha, SERU~

Namanya juga "Camping Manja", aku tidak sempat tahu proses registrasi yang berlangsung di pintu masuk karena semuanya diurus Bang Benny. Pokoknya, 45 menit kemudian kami tiba di Taman Wisata Kawah Papandayan yang sudah ramai penuh dengan pendaki ber-pick up maupun bersepeda motor. Dari jauh sudah terlihat kaldera Papandayan yang abu-abu kekuningan, terbungkus asap dan kabut. Indahnya!!





Pihak penyedia jasa penyewaan  di Camp David kemudian membagikan kami sleeping bag satu per satu untuk dibawa ke atas. Sedangkan tenda dan matras, nampaknya sudah didirikan langsung di tempat kemah nanti. Benar-benar dimanjakan ya. Yuk, mari kita memulai pendakian sebelum matahari semakin meninggi!





Untuk sebuah gunung yang katanya cocok untuk pemula, Papandayan memiliki jalur trek yang panjang dan melandai. Jalanannya berliku dan berbatu-batu, jadi harus hati-hati ketika melangkah. Dikasih jalur yang menantang seperti ini pun masih ada bonus lagi: pemandangan indah terbentang sepanjang jalan! Bukit hijau di kejauhan, cekungan sungai yang nampaknya sedang kering, dinding batu dan kapur yang sayangnya banyak dicoret dan digores pengunjung, serta kawah bersulfur dimana-mana. Masih kurang? Tengadahkan saja wajah, dan pandangi langit biru dan awan putih yang tidak akan bisa kau temui di Jakarta sana. LUAR BIASA.



Ini adalah cara 'mendaki' ala Bang Benny: naik ojek! Hahaha~



Karena menghabiskan cukup banyak waktu untuk selfie dan beristirahat sepanjang jalan, kami butuh +- 5 jam untuk mencapai lahan perkemahan. Padahal itu pun sudah menggunakan jalur cepat, dimana kami memanjat (ya, literally "memanjat" dengan berpegangan pada akar-akar pohon, lho) melewati hutan kecil dan bukannya melewati jalan landai yang umum. Keahlian mendaki memang tidak begitu perlu disini, yang penting adalah stamina dan kekuatan fisik. Jujur saja, aku bahkan jogging tiga kali seminggu demi mempersiapkan diri kesini. Yah, sekaligus meneruskan kebiasaan baik yang kuterima saat Prajab, sih. Tapi benar-benar terasa perbedaannya! Di saat teman-teman wanita lain mulai ngos-ngosan dan beberapa kali berhenti, aku masih bisa terus lanjut. Ehtentunya aku tetap berhenti dong kalau ada yang selfie! Hahaha.

Jreng, jreng~ Tibalah kami di Pondok Saladah! Pondok Saladah ini berada di ketinggian +- 2200 mdpl, jadi jangan heran jika pada siang hari kalian tiba, matahari terasa begitu terik menyengat. Itu juga jadi salah satu alasanku untuk segera mengenakan long john di bawah kaos dan jeans karena sudah terbayang hawa dingin akan segera turun sore nanti.




Setelah mendirikan tenda tambahan dan membuka terpal untuk menaungi tempat nongkrong kami, aku segera mengambil posisi untuk... tidur siang! Hahaha! Ya, siang-siang begini enaknya tidur dong, jangan memaksakan diri untuk jalan ke hutan mati atau malah summit attack; dijamin gosong! Sementara para wanita tidur, kaum lelakinya malah asyik memasak untuk makan siang. Wah, heboh sekali cara mereka memasak. Ada yang sibuk cari kayu kering untuk api unggun, ada yang merebus ayam dengan kompor gas, ada yang menanak nasi, keren banget lah! Ini baru namanya "dimanjakan" :)

Pukul 4 sore, kami memutuskan sudah saatnya untuk menjelajah Hutan Mati. Setelah selama ini cuma bisa mengagumi lewat foto, akhirnya aku bisa mengabadikan sendiri keindahan Hutan Mati Papandayan dengan lensa mata dan kamera! Widih! Batang kering yang kokoh, tanah kapur yang tandus, ditambah dengan kabut tipis yang perlahan turun, semuanya sukses membuatku terpana. Sayang, kami tidak sempat menuju Tegal Alun karena kabut yang sudah menebal diatas sana.





Rencana mendaki Puncak Gunung Papandayan dan Tegal Alun pun dialihkan ke besok hari menjelang sunrise, berharap kabut sudah menghilang dini hari nanti. Puncak Papandayan berada di ketinggian 2625 mdpl yang memang masih kalah jauh dengan gunung-gunung lain, tapi pasti memiliki keindahannya sendiri.

Malam itu, kami tidak mandi. Ya iyalah! Berdiri lama-lama di luar tenda saja tidak tahan! Menyentuh air ketika ke toilet (iya, sekarang sudah ada kakus berdiri di Pondok Saladah) atau cuci kaki dekat sungai saja membuatku menggigil. Kami menghabiskan malam dengan masak makan malam bersama (ayam panggang dan kentang rebus, lezat!) sambil bernyanyi mengiringi petikan gitar dari rombongan di tenda sebelah. Malam yang indah, kawan! :)

Kakus di Pondok Saladah
 
MINGGU, 28 Juni 2015

Apa daya, alam ternyata berkata lain. Sepanjang subuh, mulai jam 3 dini hari, Pondok Saladah 'diserang' badai kencang! Aku yang tertidur pulas mengira itu hanya kelakuan orang lewat yang iseng menggoyang-goyangkan tenda kami. Alhasil, summit attack gagal dilaksanakan. Toh aku juga tidak mungkin bisa menyukseskan acara itu mengingat betapa lemahnya tubuh ini terhadap suhu dingin, sehingga aku terus menempel di kantong tidur hingga jam 8 pagi. Itu pun bangun hanya karena perut sudah berbunyi minta diisi.


Our chef in charge: Pak Yoyok! See how funky his style is? :)))

Keluar dari sleeping bag dan tenda dengan wajah kucel tanpa cuci muka (GA BERANI!), aku langsung sempoyongan menuju warung terdekat tempat Pak Yoyok numpang masak indomie. Beliau sudah sibuk memasak indomie untuk kami sejak jam 6 pagi, begitu badai reda. Keren banget kan bapak kami yang satu ini? Barangkali ada yang penasaran kenapa beliau numpang masak di warung, itu karena cooking area kami sudah diobrak-abrik dan basah kuyup karena badai semalam. Bahkan banyak peralatan makan plastik yang diikhlaskan begitu saja untuk masuk kantong sampah, ya karena kotornya itu.

Jam 9 pagi kami semua bergerak untuk packing dan bersih-bersih. Masih dengan status "backpacker manja", aku lebih banyak menonton ketika Bang Benny dan lelaki-lelaki lainnya merapikan tenda, peralatan masak, dan mengemas sampah. Nah, kalau mengaku sebagai traveler sejati, kita tidak boleh meninggalkan apapun selain jejak dan kenangan. Kami melakukan hal itu: sampah yang menumpuk dibagi ke 16 kantong sampah kecil untuk dibawa masing-masing dan dibuang di kaki gunung nanti. Mohon dipraktekkan juga ya, readers! :)

Satu kisah mendebarkan yang kualami dalam perjalanan pulang adalah aku akhirnya merasakan lagi pengalaman dikepung kabut. Ingat trip Bromo-ku? Sama seperti saat itu, aku kembali merasakan kegelisahan ketika mata tidak bisa memandang jauh karena sudah dikungkung kabut. Saat itu aku bersama Pak Yoyok, Bang Mame, dan Vivi, kami keasyikan foto-foto di Hutan Mati sehingga ditinggal oleh pasukan. Pak Yoyok sempat berpikir bahwa mereka berjalan menuju Tegal Alun yang notabene berlawanan arah dengan jalur pulang. Syukurlah Bang Mame segera mengambil alih komando dari Pak Yoyok, maka selamat lah kami dari kabut. Kabut mulai menipis seiring perjalanan kami menuju arah yang benar dengan cara berjalan mendekat ke arah sayup-sayup suara keramaian. Terima kasih, Tuhan! Entah apa yang akan terjadi di atas sana kalau kami keukeuh berjalan ke Tegal Alun.




Sebagaimana yang telah terbayang sebelumnya, perjalanan pulang tentu lebih menantang karena kita harus menuruni jalan yang berbatu, berpasir, dan berkerikil ini. Harus super hati-hati! Tidak terhitung lagi berapa kali teman-teman yang lain tergelincir, namun syukurlah tidak sampai jatuh dan cedera parah. Aku sendiri satu-dua kali tergelincir namun bisa segera menjaga keseimbangan atau berpegangan pada batu besar/dahan pohon kering. Ternyata ilmu Pramuka masih menempel di otak.





Berbeda dengan jalur pendakian yang ditempuh kemarin, kali ini kami menuruni Papandayan dengan melewati sungai dan danau. Ya, coba lihat foto di atas, itu adalah foto danau sulfur yang tidak bisa kuabadikan sempurna karena tidak kuat lama-lama menghirup aromanya. Saat itu hanya rombongan kami yang berada di sini, merasa keren juga melihat orang-orang lewat di kejauhan sana yang jadinya memotret kami seakan kamilah objek wisatanya hahaha. Dari danau, kami menempuh perjalanan sulit karena harus melompat-lompat kecil, menyeberangi sungai, berjalan di antara tebing-tebing rendah, semua demi bisa beristirahat sejenak a la 7 Bidadari-nya Jaka Tarub di sungai. Lagi-lagi menjadi objek potretnya orang lewat di atas sana, hihihi.





Nah, selesailah sudah petualangan kami di Gunung Papandayan! Perjalanan pulang tentunya melewati rute yang sama saat pergi: naik pick-up, naik angkot, lalu naik bus. Dari Kp. Rambutan menuju kosan tercinta, aku sangat bersyukur karena ditemani oleh Pak Yoyok dan Bang Faris. Kami tiba di Kp. Rambutan jam 11 malam dan tidak ada lagi Transjakarta yang beroperasi. Alhasil kami pun ikut bis menuju Grogol dan turun di perempatan *entahlah apa* untuk lanjut perjalanan ke Terminal Kp. Melayu, dimana aku melanjutkan perjalanan lagi ke Senen. Saat itu sudah hampir jam 12 tengah malam namun aku masih beransel dan bersendal gunung hahaha. Jadi seperti ini ya rasanya jadi anak gunung yang dekil (nggak mandi dua hari) dan diperhatikan orang-orang karena tengah malam begini menggendong carrier. Ah, aku kini jatuh cinta, kawan. Kepada Papandayan, kepada aktivitas naik gunung, kepada rasa bangga jadi pendaki.

Perjalanan pulang kembali berdesak-desakan dalam angkot!

Gunung Papandayan ini meninggalkan banyak kesan bagiku. Tapi, sebagaimana kata orang bijak: "Jauh atau dekat tergantung pada dengan siapa jarak itu kau tempuh." Aku sangat bersyukur menemukan trip organizer sekaligus teman baru seperti Bang Benny dan ke-14 wajah baru lainnya yang langsung bisa kompak satu dengan yang lain. Mungkin ceritanya akan berbeda jika Papandayan kujelajahi dengan orang yang berbeda. Thanks a lot, guys, semoga ini bukan jalan bareng kita yang terakhir!

Kapan nih kita nanjak bareng?

_____________


PS. Just in case kalian pernah kepo IG dan Path-ku, dan menemukan cukup banyak foto sejenis ini dengan latar Papandayan... well, ini adalah salah satu pelampiasan rinduku. Hahaha. Maafkan aku yang (sering) alay ini. Tapi sesungguhnya, pada suatu titik tertentu, kita semua memangvmembutuhkan seseorang yang bisa memberitahu kita: "Everything's gonna be okay." :)


0 testimonial:

Post a Comment